
[ Not Edited ]
Pertarungan antara Hans dan Son dengan Tyaga yang sedang dirasuki oleh seekor Maju pun terus berlanjut sengit. Sedangkan monster-monster lainnya silih berganti berdatangan, sebab hari semakin gelap, dan para monster sudah mulai bangun. Mereka tampak kelaparan dan ganas. Gigi taring, raut muka garang, serta lolongan ataupun auman menjadi dentuman pertempuran.
Berbanding terbalik dengan pasukan Adellia yang semakin lama stamina dan semangat juangnya semakin menurun. Meskipun efek «Buff» masih berlaku dan terus diperbarui, tapi jika penggunanya sudah letih ataupun tidak bersemangat lagi maka efek «Buff» akan tidak terlalu berguna. Entah sampai pasukan Adellia bisa bertahanan.
“Jangan menyerah!” Sepatah kata semangat diberikan oleh sang pemimpin, Adellia.
Kendati demikian, efeknya tidak terlalu berhasil. Malah menambah beban moral dan tidak sedikit dari kesatria yang mulai putus asa. Pertarungan yang awalnya menguntungkan dari pihak Adellia, karena yang muncul hanya cecenguk-cecenguk kecil. Namun sekarang, banyak monster-monster yang lebih besar dan kuat datang bergantian. Muncul dari balik bayang Hutan Laiquendi.
Beberapa jam berlalu dan korban jiwa dari pasukan Adellia mulai menumpuk, membuat penyembuh kewalahan mengobatinya. Meskipun demikian, mereka harus tetap menyembuhkan pasukan yang terluka. Entah menggunakan sihir penyembuhnya ataupun dengan perlengkapan dan obat-obatan yang ada. Stok dan energi sihir dari para penyembuh juga mulai menipis.
Posisi dari pasukan Adellia benar-benar diuntungkan sekarang. Adellia berharap pasukan mampu bertahan sampai fajar menjelang. Sayangnya Adellia juga tampak kelelahan, setelah melalui perjalanan yang cukup lama tanpa istirahat, kini dia beserta pasukannya dihadapkan langsung dengan sebuah pertempuran. Pertempuran yang dipenuhi oleh monster-monster yang siap membunuhnya kapan saja.
“Hey! Awas!”
Tiba-tiba Aalisha mendorong tubuh Saigiri dengan keras dan membuatnya tersungkur di antara semak-semak, seketika pula sebuah batu besar melayang di atas mereka berdua, serangan tersebut begiitu cepat dan tentunya bisa membunuh mereka berdua langsung.
“Sempat-sempatnya kau melamun di tengah-tengah pertempuran!” ucap Aalisha kembali menguatkan pisau di kedua tangannya dan menghabisi monster yang ingin menerkamnya.
“Maaf...” balas Saigiri lirih seraya mengatur posisinya kembali. Tapi tangannya masih bergetar hebat, hingga membuat Aalisha dengan mudah menjatuhkan pedang yang dia genggam.
“Kalau kau takut, kau tidak perlu ikut bertarung! Cukup ikut tim penyembuh saja,” balas Aalisha mengerut dahi.
“Tidak!” Singkat, Saigiri langsung mengambil pedangnya lagi.
Saigiri mengubah posisi pedangnya yang awalnya dia pegang hanya dengan satu tangan, kini dia menggenggamnya dengan kedua tangan yang sejajar di bagian tengah tubuh sambil memperhatikan pergerakan monster yang mendekat dengan cepat. Segerombolan monster srigala datang menghampiri mereka berdua, dan di ujung ada monster yang tadi melemparkan sebongkah batu.
“Bersiaplah Saigiri...” ucap Aalisha, sekiranya ada lima monster srigala dan di paliing belakang seekor monster yang menyerupai seekor gorilla tengah bersiap di tangannya sebongkah batu besar.
__ADS_1
“Aku urus yang paling belakang, kau urus saja para monster srigalanya...” imbuhnya semakin memfokuskan diri. Aalisha mengambil ancang-ancang berlari. Saigiri mengangguk dan bersiap di belakangnya.
