
“Maaf Tetua Agamemnon, ada yang ingin saya tanyakan...” Ucap Carsten tampak tersipu malu dengan kedua Senjata Roh yang masih erat dalam genggamannya.
Carsten membalik-balikan senjatanya dan meneliti tiap detail bagian dari Senjata Roh yang berhasil dia panggil. Dia kebingungan dan seakan mencari sesutu dari senjata tersebut. Sesekali-kali dia meletakannya di lantai dan berharap terjadi sesuatu dengan Senjata Roh tersebut.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” Balas Tetua Agamemnon yang sedari tadi memperhatikan tingkah dari Carsten.
Carsten terdiam. Terlihat dia tidak ingin menanyakannya secara langsung, banyak orang yang menyaksikan. Bukan begitu. Melainkan dia malu untuk bertanya.
Pelan-pelan dia mendekati Tetua Agamemno, sebelumnya dia terlebih dahulu meletakan Senjata Rohnya di lantai aula. Carsten berbisik, ‘Bagaimana cara menghilangkan senjata tersebut?”
Mendengar hal tersebut Tetua Agamemnon tak tahan dengan apa yang Carsten tanyakan dan menggigit bibir bagian bawah agar tawanya tertahankan. Tetua menghirup napas dalam-dalam, menenangkan diri dan menghembuskannya perlahan.
“Kenapa?” Tanya Tetua Agamemnon serayamengangkat salah satu alisnya. “Bukankah tadi kau sangat mengidam-idamkan mendapatkan Senjata Roh? Mengapa kau sekarang malah ingin menghilangkan Senjata Roh tersebut? Bukankah jauh akan lebih baik jika kau terus mengaktifkann senjata itu?” Sindir Tetua Agamemnon.
“Iya Tetua, memang saya ingin terus mengaktifkannya. Tapi entah mengapa secara perlahan tubuhku mulai terasa kelelahan dan tidak tahu kenapa staminaku juga ikut terkuras.” Ujar Carten. Dia terlihat letih dan perlahan keringat bermunculan membentuk gumpalan air.
“Hahaha... itu benar sekali...” Balas Tetua Agamemnon bersemangat. “...Itu adalah salah satu efek samping penggunaan Senjata Roh.” Imbuhnya.
__ADS_1
Murid-murid akademi dan para warga yang tengah berkumpul di dalam aula tercengang akan kalimat yang terlontar dari Tetua Agamemnon. Mereka semua tidak sadar bahwa sesuatu yang dapat meningkatkan kekuatan ataupun melakukan ritual, apalagi ritual pemanggilan pasti membutuhkan suatu hal yang harus dikorbankan atau hal lain yang bisa berupa efek samping.
Sama halnya dengan apa yang terjadi pada Adellia Monatlass ketika melawan Zardock. Pada saat Adellia melakukan ritual pemanggilan {Senjata Roh Jiwa} ada sepenggal kalimat yang berbunyi ‘Rebutlah semua jiwa yang tengah diselimuti oleh kegelisahan’ dan setelahnya Adellia mendapatkan kekuatan serta Senjata Jiwa yang teramat kuat. Bahkan pertahan mutlak milik Zardock bukanlah tandingan dari ketajaman tusukan dari Senjata Jiwa milik Adellia yang berbentuk tombak.
Namun. Ini hanya sebuah kemungkinan. Dalam ritual pemanggilan tersebut Adellia jelas sekali dia mengorbankan ranah jiwa miliknya guna mendapatkan Senjata Roh tipe Jiwa. Namun yang masih menjadi pertanyaanku adalah tipe Senjata Roh yang dimiliki Kakek Hork saat mencoba menyelamatku dan Adellia dalam sihir penghenti ruang. Sepulang dari pertempuran melawan Zardock, aku jadi sangat kepikiran tentang hal itu. Mungkin kelak aku dapat menanyakannya langsung ke Kakek Hork.
Sementara itu Tetua Agamemnon melanjutkan ucapannya dan menjelaskan bahwa salah satu efek samping penggunaan Senjata Roh adalah terkurasnya stamina dan tenaga dari pemiliknya. Dalam hal ini disebabkan oleh energi roh yang terus-menerus mengalir agar bentuk dan kekuatan dari Senjata Roh tetap stabil.
