
[ Not Edited ]
“Apa aku baru saja mati?” gumamku, kosong menatap langit.
“Hey, sadarlah! Kenapa kau bilang begitu!” timpal Adellia sembari memanggil namaku berkali-kali.
Namun semua yang dilakukannya merupakan hal yang sia-sia. Tubuhku memang masih utuh, sayangnya jiwa entah melayang ke mana. Aku rasa aku kembali terjebak di dalam ilusi monster itu. Kerap kali aku terbunuh, tapi ujung-ujungnya dibawah ke dimensi yang lainnya. Ilusi ini tidak berujung dan aku akan terus-menerus mengalami sebuah kematian.
“Sudah berapa kali?” tanyaku padanya, kelopak mata yang tidak terbias sedikitpun cahaya. Tatapan hampa, pikiranku sudah tidak waras lagi.
“Berapa kali apanya?!” Adellia bingung melihatku tidak berdaya dan terpenuhi oleh aura keputus asaan.
“HA... ?! Kau tak tahu?!” Pikiran nan gila mengacau dan meronta-ronta tidak jelas, kalut, dan entah bagaimana aku tidak bisa mengendalikan jiwa dan pikiranku sendiri.
“Kau kenapa, Tyaga!”
“Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti ada bagian dari monster itu kan?! Kau pasti ingin membunuhku lagi dan lagi kan?! Jangan pikir aku tidak tahu!! Semua pembohong!! Semua adalah pembunuh!!” Kacau, benar-benar kacau. Tangan tak terkontrol menggaruk-garuk seluruh muka, membekas cakaran. Tampak jelas dengan darah perlahan mengalir membasahi pipi.
Sontak Adellia terkejut bukan main dan langsung menahan kedua tanganku yang mencoba untuk mencongkel kelopak mata. “Kenapa kau jadi seperti ini!” Kalimat itu terus dia ucapkan sembari berkali-kali menahan pergerakan tangan serta tubuhku untuk menggeliat hebat.
“Lepaskan! Lepaskan dan cepat bunuh aku!! Entah sudah berapa kali kau membunuhku!! Dasar monster biadab!!” Tubuhku semakin meronta-ronta, sedangkan Adellia yang ada di atasku sempat kewalahan menghentikanku.
“Apa yang kau bicarakan Tyaga! Ini aku Adellia!”
“Mau siapapun dirimu, kau tetap bagian dari monster itu! Nantinya kau bakal menghidupkanku kembali, lalu membunuhku lagi dan lagi!! SIALAN!!”
“Sampai kau kapan kau akan menutupi kebohonganmu, DASAR LICIK!!” imbuhku kemudian membenturkan kepalaku.
DAAKK!! Suara benturan kepala yang cukup keras
Namun Adellia tidak menghindarinya sedikit, dia malah menerima hantaman keras itu langsung. Darah mengalir di kedua kepala kami berdua, beradu, dan perlahan menetes. Semua bercampur aduk. Tanpa sadar iris birunya menggenang sebuah air mata.
“Kenapa kau menangis?” tanyaku. Adellia kemudia mendekap tubuhku erat-erat.
“Apa ada yang salah denganku?” imbuhku bersimpu di pelukannya.
“Kau tak salah, Tyaga. Sungguh... Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi padamu,” bisiknya lirih.
__ADS_1
“Lantas kenapa kau menangis.”
Dia terdiam, hanya senyuman tipis yang dia perlihatkan kepadaku. Maksudnya apa, perlahan aku mulai menata kesadaranku dan memastikan apa kali ini aku benar-benar terbebas dari dunia ilusi yang diciptakan oleh Majuu itu. Sihir pencipta dunia ilusi yang tidak berujung, sampai-sampai aku dibutakan oleh tipuannya dan membuatku putus asa.
“«Drievoudig Schild»!” Seketika dua penggerakan monster yang ingin menerkam kami sekaligus terhenti oleh sihir pelindung tiga lapis. Mungkinkah.
Benar saja, dari kejauhan tampak Kakek Hork tengah memegang kristal sihir yang diarahkan tepat ke tempat kami berada.
