
“Oh jadi begitu ceritanya...” Tanggap Saigiri setelah kuceritakan semua yang apa telah kualami saat memasukin alam di dalam mutiara roh.
“Apa kau dapat mempercayaiku?” Tanyaku. “Tolong yakinlah kepadaku, aku sedikitpun tidak mengarang cerita itu, semua terjadi begitu saja, sementara aku sendiri tidak mengetahui sebenarnya apa yang telah terjadi.” Tuntasku.
“Bukan aku tidak percaya kepadamu, Kak. Namun aku sendiri tidak memiliki kenyakinan atas itu semua.” Balas Saigiri.
Begitu pula denganku, aku bahkan menganggap ini mungkin sekadar mimpi ataupun khalayanku semata. Namun pertemuanku dengan panda kecil terasa sangat nyata dan bahkan serasa aku dapat mengendalikan tubuhku secara penuh. Tidak selayaknya mimpi ataupun khalayan.
“Tetapi...” Pikirku.
“Kenapa Kak?” Tanya adikku seraya menatap raut wajahku tajam.
“Yang sangat mengangguku adalah kalaupun ini benar adanya, tetapi mengapa aku malah mendapatkan inti roh yang teramat lemah. Bukankah suatu hal yang berbeda akan menghasilkan atau mendapatkan hal yang berbeda pula. Setidaknya energi roh yang kudapat lebih hebat dari teman-teman lainnya.” Ucapku.
“Aku juga tidak mengerti Kak dengan masalahmu.” Terlihat jelas Saigiri juga ikut kebingungan.
Sungguh aku sangat kecewa dengan capaianku, terlintas dalam benakku untuk meminta ulang ritual pengambilan inti roh. Aku ingin mendapatkan energi roh lagi yang setidaknya setingkat dengan punyanya Saigiri.
Alangkah indahnya kalau aku memiliki energi yang lumayan hebat, ditambah dengan kemampuanku yang bisa dibilang di atas rata-rata, pastinya kelak aku akan menjadi petarung yang handal dan sekiranya nantinya akan menjadi legenda. Sungguh mimpi yang konyol.
“Hey, Saigiri.” Sapaku.
“Ada apa, Kak?” Tanyanya gelagapan.
__ADS_1
“Menurutmu kalau aku meminta ke Guru Senjati untuk mengulang ritualnya bagaimana?” Ucapku meminta saran darinya.
“Entahlah, Kak. Tetapi apakah guru akan mengijinkannya? Ini saja dari ratusan murid akademi baru sebagaian saja yang mendapatkan inti rohnya. Mungkin saja acara ini akan dilanjut besok, sedangkan besok pagi-pagi buta kita harus berangkat ke ibukota.” Jelas Saigiri menanggapiku.
“Astaga aku lupa!! Oh nooo....” Pekikku sambil menjambak rambutku dengan kedua tangan. “Lalu apa yang harus kulakukan, Saigiri....” Imbuhku merengek-rengek, berkaca-kacalah mataku ini tak kuasa menahan semua kemalangan ini.
“Kenapa kau malah bertanya kepadaku, memangnya aku tahu dengan semua permasalahanmu. Dasar kakak yang tidak berguna.” Bukannya menghibur atau membantuku, adikku yang paling manis sedunia justru membuatku semakin sakit hati. Sungguh apes sekali aku hari ini.
“Hiks... hiks... padahal selama ini aku selalu menjagamu, membantumu di saat kau membutuhkanku, menjadi pelindungmu di saat ada yang mengganggumu, bahkan aku lah yang telah merawatmu dari kecil.” Ucapku melas.
“Bentar, bentar, bentar! Merawatku dari kecil?! Bukankah selama ini kita dirawat oleh ayah dan ibu, umurmu sendiri bahkan hanya terpaut beberapa bulan saja dariku. Apa kau pantas mengatakan seperti itu.” Suasana menjadi semakin runyam, bahkan emosinya semakin menaik.
“Hiks... hiks... sungguh tega sekali kau, Saigiri. Perjuanganku selama ini ternyata kau menganggapnya sebagai bualan saja. Biarlah aku mati, aku tak sanggup lagi menahan penderitaan ini.” Balasku semakin memelas bahkan aku menyandarkan tubuhku yang melemah ke tiang aula.
“Astaga!!! Kau sangat menjengkelkan, Kak! Iya-iya aku akan membantumu untuk memecahkan masalahmu!” Ujar Saigiri yang tampak kesal dengan semua tingkahku.
“Nah begitu, sudah seharusnya seorang adik itu harus berbakti dan menurut dengan kakaknya. Apalagi dengan kakak kesayangannya.” Inilah jurus pamungkasku, merayunya.
“Dasar Kakak yang tidak berguna!!!” Balasnya seraya mengepal kuat-kuat kedua tanganya, seakan ingin memukul wajahku dengan keras.
Aku pun tertawa lepas dengan semua tingkah lucunya, semua beban yang sempat kurasakan sedikit demi sedikit menghilang, berganti dengan kebahagiaan yang kudapat dari raut wajah kesal Saigiri. Memang salah satu obat pelipur lara adalah dia, adikku, Saigiri.
“Syukurlah kalau kau sudah merasa baikkan, Kak.” Ucap Saigiri, tersenyum lega setelah melihatku tertawa. Ketika aku mendapatkan masalah, Saigirilah yang menjadi orang pertama yang khawatir dengan keadaanku.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id