
“Wahai anak muda, di atas kemampuan ada pengetahuan.” Jawab Kakek Hork sambil tersenyum dan meninggalkanku di dalam keheningan malam.
Kalimat Kakek Hork masih menggema di dalam pikiranku. Tapi kalau dipikir-pikir ucapannya memang ada benarnya juga, kemampuan lebih identik dan berkesinambungan dengan kekuatan.
Tunggu, masih ada yang kelewatan. Tidak hanya kemampuan dan kekuatan saja yang berkaitan, melainkan semua akan saling berhubungan jika kita menyadarinya.
Contohnya, percuma kalau kau memiliki tubuh yang kuat ataupun mempunyai daya tahan serangan fisik yang kokoh jika kau tidak mengimbanginya dengan kemampuan lainnya.
Di pertarungan sesungguhnya kau paling hanya akan menjadi samsak pukulan musuhmu.
Begitu pula sebaliknya, jika kau hanya mengandalkan kemampuanmu saja, percayalah hal itu kurang beguna.
Benar saja kalau kau mempunyi kemampuan yang mumpuni, tapi jika diimbangi dengan kekuatan, maka kau tidak akan bertahan lama.
Selain itu yang mendasari kekuatan dan kemampuan sendiri ada banyak macamnya. Seperti energi roh yang baru-baru ini kita dapatkan yang dapat meningkatkan kekuatan kita.
Terlebih energi roh itu juga bisa dibuat menjadi sebuah senjata serang ataupun bertahan.
Hanya saja jika tidak diimbangi dengan kemampuan, maka peningkatan kekuatan itu tak akan maksimal.
Bayangkan saja, ketika kalian mengalirkan energi roh ke kakimu guna mempercepat pergerakan lari tapi tidak diimbangi dengan kemampuan mata ataupun keseimbangan.
Pasti penggunaanya tak akan bisa maksimal. Bukannya dapat mempercepat gerakan yang ada malah kalian sendiri lah yang celaka.
Terlebih mengalirkan energi roh pastinya membutuhkan kemampuan pengendalian yang baik. Itu lah sebabnya kemampuan dan kekuatan harus berjalan seimbang dan selaras.
‘Di atas kemampuan ada pengetahuan’.
Bukankah itu merupakan hal yang sama. Kita memiliki kemampuan karena kita mempelajari ataupun mengamati sebelumnya.
Dari pengamatan tersebut pastilah kita mendapatkan sebuah pengetahuan. Tapi kenapa Kakek Hork menyebut jika kedudukan pengetahuan ada di atas kemampuan.
Kekuatan tak akan maksimal tanpa kemampuan, kemampuan tak akan berguna tanpa kekuatan.
Lantas kemampuan sendiri berhubungan erat dengan pengetahuan. Kemampuan didapatkan karena mempelajari suatu pengetahuan.
Apa aku salah menyebut kedua kata itu memiliki makna yang sama. Namun perasaanku ingin mengungkap hal yang lain, berbeda dengan logika yang aku pikirkan.
Seakan ada makna lain dari kata ‘pengetahuan’ yang dilontarkan oleh Kakek Hork.
__ADS_1
Entah itu berhubungan tentang pengetahuan yang ada di luar nalar makhluk hidup atau pengetahun yang berhubungan dengan alam lain. Alam semesta mungkin. Pikirku dangkal.
Otakku tidak dapat memikirkannya lagi, mungkin aku akan menenggelamkannya pencarian arti ‘pengetahuan’ yang sesungguhnya dalam petualanganku kelak.
“Ada yang menganggumu,” sapa Son menepuk pundakku.
“Agak lama aku memperhatikanmu, dari tadi kau beberapa kali terdiam seraya menatap ke langut. Aku kira kau ingin mengambil ranting yang ada di pohon tapi kau malah kembali memungut ranting-ranting yang berjatuhan,” lanjutnya.
“Kau sedang memikirkan apa?” tuntas Son seraya menatap mataku dalam-dalam.
“Oh itu... Aku hanya sedang berpikir kenapa hutan ini sangat lebat sampai-sampai cahaya rembulan dengan susah payah menembus ranting-ranting serta dedaunan," balasku sambil memamerkan gigi seri.
"Padahal sudah banyak ranting yang berjatuhan. Seakan hutan ini ingin benar-benar melindungi apa yang ada di dalamnya," imbuhku mengalihkan perhatian lalu melanjutkan tugasku.
Son pun ikut melanjutkan mengambil beberapa ranting.
“Ngomong-ngomong kita butuh berapa ikat ranting?” Sejenak dia menghentikan pekerjaannya, lalu menanyakan hal itu kepadaku.
“Mungkin tiga sampai lima ikat cukup untuk membuat api unggun dalam semalam,” jawabku yang sudah mengumpulkan dua ikat ranting dan ini adalah ikatan ranting yang terakhir.
“Ah... Jadi apakah ini sudah cukup?” ucap Son sambil menunjukkan setumpuk ranting pohon yang telah dia susun menggunung yang tingginya hampir tiga meter..
“Gila! Dari mana saja kau dapatkan ranting pohon sebanyak itu!” ujarku terkejut dengan apa yang dia tunjukkan.
Bukan main jumlahnya, jika digunakan sebagai api unggun sekiranya cukup buat bermalam selama tiga hari.
“Cukup, bahkan lebih dari cukup!” Tltandasku menanggapi pertanyaannya.
“Baguslah, kalau begitu kita sudahi saja tugas ini. Aku dari tadi sudah menahan rasa lapar ini," kata Son mengikat satu persatu agar mudah diangkut.
“Bagaimana kau bisa mendapatkan ranting sebanyak ini?” tanyaku penasaran.
“Sama halnya denganmu, aku memandangi langit dan tersadar akan jauh lebih mudah kalau mengambil langsung dari pohon...."
".... Jadi aku memanjatnya dan mengambil ranting-ranting yang kira-kira mudah dipatahkan dan yang terpenting kering." Dengan polosnya Son menjelaskannya seraya mempraktekan cara dia mematahkan ranting dari dahannya.
‘Dasar aneh, mengapa harus repot-repot memanjat pohon jika bisa memungutnya di tanah. Meskipun tak sebanyak yang dia dapatkan tapi aku tidak akan melakukan hal merepotkan yang dia lakukan,’ gumamku lirih.
se-lirih hembusan angin. Son melirikku seakan mendengar secuil gumamanku. Tapi tak lama dia kembali fokus mengikat ranting-ranting.
__ADS_1
Mau dia mendengarnya ataupun tidak, aku juga tidak mempermasalahkannya.
“Bantu aku membawanya, Tyaga. mungkin teman-teman sudah lama menunggu kita,” ucap Son seraya menyodorkan beberapa ikat ranting dan dia membawa sisanya.
Dua ikat di masing-masing tanganya ditambah tiga ikat lagi yang dia talikan ke punggungnya seperti sedang membawa sebuah tas.
Total kayu bakar yang bawa berjumlah sepuluh ikat. Cukup banyak untuk digunakan berkemah semalam.
Aku hanya dapat mengangguk menuruti semua perintah dan tidak mempedulikannya lagi.
Kami pun berjalan kembali ke tempat semula. Meskipun baru hari pertama perjalanan menuju ibukota sudah terasa seperti seminggu tersesat di Hutan Laiquendi, banyak hal yang sudah aku alami.
Entah di petualanganku kelak pasti akan lebih banyak lagi hal-hal baru yang akan aku lalui. Cerita-cerita seru akan senantiasa menantiku. Aku jadi tak sabar menantikannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
__ADS_1
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id