
“[Kerbau Tanduk Sabit] itu sekiranya memiliki peringkat perak dan yang pasti Senjata Rohnya juga berperingkat perak bintang dua.” Ucap Tetua Agamemnon.
“Apakah itu termasuk peringkat atas dari Senjata Roh, Tetua?” Tanya Carsten.
“Tidak, namun bagi orang yang memiliki peringkat {Petarung Awal} sepertimu mendapatkan Senjata Roh berperingkat perak itu termasuk langka serta peningkatan peringkatmu ketika naik sampai peringkat {Petarung Raga} akan lebih cepat dan efisien, sebab kau memilik energi roh setingkat perak dalam tubuhmu.” Jelas Tetua Agamemnon.
“Kalau kau giat berlatih, bukan tidak mungkin dalam setahun kau dapat naik ke peringkat {Petarung Raga}, tetapi setelah itu perkembanganmu akan kembali berjalan normal. Sebab peringkat dari energi rohmu sudah setara dengan peringkat ranah rohmu.” Imbuhnya.
“Lantas apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Tetua?” Tanya Carsten setelah merasa penggambaran jiwa dari energi roh sudah sempurna bentuk dan rupanya, serta bayangan jiwa dari [Kerbau Tanduk Sabit] sudah dapat leluasa bergerak dalam ranah jiwa Carsten.
“Hmmm... baiklah, sekarang kau pilih bentuk senjata yang kau mau.” Dengan santainya Tetua Agamemnon mengatakan hal itu.
“Pilih bentuk senjata?!” Sontak semua murid terkejut bukan main ketika mendengar kalimat 'memilih bentuk senjata'. Mereka pikir energi roh akan dengan sendirinya membentuk Senjata Roh dengan bentuk yang unik dan aneh, sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam buku-buku kuno.
__ADS_1
“Saya akan memikirkan bentuk dari Senjata Roh pertamaku, Tetua.” Balas Carsten percaya akan ucapan Tetua Agamemnon.
“Namun kau hanya bisa memilih bentuk Senjata Roh dari anatomi [Kerbau Tanduk Sabit] yang ada di depanmu.”
“Maksudnya seperti apa, Tetua?” Tanya Carsten.
“Jadi kau bisa memilih bentuk Senjata Roh dari hewan itu saja, contoh jika kau ingin membuat perisai maka bentuklah Senjata Roh tipe pertahanan yang menyerupai kepala kerbau atau kau bisa membuat manik-manik dari matanya dan kau jadikan sebagai Senjata Roh tipe penyihir. Kau bisa dengan leluasa membentuk Senjata Roh kau sendiri.” Jelas Tetua Agamemnon.
Carsten semakin berkonsentrasi dan pikirannya jauh masuk ke dalam ranah jiwanya. Entah apa yang sedang dia pilih sebagai Senjata Roh pertamanya. Apakah berbentuk pedang, seperti senjata yang dia pakai sehari-hari. Ataukah berbentuk tombak, selayaknya milik Adellia. Atau bentuk senjata lain yang sekiranya lebih menarik menurutnya.
“Sudah, Tetua. Saya telah memilih Senjata Roh yang cocok dengan kemampuanku sekarang.” Tukas Carsten.
“Apa kau yakin dengan pilihanmu? Sekali kau memilihnya, kau tidak akan dapat mengganti bentuk dari senjatanya. Senjata Roh pertamamu akan terpaten dalam ranah jiwamu dan tidak bisa hilang atau tergantikan.” Ucap Tetua Agamemnon menyakinkan Carsten atas pilihannya.
__ADS_1
“Saya sudah sangat yakin Tetua. Apapun ke depannya saya akan tetap menggunakan Senjata Roh pertamaku dan saya akan giat berlatih dengan senjata ini.” Hati Carsten telah mantap memilih senjata itu.
Setiap buih kalimat yang keluar dari mulut Carsten membuat kami semakin penasaran dengan apa yang dia pilih. Tak lepas dari itu, kami juga tak sabar ingin segera mendapatkan energi roh dari Mutiara Roh serta melakukan setiap proses yang telah dijelaskan dan yang terakhir adalah melakukan penggambaran jiwa untuk mendapatkan Senjata Roh untuk pertama kali.
“Sekarang simpan Senjata Rohmu di dalam ranah jiwamu, sedangkan energi rohnya tetap pusatkan pada tangan kananmu, dan perlahan bukalah matamu.” Tutur Tetua Agamemnon.
Perlahan Carsten membuka matanya. Dia memperhatikan sekitar, hanya tatapan mata para murid akademi yang memancarkan aura penasaran. Sesekali dia mencoba memalingkan pandangan tapi tetap saja di sudut lain juga ada tatapan ingin tahu murid akademi yang lainnya.
“Tetua? Apa yang sedang terjadi? Kenapa semuanya menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya?” Bisik Carsten menghampiri Tetua Agamemnon sambil tetap mempertahankan energi roh yang telah memusat pada tangan kananya. Beberapa kali kerap memancarkan aura kebiruan dan secepatnya menghilang bersama hembusan angin.
“Hahaha.... mereka cuman penasaran dengan Senjata Roh yang kau pilih.” Balas Tetua Agamemnon, mendekatkan mulut ke telinganya Carsten sambil sedikit menutupinya dengan punggung tangan.
“Senjata apa yang kau pilih?” Lanjutnya berbisik.
__ADS_1
“Saya memilih...” Balas Carsten.
(Apa yang mereka sedang bicarakan? Sepertinya ada sesuatu di antara mereka) Gumamku dalam benak.