Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 121 – Tim Utama


__ADS_3

[ Not Edited ]


“Sepertinya kedatangan kalian lebih cepat dari yang aku duga,” ujar Adellia setelah mengetahui segerombol kelompok datang mendatanginya secara tiba-tiba.


“Iya Nona, mohon ijin bergabung dengan tim utama. Apa ada tugas lain yang bisa saya kerjakan,” balas kesatria pemimpin tim kedua, dia buru-buru membusungkan badan, dan membungkuk memberi hormat.


Dengan begitu tim kedua sudah bersatu kembali dengan tim utama. Adellia menyuruh beberapa penyihir untuk masuk ke dalam barisan, sedangkan kesatria yang tersisa menuju barisan yang paling belakang. Dia juga memberiku tugas untuk berjaga di barisan belakang guna mendeteksi datangnya para monster.


Aku tidak menolak perintah itu, sudah selayaknya aku mematuhinya sebab di sini aku sudah menjadi salah satu bagian pasukan yang dipimpin olehnya, Adellia. Untuk menjaga keselamatanku, Adellia memberikan tugas itu ke Kakek Hork dan juga Aalisha yang dari awal kamp perkemahan bersamaku, kini dia  lebih memilih untuk bersama Saigiri di dalam karavan.


“Mohon bantuannya, Tyaga,” ucap Adellia, sejenak memasang wajah santai dan kembali menjadi sosok pemimpin. Dia cukup baik dalam memainkan perannya, lebih lagi dia sudah berusaha semaksimal mungkin.


Dari mata memandang, setidaknya Adellia hanya memiliki lima buah karavan saja. Itu pun salah satunya adalah karavan yang diberikan oleh Kerajaan Laiquendi untuk kami. Setidaknya hanya lima karavan itu yang tersisa. Bisa dihitung itu masih beruntung, sebab bisa mengangkut bahan makanan beserta keperluan lainnya.


Sedangkan bagi pasukan yang tidak memiliki kuda ataupun mampu berkuda, mereka rata-rata ikut menaiki kuda temannya. Jadi tidak sedikit jumlah kuda yang mengangkut dua orang, bahkan ada yang sampai boncengan tiga orang. Aku cukup kasihan melihat kuda-kuda itu, tapi mau bagaimana lagi dari pada harus berjalan dan pastinya malah menghambat perjalanan kami.


Semua pasukan memacu kudanya dengan cekatan dan cepat. Lebih lagi kereta karavan juga harus bisa mengimbangi pergerakan pasukan lainnya agar tidak tertinggal jauh. Ini bukan lagi strategi menghindar, lebih tepatnya kami harus menjauh sejauh-jauhnya dan secepat mungkin.


Meskipun aku masih belum tahu, entah itu benar-benar seekor Majuu atau hanya monster biasa namun cukup kuat. Aku juga tidak bisa memastikan monster ini bertipe apa, sebab aku hanya dapat merasakan energi sihir yang terpancar dari sosoknya dan belum merasakan aura energi jenis apakah. Aku hanya dapat memastikan jika tekanan energi sihir monster itu cukup kuat dan mudah baginya untuk menghancurkan sihir penghalang empat penjuru milik itu.


“Apa kau sudah merasakannya?” tanya Kakek Hork yang memacu kudanya tepat di sampingku.


Kalian pasti tahukan kalau Kakek Hork itu cukup takut dengan suatu kecepatan. Namun kali ini dia cukup percaya diri dengan kecepatan pacuan kudanya. Agak lucu melihat tingkahnya yang percaya diri itu. Padahal kecepatan ini masih normal bagi kuda saat berlari.


“Entah lah, sore masih panjang dan kita harus secepatnya meninggalkan area ini,” balasku dengan sedikit demi sedikit menaikkan kecepatanku. Jarakku dengan barisan belakang kian menjauh, ini juga pasti akibat dari pacuan kuda Kakek Hork. Aku tidak ingin tertinggal untuk kedua kalinya.


“Hey kenapa kau malah meninggalkanku?”


“Siapa juga yang meninggalkanmu Kek, hanya saja pacuanmu terlalu lambat. Aku takut kita bakal tertinggal lagi.”


“Jangan bicara yang tidak-tidak wahai anak muda.”

