Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 130 – SON!


__ADS_3

[ Not Edited ]


Kegilaan Tyaga terus berlangsung, begitu pula pertarungannya dengan kedua temannya, Son dan Hans yang tidak kunjung selesai. Kendati demikian pasukan Adellia perlahan mulai bisa mengatasi beberapa monster yang kini sudah tidak lagi bermunculan. Tapi tetap saja mereka masih kalah jumlah dengan monster-monster itu.


“Apa kalian kelelahan?” tanya Tyaga memamerkan senyum kecut ke arah Son dan Hans.


“Mana mungkin,” tuntas Son kembali menguatkan genggaman pedang besar lalu memikulnya di pundak. “Tuh kan... aku masih bisa melayanimu sampai ke ronde berapa pun,” imbuhnya membalas senyuman Tyaga dengan remeh.


“Ini bukan apa-apa dibandingkan melawannya saat perebutan posisi satu se antero Akademi Bunga Hijau,” timpal Hans mengarahkan pucuk tombaknya menghadap lurus Tyaga, siap menerjang kapan pun.


“Kalian boleh saja bersemangat seperti itu, tapi lihat...  kalian berdua hanya bisa menghindar dan bertahan saja. Apa kalian masih  takut untuk membunuh anak ini?! Hahahaha....” Tyaga menertawakan dirinya sendiri.


Di tengah-tengah tawanya, Tyaga langsung melesat turun dari atas pohon untuk melancarkan serangan-serangan selanjutnya. “Lihatlah! Lihat!” ucapnya tanpa henti, diikuti oleh alunan ayunan pedang yang semakin ganas siap menyabet perut ataupun menanggalkan kepala dari tubuhnya. Sangat tajam dan penuh akan kekuatan.


“Mana mungkin kalian bisa menang melawanku, kalau kalian hanya bisa bertahan dan terus-terusan menghindari semua seranganku!” Tidak sampai di situ, tebasan pedang Tyaga semakin kuat hingga membuat Son terpental ke belakang karena tak kuasa menahannya.


Dari posisi itu Tyaga kemudian berbalik menyerang Hans. Namun Hans sudah bersiap dengan tombak yang dekatkan di dada dan memeganginya dengan kedua tangan.


Tyaga memulainya dengan tebasan memanjang dari ujung atas sampai bawah. Sontak Hans langsung melompat ke belakang dan ayunan pedang Tyaga hanya menghantam bentala, memberikan bekas sayatan pedang lurus di tanah.


Mengetahui musuhnya masih bisa menghindar, Tyaga melanjutkan serangannya dengan sebuah dengan menggunakan pisau kaki. Mengambil langkah awal adalah kunci dari tendangan pisau kaki. Berhubung pedang masih menancap di tanah, jarak tendang Tyaga jadi lebih terbatas. Namun itu sudah cukup untuk bisa membuat Hans terseret satu meter ke belakang.


“Apa hanya ini kemampuan kalian?!” tanya Tyaga sekali lagi.


“HIAA!!!” Dari atas Tyaga muncul Son yang siap mengayunkan pedang besarnya.


DAAKK.


Sialnya pedang tipe «Great Sword» milik Son malah menyangkut di pepohonan tanpa memberikan luka sedikitpun di tubuh Tyaga. Untungnya lagi Tyaga hanya mengakhiri Son dengan sapuan kaki yang membuatnya terpelanting ke samping dan pedangnya masih kokoh menyangkut di pohon.


“Sial!” umpat Son langsung mengambil posisi bertahan setelah sempat terjungkal.


Pertarungan mereka bertiga terus berlanjut dan semakin sengit. Meskipun Hans dan Son semakin kelelahan, tapi beda halnya dengan Tyaga. Entah. Dia sama sekali tidak mengekspresikan dirinya sedang letih. Persis sekali seperti boneka yang tengah dimainkan oleh seseorang yang hanya tau bergerak terus-menerus, tanpa tahu apakah dia sudah kelelahan  atau tidak.


