Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 113 – Mimpi


__ADS_3

(Di dalam mimpi, di alam yang berbeda)


“Tyaga, kemari lah.” Seseorang memanggil namaku dengan jelas.


Dia berada jauh di sana. Sosoknya diselimuti oleh banyak kabut dan juga cahaya yang sangat menyilaukan.


Dari paras, suaranya nan parau, dan juga rambut putih yang dikuncir kuda. Sosok itu begitu familiar bagiku.


Namun aku ingatkan sekali lagi, bilamana aku belum mengetahui akan suatu kebenaran.


Perlahan, setapak demi setapak aku mencoba meraih sosok itu. Namun tidak bisa. Setiap kali aku mendekatkan diri, seakan jarak di antara kami berdua semakin jauh.


Ketika aku menghentikan langkah, dia lah yang malah menghampiriku. Aku tidak tahu. Apakah jarak kami begitu jauh, ataukah aku yang tidak mungkin bisa meraihnya.


“Maaf Tuan, siapa kah anda?” tanyaku.


Jelas aku berucap dengan ramah, meskipun terhalang oleh kabut yang tebal dan sinarnya yang tak kunjung menghilang.


Aku bisa mengetahui, jika sosok itu layak dihormati.


“Bagaimana mungkin kau melupakanku, Tyaga.” Wajahnya yang tampak semu, kabur, dan susah dilihat secara pasti.


Tapi dari balik itu semua, tersirat sebuah senyuman kecil. Bibirnya nan keriput menandakan sosok itu tidak lebih muda dariku.


Tunggu. Rambut kuncir kuda, bibir tua, dan pakaiannya yang sederhanan bagaikan seorang gembala. Mungkinkah.


“Kakek Hisyam?” tanyaku sekali lagi. Kali ini aku lebih memfokuskan diri untuk mendapati sosoknya.


Tatapanku jauh menembus kabut dan perlahan menghilang sinar yang menyelimutinya. Perlahan wajah dan pakaian mulai terlihat jelas.


“Lama sekali kau menyadarinya,” ucap Kakek Hisyam.


“Bagaimana kabarmu, Tyaga kecilku,” imbuhnya menghampiriku.


Jelas sekali pakaiannya yang dikenakan berwarna serba putih, begitu pula dengan rambutnya.


Meskipun sudah bergaya seperti para perjaka dengan bergaya menguncir rambut, tapi warna rambut putih tidak bisa menyembunyikan sosoknya yang sudah menua.


“Maaf Kek, biar aku ralat ucapanmu. Sekarang cucumu ini sudah besar, jangan kau panggil aku dengan naman ‘Tyaga kecil,” balasku.


Aku menampik ucapannya dengan memasang wajah yang serius. Padahal dari lubuk hatiku terdalam, aku sangat merindukannya.


“Hahahaha, meskipun kau bilang begitu. Kau akan tetap menjadi Tyaga kecil milik Kakek, sama halnya dengan Saigiri.” Kakek Hisyam tertawa ringan dan menampakkan gigi-giginya.


Aku tahu jika dia lah yang paling rajin merawat diri di antara keluarga Nasution. Sebab itu walaupun sudah tua, giginya masih tampak putih mengilap dan berbaris rapi.


Tak ada satu pun dari mereka yang menggugurkan diri atau biasa dikatakan sebagai gigi ompong.


Padahal sesekali aku ingin mengerjainya dengan menyebutnya sebagai ‘Kakek-kakek bergigi ompong’.


“Apa kau masih menjaga adikmu dengan baik?” imbuhnya.


Dia kemudian menyuruhku untuk duduk dan menemaninya meminum sebuah teh berwarna hijau.

__ADS_1


Aneh. Tadi tidak ada apa-apa di sini, tapi sejenak suasana langsung berganti. Kakek Hisyam sepertinya mengajakku ke tempat yang entah di mana.


Terlihat asing tapi tetap familiar bagiku. Ruangnya tampak seperti padepokan yang lantai dan atapnya terbuat dari kayu yang sama.


“Tentu saja Kek, sampai kapan pun aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku,” balasku tanpa memperlihatkan keraguan hati sedikit pun.


Di akhir kata, aku tersenyum lalu meminum teh hijau yang dihidangkan oleh Kakek Hisyam. Cukup enak dan tidak terlalu manis.


“Apa kau masih menyanyaginya?” tanya Kakek Hisyam sekali lagi.


Aku menjawabnya dengan tegas bahwa aku benar-benar menyanyangi Saigri. Melihat diriku yang begitu antusias membuat Kakek Hisyam tidak bisa menahan tawanya.


