
“Semuanya harap diam. Upacara pelepasan murid-murid Akademi Bunga Hijau akan segera di mulai. Diharapkan agar murid-murid yang telah terpilih untuk segera berbaris di depan panggung.” Ujar Guru Senjati.
Kami berlimapun berjalan bersama-sama menuju depan panggung. Setiap langkah kami diiringi dengan sorak dan tepuk, ada yang bertepuk elegan dari para guru dan bangsawan. Ada yang bersorak lepas, penuh ria dan ricuh dari para warga desa, tampak antusias dan penuh semangat.
Dari kanan sampai kiri, kami berbaris rapi sesuai dengan peringkat kami. Posisi pertama yang kududuki sekarang, aku mengambil tempat paling kanan. Disusul dengan Hans Balaputra di peringkat kedua, lalu Saigiri di peringkat tiga. Son Hallins dan Aalisha Abellone masing-masih di peringkat 4 dan 5. Dihiasi lampu gantung yang terang nan anggun, membuat kami berlima tampak gagah dan elegan.
“Jadi ini adalah murid-murid yang menempati peringkat 5 besar?” Tanya Raja Laiquendi ke 5, Achille Acestes, tersenyum kecil.
“Iya benar yang mulia Raja Laiquendi.” Hormat Guru Senjati seraya membungkukkan badan.
Tak lama Raja Achille berdiri dari singgasananya yang telah disiapkan sebelumnya di aula. Walau tak seindah singgasa yang asli, namun keagungan singgasana itu tak kalah. Secara seksama semua orang yang ada di aula tersebut duduk hormat kepada raja, tanpa ada perintah dan paksaan sedikitpun. Itulah tradisi untuk menghormati seorang raja.
Berbeda dengan kami para murid dan warga biasa yang duduk hormat. Guru-guru di akademi dan para bangsawan membungkukkan badan sembilan puluh derajat dan melipatkan lengan di perut untuk menghormati raja. Sementara untuk para tetua dan bangsawan tinggi hanya menganggukkan kepala beberapa detik lalu tersenyum ke arah raja. Itulah perbedaan kasta dan derajat waktu menghormati raja.
“Hormat kami yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achelli!” Seru semua orang yang ada di aula dengan serentak.
Raja membalas senyuman dari para tetua dan bangsawan tinggi dengan anggukan ramah. Setelahnya raja mengangkat tangannya, sebagai tanda balasan hormat kami.
“Angkatlah kepala kalian, para murid-murid kebanggaan Akademi Bunga Hijau.” Ujar Raja Achelli.
__ADS_1
“Baik yang mulia.” Jawab Hans.
Berbarengan dengan berdirinya kami berlima, semua orangpun ikut berdiri seraya kembali bersorak ria menyambut keempat orang yang baru datang dengan baju yang lebih elegan dan bagus daripada kami berlima yang hanya berseragamkan seragam Akademi Bunga Hijau. Mereka berempat adalah.
“Maaf atas keterlambatan kami yang mulia, hormat saya yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achelli.” Ucap salah satu di antaranya, tampak elegan dan berwibawa dengan pakaian hijau mudanya.
“Hormat saya yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achelli. Semoga tuhan terus memberkarti Raja Achelli beserta Kerajaan Laiquendi dan rakyat-rakyatnya.” Do’a salah satu Elf dengan pakaian penuh longgar selayaknya seorang penyihir, namun wajahnya sangat muda, bahkan terlihat lebih muda dariku.
“Hormat saya yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achelli! Maaf atas keterlambatannya, semoga raja berkenan untuk memaafkannya!” Tegas seorang perempuan paru baya dengan rambutnya yang dikuncir kuda dengan dengan poni tipis menutupi dahinya. Dari berpakaian baju zirah yang berwarna kuning cerah, dan pedang yang selalu menggantung kokoh di sabuknya. Dia adalah salah satu wakil komandan pasukan 6, Gannica Cliantha.
“Hey, Saigiri. Kenapa si Nicca datang ke acara ini, bukannya mereka adalah para alumni?” Bisikku.
“Kakak sih, dari kemarin kerjaannya tidur, sampai-sampai melewati berita-berita penting.” Kesal Saigiri.
“Nanti kakak pasti akan tahu sendiri.”
Selain ketiga orang tadi masih ada seorang lagi, tampak lemah dan layu dengan poni yang menenggelamkan seluruh wajahnya. “Hormat saya yang mulia Raja Laiquendi, Raja Achelli.” Ucapnya lirih.
Datangnya keempat orang-orang ini membuat sorak dan tepuk tangan orang yang ada di aula kembali menggema dan semakin seru. Semua orang tenggelam dalam suasana aula yang menggelegar dan sangat berkilauan.
__ADS_1
Tiba-tiba muncul sesosok manusia lagi, kali ini dengan berjubah bangsawan tinggi berhiaskan berbagai macam perak dan emas tipis, dan hiasan-hiasan kecil. Mengenakan pakaian kerajaan serta tepat di dada kirinya ada sebuah lencana dengan bertuliskan nomor 8. Benar saja itu adalah lencana komandan pasukan kedelapan. Siapa lagi yang mempunyai lencana tersebur kalau bukan anak kedua dari sang raja, Cleo Acestes.
“Salam semua rakyatku, hormatku kepada Ayahanda Achille, Raja Laiquendi. Maaf atas keterlambatan anakmu ini.” Ucapnya hanya dengan mengangguk pelan kepada Raja Achille.
Raja Achille membalas semua salam dari kelima orang yang baru datang dengan senyuman.
“Dengan hadirnya kesepuluh orang ini, maka acara pelepasan murid Akademi Bunga Hijau akan segera dimulai.” Ujar Guru Senjati.
“Tunggu!” Bentak Cleo. Sontak semua mata tertuju padanya.
“Bukannya tidak percaya akan pilihan dari Guru Senjati dan para tetua agung. Tapi apakah mereka benar-benar mampu mengemban tugas ini dan dapat menjadi prajurit yang hebat kelak? Walaupun mereka sekarang bertengger di peringkat 5 besar tahun ini, tapi umur, kemampuan, kedewasaannya, jauh di bawah kami para alumni!” Imbuhnya merendahkan kami.
“Apa maksud anda Alumni Cleo Acestes?” Tanyaku dengan nada agak menantangnya.
“Oh ternyata kau, Tyaga Nasution, Salah satu pasukanku yang meninggalkan rekan-rekannya dan kembali ketika pasukan bala bantuan dari markas pusat datang, demi mendapat ketenaran dan banyak pujian dari orang-orang. Walaupun aku yakin kau hanya bersembunyi di balik prajurit yang kuat.” Ujarnya menghasut semua orang yang ada di dalam aula.
“Dasar licik kau Tuan Muda! Bukannya kau yang ...”
“Cukup Tyaga!” Bentak Gannica seraya menggegam kuat lenganku. Dia menghentikan ucapanku sebelum mengatakan fakta yang sebenarnya. Aku tahu kalau dia sedang menyelamatkanku, sebab dia sudah tahu apa yang benar-benar telah terjadi.
__ADS_1
“Walaupun kau jelaskan semua, mereka tidak akan percaya dengan semua omonganmu.” Bisiknya.
“Baiklah kalau itu pintamu, aku menantangmu untuk bertarung saat ini juga! Untuk membuktikan kekuatan peringkat pertama tahun ini kepadamu!” Tantangku.