Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 49 – Kepolosan Carsten


__ADS_3

Setelah Carsten sudah menyelesaikan ritual pemanggilan {Senjata Roh Binatang} dan mendapatkan Senjata Rohnya untuk pertama kali. Sekarang adalah giliran kami untuk mengambil inti roh dari Mutiara Roh, lalu mendapatkan energi roh juga seperti apa yang dilakukan oleh Carsten sebelumnya.


“Terimakasih banyak Tetua Agamemnon atas arahan dan penjelasannya selama ini. Dengan begini saya akan jadi lebih giat berlatih dan menjadi petarung yang kuat agar kelak dapat menjaga keamanan dan ketentraman kerajan ini, Kerajaan Laiquendi.” Ucap Carsten berterima kasih kepada Tetua Agamemnon.


Dia begitu antusias dari awal sampai akhir, Carsten telah melalui semua proses dengan baik dan berhasil membuktikan bahwa ras Elf adalah salah satu ras terkuat pada jaman leluhur sampai sekarang pun kami akan menjadi yang terbaik.


“Hahaha.... itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai Tetua Nak Carsten. Kami cuman berharap agar kau dapat menjadi petarung hebat dan kelak tidak melupakan tanah kelahiranmu. Berpetualanglah di benua nan luas ini dan kembalilah dengan membawa kejayaan serta kemuliaan.” Balas Tetua Agamemnon dengan senyuman lebar yang menghias raut wajahnya yang keriput.


“Tapi Tetua... ada yang ingin saya tanyakan lagi...” Carsten tampak bingung dan memandangi tiap jengkal dari kedua Senjata Roh miliknya. Dia memutar-putar senjatanya yang berbentuk kipas tangan, seperti sedang mencari sesuatu yang entah aku sendiri tidak mengetahuinya. Mungkin sedang mencari tombol ‘Build Up’ atau entah tombol ‘Skill’.


Melihat salah satu alumni murid Akademi Bunga Hijau, Carsten yang tengah kebingungan. Tetua Agamemnon menghampirinya dan bertanya, “Ada apa Nak Carsten? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”


“Saya...” Carsten tampak malu-malu untuk mengungkapkan sesuatu.

__ADS_1


“Iya Nak Carsten? Kau bisa menyampaikannya kok. Tidak perlu malubseperti itu.” Balas Tetua Agamemnon ramah.


“Saya... Saya tidak tahu bagaimana cara menon-aktifkan Senjata Roh ini.” Ucap Carsten dengan memamerkan muka polos, seperti wajah anak kecil yang tidak tahu cara untuk mematikan mesin pemanas.


GUBRAK! Semua orang dan murid-murid tertegun melihat tingkah bodoh dari Alumni Carsten. Sesaat kemudian kesenyuian seluruh penjuru Aula Akademi pecah oleh gemuruh tawa atas perkataan lugu dari salah satu prajurit kerajaan, Carsten. Kepolosannya sangat berbanding terbalik dengan tampangnya yang serius, kini dia tampak lucu dengan gelagatnya.


“Hahahaha.... lihat wajah polos dari Alumni Carsten, Hans. Dia lucu sekali.” Tawa Son terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul bahu kiri sahabatnya.


Dibandingkan dengan Son yang tidak bisa menahan tawanya, Hans masih lebih berpengalaman dalam menahan tawa. Dia hanya mengigit bibir bawahnya agar tidak tertawa terbahak-bahak seperti murid-murid lainnya.


GLEK. Son menelan ludah sebab dia sendiri tidak tahu jawaban dari pertayaan yang dilontarkan oleh Alumni Carsten. Benar saja, mana mungkin kami tahu mengenai hal tersebut. Bahkan kami belum mempraktekkan proses pembentukan Senjata Roh sama seperti yang dilakukan oleh Alumni Carsten sebelumnya.


Tapi tak lama bagi Son untuk kembali tertawa. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, namun dia begitu menikmati suasana sekarang. Tak terkecuali semua orang yang ada di dalam aula, mereka ikut tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Carsten.

__ADS_1


“Hahaha.... cukup ketawanya.” Ujar Tetua Agamemnon.


“Bagaimana caranya Tetua Agamemnon?” Timpal Carsten memelas.


“Kenapa kau bertanya seperti itu Nak Carsten, bukankah malah akan jadi lebih baik jika kau terus-menerus mengaktifkan Senjata Roh tersebut?” Sindir Tetua Agamemnon.


“Memang kekuatan dari energi roh terus mengalir di seluruh tubuhku, namun secara perlahan tubuhku terasa mulai kelelahan dan tidak tahu kenapa staminaku juga ikut terkuras.” Ujar Carsten keheranan.


Benar saja apa yang dia ucapkan, sedikit demi sedikit dia mulai tampak letih dan keringat perlahan berkumpul membentuk gumpalan air selayaknya tetes embun pagi hari.


“Itu adalah salah satu efek dari penggunaan Senjata Roh. Oleh sebab itu kita tidak boleh semena-mena terus mengaktifkan kekuatan yang luar biasa dari energu roh. Sebab setiap penggunaan peningkatan kekuatan pasti ada efek sampingnya.” Ujar Tetua Agamemnon. 


Mendengar ucapannya dari Tetua, kami menghentikan tawa serta ocehan dan kembali memperhatikannya setiap detail penjelasan darinya.

__ADS_1


Efek samping? Berarti sama dengan apa yang terjadi pada Adellia. Ketika pertarungan kami dengan Zardock telah mencapai puncak, dia sedikit kelelahan, dan napasnya juga tidak teratur. Ini juga pernah disebutkan oleh Kakek Hork, bahwa ketika kita melakukan ritual pemanggilan {Senjata Roh Jiwa} berarti kita juga harus siap mengorbankan jiwa kita agar dapat memanggil Senjata Jiwa dan peningkatan kekuatan.


__ADS_2