Terlintas dalam pikiran kami bahwa kami sudah sering melakukan latihan fisik serta daya tahan tubuh yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan stamina dan tenaga kami, jadi stamina dan tenaga bukanlah suatu halangan bagi kami.
Tetua Agamemnon membantah alasan kami, memang dia tidak mempermasalahkan mengenai stamina dan tenaga. Namun poin terpenting dalam hal penggunaan Senjata Roh bukanlah seperti itu, yang menjadi pokok permasalahan adalah mengenai terbiasanya pengguna Senjata Roh dalam pengendalian Energi Roh.
“Apa sudah cukup penjelasannya?” Tanya Tetua Agamemnon.
“Terimakasih Tetua atas penjelasannya. Lantas bagaimanakah cara untuk menghilangkan Senjata Roh ini?” Pertanyaan awal dari Carsten belumlah terjawab.
Tetua Agamemnon pun menjelaskan caranya. “Itu cukup mudah, kau tinggal mengalirkan Energi Roh berlawanan arah dengan aliran Energi Roh yang menuju ke Senjata Roh tersebut.”
__ADS_1
Carsten langsung mempraktekannya, perlahan namun pasti Senjata Roh milik Carsten yang berbentuk seperti kipas tangan itu mulai memudar dan kehilangan kepadatannya. Bersama tiap hembusan angin, saat itu pula sedikit demi sedikit Senjata Roh mulai menghilang serta menyisakan berkas-berkas cahaya berwarnakan biru mengilau.
‘Indah sekali...’ gumamku menyaksikan Carsten menghilangkan Senjata Roh dari kejauhan. Semua mata tertuju pada keindahan itu, tak terkecuali oleh adikku, Saigiri. Dia terlihat sangat terpukau oleh pancaran berkas cahaya biru tersebut yang perlahan menghilang lenyap di langit aula akademi.
Senjata Roh yang ada di kedua tangan Carsten sudah sepenuhnya menghilang dan tampak staminanya sudah menjadi normal, dia pun tidak terlihat kelelahan dan mengatur pernapasan agar kondisinya kembali prima.Gelombang aliran Energi Roh yang ada pada dirinya pun mulai stabil dan alirannya tidak sederas ketika mengendalikan Senjata Roh.
Setidaknya Carsten sudah bisa tenang dan tahu bagaimana cara menon aktifkan Senjata Roh, serta paham akan kapan dia harus mengaktifkan penguatan serta pembentuk Senjata Roh dan kapan untuk menyudahinya agar dia sendiri tidak kewalahan untuk mengendalikannya.
“Apakah sudah selesai?” Tanya Tetua Agamemnon untuk memastikannya.
“Sudah Tetua. Terimakasih atas arahannya.” Balas Carsten sambil menundukan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Tetua Agamemnon.
Karena Carsten sudah melalui semua proses dan mendapatkan Senjata Roh untuk pertama kali, bukankah sekarang adalah waktunya bagi kami untuk segera mendapatkan Inti Roh dari Mutiara Roh sama seperti yang dilakukan Carsten sebelumnya. Sepertinya aku sendiri tidak sabar untuk mengetahui tipe Inti Roh pertamaku akan seperti apa.
Namun aku sendiri tidak banyak berharap untuk mendapatkan Inti Roh yang hebat, kuat, ataupun yang luar biasa. Aku hanya berharap untuk mendapatkan suatu Inti Roh yang berbeda dengan yang lain, entah itu misterius ataupun hanya ada satu di dunia. Aku berharap akan adanya keajaiban.
“Untuk sekarang aku telah menjelaskan semua yang ku tahu, kalaupun masih ada pertanyaan atau kebingungan di dalam benak kalian. Maka aku tak akan dapat menjawabnya, percayalah. Percayalah bahwa di suatu saat nanti, kalian akan mampu jauh melampauiku. Aku tidak akan bermimpi tentang hal itu, namun aku menyakini bahwa kalian akan mampu mewujudkannya. Segera! Kalian tidak akan butuh lama untuk mewujudkannya. Percayalah! Berpetualanganlah! Taklukan benua ini! Jadilah yang terkuat dan yang paling kuat di antara petarung di benua ini!” Pesan Tetua Agamemnon dengan sangat membara dan berakhirlah semua proses yang dilalui oleh Carsten.
__ADS_1
Mungkin setelah ini adalah giliran kami. Aku sangat menantikannya.