
“Tunggu sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan Kek,” ucapku setelah tersadar bahwa tujuanku mencarinya bukanlah untuk memamerkan skill memasakku.
“Apa itu?” balas Kakek Hork sambil memanggang sisa ikan, dia menggunakan alat dan bahan yang aku gunakan sebelumnya.
Alasannya agar lebih menghemat waktu. Alasan yang konyol bukan.
“Sebenarnya aku berhasil menemukan energi...”
Belum sempat aku selesai ngomong, Kakek Hork langsung menyelaku.
“Benarkah kau berhasil menemukan mereka Nak Tyaga?!” Dia tampak kegirangan dan membiarkan panggangannya begitu saja dan cepat-cepat mendekatiku.
“Syukurlah jika kau berhasil menemukannya,” imbuhnya bahagia.
“Tapi...” ucapku lirih.
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?!” ucapnya sedikit kesal.
“Apa yang kau tunggu, kenapa kau malah santai-santai di sini?!” ajaknya saat melihatku hanya berdiam diri dan tak kunjung beranjak.
“Tolong dengarkan terlebih dulu penjelasanku, Kek.” Aku pun berdiri dan mendekatinya dengan seksama.
“Memang aku merasakan energi seorang manusia dan berhasil menemukan posisinya. Sayangnya energi yang terpancar darinya bukanlah energi yang aku kenal sebelumnya. Energi itu terasa asing bagiku, jadi tidak mungkin itu dari kelompok kita.” Aku menjelaskan semua apa yang telah aku temukan.
“Lantas yang menjadi pertanyaanku adalah siapakah gerangan yang memiliki energi itu,” imbuhku seraya memasang wajah serius.
“Tak mungkinkan ada manusia lain selain kita yang ada di hutan ini,” tuntasku berandai-andai.
“Ada.” Kakek Hork menjawab pendapatku dengan tegas.
Dia memberi tahuku bahwa saat ini mungkin masih ada beberapa manusia selain dia dan beberapa pasukan yang dibawa oleh Adellia, yaitu pasukan bala bantuan.
Sebab setelah peperangan melawan Zardock, beberapa kesatria dan rakshasa ada yang terluka cukup parah. Sehingga membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka-luka itu.
Menurut penuturan para penyembuh sekiranya membutuhkan waktu beberapa hari.
Oleh karena itu sebelum Kakek Hork, Adellia, dan beberapa pasukan pergi menemui Raja Achille, para penyembuh dan pasukan yang terluka mohon ijin untuk menginap atau berkemah lebih lama di dalam hutan.
Selain itu demi keselamatan bersama, tak ada satu pun pasukan yang kembali ke ibukota.
Semua saling menjaga, sampai seluruh pasukan benar-benar sembuh dan dapat melanjutkan perjalanan.
Di saat memutuskan jalur perjalanan baru pun Kakek Hork sempat mengatakan jika kami terus mengambil jalan di dekat hilir sungai, nantinya pasti bakal bertemu dengan pasukan lainnya.
__ADS_1
Kakek Hork masih yakin jika pasukan lainnya tengah menunggu kedatangannya dan Adellia.
Terlebih waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke kamp perkemahan juga hampir sama dengan waktu yang diperlukan para penyembuh untuk menyembuhkan pasukan yang tengah terluka.
“Jadi menurutmu energi yang kurasakan berasal dari salah satu pasukan bala bantuan,” tanyaku setelah mencerna semua penjelasan Kakek Hork.
“Mungkin saja. Kalau bukan mereka siapa lagi yang bisa bertahan di hutan nan menyeramkan ini,” balas Kakek Hork mengangkat kedua bahu sambil menadahkan kedua telapak tangannya.
“Tapi bukannya pasukan bala bantuan itu tak main-main ya jumlahnya,” ujarku.
“Kenapa kau berkata demikian?” tanya Kakek Hork meluruskan perkataanku.
“Masalahnya aku hanya merasakan lima energi saja. Dua energi penyembuh dan sisanya mungkin para kesatria,” ucapku memelankan suaraku, sebab aku sendiri tak begitu yakin, apa yang sedang terjadi pada mereka.
