Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 98 – Efek Samping


__ADS_3

“Apa kau berhasil Kek?” tanyaku setelah tidak mendengar lagi adanya bunyi ledakan dan hempasan angin nan kuat.


“Hahahaha... luar biasa!” ucap Kakek Hork dari kepulan debu yang bertebaran menyembunyikan sosoknya.


Aku perlahan menghampirinya untuk mengecek bagaimana keadaannya. Tampak cahaya tameng yang dikeluarkan oleh Kakek Hork tak ada satupun yang pecah.


Padahal tanah di sekitar kami sudah hancur hingga membuat tanah berlubang dan menggunung di daerah yang dilindungi oleh Kakek Hork menggunakan sihir penghalau tiga lapis, «Drievoudig Schild».


“Bagaimana mungkin kau bisa menghalau «Great Fire Ball», Kek?” tanyaku.


Aku mendapati Kakek Hork yang tengah berdiri dan tetap fokus mengatur kembali energi sihirnya. Dia bersiap jika ada serangan lanjutan.


“Ini berkat krirtal penghalang, aku tidak menyangka akan jadi sihir pertahanan sekuat ini,” ucap Kakek Hork menoleh ke arahku.


Kakek Hork memberitahuku jika mungkin ini adalah sihir pertahanan terkuat yang pernah dia gunakan.


Awalnya dia hanya ingin menggunakan sihir penghalau dua lapis. Sihir itu juga termasuk sihir pertahanan tingkat tinggi.


Jadi setidaknya membutuhkan dua item sihir untuk mengaktifkannya, dan tak lupa penggunanya harus memiliki tingkat energi sihir yang mumpuni.


Kalau tidak memenuhi syarat di atas, bisa-bisa penggunanya yang akan terkena efek dari serangan musuh.


Meskipun berhasil menghalau serangan musuh, tapi tetap saja efek serangan akan terasa penuh ke penggunannya.


Sebab sihir penghalaunya hanya menepis serangan fisiknya. Jadi serangan sihirnya tetap berefek.


Rasa sakit yang ditimbulkan dari serangan sihir jauh lebih sakit daripada serangan fisik, meskipun serangan sihir tak berefek pada luka fisik.


Terlebih sihir penghalau biasanya membutuhkan setidaknya dua orang penyihir biasa untuk menciptakan tameng krital segi enam yang cukup tebal.


Sedangkan untuk sihir penghalau dua lapis setidaknya membutuhkan penyihir biasa berjumlah tiga sampai lima orang.


Tergantung ketebalan dan ketahanan dari sihir penghalau yang digunakan. Tapi untuk membuat tiga lapis, paling minim harus menggunakan sepuluh penyihir.


Bahkan bisa jadi membutuhkan penyihir lebih jika menginginkan hasil yang lebih maksimal.


Namun Kakek Hork bisa menciptakan sihir penghalau tiga lapis, «Drievoudig Schild» hanya dengan seorang diri saja.


Dia hanya perlu dua cincin sihir dan dikombinasikan dengan kristal penghalang yang sebenarnya entah dia dapatkan dari mana.


Sudah berapa kali aku lontarkan pertanyaan yang sama padanya, tapi dia selalu menghindar dan tidak memberikan jawaban yang pasti.

__ADS_1


“Ukh!” pekik Kakek Hork memuntahkan darah kental dari mulutnya, tampak merah membasahi janggutnya nan memutih.


“Apa yang terjadi padamu, Kek!” Aku memopang tubuhnya yang hampir saja terjatuh. Beberapa kali dia berdahak seraya diikuti dengan darah yang dia muntahkan.


“Mungkin ini hal yang harus aku bayar ketika menggunakan kristal pennghalang, aku tidak dapat memungkiri ternyata kristal ini banyak menyerap energi sihirku," ucap Kakek Hork.


Aku mugkin tidak bisa bertahan lama, lebih lagi mereka pasti akan menyerang kita lagi ketika tahu serangan pertama mereka gagal menghancurkan kita,” tuntasnya berpesan kepadaku.


“Kau harus secepatnya mencapai kamp perkemahan, sebelum semua terlambat,” imbuhnya seraya melepaskan dirinya dalam dekapanku.


“Tidak akan sempat. Sekilas aku mengukur jarak dari lemparan bola api dan itu kurang lebih dua kilo meter. Meskipun aku berlari secepat apapun, pasti susah untuk mencapai tepat pada waktunya,” balasku.


“Hanya dua kilo saja, kau pasti bisa,” ucap Kakek Hork meyakinkanku.


“Bagaiamana bisa?” tanyaku.


Kakek Hork tersenyum ke arahku. Sepertinya dia memiliki sebuah rencana lain.


“Apa kau lupa siapa diriku, wahai anak muda?” ujar Kakek Hork. “Dan kau tahu siapa dirimu yang sebenarnya, kan?” imbuhnya sambil melirikku.


“Cepatlah ke sana! Pasrakan urusan yang di sini padaku!” tuntas Kakek Hork meneriaki ku agar segera berlari menuju kamp perkemahan untuk mencegah mereka menyerang kami lagi.


Tanpa banyak bicara aku langsung berlari sekencang-kencangnya. Walaupun kabut sudah tampak memudar karena tekanan angin dari ledakan tadi.


“Sihir penambah kecepatan, «Snel»!”


Terdengar dari arah belakang, Kakek Hork tengah merapalkan sebuah mantera sihir untuk menambah kecepatan lari.


Tubuhku memancarkan cahaya kuning mengilap dan kemudianya merambat ke sekujur kaku, menyelimutinya beberapa detik lalu memudar.


Aku merasakan tubuhku ada yang berbeda. Kecepatan lariku jadi meningkat dratis serta tubuhku terasa ringan, seringan kapas.


Aku pun jadi semakin bersemangat dan melesat bagai kilat.


Tapi di sisi lain, di dalam kamp perkemahan terlihat dari kejahuan tengah menyiapkan sebuah serangan lanjutan.


Warnanya merah membara terlihat di langit nan semu. Serangan itu mengarah cepat ke arahkku, berkobar-kobar, dan siap membakarku kapan saja.


Namun aku sangat menantikan serangan itu, aku segera berlari zig zag.


Serangan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku berhasil menghindari semuanya.

__ADS_1


Kali ini serangan yang mereka lancarkan hanya berupa «Fire Ball». Mungkin para penyihir yang berbakat sudah kehabisan energi setelah melancarkan «Great Fire Ball».


“Dia mendekat!” teriak seseorang yang memakai zirah hitam lengkap satu set.


Dia kemudia mundur masuk ke dalam. Di sana terlihat jelas di sekeliling kamp perkemahan dibangun sebuah tembok kayu yang memiliki tinggi sekitar dua sampai tiga meteran saja.


Jelas tembok itu tak akan bisa menahan gempuran-gempuran monster yang memiliki tubuh besar.


Bahkan bagi Majuu tembok setinggi itu bagaikan menghancurkan kulit kerang dengan sekali injakan.


“Pasukan A bersiap untuk bertempur.”


Terdengar jelas suara yang sangat aku kenali. Tegas dan lugas. Penuh semangat dan pantang menyerah. Meskipun terdengar nyaring dan lantang.


Tapi ketika sekali dia mengucapkan sepatah kata, semua pasukannya pasti akan menuruti permintaannya. Tidak salah lagi itu adalah suara sang pemimpin pasukan bala bantuan, Adellia Monattlas.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2