Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 104 – Kristal Sihir


__ADS_3

“Aku bisa menjelaskannya, Kek. Jangan salah paham dulu,” ucapku menghindarinya.


“Huh? Kau bilang apa?” tanya Kakek Hork.


Sontak aku menarik tanganku dari sakunya.


Tapi dengan cekatan Kakek Hork menangkap tanganku. Tepat sebelum tanganku benar-benar keluar.


Celaka posisiku tidak menguntungkan, dia pasti mengira aku ingin mencuri kristal sihir darinya.


“Jelas-jelas kau ingin mencuri kristal sihir dari tanganku ya?” hardik Kakek Hork seraya memegangi tanganku erat-erat.


Aku hanya bisa terdiam, tapi aku tidak bisa terus berdiam diri. Hanya saja entah bagaimana caraku menjelaskannya padanya, kalau salah kata bisa-bisa akan berujung pada perdebatan panjang.


Padahal aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeninya. Teman-teman sudah menungguku, monster-monster pastinya juga akan semakin banyak jika aku tidak secepatnya mengaktifkan kristal sihir ini.


“Kenapa kau hanya diam saja wahai anak muda?” ucap Kakek Hork, dia kemudian perlahan melepaskan genggamannya.


“Aku memerlukan kristal sihirmu, biarlah aku meminjamnya sebentar,” balasku tegas.


“Untuk apa? Bilang saja kau ingin mengambilnya dariku,” timpal Kakek Hork.


Sepertinya tidak akan mudah bagiku untuk meminjamnya.


“Tidak, hanya saja aku membutuhkannya untuk mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru,” tandasku.


“Di luar, para monster sudah mulai menyerang dan tidak sedikit yang berhasil menembus pertahanan kita. Hal itu terjadi sebab kita tidak bisa menghalau pergerakan mereka.” Imbuhku.


“Kita hanya memiliki satu cara, yakni menggunakan sihir penghalau empat penjuru,” tuntasku meyakinkan Kakek Hork.


Tak ada jawaban darinya. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya, tapi aku tidak mempedulikannya.


Aku hanya butuh kristal sihirnya, waktu juga semakin memburu, terlebih untuk menyiapkan sihirnya juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Aku harus segera mendapatkannya.


“Aku mohon Kek,” pintaku.


“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa kau langsung menemuiku ya,” jawab Kakek Hork seraya menyodorkan kristal sihir yang jumlahnya lima buah, tepat yang aku butuhkan.


“Memangnya ada apa Kek?” tanyaku penasaran dan mengambil semua kristal itu lalu memasukkan ke dalam kantong goni.


“Entahlah aku tak tahu, tapi aku yakin jika kau lebih tahu daripada aku cara menggunakan kristal sihir ini,” timpalnya serius.


“Kau tenang saja Kakek Hork, jelaslah kami lebih tahu darimu. Meskipun tak satupun dari kami adalah seorang penyihir, tapi kami tahu pasti cara mengaktifkan kristal ini agar bisa membentuk formasi sihir penghalang empat penjuru,” ucapku meyakinkannya.


Kakek Hork pun mengangguk dan tidak mempermasalahkannya.


Dia tetap berpesan agar selalu berhati-hati sebab dia baru menyadari jika penggunaan kristal sihir ternyata menyerap energi sihir tak main-main jumlahnya.

__ADS_1


Dia hanya takut jika tak ada penyihir yang mampu menahan energi dari kristal sihir, lebih lagi harus mengaktifkan lima sekaligus.


“Oh itu salah Kakek Hork sendiri yang terlalu percaya diri mengaktifkan kristal sihir tanpa tahu caranya,” ucapku mengejeknya.


“Salahku ya? Apa kau lupa, jika aku tidak menggunakannya, pasti kita berdua tidak akan bisa berdiri di sini,” balasnya tersenyum sinis.


“Bukannya kau lagi terburu-buru!” timpalnya lalu menyuruhku untuk lekas pergi.


Tanpa diperintah lagi aku langsung pergi meninggalkannya. Sekilas aku melirik ke belakang, terlihat Kakek Hork kembali tidur dan fokus mengisi «Magen».


Aku harap dia bisa segera sembuh dan bertarung bersama kami lagi, sungguh kami sangat membutuhkan sosok Kakek Hork.


