
[ Not Edited ]
“Keluar?!” balas Tyaga menyeringai dan memiringkan kepalanya hingga membuat tulang lehernya patah. “Dasar bodoh!! Mana mungkin aku mau keluar dari tubuh... tubuh yang sangat lezat ini. Hahahaha.....” tawanya menggelegar, membuat takut sebagian pasukan yang tersisa.
“Apa maksudmu!” tanya Kakek Hork, perlahan dia mendekati Tyaga. Tetap dalam posisi penuh kewaspadaan. Dia juga menyuruh pasukan lainnya ikut berjaga di penjuru yang lain.
“Kalian! Para manusia rendahan, mana mungkin kalian mengerti perasaan ini!”
Tyaga benar-benar kehilangan kewarasannya dan berkali-kali dia memutar kelopak matanya, seakan sedang mengawasi sekitar. Tapi pergerakan kelopak matanya itu tidak wajar, karena bergerak terlalu cepat.
“Memang kami tidak mengerti, jadi lepaskan anak ini, dan bertarunglah dengan jujur.”
Tidak ada cara lain kecuali harus bernegosiasi dengan sosok yang mendiami tubuh Tyaga. Meskipun ada cara yang lebih mudah, yakni dengan langsung membunuh Tyaga. Sayangnya tidak mungkin Kakek Hork melakukannya. Bukan karena didasari perasaan, tapi Tyaga adalah salah satu orang yang harus dijaga dan dijamin keselamatannya oleh pasukan Adellia.
“Lagi-lagi kau melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan!! Tapi...” Sejenak Tyaga menghentikan ucapannya, dia memandangi sekitar. Apa yang dia cari dari tadi, ada hal lain lagi yang dia sembunyikan.
“Tapi meskipun aku keluar dari tubuh ini, kalian pasti tidak akan bisa mengalahkanku. Aku jamin kalian akan terbunuh semuanya!” tandasnya, menyiratkan sebuah pesan dari kematian.
Suasana tiba-tiba mencengkam dan muncul kabut pekat yang memenuhi di tiap bagian. Seketika jarak mata memandang semakin sempit dan posisi pasukan jadi tidak teratur. Kakek Hork juga semakin kesusahan untuk mengecek posisi pasukan lainnya. Tapi dia sama sekali tidak mengendorkan sihir «Bevestiger».
“Aku rasa aku masih bisa menahan pergerakannya,” gumam Kakek Hork.
“Ke mana perginya yang lain, kenapa aku merasa hawa keberadaan mereka semakin menipis...” imbuhnya.
Kakek Hork menatap jauh menembus pekatnya kabut. Namun sejauh mata memandang, tak satupun kesatria yang dia jumpai. Anehnya lagi, dia seakan merasa bahwa Tyaga baru saja terlepas dari sihir pengikatnya.
Benar saja. Ketika Kakek Hork melangkahkan kaki mendekat ek tempat Tyaga, dia tidak mendapati seorangpun di sana. Sihir «Bevestiger» yang mengikatnya, kin hanya menyelimuti sebuah gumpalan kabut.
“Sial!” umpat Kakek Hork dalam hati.
Percuma. Kakek Hork sempat menggunakan sihirnya untuk menghilangkan kabut yang ada di sekitarnya. Namun lagi-lagi gagal. Meski sempat menghilang, tapi dengan cepat kabut kembali memekat, dan bahkan Kakek Hork masih tidak bisa menemukan kesatria ataupun pasukan lainnya.
HIAA!!!
Suara pekikan seseorang yang berada tidak jauh dari Kakek Hork. Tanpa banyak pikir, Kakek Hork langsung berlari ke arah sumber bunyi dan tetap berjaga dengan semua perlengkapan sihirnya. Kedua cincin sihir dan sepotong kristal, kerap kali semua item itu memperlihatkan aura ataupun warna energi sihir yang ada di dalamnya.
Belum sempat Kakek Hork sampai, suara itu tiba-tiba menghilang. Tertelandalam kesunyian kabut. Menyisakan bekas darah yang menggenang segar dan anehnya tidak ada sosok mayat yang tertinggal. Jejak kaki pun tersapu oleh keheningan. Suasana benar-benar terasa hampa dan tidak terdengar sedikitpun suara.
Namun dari bekas darah, sepertinya kesatria itu terbunuh hanya dengan sekali serangan dan itu tepat mengenai titik vital. Hingga membuat korban langsung terbunuh dengan sekali serangan saja. Kakek Hork pikir mungkin lagi-lagi ini adalah akibat dari ayunan pedang Tyaga.
__ADS_1
“Wahai seluruh pasukan yang tersisa! Jika kalian mendengarku, aku perintahkan kalian untuk mendekat ke sumber suara!” teriak Kakek Hork menyuruh pasukannya berkumpul ke satu titik.
Sayangnya tidak ada jawaban. Hanya sunyi dan sepi yang menemani Kakek Hork. Situasi jadi semakin mencengkam, kabut seakan membawa sisa-sisa butiran darah. Tertiup angin dan menggumpal bersama membentuk sebuah kabut pekat berwarnakan merah gelap. Berbau amis dan tentu membuat kalian takut bukan main.
“Siapapun yang mendengarku, jawablah! Tenangkan diri kalian!”
Kakek Hork tidak mau menyerah, dia berkali-kali mengulangi kalimat itu dan terus berharap ada yang menjawab. Namun dia tidak bergerak sedikitpun, Kakek Hork lebih mempertahankan posisinya, dan menunggu waktu yang tepat untuk bergerak. Dia takut, jika dia bergerak secara gegabah, bisa-bisa dia malah semakin terjerumus ke dalam Hutan Laiquendi.
