
Sesampainya di pos penjagaan. Aku lihat tidak ada satu pun monster yang ada di sekitar kamp perkemahan.
Tapi dari aura yang aku rasakan, masih ada beberapa monster yang sedang mengintai kami dari balik pepohonan.
Sorot matanya nan merah menyala kerap kali berpapasan dengan mataku, sejenak, dan langsung menghilang dalam gelapnya malam.
“Apakah besok juga seperti ini?” ucap Son yang berada di sampingku.
Terdengar dari kejauhan derap kaki para kesatria yang berjaga di sisi lain. Sementara posisi menara pengawas ditempati oleh para penyihir.
Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi masih cukup untuk melakukan penjagaan.
Begitu pula dengan para rakshasaha yang berada di tepian kamp, tampak normal dan menyembunyikan sosok aslinya di dalam tubuh manusianya.
“Semoga saja,” jawabku malas.
Aku mengambil posisi duduk dan meletakkan sarung pedang di sampingku. Setelahnya aku melepaskan pengait ikat pinggangku dan menaruhnya tak jauh dari tempatku duduk.
Tak jauh dariku ada sesosok penyembuh muda, dia sedang mengobati beberapa kesatria yang belum sempat ke tenda penyembuhan.
Walaupun dari penglihatanku itu hanyalah sebuah luka ringan, tapi penyembuh itu mengobatinya dengan segenap energi sihir yang dia punya.
Setelah memakaian perban dan obat tetes, penyembuh muda itu merapalkan sebuah mantera sihir.
Sehingga energi kehijauan muncul dan menyelimuti daerah yang terluka. Energi itu berwarna hijau mudah, menandakan bahwa dia masih pemula.
Dibandingkan dengan penyembuh yang biasa aku temui, energi dari penyembuh muda itu tergolong lemah.
Aku tidak mempermasalahkannya, malah sebaliknya. Aku sangat berterimakasih.
Meskipun dia tahu kalau dia tidak begitu kuat dan tidak memiliki energi sihir yang mencukupi. Dia masih tetap berjuang dan tidak terpuruk dengan kondisinya.
Terlebih menjadi salah satu pasukan bala bantuan bukanlah hal mudah, hanya orang tertentu yang dapat bergabung dengan tim yang dibentuk oleh Adellia.
“Mau ke mana kau?” tanyaku.
“Aku mau mengambil segelas air minum. Malam ini udaranya sangat dingin, membuat tenggorokanku jadi kering.”
“Kalau begitu aku titip satu gelas ya, gelas besar lho,” ucapku.
“Baiklah-baiklah,” balas Son mengiyakan permintaanku.
“Oh ya kalau ada sisa buah-buahan yang hampir membusuk, kau bawa saja sekalian," ucapku.
"Aku lihat tadi ada beberapa yang dibuang, mendingan kita habiskan saja sebelum besok dibuang lagi," tuntasku menguatkan permintaanku.
“Ide bagus tuh.” Son setuju.
“Tapi ingat, kau jangan mengambil buah-buahan yang masih segar. Tahu sendirikan kita harus berhemat,” selaku sebelum dia membalikkan badan.
Son cukup bersemangat ketika tahu masih ada sisa buah-buah, dia pun jadi tidak sabar untuk mengambilnya.
Dia mengangguk pelan dan langsung pergi meninggalkanku sendirian. Son membawa kantong agak besar yang dia pinjam dari kesatria yang sedang lewat di depan kami.
Sekiranya dengan kantong ini, dia tidak kesuliitan membawa buah-buahan itu.
Cukup lama aku menantinya. Dari arah belakang, Son datang dengan membawa dua gelas besar yang berisi air mineral dan sekantong buah-buah.
Sepertinya dia mendapatkan agak banyak buah-buahan.
“Lucky!” seruku membantunya menurunkan satu gelas air dan menaruhnya di depanku.
__ADS_1
“Kenapa kau lama sekali?” tanyaku seraya mengambil kantong yang ada di pinggulnya.
Setelahnya aku melebarkan sapu tangan untuk dijadikan sebagai alas dan meletakkan kantong itu di atasnya.
Perlahan aku membuka ikat talinya dan mendapati buah-buahan yang hampir membusuk di dalamnya.
Kendati demikian, buah-buahan itu masih tampak segar dan hanya sedikit tercium bau masam dari daging buahnya.
“Iya, sebab di dalam tenda konsumsi tidak ada orang, dan aku kesusahan mencari buah-buahan." Sejenak dia menghentikan omongannya.
"Ternyata mereka menyimpan buah dan lauk segar di tempat yang berbeda dari buahan-buahan ini,” tuntas Son.
Dia lalu meletakkan gelasnya bersampingan dengan gelasku dan menyenderkan dua kapak kecilnya di sebelah kanan balok kayu.
“Tadinya aku berpikir buah-buahan ini sudah dibuang, ternyata saat aku hendak keluar dan tersadar masih ada tumpukan buah di ranjang dekat tempat aku mengambil minuman,” imbuhnya sambil meneguk air.