__ADS_1


“Kalau kau terus memacu kudamu selambat itu, kita pasti bakal tertinggal. Pecut kudamu lebih keras lagi Kek!” bentakku seraya memecut kuda lagi dan lagi. Kecepatannya juga kian meningkat dan tampak Kakek Hork di belakangku juga masih enggan untuk menambah kecepatan.


“Kau mau menjadi makan malam monster-monster itu Kek?!” imbuhku menunjuk ke belakangnya.


“Apa! Meraka sudah muncul?”


“Masih belum, kau cukup mudah ditipu. Dasar Kakek tua.”


“Hey! Awas saja kau anak muda, Kakek tua ini bakal memberimu pelajaran,” balas Kakek Hork mengangkat sebuah tongkat kayu, entah dari mana dia mendapatkannya. Terlihat membulat di ujungnya, seperti tongkat-tongkat para penyihir umumnya.


“Coba saja kalau kau bisa  menangkapku Kek!” ejekku semakin menambah kecepatan dan melewati salah satu kesatria yang berada di barisan paling belakang.


“Hahahaha... “ Aku tertawa menggelegar hingga menarik perhatian beberapa kesatria dan penyihir yang ada di dekatku. Mungkin mereka bakal mengiraku gila. Bodoh amat, aku sangat menikmati waktu-waktuku saat menjahili Kakek Hork.


Untungnya Kakek Hork masih bisa mengejarku dan bahkan tidak sadar kalau dia sudah memacu kudanya dengan lebih cepat. Strategiku sepertinya berhasil, dari pada harus menyuruhnya. Lebih baik aku menjahilinya dan membuatnya lupa akan ketakutannya akan pacuan kuda yang cepat. Bahkan kami berdua bisa menyalip beberapa pasukan lainnya dan sekarang bisa  berada di samping karavan.


Sekiranya dengan jarak segini, aku dan Kakek Hork tidak takut tertinggal lagi. Namun akan menjadi hal yang percuma jika Kakek Hork kembali menurunkan kecepatannya. Aku harus bisa membiasakan dirinya agar merasa bahwa kecepatan pacuan kudanya yang sekarang sudah menjadi hal yang wajar baginya.


Hampir dua jam pasukan ini berjalan menyelusurti hutan, sekiranya dengan jarak segini kami mampu menghindari atau keluar dari wilayah kekuasaan Majuu tersebut. Sampai sekarang pun aku belum merasakan adanya aliran energi sihir yang sama seperti tadi pagi.


“Kenapa Kek? Kau mau balas dendam?”


“Bukan, bukan itu. Apa kau benar-benar yakin bahwa strategi ini adalah strategi yang terbaik?”


“Aku pikir kabur ataupun lari dari pertempuran bukanlah hal yang buruk, Kek. Terlebih aku tidak yakin kalau barrier penghalang mampu menahan serangan sihir,” jelasku padanya.


“Tentu, aku juga berpikir demikian. Hanya saja aku sedikit terganggu saat kau bilang yang bakal menyerang adalah seekor Majuu. Apa sebegitu kuatnya monster itu?” Sepertinya Kakek Hork sangat penasaran dengan keberadaan dan kebenaran mengenai Majuu.


“Entahlah. Meskipun aku tidak tahu kebenaran akan sosok Majuu, tapi dari apa yang aku rasakan bahwa kekuatan monster itu jauh lebih besar dibandingkan monster-monster lainnya, apalagi dengan adanya aliran energi sihir.” Pergerakan kudaku sempat memburuk, aku kembali momfokuskan diri.


“Pastinya tidak akan mudah untuk mengalahkannya, Kek,” imbuhku seraya mengencangkan tali kemudi kuda dan menuntutnya menuju jalur yang lebih baik.

__ADS_1


“Oh seperti itu...” balas Kakek Hork.


“Jangan sampai kau meremehkannya Kek. Aku tidak yakin dengan seluruh pasukan ini, kita mampu mengalahkannya. Kekuatannya hampir sepadan dengan Zardock.”


“Kalau kau bilang begitu, kita masih punya peluang besar. Kemarin kita juga bisa membunuh Zardock dan pasukan ini juga terlatih untuk mengalahkan monster dengan kekuatan semacam itu.”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2