
“Jadi kemarin dan dua hari yang lalu kabut ini masih belum muncul? Meskipun para monster sudah melakukan penyerangan?” ucapku.
“Iya Tuan Tyaga,” balas si kesatria.
“Aku harus segera mengeceknya,” ucapku lirih.
“Ini jelas ada yang aneh,” imbuhku menatap tiap-tiap pasang mata yang memenuhi tenda.
“Memang aku juga merasakan hal yang sama, Kak.” Saigiri memberanikan diri untuk ikut andil dalam diskusi kali ini.
Tapi berbeda dengan Aalisha yang masih tampak cuek dan bermalas-malasan di atas kursi nan terletak di dekat pintu.
“Lantas apa yang akan kalian berdua lakukan?” tanya Adellia melihatku dan Saigiri secara bergantian.
“Perlu kita sadari waktu kita tidak banyak, mungkin sebentar lagi para monster akan mulai penyerangan," ucap salah satu seorang kesatria.
"Sebaiknya kita kesampingkan dulu masalah kabut, kita pikiran terlebih dulu bagaimana cara kita bertahan malam ini,” imbuhnya.
“Banyak pasukan kita telah gugur di medan pertempuran, kita tidak bisa mengambil resiko lebih besar,” timpal kesatria lainnya.
“Lebih lagi pasukan yang tersisa hanya sebagian kecil, itu pun banyak penyihir yang telah kelelahan sehabis menggunakan beberapa sihir saat menghalau Tuan Tyaga masuk,” balas seorang penyihir.
Dia juga meminta maaf kepadaku soalnya dia lah yang mengomandani para penyihir untuk menyerangku.
Aku mengangguk dan tidak terlalu mempermasalakannya. Hal itu lumrah terjadi. Kalau aku jadi dia, aku pasti akan melakukan hal yang sama.
Demi menjaga keselamatan teman-teman, dalam medan pertempuran pasti banyak hal tabu yang akan terjadi.
Terkadang pula tanpa sadar pedang nan kau ayunkan bisa mengenai temanmu sendiri, bahkan bisa jadi malah membunuhnya.
“Sekiranya para penyihir memerlukan waktu berapa lama untuk bisa mengisi kembali energi sihirnya,” ucap Hans.
“Untuk mengisi ulang «Magen» mungkin membutuhkan waktu sekitar setengah hari,” balas penyihir.
Meskipun dia tampak lebih tua dari Kakek Hork, tapi energi sihirnya yang aku rasakan masih jauh di bawah Kakek Hork.
“Sial!” umpatku pada meja yang ada di depanku.
Tak mungkin para penyihir ikut andil banyak dalam pertempuran kali ini, banyak di antara mereka yang sedang kehabisan energi sihir.
Bahkan penyihir yang tersisa hanyalah penyihir pemula atau baru pertama kali turun langsung ke medan perang.
Sementara para penyihir veteran tak sedikit yang sudah kehabisan «Magen», dan tidak dapat sembarangan menggunakan sihir lagi.
“Bagaimana dengan para rakshasa?” tanya Adellia.
Aku hampir lupa kalau kita juga punya para rakshasa, seorang manusia istimewa yang bisa merubah dirinya menjadi seorang raksasa atau manusia batu yang biasa disebut golem.
Mereka memiliki serangan fisik yang sangat brutal dan kuat, tapi serangannya terbatas pada jarak dekat.
__ADS_1
Terlebih kecapatannya juga kian menurun ketika tubuhnya semakin membesar.
“Kondisi para rakshasa memang tak seburuk para penyihir ataupun kesatria, tapi tetap saja kami tak ingin terlalu mengorbankan diri di garda depan tanpa ada bantuan para penyihir. Kemampuan kami tak akan bisa maksimal,” ucap salah satu komandan rakshasa.
Meskipun tampak kecil nan lucu tapi ketika dalam pertempuran, dia bisa merubah dirinya menjadi golem yang teramat besar tubuhnya dan pastinya memiliki daya tahan fisik yang kuat.
“Jadi seorang penyihir akan sangat berpengaruh dalam sebuah pertempuran.” Dengan santainya Son mengucapkan hal tersebut.
“Tidak dipungkiri lagi ucapanmu memang ada benarnya, Son. Tapi di setiap pertempuran tak harus seperti itu, masih banyak hal lain yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan sebuah kemenangan,” balasku.
