
"Tetua, saya tidak sanggup lagi!" Teriak Carsten dengan nafas yang semakin membara dan tidak teratur.
"Tenang Carsten. Tenangkanlah dirimu, atur kembali pernafasanmu. Kau jangan alirkan energi rohmu dengan paksaan, alirkanlah secara perlahan. Alirkan energi rohmu dalam satu hembusan nafas dan jangan terburu-buru. Tergesa-gesa malah akan membuatmu tidak dapat mengontrol energi roh secara maksimal dan pembentukan Senjata Rohmu tidak akan berhasil." Tutur Tetua Agamemnon menenangkan Carsten serta memberi arahan kepadanya agar tenang.
"Itu akan menyebabkan pondasi dari pembentukan Senjata Rohmu tidak maksimal, hal itu juga mengakibatkan kebocoran pada wadah rohmu. Tenang saja dan alirkan energi roh itu secara perlahan, hingga nanti {Senjata Roh Binatang}–mu akan terbentuk dengan sempurna. Jangan lupakan juga tentang penggambaran jiwa dari ranah jiwamu, itu akan membantumu dalam proses pembentukan." Tuntas Tetua Agamemnon.
Carsten beberapa kali mencoba untuk mengatur pernafasannya dan mengontrol pengendalian energi rohnya, namun hal itu lebih sulit dari yang dia duga. Kerap kali dia kembali kehilangan kendali atas pernafasannya dan energi rohnya pun malah mengalir ke bagian tubuh yang lain.
Bukankah Carsten sudah melatih pengendalian energi roh tadi, kenapa sekarang energi roh tersebut malah hilang kendali yang membuat Carsten kesusahan untuk mengontrolnya. Semuanya pun harap cemas dengan keadaan Carsten yang sekarang.
Apakah pembentukan Senjata Roh sesusah itu. Beribu pertanyaan menghantui kami. Carsten yang merupakan salah satu alumni berbakat dari Akademi Bunga Hijau pun terlihat kesusahan, apalagi kami dan terlebih mereka para murid yang tidak mencolok atau lebih kasarnya tidak memiliki bakat.
__ADS_1
"Apakah dia akan berhasil Tetua?" Tanya salah satu murid yang ada di belakangku sambil mengancungkan tangannya. Tampak cemas dan khawatir menghias di raut wajahnya.
"Tidak akan terjadi apa-apa padanya, kalian harap tenang." Balas Tetua Agamemnon dengan nada yakin.
"Bukankah tadi Tetua bilang Alumni Carten akan mati jika dia tidak bisa mengontrol energi roh dan kehabisan energi roh dalam wadah rohnya?" Tampik murid itu, karena kecemasan yang luar biasa membuatnya tidak sadar dengan apa yang dia bicarakan.
"Memang benar aku mengucapkan hal itu. Namun aku yakin Carsten pasti dapat melaluinya. Dia tinggal mengalirkan sedikit lagi energi rohnya pada ritual pembentukan {Senjata Roh Binatang}. Sehingga senjata itu terbentuk dengan sempurna dan dapat digunakan olehnya." Jawab Tetua Agamemnon tanpa menghindar sedikit pun dari perkataan sebelumnya.
Mendengar hal itu tak membuat murid itu merasa puas. Sepertinya masih ada sedikit sisa atau mungkin banyak hal yang ingin dia utarakan kepada Tetua Agamemnon. Tetapi dia tak dapat berbicara sedikit pun, mulutnya mendadak kering selayaknya padang pasir.
"Carsten!! Sadarlah!!" Teriak Gannica dari kejauhan.
__ADS_1
"Tetua! Apa yang terjadi padanya?!" Tanya Gannica berlari menghampiri Tetua Agamemnon. Dia terlihat sangat panik melihat salah satu adik tingkatnya mulai kehilangan kesadaran dalam keadaan berdiri.
"Gannica? Tenanglah Nak, dia hampir menyelesaikan ritual pemanggilan {Senjata Roh Binatang}." Ucap Tetua Agamemnon dengan sangat tenang.
"Hampir selesai? Mohon maaf atas kelancanganku. Carsten terlihat tak sadarkan diri, saya cukup khawatir kalau terjadi apa-apa dengannya." Balas Gannica tidak mempedulikan perkataan Tetua Agamemnon dan mencoba menghampiri Carsten.
"Tunggu, kau jangan gegabah Gannica." Tetua Agamemnon menarik bahunya, menghentikannya agar tidak menganggu ritual pemanggilan.
"Kalau kau menghentikan ritualnya, maka apa yang dia lakukan daritadi akan menjadi sia-sia. Apa kau pikir dengan menghentikannya akan membuat Carsten senang dan berterima kasih? Kau malah akan menghancurkan semua proses yang telah dia lalui serta membuatnya kecewa." Tukas Tetua Agamemnon.
"Tapi Tetua, bagaimana kalau dia benar-benar telah kehabisan energi rohnya?" Tanya Gannica, tampak begitu khawatir, takut kalau terjadi apa-apa dengan Carsten.
__ADS_1
"Apa kau juga tidak mempercayaiku? Kalau terjadi apa-apa dengannya maka itu adalah tanggung jawabku. Sebagai Tetua yang dihormati di Kerajaan Laiquendi, aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa dengan Carsten." Terlihat Tetua Agamemnon sangat percaya diri dengan nalurinya. Tapi entah, atau mungkin Tetua telah menyadarinya jikalau Carsten akan menyelesaikan ritual pemanggilang {Senjata Roh Binatang} dengan sempurna.
Dalam benak aku terus berdo'a atas kesuksesan ritual dari Carsten. Semoga dia baik-baik saja dan segera mendapatkan Senjata Rohnya. Carsten.