Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 120 – Keberangkatan


__ADS_3

[ Not Edited ]


Sore menjelang. Di tepian barat tampak matahari kian turun dan menghapus jejak cahayanya, bergnati warna senja kemerahan.


Sekira cukup bagi kami berkemas, ditambah lagi semua juga siap untuk meninggalkan kamp perkemahan ini. Kami harus secepatnya meninggalkan tempat ini, meskipun tak sedikit pasukan yang masih terluka. Bukannya kami tidak peduli dengan keadaannya, tapi kali ini mungkin kami tidak akan bisa selamat dari penyergapan para monster.


“Mari kita bergegas.” Adellia memimpin pasukan dan berjalan paling depan, didampingi oleh Hans sebagai penunjuk jalan. Adellia kemudian memacu kudanya dan keluar dari kamp perkemahan, diikuti oleh lainnya.


“Bagaimana denganmu Kak?”


“Aku masih ada urusan sebentar, kau berangkat terlebih dulu dengan tim pertama.”


“Tenanglah Nak Saigiri, aku pastikan Kakakmu ini baik-baik saja,” ucap Kakek Hork sembari menunggangi kuda.


Saigiri pun dan mengikuti barisan. Sebelumnya aku juga berpesan kepada Son agar senantiasa menjaga adikku selama perjalanan. Bukan berarti aku tidak ingin menjaganya, tapi aku memutuskan membantu tim kedua untuk melepaskan sihir penghalang empat penjuru, dan berangkat mengikuti tim kedua.


Aku rasa pembagian kedua tim ini cukup rumit dan kekuatannya juga tidak merata, bahkan sedikit kesatria yang ada di dalam tim yang berisi aku, Kakek Hork, dan pastinya Aalisha. Siapa lagi yang dapat melepas mantra sihir «Viehoekige Beschermer», kalau bukan si Aalisha. Sedangkan para penyihir lainnya seperti Kakek Hork hanya bisa melemahkan efek pertahan ataupun ikatan energi sihir dari penghalang ini.


“Apa kau masih ingin malas-malasan di sini?”


“Kau bilang apa? Dasar kakek tua,” geramku.


“Lalu kau mau apa lagi? Nunggu dia benar-benar pergi dan meratapi kepergiaannya dengan tangisan putus asa? Atau nunggu sampai monster yang kau bicarakan benar-benar muncul di hadapanmu?”


“Tentu tidak lah, Kek!” Sontak aku merasa agak marah mendengar ucapan terakhirnya, mana mungkin Kakek Hork masih bisa bercanda di kala genting semacam ini. “Kau tidak punya lawakan lainkah?”


“Ya maaf kalau perkataanku agak frontal,” ucapnya seraya memalingkan arah wajahnya.


“Itu juga bukan sepenuhnya salahmu.” Aku lalu menaiki kuda milik salah satu pasukan, kuda milikku digunakan sebagai kuda pengangkut pasukan yang sakit. Jadi aku menggunakan kuda ini sebagai penggantinya.


Kami berdua bergegas menyelesaikan tugas masing-masing. Kakek Hork dengan cekatan memacu kudanya menuju ke pusat kamp, Aalisha juga sudah ada di sana. Sementara aku hanya bersiap di salah satu penjuru untuk memungut kristal setelah proses pelepasan mantra sihir selesai.


Tim kedua ini hanya terdiri dari para penyihir yang dapat melemahkan sihir «Viehoekige Beschermer» dan beberapa kesatria saja, bahkan Adellia tidak memberikan kami satupun seorang kaum rakshasa. Daya tempur kami memang lemah, tapi setidaknya kami tidak membawa beban di dalam tim ini. Setelah semua usai, tim ini pasti dengan cepat bergabung dengan tim utama.


“Kau?” ucapku menghampiri seseorang yang berdiri tepat di depanku.


“Hey, kenapa kau ada di sini Tyaga?”


“Justru itu yang ingin aku tanyakan padamu, buat apa penyembuh pemula sepertimu di sini.” Aku turun dari kuda dan mengikatkan tali kemudi di tiang kayu terdekat.

__ADS_1


“Penyembuh pemula, kenapa kau menyebutku seperti itu? Kau juga sudah mengenalku.”


“Haha.. Iya-iya Zonics si penyembuh. Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya,” ucapku mendekatinya.


“Aku di sini atas perintah Nona Adellia,” balasnya. Hal yang membuatku geli, kenapa dia betah memakai mantel setebal itu. 


“Baiklah-baiklah, kalau begitu kau bantu aku mengambil kristal sihir.”


Tampak dari kejauhan sihir «Viehoekige Beschermer» juga mulai melemah, ditandai dengan warna biru yang perlahan memudar. Begitu pula dengan aliran energi sihir dari segala penjuru juga menipis, hingga membuatnya tampak seperti untaian benang biru muda. Mungkin sebentar lagi sihir penghalang empat penjuru akan segera terlepas.