Dia tidak minum banyak, sebab dini hari masih panjang. Lebih lagi bintang-bintang masih kokoh bertengger di angkasa.
“Kau mengambilnya semua?!” seruku.
“Tentu tidak lah, mana mungkin kita bisa menghabiskannya berdua,” timpalnya.
“Mungkin saja sih kalau itu aku,” imbuhnya bergumam dan melengos dari tatapanku.
“Baguslah, bisa jadi buah-buahan itu masih bisa dimakan di esok hari. Dari awal juga aku sudah berpesan untuk mengambil beberapa yang kiranya tidak dapat bertahan sampai besok.”
Aku pun menyaut sebuah apel yang tampak paling atas dari buah-bauhan lainya.
Meskipun di awal tadi aku sudah memakan dua lapis roti dan sebuah apel, tapi perutku masih lapar.
Lebih lagi apel yang disediakan oleh Saigiri, hanyalah sebuah apel kecil yang tidak memiliki banyak daging buah.
Rotinya pun setipis kain yang aku kenakan, mana mungkin aku bisa kenyang semudah itu.
Awalnya aku ingin tetap memakannya. Setelah berpikir ke sekian kalinya, aku jadi tersadar.
Dari pada merepotkan orang lain, mendingan aku tidak memakannya. Sakit perut bukanlah masalah yang besar, tapi juga bukan masalah yang remeh.
“Sampai kapan kita berjaga malam ini?” tanya Son.
“Sampai matahari benar-benar menampakkan diri dari ufuk timur.” Aku meraih sebilah pisau dan mengupas kulit apel.
Selain itu juga memotong bagian tertentu yang sekiranya sudah membusukk sempurna.
“Lama juga ya,” gumamnnya Son.
Dia kemudian meraih kantong yang berisi buah-buahan.
Mungkin dia adalah tipekal orang pemilih, sebab beberapa kali dia mengambil dan mengembalikan buah-buahan yang ada di dalamnya.
“Tidak juga. Kalau menurutku berjaga di dini hari jauh lebih aman dari pada harus berjaga di tengah hari,” tandasku sambil memakan sepotong apel.
Aku menusuk pelan potongan itu dengan mata pisau lalu memakannya secara hati-hati.
“Benar sekali. Kemarin waktu aku mendapatkan giliran jaga di tengah malam, gangguannya para monster jadi semakin terasa."
"Bahkan kerap kali aku merasakan tatapan tajam nan mengerikan dari balik pepohonan yang lebat,” imbuh Son mengakhiri ucapannya.
Demi menghabiskan waktu berjaga, kami berdua pun memutuskan untuk bertukar cerita.bTapi kedua mata kami tidak lepas dari penjagaan.
Aku memang sadar. Jika semakin menjelang pagi, para monster itu akan perlahan berkurang dan satu per satu di antara mereka akan pulang kembali ke sarang masing-masing.
__ADS_1
Menyisakan sisa-sisa jejak kaki dan tak jarang beberapa air liurnya yang menempel pasrah di rumput.
“Ngomong-ngomong kenapa dari tadi Hans tak kunjung menampakkan diri ya?” tanya Son padaku.
Padahal seharusnya yang lebih tahu adalah dia selaku sahabat dekatnya.
Sebelum aku menjawab, dia menambahi pertanyaannya. “Apakah dia terluka parah, sehingga harus dirawat secara intensif di tenda penyembuhan.”
“Jangan asal bicara, mana mungkin dia bisa terluka semudah itu.”
Aku langsung menampik semua pertanyaannya. Sedari awal Hans memang kerap kali bertarung dengan para monster.
Kemampuan dan kekuatannya sendiri tidak kalah dengan kami berdua.
Dia juga pernah mendapatkan gelar murid nomer satu di Akademi Bunga Hijau. Tidak main-main, Hans memperolehnya sebanyak dua kali secara berturut-turut
“Mungkin dia sedang berada di tenda Adellia,” ucapku memberi tahunya.
“Apa?! Di tenda Adellia?!” Dia tampak begitu terkejut setelah mendengarnya.
“Hey! Jangan memikirkan hal aneh!” seruku menghilang semua pemikiran liarnya.
“Strategi, strategi! Hans dan Adellia mungkin sedang menyiapkan strategi berikutnya bersama dengan para pasukan lainnya. Kau pasti tahu kan, menyiapkan strategi pasti membutuhkan waktu yang lama. Jadi sebab itu kita tidak melihatnya waktu dekat ini,” tuntasku menjelaskan panjang lebar.
“Oh seperti itu...” Dia hanya menjawabku dengan segelintir kalimat.
Masa bodoh dengannya. Aku lantas mengambil buah lainnya untuk mengeyangkan perutku.
Semoga waktu berlalu lebih cepat, setidaknya aku bisa keluar dari zona kebodohan ini lebih cepat.
Syukur-syukur matahari terbit lebih awal. Mana mungkin. Aku hanya bisa menikmati semua kondisi dan situasiku saat ini.
Cukup itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id