
“Bagaimana keadanmu Tyaga,” tanya Hans.
Dia menghampiriku dan duduk di sampingku. Sepertinya lukanya telah sembuh, dia sangat ceroboh.
Padahal dia masih belum menguasai pengendalian energi roh sepenuhnya, tapi dia tetap memaksakan diri menggunnakannya.
Akibatnya dia jadi terluka, terlebih kakinya serta tubuhnya masih belum sempat menerima hentakan dari aliran energi roh.
Berbeda dengan Saigiri. Meskipun kami mendapatkan energi rohnya bareng-bareng, kemampuan pengendalian roh lah yang membedakannya.
Aku yakin jika sehabis mendapatkan inti roh tersebut, Hans hanya melakukan peleburan dan ini pertama kalinya dia mengalirkan energi roh ke kakinya.
Hanya sesaat saja, tapi berakibat fatal. Dia terlalu memaksakan diri.
“Kau bodoh ya.” Aku miliriknya.
“Maksudmu?” tanyanya heran.
“Kaki dan tubuhmu pasti belum bisa mengimbangi pengaliran energi roh itu,” ucapku.
Aku pun memaksakan tubuhku berdiri. Penyembuh juga mengatakan kalau tulang-tulang rusukku sudah sembuh.
Tinggal menyembuhkan otot-otot yang sobek dikarenakan benturan dari Hans yang berujung menabrak pohon besar.
Cahaya hijau yang tadi mengelilingi pinggangku, berputar dan tak jarang menimbulkan rasa nyeri.
Mungkin dikarenakan ada pergeseran tulang rusuk ataupun tulang yang sedang diperbaiki dan menyambungkan tiap bagian tulang rusuk yang retak, bahkan ada yang patah.
“Tapi jika aku tak menggunakan peningkatan kekuatan ini, kau pasti sudah memukul Kakek Hork,” balas Hans memberikan penjelasannya.
“Jangan bodoh! Tidak mungkin Kakek itu terluka dengan mudah. Terlebih, aku juga tidak melancarkan pukulan yang mematikan,” ucapku sambil menatap kepalan tanganku sendiri.
Hans juga menyadari hal itu, tapi tetap saja dia tak akan rela jika ada seseorang yang memukul orang tua seperti Kakek Hork.
Dia mengetahui jika Kakek Hork adalah salah satu penyihir terhebat di ibukota dan berbeda dengan penyihir lainnya. Tapi tetap saja dia tak akan rela.
“Jadi akan lebih baik kau berlari dan menabrakku menyelamatkannya daripada dengan aliran energimu sendiri.”
Aku menatap matanya dalam-dalam, mengingatkan suatu hal yang disampaikan oleh Tetua Agamemnon setelah ritual pengambilan inti roh.
__ADS_1
“Aku ingat...” Hans memalingkan wajahnya.
“Lalu, kenapa kau melakukannya!” ucapku memarahinya.
Tidak seharusnya dia langsung mengalirkan energi rohnya ke bagian tubuh tanpa latihan mandiri atau penguasaan terlebih dahulu.
Hal itu bisa berakibat fatal, itulah yang disampaikan oleh Tetua Agamemnon. Namun ada hal lain dari pesan itu. Benar.
Tak hanya dapat melukai tubuh penggunanya, melainkan jika tubuhmu masih rapuh atau belum terbiasa bila dilalui atau dialiri dengan energi roh yang dapat meningkatan kekuatan maka itu dapat berakibat aliran energimu dapat pecah.
Bayangkan saja kau memiliki gelas yang mudah retak, belum diasa ataupun ditempa ulang hingga menjadi gelas yang lebih baik.
Pertama-tama di dalam gelas itu terisi air hangat, yakni energi tenaga dalam yang dimiliki setiap makhluk.
Tiba-tiba kau ganti dan mengisinya dengan air dingi, yaitu energi roh. Apa yang akan terjadi. Gelas itu pasti akan pecah.
Sebab belum terbiasa dengan perbedaan suhu air yang ada di dalamnya.
Sama halnya dengan aliran energi yang ada di dalam tubuh kalian. Pastinya aliran energi itu nantinya akan mengalir berbagai macam energi di dalamnya.
Ada energi tanaga dalam, energi alam, energi roh, energi sihir, dan energi-energi lainya. Tapi semua energi pasti memiliki perbedaan, entah kapasitas, suhu, potensi, dan lainnya.
“Kalau kau mengingat kenapa kau melakukannya!” Aku pergi meninggalkannya dan melangkah menuju tempat Kakek Hork duduk.
Menyelesaikan hal yang belum terselesaikan.
Hans pun duduk merenung, dia hanya berpesan kepadaku agar tidak lagi melakukan hal yang tidak penting.
Dia berkata kalau Kakek Hork pasti memiliki alasan melakukan itu, sama halnya yang disampaikan oleh kakek penyembuh sebelumnya.
Aku mengiyakan ucapannya, aku menemuinya bukan untuk mengajaknya berantem. Melainkan untuk meminta penjelasan.
Dari kejauhan Kakek Hork memandangiku dengan teliti, dia seakan ingin mengetahui sesuatu yang ada di dalam diriku.
Entahlah, tapi ketika Kakek Hork sadar aku melihatnya. Dia langsung mengganti ekspresinya dan tersenyum melihatku.
Sangat menjengkelkan. Aku sedikit tersadar, mana mungkin maling akan bertingkah seperti Kakek Hork.
Tapi tetap masih ada secuil keraguan, sebab Kakek Hork terkadang bisa menjadi orang yang misterius.
__ADS_1
Aku mempercepat langkah dan tepat di depannya aku berdiam diri. Sejenak aku melihatnya masih memakai cincin sihir miliknya.
Di tangan kirinya juga tengah membawa kristal penghalang. Dia berbalik menatapku.
Iris matanya tampak tua berwarnakan coklat sedikit gelap, terhiasi oleh bulu dan alis yang tengah memutih.
Walaupun masih ada beberapa helai berwarna hitam nan mulai memutih.
“Ada apa?” Kakek Hork memulai pembicaran.
Canggung. Mata kami beradu tajam menghepas udara yang lewat di depan kami.
“Apa kau ingin melanjutkan pertarungan kita,” ucap Kakek Hork mencoba menyulut dan menantangku bertarung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id