Awalnya aku mengira dia meragukanku. Ternyata tidak. Justru Kakek Hisyam malah sangat mempercayai diriku.


Dia hanya ingin mengetes diriku, apakah aku cukup mampu untuk menjaga Saigiri seorang diri atau tidak.


“Lantas ada urusan apa Kakek menemuiku sekarang?”


Sekarang giliranku bertanya padanya. Aku agak tersadar jika aku sedang dibawah oleh Kakek Hisyam ke dunia miliknya. Kerap kali aku memang dapat merasakannya.


Sama halnya saat Zardock pertama kali muncul dari balik gunung dan menghancurkan sebuah desa, sebelum memporak-porandakan Kerajaan Laiquendi.


Kala itu kejadian persis seperti ini. Malam hari, disaat semua sedang terlelap dalam tidurnya.


Kakek Hisyam masuk ke dalam mimpiku dan memberi tahuku akan ada sebuah kejadian luar biasa yang akan menimpa Kerajaan Laiquendi.


Dia hanya berpesan kepadaku agar menjaga Saigiri, sebab Saigiri adalah sebuah kunci.


Tapi saat itu aku sendiri masih belum mengetahui maksud sebenarnya dari ucapan Kakek Hisyam


“Kakek pasti ada yang ingin disampaikan kepadaku kan?” imbuhku memastikannya.


“Sungguh aku tidak tahu jika kau sudah bisa berpikir sejauh itu, Tyaga kecilku,” balas Kakek Hisyam.


Menggenang air di kelopak matanya, sempat ingin menetes. Tapi punggung tangannya dengan sigap mengusap air mata itu.


“Sudah aku bilangkan, aku bukan lagi ‘Tyaga kecil’-mu Kek,” ucapku penuh dengan kebanggaan.


Setelahnya Kakek Hisyam memberi tahukan jika sebentar lagi sesosok makhluk akan terbangun dari tidurnya.


Kabut akan hilang, sementara penghuni lainnya akan kembali tunduk padanya.


Memang dia sempat tersegel cukup lama di dalam gua. Celakanya, kami malah membangunkannya dari tidur panjang.


Sejenak aku mencerna tiap bagian yang dikatakan oleh Kakek Hisyam. Aku mulai menggabungkan satu per satu hal penting dan semuanya menjadi lebih jelas.


Hanya saja apa hubungannya dengan semua yang telah terjadi. Mana mungkin kami berniat buruk seperti itu.


Sedangkan kami sendiri lagi dirundung oleh sebuah pertempuran yang masih berlanjut.


“Justru itu yang ingin aku tanyakan.” Pembahasan jadi semakin berat.


Apakah kali ini Kakek Hisyam akan memberi tahuku segala hal yang seharusnya aku ketahui.

__ADS_1


“Memangnya apa Kek?” tanyaku penasaran.


“Apa yang telah kalian perbuat selama itu,” tuntasnya menyambung ucapan sebelumnya.


“Oh itu, kami mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru guna menghalau para monster,” balasku.


Aku menjelaskan dari awal perjalananku dan berujung pertempuran dengan para monster yang menghuni Hutan Laiquendi.


Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan sihir «Vierhoekige Beschermer».


Beruntungnya kami juga memiliki penyihir-penyihir yang kuat, sehingga dapat menciptakan sihir pelindung yang tak kalah dengan milik Kerajaan Laiquendi.


“Entah siapa yang mengajarimu bertindak begitu nekat, Tyaga kecil. Aku tidak menyalahkanmu ataupun teman-temanmu itu. Bukannya kau sendiri sudah pahamkan apa yang Kakekmu maksud.”


Kakek Hisyam bangkit dari duduknya dan menatap langit nan kosong tidak ada apa-apa.


Hanya warna putih yang menghiasi angkasa dan kabut-kabut tebal yang tengah berkumpul di bentala. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.


“Waktuku tidak banyak. Ingat satu hal saja, kau harus terus menjaga adikmu. Itulah pesanku, Tyaga kecil,” ucapnya mengakhiri pertemuan ini.


Tak lama dia lenyap ditelan kabut dan tanpa aku sadari, aku kembali tergeletak di ruangan putih.


Tanpa ada warna lain, tanpa ada kabut, tanpa ada cahaya. Cukup ruangan putih. Tidak mendasar dan tidak berujung.


Di manakah aku berada sekarang. Sedangkan kata-kata Kakek Hisyam terus terngiang di kepalaku.


‘Aku pasti akan selalu menjaga Saigiri, Kek,” gumamku sembari menutup mata.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2