Zonics sempat bertanya padaku, mengapa Adellia malah membawa pasukannya pergi meninggalkan kamp perkemahan. Padahal menurutnya, Adellia juga pasti tahu jika sihir penghalang empat penjuru ini cukup kuat untuk menahan gempuran serangan dari para monster.


Aku tahu jika Zonics memang tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Ya. Adellia sendiri lah yang memutuskan untuk tidak memberi tahu pasukan terlebih dahulu, dia tidak ingin menimbulkan kepanikan saat melaksanakan pengungsian. 


Namun tampaknya hal tersebut malah menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan pasukannya. Tak sedikit dari mereka meragukan keputusan yang  diambil Adellia. Semestinya Adellia harus bersikap terbuka, tapi bagaimana lagi, itu sudah keputusannya. Kami sebagai yang tahu hanya bisa mematuhi dan menjalankan tugas darinya.


“Aku rasa mereka telah selesai melepaskan efek sihirnya,” ucapku.


Aku mengambil kristal sihir yang masih melayang di atas menara pengawas, tampak warna kembali membiru cerah. Namanya juga kristal, sedikit terkena cahaya pasti akan memperlihatkan pancaran kilauannya. Aku masih merasa sedikit aliran energi sihir di dalamnya, tapi itu tidak berbahaya. 


“Kita harus bergegas.” Aku lantas mengambilnya dan secepatnya memasukkan ke dalam kantong. “Kau bawa ini ke Kakek Hork, dia berada di tengah kamp. Aku ingin mengecek penjuru lainnya, apakah masih ada kendala atau tidak?”


Tugasku masih belum selesai, setidaknya aura dari monter itu sampai sekarang masih belum aku rasakan. Di sini yang dapat merasakannya hanyalah aku seorang. Tanda-tanda kemunculan monster lainnya juga belum ada, untungnya sekarang aku sudah bisa merasakan hawa keberadaan mereka. Itu semua dikarenakan menghilangnya kabut.


Satu per satu penjuru sudah aku cek dan semuanya aman, tinggal berkumpul dengan lainnya. Pelepasan sihir penghalang empat penjuru jauh lebih mudah dibandingkan pengaktifannya, begitu pula dengan prosesnya yang tidak memerlukan waktu yang banyak.


“Kalau sudah selesai semua, mari kita bergegas bergabung dengan tim utama,” ujar salah satu kesatria yang sebelumnya ditunjuk oleh Adellia sebagai pemimpin tim kedua ini.


“Sepertinya sudah cukup,” timpal Kakek Hork. Dari balik jubah penyihirnya, dia tengah mengamankan seluruh kristal sihir miliknya.


Pasukan lainnya juga merasa tidak ada yang tertinggal lagi. Tugas mereka sudah selesai, dengan begitu si kesatria memutuskan untuk pergi meninggalkan kamp perkemahan. Sementara Aalisha yang tidak bisa menunggangi kuda mau tidak mau harus memboceng di kudaku. 


Awalnya aku merasa, ‘apakah baik-baik saja jika membocengku?’. Tapi perlahan pikiran itu menghilang dan berganti dengan perasaaan was-was. Sepertinya tak hanya pikiranku yang bergejolak, melainkan jiwa dan ragaku juga ikut mendidih. Tidak mungkin aku bisa berboncengan dengannya dengan normal.


Benar saja. Baru beberapa menit suasana sudah menjadi canggung dan sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Apa sebegitu membosankannya diriku ini. Ah sial. Aku jadi memikirkan hal yang tidak perlu. Dia juga wanita, jadi normal lah jika dia agak menutup dirinya denganku.


“Apa posisimu sudah nyaman?” tanyaku. Terdengar aneh, kenapa aku baru menanyakan hal itu sekarang.


Namun aku tidak mendapatkan sedikitpun jawaban darinya. Dia masih tenggelam dalam remang-remang cahaya Hutan Laiquendi, atau mungkin suaraku tidak terdengar olehnya. Lirih dan tersapu oleh angin dan suara pacuan kuda.

__ADS_1


Meskipun kami tidak terlalu lama saat pelepasan sihir  «Viehoekige Beschermer», tapi Adellia sudah berpesan kalau tim utama tidak akan menunggu kedatangan kami. Kami harus menyusul mereka sendiri. Untungnya tidak ada satupun barang yang kami bawa, jadi mudah bagi kami untuk memacu kuda dengan cepat.


Waktu dengan kejamnya berlalu begitu cepat, menyisakan sendu dan mencengkam. Sebentar lagi mungkin monster itu bangun, semoga saja mimpiku kali ini meleset, dan tidak akan terjadi apa-apa.


“BERHENTI!!!” ucap kesatria dengan lantang memberhentikan pacuan kuda tim kedua.


“Ada apa?!” tanyaku menghampirinya.


“KITA TERLAMBAT!” Dia menatapku penuh kegelisahan dan kepanikan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

__ADS_1


__ADS_2