Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Chapter 30 : Tiga Serangkai


__ADS_3

Sebelumnya di barisan lima perwakilan murid Akademi Bunga Hijau yakni aku, Hans, Son, Aalisha, dan Saigiri juga terjadi perbincangan keheranan.


“Hans!!!” Ucap Son agak keras.


“Ssshhttt!! Kecilkan suaramu, jangan berisik.” Ucapku.


“Iya, ada apa lagi Son?” Tanya Hans malas.


“Apakah dia berhasil mendapatkan senjata roh?” Ujar Son.


“Mana Senjatanya? Kenapa tadi ada pancaran warna kehijauan? Kenapa tadi dia terlihat kesakitan? Apakah dia gagal, kok tidak terlihat senjatanya sama sekali?” Beribu pertanyaan dilemparkan Son.


“Aku juga tidak tahu Son, kau pikir aku orang yang maha tahu? Bukankah tadi sudah aku katakan aku hanya mengetahui sedikit tentang Senjata Roh. Untuk proses dan lain-lainnya mana aku tahu?” Jawab Hans kesal.


“Lhaaa!! Bukannya kau sudah belajar banyak dari para guru dan buku-bukumu? Pasti kau sedang menyembunyikan ilmu untuk dirimu sendiri ya?” Dengan bodohnya Son berkata seperti itu.


“Dasar kau manusia bodoh....!!” Ujar Hans seraya mengepalkan tangan seakan menahan kesal akan kebodohan Son.


“Bukankah kau dapat mengetahuinya sendiri dengan belajar dari kitab-kitab yang ada di perpustakaan?! Jangan selalu membesarkan otot-ototmu yang menjijikkan itu, hingga lupa mengisi otakmu yang bodoh.” Hans menghela napas berat dan melanjutkan ucapannya.


“Kau bilang ototku menjijikkan, kau bahkan tak dapat mengerti arti keindahan otot-otot ini.” Balas Son seraya memamerkan otot-ototnya dengan bergaya layaknya binaragawan profesional.


“Percuma punya otot sebesar gunung kalau otaknya kosong tak terisi apapun. Aku jadi bertanya-tanya kenapa para guru sampai bisa meluluskanmu dan naik tingkat sama sepertiku, padahal aku tahu kalau kau sangat bodoh.” Ucap Hans sambil berpose menyangga dagunya seperti seseorang yang sedang keheranan.

__ADS_1


“Huh?! Ternyata kau benar-benar tidak sadar kalau ototku inilah yang menyebabkanku tetap bisa naik tingkat.” Jawab Son penuh kepercayaan diri.


Hans melongo keheranan dan dengan bangganya Son berkata seperti itu. “Jadi apa mungkin para guru juga ikut tergila-gila dengan otot menjijikkan itu?” Tanya Hans memastikan kebodohan temannya, Son.


“Sudah pasti, apa kau belum tahu kalau guru waliku adalah Guru Allys. Dia sangat mengidolakan ototku dan terus bertanya kepadaku bagaimana caranya membesarkan otot yang sama seperti punyaku.” Tukas Son semakin membanggakan diri.


GLEK. Terdengar sangat jelas Hans menelan ludahnya. Sepertinya kebodohan Son sudah melebihi kebodohan orang pada umumnya dan telah mencapai ambang batas. Mungkin kelak kalau Son menjadi orang terkuat di benua ini akan mendapatkan julukan si Dewa Bodoh.


“Ini sama halnya denganmu, Hans. Bagaimana Guru Senjati melakukanmu secara istimewa karena kepintaranmu dan ilmumu yang tinggi itukan? Sehingga Guru Senjati menjadikanmu sebagai salah satu murid kesayangannyakan.” Ucap Son membela dirinya dan juga iri atas perlakuan Guru Senjati yang selalu memarahinya. Aku tahu Guru Senjati memarahinya karena kebodohannya itu, sudah pasti.


“Iya mungkin sama.” Jawab Hans mengalah.


“Tetapi aspek yang dipandang sangatlah berbeda, aku paling tidak mau kalau aku disamakan dengan orang bodoh sepertimu.” Imbuh Hans mencoba menyadarkan Son.


Pantas saja selama ini tidak ada yang bisa mengalahkan Hans. Dalam segi strategi bertarung dan kemampuan Hans sangat diunggulkan, terlebih lagi kekuatannya yang juga tidak bisa dianggap remeh. Walaupun kekuatan tempur dan daya rusak Hans jauh dibandingkan dengan Son, tapi setiap pertarungan di antara mereka berdua pasti dimenangkan oleh Hans.


“Hei Hans.” Ucap Son kembali.


“Iya ada apa lagi, wahai temanku Son yang murah hati.” Jawab Hans memamerkan senyum masam.


“Ngomong-ngomong akukan selalu memergoki kau sedang membaca terus-menerus, entah itu di kelas ataupun di perpustakan akademi sekalipun. Nah yang ingin kutanyakan adalah kapan kau melatih kemampuan bela dirimu? Bahkan terkadang saat kita bertarung, kemampuan kita tak jauh berbeda.” Lagi-lagi Son melemparkan suatu pertanyaan yang keluar topik upacara pengambilan senjata roh.


“Buat apa kau bertanya mengenai hal itu sekarang?! Kukira kau ingin bertanya tentang Senjata Roh lagi!” Tuntas Hans mulai tak bisa mengontrol kekesalannya serta volume suaranya semakin keras.

__ADS_1


“Tadi bukannya aku sudah bertanya tentang apa yang terjadi pada Alumni Carsten?! Tapi kau tidak menjawabnya dengan serius, malah kau mengatakkan ototku yang indah ini dengan sebutan menjijikkan!” Son berbalik menyerang perkataan Hans.


“Akukan tidak tahu, bodoh!!” Ucap Hans semakin menaikkan volume suaranya.


“Bilang dong dari tadi!!” Tak mau kalah Son membalasnya dengan nada yang lebih keras.


“Hey kalian berdua dari tadi berisik saja! Apa kalian tidak kapok dengan omelan Guru Senjati.” Tampak Aalisha menengahi perdebatan panjang di antara Hans dan Son.


“Diam kau!!” Bentak mereka berdua serentak.


“Wanita sepertimu mana tahu urusan laki-laki.” Ucap Son meremehkannya.


“Iya benar apa yang dikatakan Son. Menurut buku yang kubaca, wanita hanya paham kalau menyangkut perasaan saja, logika mereka tidak akan main.” Tandas Hans membenarkan ucapan teman baiknya.


“Apa kata kalian?!” Wajah Aalisha merah menyala bagaikan api membara yang siap melahap apapun yang ada di depannya.


Hans dan Son terdiam melihat ekspresi Aalisha yang begitu menakutkan dan secara kompak memalingkan wajah kembali menghadap ritual pegambilan jiwa roh.


"Dasar para lelaki, isi otaknya cuman bertarung saja!" Gumam Aalisha sebal.


Melihat perkelahian kecil di antara para senior membuatku tertawa hingga terpingkal-pingkal. Walaupun umur mereka adalah lebih tua dariku, tapi bagiku mereka juga manusia yang sedang bercanda gurau dengan sahabat-sahabatnya.


Mereka tampak begitu akrab dan kemampuan bertarung mereka juga tidak main-main, sebab itu dulu waktu aku masih tingkat dua banyak beredar kabar ada tiga senior yang baru tingkat tiga sudah menguasai peringkat tiga besar Akademi Bunga Hijau. Yakni tiga serangkai Hans, Son, dan Aalisha. Mereka telah bersahabat jauh sebelum memasuki akademi.

__ADS_1


__ADS_2