Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 79 – Aura Membunuh


__ADS_3

“Lama sekali...” Ucap Saigiri menghampiriku seraya mengambil beberapa ikat kayu bakar.


Lantas dia terburu-buru membawanya ke belakang kereta kuda. Sepertinya dia bersama Aalisha dan Adellia sedang memasak di sana.


Aku akan menyapa nanti sesudah menyelesaikan tugasku.


Sesaat aku berpikir ternyata selama ini, Saigiri bukan lagi seorang adik kecil yang selalu ingin dimanja oleh kakaknya.


Tanpa sadar dia sudah tumbuh menjadi seorang perempuan yang mandiri, terlebih dia juga tidak mungkin terus bergantung padaku untuk selamanya.


Hal itu pasti terjadi, di umurnya yang sekarang sudah waktunya bagi Saigiri untuk mencari pasangan.


Tapi aku tak akan membiarkannya mendapat seorang laki-laki yang setengah-setengah. Tak mungkin aku menyerahkan adik kecilku nan manis ke sembarang orang, setidaknya kemampuan serta kekuatannya di atasku.


Hal pertama yang menjadi tolak ukurku adalah apakah orang itu mampu menjaga dan selalu berada di sisi Saigiri atau tidak.


Aku pikir-pikir akan cukup menyesakkan hati, jika melihatnya bermesraan dengan laki-laki asing.


Ternyata hatiku masih saja belum bisa merelakan ataupun melepaskan adikku, Saigiri. Betapa sayangnya diriku kepadanya, kami cukup lama tinggal bersama.


Menghabiskan waktu bersama-sama sebagai adik kakak. Melihat pertumbuhannya yang kian cantik dan menawan.


Menyaksikan bagaimana awal dia belajar memasak yang ujung-ujungnya terjadi kebakaran hebat di dapur. Untungnya tidak ada korban jiwa didalamnya.


‘Apakah aneh jika kalian memiliki kakak sepertiku?’ gumamku dalam keheningan malam.


Sudahlah aku tak seharusnya memikirnya sekarang. Cukup menikmati jalannya cerita yang telah dituliskan oleh Tuhan.


Namun aku akan selalu memberikan yang terbaik untuk Saigiri, agar semua kehidupannya berjalan dengan kebahagiaan dan tak akan aku biarkan air mata kembali menetes lesu di pipinya.


Dari awal salah satu tujuan hidupku adalah ingin selalu membahagiakannya.


***


Son meletakkan dua ikat kayu bakar dan menyusunnya mengerucut ke atas.


Aku pun ikut membantunya dengan menyatukan satu per satu ranting dengan serat-serat daun kering yang telah aku olah sedemikian rupa hingga membentuk sebuah tali.

__ADS_1


Meskipun tidak terlalu panjang tapi cukup untuk mengikat beberapa kayu bakar agar lebih mudah di susun.


Beberapa sisa kayu bakar terlihat tergeletak di salah satu pohon, mungkin akan kami gunakan di malam-malam berikutnya.


Setidaknya bisa kami gunakan besok dan lusa, tanpa harus mencari ranting-ranting pohon lagi.


Lucunya adalah ketika Son dan aku tengah berbondong-bondong membawa sepuluh ikat kayu bakar, mereka semua menertawai kita dengan sangat puas.


“Apa kalian mau berjualan kayu bakar?! Hahaha...” Ucap Kakek Hork saat melihat kami pertama kali keluar dari semak-semak dan dilanjutkan dengan tawa yang khas seorang kakek-kakek.


Selain Kakek Hork semuanya pun jadi ikut tertawa seraya melontarkan ejekan-ejekan yang intinya adalah mereka bingung kenapa aku dan Son membawa kayu bakar yang cukup digunakan berkemah selama empat hari.


Hal itu tentu membuatku kesal, tapi ya sudahlah bagaimana pun kami memang terlihat aneh.


Namun Son malah tampak puas melihat teman-teman menertawainya, entah apa yang ada dipikirannya sehingga menampakkan ekspresi seperti itu.


Setidaknya kejadian ini dapat mencairkan suasana dari gelapnya Hutan Laiquendi. Dari awal kami memasuki hutan ini, tak banyak dari teman-teman dan pasukan Adellia yang saling berbicara.


Mereka lebih fokus mengamati area sekitar. Kewaspadaan itu terus berlanjut dan memuncak ketika bertemu dengan «Tiny Wolf».


Setelahnya mereka jadi lebih parah dan tingkat kewaspaannya pun semakin meningkat.


“Sekiranya cukup,” ucapku menalikan ranting terakhir.


“Baiklah Tyaga. Aku akan memanggil salah satu penyihir untuk menyalakan api unggun dengan sihir api,” balas Son.


Setelahnya dia membersihkan sisa-sisa ranting kecil beserta dedanunan kering yang berserakan di sekitar api unggun. Dia lalu memasukkannya ke dalam api unggun.


Aku melihat yang lainnya juga tengah sibuk menyiapkan hal-hal lainnya. Tunggu apa yang sedang dilakukan oleh mereka.


“Tunggu... “ ucapku menghampiri salah seorang kesatria dan juga satu penyihir yang ada di sampingnnya.


“Ada apa Tuan Tyaga?” balas kesatria itu keheranan.


“Kenapa kau tetap menyebut kata Tuan. Cukup panggil aku Tyaga,” ucapku memasang wajah ramah.


“Bukan itu yang ingin aku bicarakan! Sedang apa kalian?” tanyaku sekali lagi, terpampang dari raut wajahku jika aku tidak sedang main-main.

__ADS_1


“Apa yang kau maksud ini?” ujar penyihir sambil memperlihatkan sebuah kristal kecil nan berwarna hijau dan sedikit kebiruan.


Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya.


Tapi yang membuatku datang menghampiri mereka karena aku merasa ada sebuah garis melintang berwarna biru muda yang mengait cahaya biru lainnya dari batu kristal lainnya.


Selayaknya sebuah pembatas. Namun yang aneh adalah ketika garis berkas cahaya biru itu muncul.


Aura yang terpancar dari jauh di kedalaman hutan terasa semakin mengerikan dan aura yang terpancar pun bukan lagi aura waspada, melainkan mulai lebih ke terganggu dan ada keinginan untuk membunuh.


“Dari mana kau mendapatkannya? Dan ini buat apa?” tanyaku penasaran.


Mereka entah sedang melakukan apa, tapi aku mencergahnya sebelum hal yang tak kami inginkan terjadi kembali. Bahkan mungkin lebih parah. Hal yang aku rasakan sungguh sangat menganggu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2