Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 116 – Zonics Archike


__ADS_3

Pagi telah tiba, malam tergantikan oleh cahaya matahari. Semua jiwa pun terbangun dari tidurnya, meskipun ada beberapa yang masih terpejam matanya.


Secerca harapan muncul dari balik punggung kehampaan, akankah esok kami masih bisa menghirup udara yang sama. Ataukah sudah menyatu dengan tanah menjadi sebuah mayat.


Meskipun di awal penjagaan aku merasa kantuk dan susah mengatur mataku yang kian menutup, tapi semakin pagi menjelang, rasa kantuk itu perlahan menghilang.


Bahkan entah dari mana energi kehidupan ini berasal yang membuatku merasa segar.


Badan nan capek sudah berganti dengan semangat pagi, untung saja tadi ada penyembuh muda yang mau membantuku mengobati luka ringanku.


‘Terimakasih.’ Tentu aku mengucapkan sepatah kata itu.


Setelahnya dia pergi untuk mencari pasukan lainnya yang memerlukan sebuah bantuan darinya. Padahal dia sendiri tahu jika energi sihir yang dimilikinya tidak besar.


Tapi sekali dia terlihat lelah, dia ijin terlebih dahulu untuk memulihkannya.


Sebentar, tidak sampai berjam-jam lamanya. Tubuh beserta energinya terasa pulih kembali.


Dia mungkin tidak memiliki bakat sihir dan «Magen» yang tidak begitu banyak, tapi setidaknya dia memiliki suatu kemampuan khusus lainnya.


Menurutku dia dapat mengisi energi sihirnya lebih cepat dari lainnya, sekiranya bisa dikatakan setara dengan kemampuan pemulihan Kakek Hork.


“Bagaimana Tuan? Apakah ada yang bisa aku obati lagi?” tanya penyembuh muda itu.


“Tuan? Bukankah tadi aku sudah bilang, panggil aku Tyaga saja. Umur kita tidak jauh beda,” ucapku sembari menawarinya sebuah buah-buahan yang masih tersisa dan menyuruhnya untuk beristirahat sebentar.


“Kau kira aku tidak tahu,” timpalnya tersenyum.


Dia kemudian mengambil buah yang tanganku dengan kedua tangannya.


“Terimakasih,” ucapnya sopan.


“Umurmu setidaknya sepuluh atau bahkan dua kali lipat umurku kan?” tanya penyembuh muda itu. Dia duduk di sebelahku dan melepaskan mantel tebalnya.


“Hahaha... Aku tidak berniat mengujimu, umur tidak terlalu penting bagiku, dan menurutku yang penting itu tentang kedewasaan orang itu,” ujarku bersikap ramah.


Aku mengeluarkan sebilah pisau untuk dia gunakan mengupas buah nan memerah coklat.


Kesatria dan pasukan lainnya silih bergantian keluar dari tenda peristirahatan.


Mereka terlihat saling sapa satu sama lain, ada pula yang langsung membantu pasukan lainnya membereskan sebuah puing-puing yang masih tersisa, tertinggal, ataupun terlupa kemarin.


Sedangkan para penyihir yang ada di atas menara tampak kelelahan, sebab jam jaga mereka lebih lama dari pasukan lainnya.


Dalam semalam, para pasukan harus berjaga dan bergantian selama dua jam sekali.


Sedangkan para penyihir setidaknya harus berjaga selama tiga sampai empat jam, sebelum bergantian dengan penyihir lainnya.


Ini bukan karena kami kekurangan para penyihir, melainkan kami lebih memperbanyak jumlah penyihir yang berjaga. Soalnya hanya mereka yang dapat mengeluarkan serangan jarak jauh.


“Oh ya kita belum berkenalan sebelumnya,” ujarku.


Dia sempat menghentikan kecapannya, tak lama langsung menelannya bulat-bulat. Maaf. Karena aku seenaknya mengajaknya bicara, tanpa tahu dia sedang apa.

__ADS_1


“Uhuk uhuk.” Karena tenggorokannya tak sanggup menelan daging buah bulat-bulat membuatnya tersedak.


“Maaf, maaf. Ini minumlah,” ucapku sambil menyodorkan gelas minumku.


Walaupun tidak tersisa banyak air di dalamnya. Setidaknya bisa melancarkan perjalanan gumpalan bauh itu.


Tanpa banyak bicara, dia kemudian menyautnya, dan meminum semua air hingga tidak bersisa sedikit pun.


Dia mengelus-elus tenggorokannya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di dalamnya.


