Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 114 – Waktunya Jaga


__ADS_3

“Kakek... Akankah aku bertemu lagi denganmu.” Aku bergumam lirih.


“Kak, bangunlah,” ucap seorang gadis seraya menggoyang-goyangkan tubuhku pelan.


Perlahan aku membuka mata dan tampak wajah seorang gadis, kulitnya seputih salju dihiasi sepasang mata beriris biru nan menawan.


Tangan mungilnya tengah bersusah payah membangunkanku, lembut dan malah membuatku semakin nyenyak.


“Sudah pagi ya?” tanyaku mengusap kedua mata dengan jari-jemariku.


“Tidak Kak.”


“Sekarang sudah giliran Kakak berjaga,” imbuh Saigiri menyeret kerah baju untuk memaksaku duduk dan menyadarkanku.


“Secepat itukah? Aku masih mengantuk,” balasku malas.


“Bangunlah, Kak. Cepatlah.”


Dia semakin kuat menarik baju, berkali-kali dia mengangkat. Tapi apa daya denganku yang masih lemas dan tidak sanggup membuka mata.


“Bisakah kau menggantikanku untuk malam ini saja.” Sungguh jiwaku masih terjebak dalam dunia mimpi, begitu pula dengan ragaku yang tidak mau bangun dari tidurnya.


“Mana bisa,” Dari nada yang terucap, terdengar Saigiri mulai kesal.


Kedua mata nan terpejam malas, enggan terbuka, dan tidak bisa melihat raut wajah kesalnya. Sangat disayangkan.


“Tadi Kakak juga sudah menyetujui untuk ikut berjaga malam ini,” imbuhnya.


Pasrah karena tak mampu membangunkanku. Saigiri kini menarik paksa kedua kakiku yang membuatku terjatuh dari tempat tidur.


Kepalaku terbentur tanah dengan keras, hingga membuatku bangun sepenuhnya.


“Aduh,”gumamku sambil mengelus-elus kepala yang terasa sedikit ada benjolan.


Kesal memang.


Tapi aku tidak bisa memarahinya begitu saja. Mau tidak mau aku harus segera bangun dan membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di punggung.


Seperti yang diucapkan olehnya, malam ini aku harus berjaga, sama halnya yang aku lakukan di lain hari.

__ADS_1


Kenapa aku selalu mendapatkan jatah di dini hari. Aku sendiri tidak menyangkanya.


“Hey Tyaga, kenapa kau tidak kunjung mengisi pos jagamu.” Kali ini Son yang datang menjemputku. Mentang-mentang tadi dia beristirahat duluan.


Staminanya jadi lebih terisi dibandingkan aku yang dari tadi ikut membantu membereskan beberapa puing-puing bangunan.


“Pantaskah kau berkata seperi itu?” ucapku menyindirnya.


Sementara Saigiri berjalan begitu saja melewatiku. Dia kemudia mengambil posisi tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Melihat bala bantuan datang, dia sama sekali tidak mempedulikanku dan langsung tidur.


Dia tidur di tempat aku tidur tadi, apa maksudnya itu. Apa dia sengaja membuatku kesal.


“Salahmu sendiri, sudah tahu bahwa mendapatkan tugas jaga, kenapa kau tidak segera tidur. Malah bersemangat membantu pasukan lainnya,” timpal Son enggan mempermasalahkannya.


“Lebih lagi tidak ada yang minta bantuanmu, semua bekerja sesuai tugas masing-masing,” imbuhnya meledek.


“Sial kau,” geramku.


Son kemudian mengajakku untuk bergegas menuju tempat berjaga. Dia menungguku di luar, sementara aku masih bersiap di dalam tenda.


Sedari awal aku memang enggan untuk mengenakannya. Bukan karena risih, tapi aku lebih suka bertarung tanpa menggunakan zirah.


Aku mengaitkan sabuk di pinggang, kemudian menyarungkan pedang ke tempatnya.


Pisau kecil aku taruh di paha sebelah kiri yang sudah terpasang sebuah kantong kecil dan pengikat kecil.


Tak lupa aku mengambil rompi coklat yang biasa aku kenakan. Meskipun lusuh dan terdapat beberapa bercak darah.


Tapi aku lebih suka mengenakannya dibandingkan memakai sebuah zirah. Lebih ringan dan membuatku bergerak leluasa.


“Semua siap. Tidak ada yang tertinggalkan?” tanyaku pada diri sendiri. Memastikan apakah ada barang belum aku bawa.


“Apa Kakak sudah memakan apel dan roti yang sudah aku siapkan dari awal,” ucap lirih Saigiri dari balik selimutnya, dia masih belum sepenuhnya tidur.


“Oh ya kelupaan.” Aku pun mengambil piring yang ada tepat di sebelah ranjang tidurku, di sana terdapat satu buah apel dan dua lapis roti.


“Terimakasih,” ucapku.

__ADS_1


“Tidurlah dengan nyenyak.” Sebelum aku pergi.


Aku sedikit menarik selimut, hingga memperlihatkan dahinya. Aku membelai rambutnya dan aku kecup keningnya dengan lembut. “Selamat malam.”


Son pasti sudah menungguku, aku lantas keluar dari tenda. Setelah aku menghabiskan semua hidangan.


Malam ini hawanya lebih sejuk dibandingkan malam sebelumnya, kabut sudah mulai menghilang, dan rembulan tampak gagah menyinari bumi dengan cahaya.


Berjejer rapi bintang-bintang di angkasa, saling menyambungkan sinarnya, dan membentuk sebuah pola langit.


Aku harap esok dan seterusnya tidak terjadi apa-apa. Semoga saja kejadian itu tidak terulang kembali dan kami berlima bisa segera sampai di ibukota kerajaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2