Kakek Hork menatapku seakan tidak percaya dengan apa yang aku omongkan. Dia bertanya apakah aku serius hanya merasakan lima energi saja.
Sayangnya aku tidak sedang main-main, hanya itu yang aku rasakan. Kakek Hork berpikiran positif mungkin mereka sedang berburu sehingga hanya ada lima orang saja.
“Itu tidak mungkin. Setelah lama aku merasakannya, tidak ada pergerakan sedikit pun dari mereka berlima. Para penyembuh itu sekiranya sedang mengobati para kesatri, sebab energi yang berasal dari mereka naik turun. Mungkin terjadi sesuatu dengan mereka.”
Aku menampik pikiran Kakek Hork dan mengajaknya untuk bergegas mengeceknya secara langsung.
Sebenarnya aku cukup panik, tapi kali ini aku harus lebih berusaha untuk mengendalikan pikiranku. Kakek Hork dan aku pun beranjak dari tepi sungai dan kembali ke tempat awal di mana kudaku tengah terikat di sana.
“Aku yang akan mengemudikannya,” ucapku seraya naik terlebih dulu di atas kuda. Setelahnya aku membantu Kakek Hork untuk naik.
Bermodal ingatan, aku terus melaju. Meskipun jalur yang aku lalui lebih mengarah ke utara. Ya. Jika aku terus mengikuti arah ini mungkin aku akan menemukan mereka.
Terlihat Kakek Hork tak sedikit pun menolak jalur yang aku lalui, aku berpikir dia bakal mencegahku mengambil jalan lain kecuali tetap menitih kuda di sekitar aliran sungai.
Dia tampak serius memandang ke depan, seakan ada yang tengah menunggu bala bantuan dari kami. Dia malah menyuruhku untuk mempercepat pacuan kudaku.
Untungnya kuda ini sudah beristirahat cukup lama, jadi stamina dan kecepatannya tak mudah kendor.
“Kapan kita akan sampai?” tanya Kakek Hork tidak sabar.
Dia ingin segera bertemu dengan pasukan bala bantuan, mungkin telah terjadi apa-apa pada mereka. Semoga saja bukan hal buruk yang menimpanya.
“Mungkin sebentar lagi kita akan sampai,” balasku. Padahal kami sudah berkuda hampir dua puluh menitan tapi tak kunjung menemukan kelompok itu.
Tak mungkin aku salah arah, aku cukup yakin kalau di sekitar sini tempat.
Aku merasakan energi yang sama di ujung sana, sepertinya itu mereka. Aku mempercepat laju kuda, menerobos semak-semak yang luar biasa tingginya, sekitar dua meter lebih.
__ADS_1
Dari balik semak-semak itu tengah bersembunyi dua penyembuh dan tiga orang kesatria. Baju mereka terlihat compang-camping dan penuh dengan bercak darah yang membasahi baju zirahnya.
Bahkan salah satu kesatria kehilangan tangannya hampir sebahu. Dia tengah dirawat intensif oleh seorang penyembuh.
Sementara satunya mendapatkan luka cakaran yang membekas sangat dalam, sehingga merobek zirah dan tampak tulang nan memutih muncul dari balik daging merah yang terbelah.
Penyembuh lainnya juga tengah fokus menutup luka itu.
“Sial, apa yang sedang terjadi di sini,” geram Kakek Hork langsung meloncat dari atas kuda dan bergegas menuju kelompok yang tengah kristis.
Tak terkecuali aku. Aku benar-benar tertegun setelah menyaksikannya. Lagi-lagi aku mencium bau darah nan amis berceceran kental, kian membusuk menghitam.
Sebenarnya apa yang baru saja terjadi.
Mungkinkah ini ulah seekor monster.
Mungkinkah kami harus bertarung lagi.
Mungkinkah kali ini aku akan benar-benar terbunuh. Pikiranku kacau nan memburu. Sial, beribu sial. Gumamku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id