Tak hanya dapat menunjang kekuatan para penyihir, dia juga sosok yang penting bagi Adellia.


“Kami menunggu di medan pertempuran, Kek,” ucapku sebelum keluar dari tendannya.


Dia membalas ucapanku dengan jempol kanan yang di angkat tinggi.


***


“Apa kau berhasil mengambilnya?” tanya Aalisha yang tengah menungguku sedari tadi. Di sampingnya juga terdapat empat penyihir.


“Maaf tadi ada urusan sebentar dengan Kakek Hork,” balasku. Setelahnya aku membagi kristal sihir ke tiap-tiap penyihir.


Awalnya mereka tampak bingung dengan kristal yang aku bawa, tapi perlahan mengetahui jika itu adalah kristal yang dipenuhi dengan energi sihir ketika tangan mereka bersentuhan langsung dengan kristal sihir.


Sehingga dapat mencegah para monster untuk memasuki area kamp perkemahan. Bahkan jauh lebih kuat daripada tembok kayu yang dibuat oleh para kesatria sebelumnya.


“Lalu apa yang harus kami lakukan Tuan?” tanya salah satu penyihir.


“Kalian berempat akan menggunakan sihir pelindung empat penjuru,” jawabku tegas.


“Sihir pelindung empat penjuru?!” Seketika mereka semua tampak terkejut setelah mendengar jawabanku.


Perlu diketahui bahwa jika ingin menggunakan sihir perlindungan bertipe area atau wilayah akan membutuhkan banyak penyihir untuk mengaktifkannya.


Itupun tergantung jenis dan daya tahan sihir pelindung itu, semakin kuat pertahanannya maka akan membutuhkan penyihir lebih banyak dan yang penting memiliki energi sihir yang mumpuni.


Hanya saja pengaktifkan sihir pelindung empat penjuru menggunakan krital sihir tergolong mudah tapi pertahanan yang diciptakannya tidaklah lemah.


Bahkan menurutku lebih kuat dari sihir pelindung yang selama ini aku ketahui. Meskipun aku baru tahu sedikit mengenai dunia sihir, tapi keyakinanku sangat besar.


“Kalian tak perlu panik, kalian tinggal mengalirkan «Magen» ke dalam kristal sihir ini,” ucapku memberitahu mereka.


Tapi mereka masih tampak ragu-ragu dan tidak percaya diri, apakah mereka mampu atau tidak.


“Jangan khawatir, untuk mengaktifkan kristal sihir ini tidak perlu membutuhkan energi sihir yang besar, kalian cukup mengalirkannya agar semua cahaya di tiap-tiap penjuru bisa saling menyatu dan membentuk sebuah formasi segi empat,” jelasku meyakinkan mereka.


“Aku khawatir tak dapat memenuhi permintaanmu Tuan,” balas salah satu penyihir terlihat lesu.

__ADS_1


“Astaga!” ucapku meninggikan suaraku.


“Kalau kalian tak segera mengaktifkan pelindung ini maka akan lebih banyak mayat-mayat teman kalian bergelimpangan tak berdaya!”


“Andai saja aku bisa mengaktifkannya sendiri pasti aku tak akan memperlukan bantuan kalian!”


“Aku mohon!” tandasku, berhenti sejenak.


“Kalau kalian tak bisa mempercayai diri kalian sendiri, aku mohon percayalah jika dengan ini kita bisa menyelamatka nyawa teman-teman kita,” imbuhku seraya bersimpuh di hadapan para penyihir.


“Jangan biarkan pengorbanan teman-temanmu menjadi sia-sia...” tuntasku melas.


Semua terdiam, menunduk malu. Padahal kesempatan terakhir ada di tangan mereka, kenapa mereka begitu tak yakin akan kekuatan mereka.


Ini bukan perkara hal yang sulit, melainkan hanya keyakinanlah yang dapat menjadikannya mampu.


Hanya hal ini lah satu-satunya kesempatan. Aku tak tahu sampai kapan para kesatria, rakshasa, dan penyihir lainnya bertahan.


Aku mohon, percaya dirilah pada kemampuan kalian sendiri. Pintaku hanya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

__ADS_1


__ADS_2