Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut


__ADS_3

“Selanjutnya...” Ucap Guru Senjati menyuruh salah satu murid akademi untuk mengambil Inti Roh dari Mutiara Roh.


Sampai pada akhirnya giliranku untuk maju. Awalnya aku sangat gugup, namun dalam hati aku berkata ‘buat apa aku gugup, bukankah ini yang kutunggu-tunggu selama ini. Sebentar lagi aku akan mendapatkan senjata yang mirip dengan milik Adellia. Atau mungkin... akan jauh lebih hebat dari punyanya.’ Sungguh keyakinan yang aneh bukan.


“Selanjutnya... Tyaga Nasution silahkan maju untuk mengambil Inti Roh.” Ujar Guru Senjati mempersilahkanku. Namun aku terdiam seakan langkah terhenti untuk beberapa waktu, sepertinya sekarang aku merasa gugup untuk menerima Inti Roh pertama kalinya.


“Apa yang sedang kau pikirkan Kak?” Tanya Saigiri.


“Aku hanya berpikir apakah aku akan mendapat Inti Roh dari suatu makhluk hidup yang berupa cewek seksi.” Balasku dengan pikiran liar.

__ADS_1


“Hah?! Dasar Kakak bejat! Sudah jangan banyak melamun hal yang jorok, Guru telah memanggilmu beberapa kali.” Ucap Saigiri seraya melemparkan raut wajah orang yang merasa menjijikan.


“iya, iya. Tanpa kau ingatkan lagi, aku sudah mendengarya kok.” Ucapku mengabaikan Saigiri dan meninggalkannya sendiri dalam barisan murid yang terpilih untuk belajar di Akademi Teratai Ungu.


Tanpa mempedulikan apapun lagi, aku pun meneluri jalan setapak untuk sampai ke tengah aula akademi. Sempat suana aula menjadi sedikit riuh dan gaduh, bagaimana tidak. Banyak dari mereka yang tidak terima ketika mendapatkan Inti Roh yang berperingkat perunggu bintang satu. Sekiranya mereka iri dengan capaian Alumni Carsten yang mendapatkan Inti Roh dengan peringkat perak dan itupun bintang dua.


Namun mereka sungguh naif. Mereka berpikir akan mendapatkan hal yang sama dengan apa yang didapatkan oleh Alumni Carsten. Tetapi kenyataannya kemampuan mereka sendiri jauh dibandingkan dengan kemampuan dari Carsten. Ini adalah hal yang mendasar ketika Inti Roh memilih Tuan untuk menjadi tempat barunya.  Inti Roh yang kuat akan memilih individu yang mempunyai kualitas sepadan dengan Inti Roh tersebut. Kalaupun mereka beruntung, mereka pasti akan dipilih Inti Roh yang di atas kemampuan mereka, namun probabilitasnya kecil dan itupun hanya satu tingkat di atasnya.


“Terima kasih Guru atas pemberitahuannya, baiklah akan saya coba sekarang.” Timpalku sambil meletakkan telapak tanganku tepat di atas Mutiara Roh.

__ADS_1


Aku pun mulai mengalirkan ranah rohku untuk masuk ke dalam Mutiara Roh, perlahan-lahan aku membentuk konsentrasi serta fokus mencari Inti Roh yang mau menerimaku dan cocok dengan Ranah Roh milikku. Aku merasa bahwa pikiranku telah jauh masuk ke dalam alam Mutiara Roh yang kurasakan sekarang seakan berada di dalam hutan nan lebat dan hanya tampak secerca cahaya dari balik pohon yang gagah membentang di antara rimbanya hutan.


Selang beberapa detik kemudian, mulai bermunculan kabut hijau pekat di sekitar Mutiara Roh yang berkontradiksi dengan aliran ranah roh dariku. Bergejolak hebat selayaknya sedang terjadi pertempuran di antara para roh yang sedang merebutkanku menjadi tuan salah satu di antara mereka. Itulah yang saksikan oleh orang-orang ketika melihatku melakukan pengambilan Inti Roh.


Namun kenyataan berbeda. Dari balik pohon besar yang kuceritakan sebelumnya aku melihat seekor panda kecil yang tengah makan beberapa potong bambu kecil dengan santainya. Tanpa sadar tubuhku melangkah mendekati panda kecil itu, tampak menggemaskan dengan mata mungilnya yang berhiaskan bulatan bulu hitam di sekitarnya. Tangannya nan mungil sedang memegang sepotong bambu, raut wajahnya sangat lucu ketika mulut mininya penuh dengan dedaunan dan beberapa serat bambu.


“Kenapa kau sendirian di sini panda kecil?” Tanyaku menghampirinya. Sungguh aneh bukan kalau aku mengajak berbicara seekor hewan mungil itu.


Panda kecil menatapku ramah, matanya berkilauan sejuk. Sejuk. Hangat. Nyaman, itulah yang kurasakan dari panda kecil itu. Panda itu melepaskan bambu yang ada di kedua tanganya dan melebarkan kedua lengannya, seakan minta dipeluk ataupun digendong olehku. 

__ADS_1


Tatapan manja dari kelopak mata panda itu tak bisa kuabaikan begitu saja, bagaimana pun ini pertama kalinya aku bertemu dengan seekor panda. Terlebih lagi itu adalah panda kecil dan tak berdaya seperti ini. Kenapa induknya sangat tega meninggalkan anak selucu ini di lebatnya hutan nan gelap gulita.


__ADS_2