Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 48 – Berhasil


__ADS_3

BERHASIL! Itu adalah kata yang pertama kali terucap dari bibirnya. Benar, Carsten telah menyelesaikan ritual pemanggilan {Senjata Roh Binatang} serta mendapatkan Senjata Rohnya untuk pertama kali. Terlihat jelas wajah Carsten yang penuh keringat menampakan sebuah senyuman lebar dan rasa bahagia yang tak terbendungkan lagi.


Mungkin semua proses yang telah dia lalui sangatlah lama dan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Berkali-kali dia merasakan sakit, dari awal pengambilan roh dari Mutiara Roh, sampai penyaluran semua energi roh demi membentuk Senjata Roh yang membuat dia berada pada titik hidup dan mati. Carsten telah melalui semua itu dan mendapat imbalan yang setimpal, yakni {Senjata Roh Binatang}.


“Tetua, lihat saya berhasil melakukannya!” Ujar Carsten sambil memamerkan kedua senjata yang ada di kedua tangannya. Berbentuk menyerupai kipas tangan, kepala kipasnya terlihat seperti bulan sabit dengan pegangan menyerupai gulungan kertas kuno.


Semua orang yang menyaksikan itu juga turut bersuka ria. Ada yang bertepuk tangan, ada yang tengah menghela nafas, ada pula yang menahan isak tangisnya. Sebab sebelumnya mereka tahu bahwa keadaan Carsten sangat mengkhawatirkan dan takut jikalau apa yang diucapkan oleh Tetua Agamemnon akan benar-benar terjadi.


“Apa itu senjatamu?” Tanya Tetua Agamemnon ikut berbahagia dengan capaian Carsten.


“Iya Tetua, cantik bukan?” Carsten membalasnya dengan memperlihatkan lekukan-lekukan serta ukiran yang ada pada Senjata Roh miliknya. Begitu menawan dan indah, berhiaskan kilauan manik-manik kecil nan biru samudera.


“Sungguh indah sekali, Carsten. Benar sekali dengan dugaanku, {Senjata Roh Binatang}-mu berperingkat perak bintang dua.” Ucap Tetua Agamemnon.


“Bagaimana Tetua dapat mengetahuinya?” Tanya Carsten penasaran.

__ADS_1


“Itu bisa dilihat dari warna senjata. Adapun tingkatannya adalah seperti ini. Warna hijau adalah warna Senjata Roh tingkat perunggu, warna biru menandakan tingkat perak, warna ungu pada tingkatan emas hitam, warna kuning keorenan menandakan berada pada tingkat emas. Serta masih ada beberapa warna lagi pada tingkatan selanjutnya, namun aku sendiri juga tidak mengetahuinya.” Jelas Tetua Agamemnon.


“Namun pada setiap tingkatannya masih ada tingkatan lagi, yakni biasa kami sebut dengan bintang. Jadi tiap tingkatan ada tiga bintang yang harus dilalui sebelum mencapai tingkatan selanjutnya atau berubah warna.” Imbuhnya.


“Lantas apakah saya dapat menaikkan tingkatan dari Senjata Roh milikku Tetua?”


“Tentu saja, Carsten.” Jawab Tetua Agamemnon singkat.


(Wow, ada cara untuk menaikkan tingkatan dan kekuatan dari Senjata Roh. Walaupun nanti aku mendapatkan tipe roh yang rendah, kalau aku giat menaikkannya pasti akan menjadi kuat. Berarti tinggal kemampuan individu itu dalam menaikkan tingkatan Senjata Roh) Gumamku dalam hati.


“Hey apa yang sedang kau pikirkan, Kak?” Ucap Saigiri memecah lamunanku.


“Huh?! Kukira sedang apa! Dasar menjijikan.” Balas Saigiri dengan ekspresi menghina.


“Sudah jangan mempedulikan aku, cepat catat saja perkataan dari Tetua Agamemnon. Aku sangat membutuhkannya nanti.” Ujarku mengalihkan perhatian.

__ADS_1


Tiba-tiba Tetua Agamemnon mengagetkan kami dengan ucapannya. “Oh ya ini juga berlaku juga pada peningkatan kekuatan dan peringkat kalian. Walau aku tahu pasti sekarang rata-rata dari kalian masih pada peringkat {Petarung Awal}, namun aku juga yakin tak sulit bagi kalian untuk cepat naik peringkat selanjutnya.”


“Bagaimana dengan caranya Tetua? Apakah menggunakan metode-metode khusus ataukah kita akan melakukan ritual-ritual lainnya?” Tanya Carsten dengan api membara di kedua kelopak matanya.


“Caranya adalah...” Gumam Tetua Agamemnon.


Lagi-lagi di tengah penjelasannya, Tetua menghentikannya, dan dia pasti akan mengucapkan.


“Aku tak mungkin menjelaskannya sekarang, berpetualanglah dan cari jawabannya sendiri. Hahaha... jangan menjadi anak manja yang selalu diberi asupan-asupan pengetahuan tanpa mengerti arti makna sesungguhnya dari hal tersebut.” Benarkan, Tetua Agamemnon telah mengucapkannya dengan tawa bangga miliknya yang khas.


Menjijikan bukan?


Namun aku sudah terbiasa dengan tawa khas seorang kakek-kakek seperti itu. Dari kecil aku dirawat oleh Kakek Hisyam, tawanya sudah menjadi makanan sehari-hari buatku. Waktu kemarin bertempur dengan Zardock, aku juga bertemu dengan kakek-kakek, yang bernama Kakek Hork, bahkan di selang tawanya dia sering memanggilku dengan sebutan ‘anak muda’.


Jadi sekarang mendengar ocehan dan tawa dari Tetua Agaememno tidak akan membuatku merasa jijik atau tidak enak hati. Sebab aku sudah terbiasa dengan itu semua. Bahkan dibandingkan dengan Kakek Hork, itu tidak ada apa-apanya. Aku jadi teringat dia kembali, apakah dia sudah kembali ke Markas Pusat atau kembali berkelana bersama Adellia untuk mengalahkan makhluk-makhluk kegelapan yang masih tersisa.

__ADS_1


Tunggu aku sebentar lagi.


Aku pasti akan menyusul kalian, Adellia... Kakek Hork...


__ADS_2