
Aku mulai mempercepat langka, setelah mendengar penjelasan singkat dari kesatria yang terluka ringan.
Dia mengatakan jika sehabis mengalahkan Zardock. Selang satu harinya kehidupan di Hutan Laiquendi jadi berubah total.
Meskipun kehadiran Zardock membuat suasana hutan menjadi mencengkam. Namun ketika keberadaan Zardock telah musna, kabut-kabut ini bermunculan dan para monster lainnya pun mulai membabi buta.
Memporak-poranda kamp perkemahan.
Pasukan yang sedang dirawat pun ikutan kena imbasnya. Bahkan tak sedikit pasukan yang meninggal setelah pertempuran pada gelombang pertama.
“Gelombang pertama?!” tanya Kakek Hork sambil membantu menyembuhkan kesatria yang dalam keadaan kritis.
Terlihat penyembuh kewalahan menggunakan sihirnya untuk menutup luka dan menghentikan pendarahan kesatria itu, lukanya begitu dalam hingga susah untuk disembuhkan.
Penyembuh memang memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa, namun biasanya mereka memiliki energi sihir yang sedikit, tak sebanyak yang dimiliki oleh penyihir pada umumnya.
Jadi Kakek Hork meminjamkan energi sihirnya untuk melanjutkan penyembuhan.
“Iya, serangan para monster memang dimulai saat sore hari dan memuncak di malam hari. Untungnya intensitas serangannya akan menurun ketika menjelang pagi. Ini sudah hari ketiga monster-mosnter itu menyerang,” ucap kesatria itu dengan nada lemas.
“Lantas kenapa kau malah bersembunyi di sini!” tanya Kakek Hork geram. Dia mungkin berpikir jika kelompok ini sedang melarikan diri.
“Maaf Tuan Hork, di sana bukanlah tempat yang aman, meskipun kami memperkuat pertahanan sebaik apapun. Para monster pasti dapat menjebolnya. Banyak teman-teman kami mati dalam pertempuran, tak ada tempat aman bagi kami para penyembuh untuk mengobat teman-teman yang terluka,” sela salah satu penyembuh.
Dia tampak menahan air mata yang kian menitih perlahan di sela-sela pipinya. Sepertinya dia tidak berhasil menyelamatkan rekannya.
Lukanya begitu parah, kesatria itu juga sudah kehabisan banyak darah. Memang susah jika menghentikan pendarahan, terlebih tangannya juga sudah terputus.
Sangat susah untuk menyelamatkannya. Meskipun beribu-ribu lapis perban kau tempelkan, darah akan terus merembes keluar.
‘Kau sudah berusaha semaksimal mungkin,’ gumamku dalam hati.
“Jadi hari ini adalah kali ketiga monster-monster itu menyerang,” ucap Kakek Hork menundukkan kepala.
Tak kusangka dia juga tidak bisa menahan sedih setelah melihat salah satu kesatriannya tergeletak tak layu tepat di depan matanya. Dia lantas menutup matanya dengan seutas kain putih.
“Kita harus bergegas ke sana Nak Tyaga,” imbuhnya menetapkan hati. Dari raut dan sorot matanya terlihat ada dendam yang harus dibalaskan.
Dari kejauhan terdengat suara ledakan yang luar biasa diikuti dengan kepulan kabut asap yang tampak hitam pekat yang membumbung tinggi di atas awan.
__ADS_1
Tampaknya tengah terjadi peperangan antara pasukan bala bantuan, tapi dengan siapa. Aku merasa ada sesuatu yang aneh.
Apa mungkin monster seperti Zardock muncul, monster yang diselimuti oleh bayangan hitam.
Tak mungkin, bahkan aku sendiri tak merasakan secuil energi yang dikeluarkan oleh seekor monster apapun itu.
“Ke manakah jalan menuju Kamp Perkemahan?” tanya Kakek Hork.
“Aku akan ikut denganmu Tuan Hork, biarkan aku menjadi penunjuk jalanmu,” balas si kesatria tanpa zirah menawarkan diri untuk ikut kembali ke kamp.
Zirahnya tampak rusak, mungkin pada saat melarikan dan demi melindungi teman-temannya yang sedang sekarat. Dia rela menjadi tameng terhadap serangan-serangan fisik para monster.
“Apakah kita membutuhkan kuda untuk sampai ke sana?” ujarku seraya menarik kudaku.
“Tidak perlu, Tuan?” Sepertinya dia belum mengenalku pasti.
“Bukankah kau adalah pemuda dari kaum elf yang ikut bertarung bersama kami saat melawan Zardock?” Dia mencoba mengingatku, tapi tetap tidak mengenal namaku.
“Itu bukanlah hal yang penting.” Aku menampik ucapannya dan meninggalkan kudaku di sini.
Selanjutnya kami bertiga bergegas menuju Kamp Perkemahan.
Benar saja apa yang dikatakan oleh si kesatria sebelumnya, jalur di sini memang sangat rapat dan jalan yang harus dilalui pun sangat bergelombang dan tidak menentu.
Jadi tak mungkin jika harus berkuda dalam keadaan jalan seperti ini.
“Oh ya sebelumnya, aku lupa memberi tahumu Tuan Hork,” ucap si kesatria mengingat suatu hal yang penting.
“Apa ada yang ketinggalan?” balas Kakek Hork seraya memasang cincin sihirnya di jari manis.
Tak hanya satu, kali ini Kakek Hork memakasi dua cincin sekaligus. Satunya dia pasang di tangan kanannya.
Tampaknya dia sangat serius kali ini, mungkin firasatnya mengatakan hal yang buruk tengah terjadi.
Dia mengatakan kalau sebenanya sebelum kedatangan kami berdua, Nona Adellia beserta teman-teman dan pasukan lainya berhasil menemukan mereka terlebih dulu.
Tapi berhubung dia berkata bahwa jika pasukan yang ada di Kamp lebih membutuhkan bantuan, Adellia dan lainnya langsung bergegas menuju Kamp Perkemahan.
Mereka mengambil jalan memutar sehingga mereka sama sekali tidak berpapasan dengan kami.
__ADS_1
“Lantas apakah kedatangan mereka terpaut jauh dengan kedatangan kami?” tanyaku.
“Tidak, hanya berselang beberapa menit saja Tuan,” jawabnya tuntas.
Aku bersemangat ketika kesatria itu mengatakan hal yang sebenarnya ingin aku dengar. Untungnya Saigiri dan yang lainnya baik-baik saja.
Tapi aku tak bisa secepat ini berbahagia, pertempuran sudah menanti kami di depan sana.
Kami pun mempercepat langkah, aku jadi tak sabar bertemu lagi dengan Saigiri. Meskipun hanya beberapa jam saja berpisah.
Namun aku sangat khawatir dengan keadaannya. Andai saja aku bisa terus bersamamu, Saigiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1