Berbeda dengan Son dan Hans, aku lah satu-satunya murid Akademi Bunga Hijau yang diberi tugas oleh Raja Achille untuk ikut bertempur bersama tim pasukan delapan saat melawan Zardock.
Kala itu semua timku dibabat habis oleh Zardock, dan tersisa lah aku sendirian. Berujung pertarugan satu lawan satu dengan Zardock, dan berakhir pertemuanku dengan pasukan bala bantuan yang dipimpin Adellia.
“Jadi apakah kau punya rencana, Tyaga,” timpal Adellia sambil melirikku tajam.
“Maaf,” ucapku sepatah kata.
“Aku masih belum ada ide strategi,” imbuhku.
Semua pun terdiam. Meskipun kami diburu oleh waktu, tapi tak ada satu pun dari kami yang memiliki strategi untuk bertahan malam ini.
Apa mungkin kita akan menyerah dan bertarung sekuat tenaga saja. Tidak mungkin. Pasti akan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan.
Apakah kita akan kabur saja. Tidak mungkin. Para monster pasti akan membantai kita terlebih dahulu, sebelum sang fajar muncul dari ufuk timur.
“Lantas apa yang akan kita lakukan?” Aku berbalik tanya padanya.
“Tidak.” Lagi-lagi kata itu yang muncul.
Sebenarnya aku juga sudah muak dengan semua ketidak bisaan ini. Sementara itu Hans beberapa kali membolak-balikkan catatannya, mungkin dia mendapatkan sedikit hidayah.
Beberapa kali juga dia menanyakan ke salah satu kesatria mengenai ciri-ciri monster yang akan menyerang apakah sama dengan yang dikatakan di dalam catatan.
Tapi nihil. Tidak sedikitpun dia mengetahui akan suatu kebenaran. Kebenaran akan semua pola serangan para monster.
“Apa tidak cara yang bisa kita lakukan?” tanya Son memecah keheningan.
Namun semua menjawabnya hanya dengan sebuah bisuan semata, tak ada yang berani mengeluarkan pendapatnya.
Begitu pula dengan Adellia lebih banyak diam. Meskipun di awal dia sempat berbicara untuk memulai diskusi ini, tapi sekarang dia tampak lebih pasif.
Tidak seperti biasanya. Mungkin dia sedang memikirkan keadaan Kakek Hork dan tidak bisa fokus dalam perbincangan. Meskipun dia sudah berusaha tidak memperlihatkan kegelisahannya.
Aku menghampirinya lalu membisikkan, “Apa kau mengkhawatirkan keadaan Kakek Hork.”
Adellia mengangguk pelan, tapi tak berani mengutarakannya dengan jujur. Dia lebih mementingkan pasukannya dari pada egonya guna menemui Kakek Hork.
Salah satu contoh pemimpin yang baik. Padahal dia bisa memberikan urusan ini kepada Hans.
__ADS_1
Tapi dia tahu jika pasukannya benar-benar membutuhkan sosok pemimpin yang asli, bukan pengganti seperti Hans.
“Apa kau ingin menemuinya,” tanyaku sekali lagi.
Sementara lainnya tengah sibuk mengatur formasi agar tidak mudah ditembus oleh monster-monster yang akan segera menyerang kami.
Adellia menolak untuk menuruti perasaannya. Dia melangkah maju dan ikut mengatur pola pertahanan.
Tampak dia sesekali beradu argumen dengan pasukan lainnya, tak jarang dia seenaknya mengganti posisi balok kayu yang telah disunsun sebelumnya.
Namun aku tahu dia sedang menyembunyikan perasaannya. Sorot matanya seakan tengah menahan air mata yang berkali-kali mencoba untuk keluar.
Raut wajahnya pun seperti dibuat-buat, meski terlihat tegas dan tidak ada mimik menyerah sedikitpun.
Tapi aku tahu, itu hanya kebohongan belaka. Tak kusangka dia cukup ahli menyembunyikan perasaannya.
‘Tunggu sebentar...’ gumamku memecah lamunan.
‘Kakek Hork?’ tanyaku pada diriku sendiri.
Sepertinya aku melupakan suatu hal yang penting, tapi entah apa itu aku tidak mengetahuinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1