Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga


__ADS_3

[ Not Edited ]


Guncangan hebat terasa nun jauh di belakang. Sontak membuat Adellia menghentikan perjalanan dan langsung mengeceknya. Dia melesat cepat melewati barisan pasukan. Pecutan kuda penuh akan kekhawatiran, getir menyelimuti seluruh jiwa dan pikirannya.


Hans dan Son pun ikut menyusul di belakang Adellia. Sementara tim yang berada di barisan depan tetap berjaga dan menunggu perintah selanjutnya. Mendengar tim yang diisi oleh kakaknya tengah mengalami suatu bencana, Saigiri juga memutuskan untuk ikut mengeceknya. Tapi dengan sigap, Aalisha menghentikan langkahnya dan menyuruh Saigiri untuk tetap tenang.


“Apa yang terjadi?! Di mana lainnya?!” tanya Adellia ketika mengetahui Kakek Hork dan separuh tim barisan belakang tidak ada.


“Mohon maaf Nona, tadi Tuan Hork membawa sebagian pasukan untuk mengecek keadaan belakang. Namun sampai sekarang mereka tak kunjung datang,” balas salah satu kesatria yang ditugaskan oleh Kakek Hork sebagai pemimpin sementara dari tim barisan belakang.


“Kenapa kau tidak melaporkannya langsung kepadaku!” timpal Adellia meninggikan nada suaranya.


“Saya kira Tuan Hork hanya ingin menenangkan Tuan Tyaga yang mendadak menghentikan pacuan kudanya,” jawab kesatria itu lesu, merasa telah berbuat kesalahan yang sangat besar.


“DASAR BODOH!” umpat Adellia membentak kesatria itu.


“Kalau terjadi apa-apa dengan mereka berdua apa kau mau bertanggung jawab!” bentak Adellia. 


Kali ini dia benar-benar sedang marah. Tidak hanya itu dari raut wajah dan keringat yang mengalir di kening, terlihat jelas ada kekhawatiran pada dirinya. Cemas dan sedikit panik.


“Saya mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Adellia.” Kesatria itu langsung mengambil posisi bersujud dan meletakkan pedang tepat di depan kepalanya. “Kalau terjadi apa-apa dengan Tuan Hork dan Tuan Tyaga, saya rela dihukum mati,” imbuhnya pelan, minim sekali keteguhan hatinya sebagai seorang kesatria kerajaan.


“Bahkan nyawamu tidak ada gunannya. Mau kau mati, kau tidak akan bisa menebus kesalahanmu!!” Adellia tidak habis pikir dengan pasukannya.


Tanpa banyak pikir Adellia membawa pasukannya untuk pergi mengecek keadaan secara langsung. Letak getaran yang sempat dia rasakan juga tidak jauh dari posisnya sekarang. Dia memutuskan untuk membawa seluruh pasukannya.


Adellia tidak ingin menggunakan strategi dengan membagi pasukan lagi. Dia tidak ingin kekuatan tempurnnya jadi terbagi-bagi dan tidak terfokus dalam satu serangan. Adellia menyuruh para penyihir untuk menyiapkan sihir jarak jauh dan sebagian bersiap merapalkan sihir peningkat kemampuan ataupuun kekuatan.


Para rakshasa juga harus berubah di saat yang tepat dan menjadi tembok pertahanan jika terjadi pertempuran dadakan. Adellia tidak mempedulikan lagi pasukan. Kendati demikian, dia berpesan agar pasukannya tidak mati dengan mudah. Hanya itu pintanya. Dibaliknya, Adellia berharap dia beserta pasukan yang dimilikinya dapat membuahkan sebuah kemenangan.


“Maju!!” ucap Adellia melesat melewati pepohononan dengan lincahnya. Diikuti oleh lainnya yang tidak ingin tertinggal oleh pemimpinnya.


Sementara karavan ditinggal di belakang dan tidak ada satupun pasukan yang ditinggal untuk melindungi karavan. Adellia berharap dengan semua pasukannya ini, dia dapat memukul mundur semua musuhnya. Terutama jika para monster-monster yang kemarin sempat menyerang datang kembali dan menagih kematian teman-temannya.


“Cepat! Kita harus lebih cepat lagi!” teriak Adellia memecut semangat pasukannya.


Tidak ada satupun kesatria, penyihir, penyembuh, ataupun rakshasa yang mengeluh. Semua tampak menggebu-gebu. Inilah gendang peperangan. Semakin ditabuh maka semagant kalian akan semakin memuncak. Tempo pun tidak akan menurun jika kalian benar-benar sudah menyelesaikan peperangan tersebut.

__ADS_1


“Kita hampir sampai!” ujar Adellia saat tahu debu berserakan jauh di depannya.


“Kakek Hork.... Kau?” Suara lirih terdengar dari mulutnya. Menyaksikan Kakek Hork yang terluka parah. “Apa yang baru saja terjadi padamu!”