Setelah merasa cukup, dia kemudian menghela napas lega. Terdengar jelas hembusan napasnya.


“Apa sudah merasa baikan?” tanyaku.


“Iya. Maaf telah menghabiskan minumanmu.”


Dia mengembalikkan gelas minumku sambil meminta maaf karena tidak tersisa sedikit pun air di dalamnya.


“Ah itu tidak apa-apa,” ucapku malu-malu. Tunggu, mengapa harus berekspresi seperti ini. Apa terlihat aneh


“Jadi?” tanyaku lagi.


“Oh itu ya.....” Dia berpikir sejenak.


“Namaku Zonics Archike, kau bisa panggil aku Zonics,” ucapnya memperkenalkan diri.


“Zonics ya? Tidak buruk untuk sebuah nama seorang penyembuh,” balasku bercanda.


“Kau juga bisa memanggilku Tyaga, Tyaga Nasution, salah satu elf berbakat dari Kerajaan Laiquendi,” tuntasku bersemangat memperkenalkan diriku.


Tiba-tiba ada seseorang datang dari belakang kami berdua. Sosok itu Hans. Sepertinya urusannya dengan Adellia sudah selasai.


Selaput matanya yang menghitam seperti mata panda, mereka pasti berdiskusi dari kemarin malam, dan baru selesai pagi ini.


Benar saja. Setelah aku mananyakan beberapa hal, dia enggan menjawab, dan lebih memilih meninggalku.


Dia berjalan gonntai melewati satu per satu tenda dan menuju tenda khusus yang digunakan oleh kami, para murid akademi.


“Apa kau mengenal dia?” tanya Zonics padaku.


“Iya,” balasku singkat.


“Ada apa dengannya, kok kelelahan seperti itu.”


“Kau tidak tahu siapa dia?” tanyaku setelag mendengar ucapannya yang menurutku agak aneh.


“Entahlah, ini baru pertama kali aku bertemu dengannya,” jawabnya menggelengkan kepala.


Zonics kemudian berdiri dan mengenakan mantelnya. Sementara aku masih menunggu kedatagan Son.


Padahal tadi dia ijin buang air kecil, tapi sampai sekarang dia tak kunjung balik. Aku harap dia tidak kembali ke tenda dan tidur sepuasnya.


Andai saja benar seperti yang kuduga, aku pasti akan benar-benar membunuhnya kali ini.

__ADS_1


“Namanya Hans, dia salah satu temanku di akademi. Baru saja dia dipanggil oleh Adellia untuk diajak berdiskusi. Bisa dikatakan kami adalah tamu bagi kalian,” tuturku.


“Tamu ya? Tapi aku mengenalmu sudah dari awal penyerbuan monster jadi-jadian. Kalau tidak salah nama monstet itu Zardock.” Tampaknya dia agak kesulitan memakai ulang mantelnya.


Aku baru sadar ternyata pakaian penyihir dan penyembuh itu berbeda. Memang sekilas tampak sama.


Namun jika dilihat lebih dekat, jelas sangat berbeda. Setelan yang dipakai para penyembuh ternyata lebih tebal dan ada beberapa lapis kain lagi yang menyelimutinya, seperti sebuah mantel.


Mungkin pakaian tebal itu berguna supaya para penyembuh tidak mudah terluka. Aku juga merasakan adanya sihir pertahanan di dalam mantel itu. Namun tidak terlalu kuat, sepadang dengan energi sihir penggunanya.


“Mengenalku?” tanyaku sepatah kata.


“Aku ralat ucapanku, maksudku mengetahuimu.” Agak lama Zonics baru selesai mengenakan setelan pakaian penyembuh.


Padahal tadi di awal, dengan mudah dia melepasnya. Agak ribet memang.


“Wah, maaf ya jika waktu itu aku masih belum bisa berkenalan denganmu,” ucapku membanggakan diri.


“Itu hal yang wajar, sebab kita semua terfokus dalam pertempuran melawan Zardock.”


Setelahnya dia berpamitan denganku untuk melanjutkan tugasnya.


Dia juga berterimakasih atas buah-buahan yang aku berikan, meskipun dia sadar jika buah itu sudah mulai membusuk. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu.


Itulah awal pertemuanku dengan teman baru, Zonics Archike. Seorang penyembuh muda yang memiliki energi sihir di bawah rata-rata, namun memiliki kemampuan regenerasi yang cepat.


Semoga kita bisa berbincang lebih banyak hal ketika sampai di Ibukota Dordrecth dengan selamat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2