RAARRR!!! Bersamaan lolongan keras, kedua elf itu langsung memulai serangannya. Mereka berdua berlari cepat ke arah gerombolan monster itu. Tapi di sisi lain para monster juga ikut berhamburan untuk menerjang Saigiri dan Aalisha.
Serangan pertama.... kedua... ketiga... dan seterusnya. Aalisha berhasil menghindari semua serangan kawanan monster itu. Karena sempat teralihkan perhatiaanya oleh Aalisha, Saigiri dengan mudah menghabisi mereka dengan sekali serangan yang tepat mengenai daerah vital. Kali ini Saigiri benar-benar mengayunkan pedangnya dengan sungguh-sungguh.
Monster gorilla itu kemudian melempat sebongkah batu besar. Cukup mudah bagi Aalisha untuk menghindarinya. Namun tidak sampai di situ serangan gorilla itu, kini monster itu semakin cepat menganyungkan tangan kanannya, melemparkan bebatuan. Tentu ukurannya lebih kecil dari sebelumnya.
“Pergilah Saigiri! Aku akan menyelesaikannya!” teriak Aalisha tanpa menoleh sedikitpun, sebab dia sangat fokus menatap jauh di tempat goblin itu berada.
Lagi dan lagi. Aalisha berhasil menghindari semua serangan dari goblin tersebut, tampak dia sangat menikmati pertempurannya. Kelincahan Aalisha memang tidak bisa diremehkan, meskipun menduduki peringkat terakhir di antara teman-temannya. Tapi kecepatan dan kelincahannya adalah nomer satu.
“Apa kau kelelahan wahai monster jelek?!” ejek Aalisha setelah tau intensitas serangan itu semakin menurun.
Aalisha melompat turun dari atas pepohonan untuk menyerang balik. Lalu dengan kaki runcing, dia berlari sekencang hembusan angin, apalagi ditambah dengan «Buff» penambah kecepatan. Lebih sulit lagi untuk memprediksi gerakannya. Kiri kemudian ke kanan, berputar, merunduk, melompat. Aalisha menghindari semua serangan yang tersisa.
Tanpa belas kasih, Aalisha langsung menariknya secara paksa. Darah semakin bermuncratan hebat, menggenangi daratan dengan warna merah kehitaman. Monster gorilla itu mencoba untuk menghentikan pendarahan dengan menutup luka di lehernya dengan kedua tangan. Percuma saja, dia sudah kehilangan banyak darah.
Monster itu ingin merintih kesakitan, tapi tidak bisa. Tusukan pisau Aalisha telah merobek pita suaranya. Tak jauh darinya, Aalisha tetap memandangi monster itu dengan sinis dan membiarkannya mati perlahan. Entah sekarang siapa yang tampak jahat dan mengerikan, tapi begitulah peperangan. Pasti ada yang kalah dan terbunuh, yang kalah akan menjadi mainan oleh yang menang.
“Kenapa kau tidak langsung membunuhnya?” tanya Saigiri setelah menghabisi sisa-sisa monster yang masih berkeliaran. Sekarang dia sudah tampak terbiasa membunuh monster, cukup mengesankan dengan waktu sesingkat itu Saigiri mampu beradaptasi.
“Salah dia sendiri telah berani menantangku,” balas Aalisha sembari membasuh bekas darah dengan sapu tangannya.
“Jadi kotorkan sapu tanganku,” imbuhnya kesal.
“Sudahlah, biar aku saja yang menghabisinya, tidak tega aku melihatnya merintih kesakitan namun tidak bisa,”
Perlahan Saigiri mendekati monster itu, dia kemudian menanggalkan pedang dari sarungnya. Monster itu kemudian bersimpuh di hadapannya, berharap agar segera dibunuh olehnya. Tanpa banyak pikir Saigiri langsung mengakhiri hidup monster itu dengan sekali tebasan pedang. Mungkin ini belum setimpal dengan kematian teman-teman lainnya. Namun kalian harus tetap menghargai apa itu yang dinamakan “kehidupan”.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1