“Sudah aku bilangkan.... kalian berdua pasti tidak akan bisa mengalahkanku,” ucap Tyaga sombong sembari memperlihatkan ketajaman dari pedangnya.

__ADS_1


“Mana mungkin!” balas Son dengan napas yang terenggal-enggal.


“Mana mungkin dari mananya?! Mau berdiri saja kalian kesusahan! Apa kalian masih ingin melawanku dengan kondisi seperti itu?!”


Son dan Hans berharap bala bantuan datang, lebih lagi efek «Buff» para penyihir juga sudah menghilang dari tadi. Membuat mereka jadi semakin kewalahan menahan tiap gempuran dan serangan Tyaga. Sedangkan peforma Tyaga sama sekali tidak menurun, kekuatan dan daya serang yang dia lancarkan tetap sama seperti di awal pertarungan.


“Baiklah aku akan mengakhirinya sekarang....”


“Kalian mau mati dengan cepat atau lambat?” tanya Tyaga mempersiapkan pedang di tangan, sementara tangan satunya memegan ujung pedang.


“Sial!” umpat Son lagi.


Dia berusaha bangkit, dibantu dengan pedangnya. Kaki pun dikuatkan olehnya agar mampu menopang tubuh. Tidak mempedulikan darah yang merembes keluar dari lengan kirinya, itu hanya luka goresan saja. Namun luka itu melebar akibat berbenturan keras dengan pohon. Son tampak menahan sakit, sebab tak hanya luka itu saja yang dia dapatkan. Masih banyak lebam di sekujur tubuhnya.


Melihat kawannya tidak bisa bangkit karena luka tebasan di perutnya, Son harus melindungi Hans. Walaupun begitu, Hans masih tidak menyerah. Selagi nyawa masih dikandung badan, dia masih akan terus bertarung sampai bala bantuan tiba. Tangan kiri menutup luka dengan sedikit kain yang dia ambil dari celananya sendiri, sedangkan tangan kanan siap menggenggam tombak.


“Masih ingin bertarung?”


“Kami akan meladenimu sampai kau bosan!” tuntas Hans.


“Kalau Tyaga yang jadi kami, dia pasti tidak akan menyerah semudah itu. Bagaimanapun caranya dia pasti akan menyelamatkan temannya,” timpal Son, dia sudah bisa berdiri sempurna. Tapi bagaikan kayu yang sudah retak, pasti mudah bagi Tyaga untuk merobohkannya.


“Anak ini ya? Aku sudah bisa menduganya. Pasti lebih merepotkan lagi kalau aku yang harus melawan anak ini.” imbuh Tyaga menyetujui ucapan Son.


Di balik itu semua. Tiba-tiba Tyaga langsung melesat dengan cepat, bak petir. Dalam satu gerakan, Tyaga langsung bisa mencapai tempat Hans dan Son. Hans yang masih berusaha untuk bangkit, tidak memiliki kesempatan untuk menghindarinya. Sedangkan Son, mau tidak mau dia harus merelakan tubuhnya demi melindungi Hans.


“Aku akan menahan gerakannya, kau serang dia dari belakang!” ucap Son bersiap menerima serangan dari Tyaga.


“Jangan gila! Kau tidak akan bisa menahannya! Kau bisa terbunuh olehnya!” Hans tidak setuju dengan rencana temannya. Mana mungkin Hans membiarkan Son menjadi tameng.


“Seperti biasanya kan?” balas Son tersenyum miris.


“Biasanya?” Hans bingung akan maksud dari perkataannya.


“Iya... aku yang akan menjadi tameng, sedangkan kau adalah tombaknya...” Jelas dan lugas, mungkinkah itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Son. Satu hal yang disadari olehnya, benar apa yang dikatakan Hans sebelumnya. Bahwa kali ini dia tidak mungkin bisa menahan serangan dari Tyaga dan yang pasti hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.

__ADS_1


Mereka tidak memiliki waktu banyak untuk berdiskusi.


SRIIING!!


“SON!!!” teriak Hans diiringi dengan tusukan tombaknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

__ADS_1


__ADS_2