“Wahai para anak muda! Kita masih berperang sekarang, janganlah kalian malah bermesraan!” teriak Kakek.
“Jangan aneh-aneh, Kek!” timpal Adellia, dia kemudia berbalik dan menyabet kedua monster itu dengan pedangnya. “Apa kau tidak apa-apa?” lanjutnya seraya membantuku untuk bangun. Sepertinya aku sudah menjadi sosok yang paling tidak berguna di sini.
“Kau sudah sadar? Syukurlah kalau begitu,” ucap Kakek Hork. Bukannya wajah gembira atau syukur yang dia perlihatkan, namun malah tersirat sebuah makna arti yang lain.
Aku jadi semakin yakin jika aku tidak lagi berada di dunia ilusi. Ini semua lebih nyata dan ekspresi mereka jauh berbeda dengan mimik wajah yang aku temui sebelumnya. Adellia, Kakek Hork, terlihat sangat natural dan aku benar-benar merasa bahwa itu mereka. Bukan lagi pecahan energi sihir dari Majuu yang menyerangku.
“Kenapa, Kek? Ada yang aneh dengan diriku?” tanyaku heran.
“Aku bersyukur setelah sedikit memberikan damage ke monster itu, kau jadi sadarkan diri,” jawab Kakek Hork, mungkin dia sudah terbiasa menggunakan kekuatan dari kristal sihir. Jadi tidak sulit baginya untuk mengaktifkan sihir pelindung tiga lapis.
Jelas-jelas masih ada hal lain yang dia sembunyikan dariku. Begitu aku menanyakan hal serupa ke Adellia, dia malah enggan menatapku dan memalingkan wajahnya. Biarlah, mungkin aku agak naif jika menganggapnya bukan apa-apa dan tidak terlalu mempedulikannya. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal tersebut.
“Apa gara-gara luka ini kau jadi menghentikanku. Jangan bercanda! Bahkan kondisimu tidak jauh lebih baik dariku.”
“Bukan itu!” tuntasnya. “Kek, coba kau saja yang menjelaskan padanya dan bawah dia ke tempat yang lebih aman. Masih banyak hal lain yang harus aku selesaikan. Sampai jumpa.” Dia lalu meninggalkan kami berdua.
“Jangan kabur...”
“Tunggu Nak Tyaga.”
Kakek Hork menghentikan langkahku yang sedang berusaha mengejar Adellia.
“Adellia melarangmu untuk bertarung bukan tanpa sebab...” imbuhnya menenangkanku.
“Lantas kenapa kalian bertingkah seakan-akan aku telah membuat masalah yang besar bagi kalian,” selaku di tengah-tengah ucapannya yang belum tuntas.
“Itulah masalahnya. Aku tidak ingin memberi tahumu sebelum masalah ini benar-benar selesai,” ucap Kakek Hork lesu.
__ADS_1
Aku mencoba mencerna tiap kata yang terucap darinya, tapi nihil. Tidak satupun yang dapat aku ketahui. Sebelumnya memang aku sempat terjebak di dalam dunia ilusi dan tidak tahu apa yang tengah terjadi di dunia nyata. Jadi semua menjadi hal yang tabu bagiku.. Bahkan parahnya aku malah menjadi putus asa dan pasrah dengan keadaan.
“Jika keadaan seperti itu, mari kita selesaikan bersama-sama! Kenapa kita harus berpisah dengan lainnya?!” tanyaku menggebu-gebu.
“Jangan bodoh!” Baru kali ini aku melihat Kakek Hork semarah itu. Setelahnya Kakek Hork menjelaskan semuanya sembari berjalan menyusuri hutan. Katanya sebentar lagi kita akan sampai di perbatasan dan semua pertempuran ini bakal berakhir jika kami berdua mampu mencapainya.
“Kenapa.... kenapa.... kenapa jadi seperti ini?”
Sebenarnya apa yang baru saja terjadi padaku, kenapa aku melakukan semua itu. Kenapa! Kenapa aku jadi seperti itu, aku yakin itu bukanlah diriku yang sesungguhnya. Namun aku masih belum bisa mempercayainya, kalau tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id