***


“Apa yang kau lakukan Tyaga?! Kenapa kau berada di sisi monster itu!” ucap Adellia.


Tidak ada jawaban. Tyaga malah menunduk layu dengan sebilah pedang yang masih menggantung lemas menyentuh tanah dan darah mengalir hingga membasahi satu tempat saja. Adellia masih belum bisa menerima penjelasan dari Kakek Hork. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri, dibuktikan dengan mayat-mayat di sekitar. Tidak mungkin sayatan itu akibat dari cakaran hewan.


“Dia.....” Saigiri menunjuk ke arah kakaknya.


“Dia bukan kakakku!” teriaknya saat tahu kalau yang membantai seluruh pasukan tim barisan belakang adalah kakaknya sendiri. Sama halnya dengan Adellia, dia masih tidak bisa menerima semua kejadian ini. Bagaimana mungkin kakaknya menjadi seorang pembunuh sekeji ini.


“Tentu dia bukanlah Tyaga yang kita kenal, dia sedang dikendalikan oleh monster yang ada di sampingnya,” tandas Hans menenangkan Saigiri dan berpikir secara rasional.


Selain Tyaga dan seekor monster srigala putih di sampingnya, masih ada monster-monster lain yang meraung-raung. Jumlahnya sekitar seratus sampai dua ratus, atau mungkin lebih. Kawanan monster itu tampaknya masih lapar, padahal sudah menghabisi bangkai-bangkai kesatria tanpa tersisa sedikitpun. Hanya menyisakan sebuah tulang-belulang saja.


“Hahahaha... cukup menarik,” ucap monster srigala. Monster itu memiliki bulu berwarna putih dengan sebuah selendang kain tipis yang mengikat kedua kaki bagian depannya. Selayaknya seekor monster mitologi kuno.


“Satu... Dua... Tiga... Empat, total ada lima Elf! Sungguh beruntungnya diriku kali ini. Penantianku selama bertahun-tahun, akhirnya sebentar lagi aku bisa menikmatinya!” imbuh monster itu dan diakhiri dengan tawa nyaring yang menyuarakan nada dan alunan yang penuh kesengsaraan.


Meskipun monster srigala putih memiliki postur tubuh kecil dan tidak terlalu tampak garang, tapi dia tetap adalah pemimpin dari para monster. Tubuh kecil bukan berarti tidak memiliki suatu kemampuan yang bisa menjadikannya pemimpin.


 Saigiri yang memiliki kemampuan merasakan adanya aliran energi seperti Tyaga pun memberti tahu Adellia. Bahwa monster yang berada di samping kakaknnya adalah seekor Majuu.


“Jadi begitu...” ucap Adellia mengangguk-angguk dan menyiapkan pedangnya untuk bertempur.


“Lantas apa kemampuannya?” imbuhnya bertanya.


“Kemampuannya adalah kabut,” timpal Kakek Hork mengistirahatkan tubuhnya dan disembuhkan langsung oleh tiga penyembuh. Titik tumpuan pasukan Adellia adalah terletak pada para penyihirnya, jadi Kakek Hork sangat diperlukan sekali.


“Kabut? Apa itu cukup berbahaya?”


Meskipun sedang berbicara dengan Saigiri dan Kakek Hork, tapi Adellia sedetikpun tidak bisa mengalihkan pandangannya terhadap Tyaga yang tengah berdiri nun jauh di depannya.. Tubuhnya berdiri tegak, tapi terlihat tidak bertenaga sama sekali. Tidak ada secerca cahaya di matanya, kosong menatap tanah yang ditapaki oleh kakinya.


“Entahlah... Tapi kemampuannya itu cukup merepotkan,” lanjut Kakek Hork.

__ADS_1


“Apa kita bisa mengalahkan mereka?” tanya Adellia menyakinkan dirinya sendiri.


“Tentu bisa. Kalau kita menyerangnya dengan kekuatan penuh, kemenangan bukan hal mustahil yang dapat kita raih,” tandas Kakek Hork.


Dengan lantang Adellia memerintahkan pasukannya untuk menyerang. Diawali dengan serangan sihir jarak jauh. Tentunya bukan sihir biasa, melainkan berpuluh sihir «Great Fire Ball». Kilasan cahaya merah melesat dari belakang Adellia. Bola pejal berwarna merah menyala, terbuat dari bara api surgawi, siap membakar semua jiwa yang terkena efek dari sihir tersebut.


“Serang!” seru Adellia mengangkat tinggi-tinggi tombaknya.


HOOAAAAA! Serentak seluruh pasukan berkuda melaju dengan cepat menerjang semua monster dan melancarkan serangan jarak medium dengan bersenjatakan sebuah tombak. Adellia pun dengan sigap mengaktifkan status «Qua» dan memanggil senjata yang terlahir dari jiwanya, yakni sebuah tombak biru yang dinamakan «Ganjur». Ganas membunuh satu persatu monster yang menghadang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2