Menunggu bantuan, itulah kalimat tepat yang menggambarkan posisi Kakek Hork sekarang. Tidak hanya itu, Kakek Hork juga tidak ingin berdiam diri tanpa melakukan usaha lainnya. Dengan kemampuan sihirnya, dia merapalkan sihir «Mini Fire Ball» untuk mengetahui keadaan ataupun kondisi di sekitarnya.
Siapa tahu sihir «Mini Fire Ball», mengenai salah kesatria, dan memberi tahu posisi Kakek Hork. Hanya saja, Kakek Hork tidak tahu sampai kapan kabut ini terus bermunculan, dia berharap tidak terjebak dalam kabut ini selamanya.
“Apa tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan...” gumamnya memecah sepi.
“Tunggu....” imbuhnya.
Terbesit dalam pikirannya, bahwa kabut ini bisa saja merupakan sihir wilayah. Menurut penuturan Tyaga, bahwa yang akan menyerang kali ini adalah seekor Majuu. Monster yang dapat memiliki energi sihir dan memiliki akal seperti manusia pada umumnya. Terlebih Majuu adalah monster yang paling ditakuti di dalam Hutan Laiquendi ini.
“Jika benar, maka sekarang aku terjebak di dalam sihir wilayah miliknya,” ucapnya lirih.
Sejenak Kakek Hork melirik ke sekitarnya dan mencoba mencerna semua yang terjadi baru saja. Tidak mungkin kabut bisa menyembunyikan aura kehidupan dari seseorang, apalagi membuat suasana jadi sesunyi ini. Walaupun kabut setebal dan sepekat ini, jika tanpa ada energi sihir maka kabut ini tidak akan berguna dalam pertarungan
Terjebak di dalam situasi seperti ini bukanlah hal yang baru bagi Kakek Hork. Bahkan sebelumnya, saat melawan sosok misterius. Kakek Hork bisa menggalkan sihir penghenti ruang dan waktu, «Ruimte Rusten», salah satu sihir kelas atas dan tergolong sihir terlarang. Meskipun demikian, sihir wilayah sangat mudah digagalkan jika kalian mampu mengganggu konsentasi penggunannya.
Sudah dipastikan bahwa penggunanya berada di dalam wilayah sihirnya juga. Jadi Kakek Hork harus memikirkan cara bagaimana menemukan Tyaga atau mungkin bertemu dengan si Majuu secara langsung.
“Sebenarnya aku masih memiliki satu cara, yakni dengan mengaktifkan sihir «Gebarsten Grond».”
Kakek Hork kemudian memasukkan salah satu cincinnya dan memfokuskan diri pada salah satu cincinnya saja. Mengaktifkan sihir «Gebarsten Grond», bukan perkara yang sulit bagi Kakek Hork. Walaupun kesempatannya juga masih tergolong kecil. Bagaimana tidak, sihir «Gebarsten Grond» memerlukan proses pengaktifan yang lumayan lama.
Pengumpulan energi di dalam «Akik Steen», pemanggilan energi alam «Volle Kracth» dan energi jiwa «Qua», lalu menggabungkannya, dan proses terakhir adalah pelepasan sihir «Gebarsten Grond». Sihir yang dapat mengangkat dan mengendalikan tanah di sekitar penggunanya. Cukup kuat untuk menjatuhkan monster ataupun meratakan suatu wilayah.
“«Akik Steen»!! «Volle Kracth», kekuatan penuh!” Lolongan keras Kakek Hork terdengar nyaring menepis keheningan.
“«Akik Steen», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga dan pikiran jiwa yang kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu, Hork De Kallismet.”
Sebuah pola kalimat yang sama merebak sempurna dengan gelap dan seketika sekumpulan awan menyatu di atas batu permata yang ada di jari tengah kakek. Segumpalan awan tadi mulai memutar dan membentuk sebuah lingkaran dengan pusat yang memancarkan sebuah cahaya biru. Menerjang ke bawah bak kilasan laser.
” «Qua»!! Angkatlah tanah, retakkanlah bentala, buatlah daratan ini berguncang! «Gebarsten Grond»!!” Ucap Kakek Hork dengan penuh semangat.
__ADS_1
Seketika itu pula tanah bergetar tidak menentu, retak nan menghiasi bentala, guncangan hebat menggelegar dalam masing-masing jiwa yang masih hidup. Tak sampai disitu saja, tanah yang tadi retak sekarang sekarang bergetar hebat dan membuat beberapa tanah menjulang ke atas ataupun membentuk sebuah jurang.
Menumbangkan pepohononan dan tentunnya membuat penggagalan sihir wilayah dari Majuu itu. Seketika kabut menghilang, bersamaan dengan munculnya banyak monster yang ada di sekitar Kakek Hork. Tidak hanya itu sudah banyak mayat kesatria ataupun para penyembuh yang menjadi makan malam para monster.
Melihat pembantaian itu secara langsung membuat Kakek Hork tidak bisa berkata-kata lagi. Dia terpaku menyaksikan mulut para monster yang dipenuhi oleh daging pasukannya. Hanya Kakek Hork seorang yang tersisa dan... Tyaga masih berdiri kokoh di dekat monster. Dari gelagatnya mungkin monster itu adalah pemimpin dari segerombolan monster itu.
“Tidak mungkin....” ucap Kakek Hork lemas. Pembantian yang luar biasa, pedang Tyaga mengalir deras darah merah mengental. Segar nan amis, semua pasti terbunuh dengan pedang itu.
“Kenapa kau bisa menjadi setega itu, Tyaga. Apa tidak ada sedikit kesadaran yang tersisa dalam dirimu...” imbuhnya pasrah akan keadaan. Di setiap penjuru ada monster-monster yang masih kelaparan, kapan saja siap menerkam Kakek Hork.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1