Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Chapter 23 : Tantang Tyaga


__ADS_3

“Aku menantangmu untuk bertarung saat ini juga wahai Cleo Acestes! Putra kedua dari yang mulia Raja Achille.” Ucapku dengan nada tinggi.


“Apa kau sudah gila Tyaga!” Bentak Ganicca menatapku tajam.


“Kakak! Coba lihat keadaan kita sekarang!” Sontak Saigiri juga terkejut dengan ucapanku.


“Kau sangat menarik sekali, aku sangat mendukungmu junior.” Ucap Aalisha seraya bertepuk tangan dengan senyuman anehnya.


“WAAHHH!!! Sungguh menarik sekali Tyaga! Sampai berani menantang tuan muda di depan ayahnya sendiri dan disaksikan oleh banyak orang! Kau benar-benar lekaki sejati!” Ujar Son dengan mengancungkan jempolnya dan berpose memberi semangat. Percuma saja kau berlagak seperti itu. Pada dasarnya kau hanya diam terbungkam, takut akan kekuasaan ayah Cleo, dan ketika ditindas tak dapat berbuat apa-apa.


“Tunggu Tyaga, apa permasalahan ini tidak bisa dibicarakan dengan jalan kekeluargaan terlebih dahulu.” Tenang Hans. “Apa kau tidak sadar, masih ada yang mulia Raja Achille dan para tetua, apalagi ini berada di Aula Keangungan. Cepat tarik omonganmu, Tyaga.” Imbuhnya berbisik di dekatku.

__ADS_1


“Ini bukan lagi masalah tempat dan waktu untuk menantangnya, melainkan ini masalah harga diri dan kebenaran yang ada! Berani-beraninya dia memutar balikkan fakta yang sebenarnya, demi menjaga nama baiknya yang rakus akan kekuasaan tersebut!” Kataku berapi-api. Dari dulu sifatku memang seperti ini. Walaupun aku ditindas dan diremehkan, aku tetap sabar menghadapinya. Namun bagiku jika kebenaran dan harga diri seseorang dipermainkan, maka aku tak tinggal diam.


“Menarik sekali anak ini, padahal dia hanyalah seorang prajurit tingkat awal dan baru beberapa bulan mendapatkan gelar peringkat 1 di akademi ini, sombongnya minta ampun! Dengan kekuatanmu yang sekarang bagaimana bisa kau dapat mengalahkanku.” Ejek Cleo semakin menjadi-jadi.


“Jangan banyak bicara Komandan Cleo, bukanlah sekarang saatnya membuktikan yang paling kuat di antara kita dengan pertarungan bukan dengan omongan semata?” Balasku angkuh menantang.


“Hey jaga bicaramu!!!” Ucap Cleo marah.


Akupun dengan sigap mulai menyiapkan kuda-kuda bertahan. Kaki kiri sebagai tumpuan di depan dengan sedikit menyerong ke kiri dan kaki kanan kugunakan sebagai pelontar penambah kekuatan dan kecepatan serangan balasan. Pondasi kuda-kuda pada kaki sudah siap. Sekarang tinggal menambahi dengan pola elakan dan serangan yang terletak pada tangan.


Tangan kiri dengan telapak tangan membuka siap menjadi pertahanan awal, mengelak pukulan Cleo dengan cara mengayunkan pergelangan tangan musuh dan melemparkan pukulannya ke arah luar tubuh. Setelah itu dengan sigap tangan kanan yang sedari tadi menyiapkan kekuatan akan dengan tiba-tiba melancarkan serangan tepat ke titik vital lawan, entah itu dengan pukulan atau serangan telapak tangan.

__ADS_1


Kuda-kuda bertahan ini juga sangat umum digunakan, tapi lebih banyak variasinya daripada serangan yang dilancarkan oleh Cleo. Setiap pergerakannya masih dapat kulihat, terlebih semua kemungkinan serangannya juga telah aku ketahui. Hal ini membuatku bernostalgia dengan ucapan Kakek Hisyam. Lagi-lagi ucapannya. Memang dari kecil yang sering memberiku amanah dan pelajaran tentang hidup adalah Kakek Hisyam, aku belajar banyak darinya. Dia adalah guru pertamaku dan paling berkesan bagiku.


Jarak antara kami berdua semakin dekat. Akupun dengan sekuat tenaga menguatkan tumpuan di kaki kiri supaya jikalau hentakan serangannya terlalu kuat, aku tidak akan terpental jauh ke belakang. Sementara tangan kiri dan kanan telah siap akan kombinasi mengelak dan serangan kejutan.


DAAKK!!! Benturan hebat pukulan Cleo hingga menciptakan sedikit kabut putih menyelimuti tangannya berserta daerah sekitar.


“Apa pukulan Tuan Muda mengenai si brengsek Tyaga.” Ucap salah satu warga.


“WOW!!! Jadi ini kekuatan salah satu komandan perang?! Pasti wajah si Tyaga telah dibuat hancur oleh pukulan Tuan Muda.” Silih berganti omongan dari orang-orang yang ada di aula.


“Tunggu! Pukulan itu tidak mengenai Tyaga, melainkan itu mengenai...” Kata salah satu orang yang berdiri dekat di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2