Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 69 – Dimulai


__ADS_3

Perjalanan kami pun akhirnya dimulai dan tanpa sedikit pun rasa takut yang kami rasakan sebab dengan kawalan dari pasukan Adellia akan menjamin keselamatan hidup ini. Pasukan Adellia tampak kuat walaupun hanya dengan kombinasi lima kesatria, tiga penyihir, bahkan tim penyembuh pun disiapkan olehnya sampai dua ‘healer’. Kekuatan tempur pasukan itu belum termasuk dengan kemampuan bertarung Adelllia yang dengan ganasnya ketika menggunakan tombak ‘jiwa’ dan dibantu dengan sihir hebat dari Kakek Hork.


“Tak ada yang perlu kita khawatirkan lagi.” Ujarku menghampiri Hans dengan gagahnya menunggangi kuda kerajaan, dia tampak sedikit gelisah. Mungkin dia lebih mewaspai atau mungkin bahkan mencurigai mereka. “Kau mungkin tak akan percaya, mereka lah yang telah menyelamatkan Kerajaan Laiquendi. Tanpa adanya mereka, pasti sampai sekarang kita tak akan mampu mengalahkan Zardock. Dia lah yang memimpin pasukan bala bantuan itu.” Imbuhku seraya menunjuk arah Adellia.


“Aku juga menyadari hal itu kok, Tyaga. Dari awal aura yang kurasakan pada dalam dirinya bukanlah energi yang main-main.” Balas Hans menanggapi percakapan ringanku dengan serius.


Aku hanya dapat menahan tawa melihat tingkah penuh kekhawatiran itu. Apa semisterius itu wajah dari Adellia. Oh ya, tak hanya termpampang kesan misterius, melainkan tingkah Adellia yang selalu menyendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan pasukan lainnya. Bahkan sesekali tampak dia menatap kosong sebuah pohon atau pun dedaunan yang gugur layu dari tangkainya.


Tapi bagiku Adellia hanyalah orang yang sedang menikmati kesendirian serta dunianya sendiri. Aku cukup menyadari prilaku itu bukanlah aneh atau mungkin misterius, hanya saja banyak orang umum akan beranggapan seperti itu. Padahal jika kalian mengenal mereka lebih dalam, pasti ada alasan baginya untuk bertingkah menyendiri dan tak banyak bercakap dengan orang banyak.


Entahlah. Meski pun aku berbicara sok tahu, namun bagiku terkadang alasan mereka ada yang tidak logis. Tapi ada beberapa dari mereka juga memiliki alasan yang enggan untuk diceritakan kepada orang lain. Mungkin membutuhkan waktu, serta hati yang siap. Mungkin. Untuk dapat memahami orang-orang semacam Adellia.


Aku sendiri hanya beberapa menemui orang semacam itu, tak banyak pula yang berhasil kuajak bicara dan membicarakan semua hal. Beberapa pula ada yang malah terdiam. Bahkan ada kalanya ketika orang biasa kau tanyai alasan entah apa pun itu, pasti ada yang mengelanya. Cukup adil bukan kalau kita tidak terlalu memaksa mereka untuk menceritakan semua hal-hal tabu baginya. Penasaran boleh, asal jangan ada paksaan di dalamnya. Bisa-bisa kalian malah akan dibenci mereka, atau lebih parahnya dia malah lebih menjauh dan sembunyi dalam alasannya.


Ah masih banyak lagi yang ingin kusampaikan. Tapi kembali lagi ke dalam perjalan ini, mungkin di dalam perjalanan ini aku dapat mengenal dirinya , Adellia lebih dalam dan semoga kita dapat berteman. Tunggu. Aku ralat perkataanku. Mana mungkin aku dapat berteman dengannya, dia pernah mengejek kaumku. Perlu diingat di tengah-tengah pertarungan, dia mengatakanku lemah dan itu mengatas namakan kaum elf.

__ADS_1


Tak sampai di situ saja, dia, si Adellia bahkan menyalahkan kaum elf, terumata kaum elf yang menempati Kerajaan Laiquendi kenapa tidak bergabung dalam ‘serikat persaudaraan’. Tunggu-tunggu, entah itu kami yang salah atau mungkin mereka yang benar. Biarlah, cukup orang-orang penting yang mengurusnya. Setidaknya dia tidak mengatakan kepada rakyat biasa sepertiku.


Meskipun waktu itu aku masuk ke dalam pasukan pertempuran melawan Zardock, tapi aku masih kecil dan bisa dibilang masih menjadi warga biasa yang sedang mengabdi guna menyelamatkan kerajaan. Sungguh aku telah menjadi warga kerajaan yang baik bukan. Mulianya diriku. Tak kusangka aku dapat mengemban tugas itu dengan baik, bahkan sampai akhir aku dapat mengalahkan Zardock dan menyelamatkan keberlangsungan hidup para rakyat Kerajaan Laiquendi.


Tapi sialnya aku tidak mendapatkan apa-apa, bahkan biaya gratis dan menjadi murid pindahan di Akademi Teratai Ungu adalah buah kerja kerasku meraih peringkat satu di antara murid-murid Akademi Bunga Hijau lainnya. Bukan penghargaan atas keberhasilanku menyelamatkan kerajaan ini. Bangga namun juga miris melihat nasibku saat ini. Aku tahu, mungkin Adellia dan pasukannya menyembunyikan identitasku dalam timnya, guna menikmati hadiahnya sendiri. Padahal aku cukup andil dalam pertarungan itu. Hiks... Hiks... Hiks... Cukup menyedihkan. Mereka sangat tega.


Ingat, kapan-kapan aku akan menggugat ini semua. Aku juga harus menikmati buah hasil kerja kerasku, darah yang kutampahkan saat pertempuran, bahkan berkali-kali nyawaku yang hampir melayang. Aku harus mendapatkan semua hadiahnya. Tunggu. Kenapa diriku menjadi egois begini. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku mempermasalahkan semua itu, bersyukur adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hatiku saat ini dan mungkin. Untuk selama-lamanya. Karena aku masih bisa menikmati waktu bersama adikku, Saigiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu

__ADS_1


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


WA : 08973952193


IG : bayusastra20

__ADS_1


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2