Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Ch. 112 – Terkendali


__ADS_3

Semua jadi terkendali. Sihir pelindung empat penjuru sudah terbentuk sempurna, tak ada satu pun monster yang berani menyentuhnya.


Satu per satu dari mereka mulaii mundur dan hanya beberapa yang bertahan. Tapi percuma saja dia menunggunya, sihir ini tak akan mudah dipecahkan apalagi ditembus.


Meskipun itu monster terkuat pun tak akan dapat menghancur sihir ini dengan mudah. Aku sangat yakin.


Terlebih Kakek Hork beserta penyihir terkuat lainnya juga sudah meningkatan pertahanan dari sihir «Viehoekige Beschermer».


Pantas saja di Kerajaan Laiquendi tidak ada sama sekali monster yang berniat menganggu kehidupan kerajaan kami, sebab para monster itu hanya bisa melihat kami dari luar.


Aku tidak menyangka ternyata kerajaan yang aku tinggali dapat menggunakan sihir yang memiliki ketahanan yang tinggi dan tidak bisa ditembus dengan mudah.


Hanya ada para tetua pernah berpesan agar tidak menyinggung monster yang dapat mengeluarkan sihir, Majuu.


Khususnya Tetua Agamemnon, beliau masih belum mengetahui apakah pelindung mampu bertahan dari serangan Majuu atau tidak.


Entahlah.


Sebab Kerajaan Laiquendi belum pernah sekali pun menyinggung para Majuu. Beda ceritanya saat Zardock menyerang. Levelnya jelas berbeda dengan mosnter-monster ini.


Kendati demikian, kami tidak semena-mena melepaskan penjagaan di tiap penjuru.


Adellia sebagai pemimpin pasukan, tetap mengutus prajurit-prajurit untuk tetap berjaga dan sesekali melancarkan sebuah serangan jarak jauh untuk mengusir para monster.


Tugas itu lebih dikhususkan kepada para penyihir yang masih bertahan.


Sementara para kesatria dan kaum rakshasa, mereka bertugas untuk membersikan puing-puing peperangan dan juga bangkai para monster yang berceceran di mana-mana.


Agak menjijikan melihat gumpalan daging yang tampak merah kotor karena tercampur dengan pasir dan tanah.


Segera mungkin harus dibersihkan. Aku tidak terlalu suka dengan pemandangan seperti itu.


Namun aku sendiri sering menyaksikannya, malah biasanya bukan lagi bangkai monster ataupun hewan.


Melainkan bangkai manusia, tak jarang aku mendapati kepala manusia yang terlepas dari tubuh, bahkan terkadang menjumpai tubuh manusia yang tidak lengkap.


Ada yang tanpa tangan, bahkan tubuh yang terbelah menjadi dua. Itu hal yang wajar dalam peperangan. Mungkin. Sebab itu lah yang aku rasakan selama ini.


Kakek Hork tampak kelelahan dan lesu, lagi-lagi dia harus mengorbankan «Magen»-nya untuk menyelamatkan kami.


Begitu pula dengan penyihir yang tadi Kakek Hork ajak, semua tampak lesu bagai tubuh yang tidak memiliki jiwa. Lemas dengan energi sihir yang terkuras habis.


“Baru kali ini aku kehabisan energi sihir dua kali dalam sehari sekaligus,” ucap Kakek Hork lesu. Dia dibopong oleh kesatria menuju tenda penyembuhan.


“Itu sudah menjadi tugasmu Kek,” timpalku bercanda.


“Apa tidak ada kalimat lain yang bisa kau ucapkan wahai anak muda yang bernama Tyaga Nasution,” balas Kakek Hork.


Sepertinya dia ingin memasang wajah kesal, tapi tidak bisa karena dia sudah begitu lelah dan ingin cepat-cepat memulihkan kondisi tubuh beserta energi sihinya.


“Mohon maaf atas ketidak sopanan temanku dan juga saya ingin mengucapkan banyak terimakasih atas usahanya selama ini, Kakek Hork.”


Berbeda denganku. Hans mengucapkan terimakasih dengan sopan, bahkan sampai menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan darinya.


“Sepertinya kau harus belajar sopan santun dari Nak Hans. Sebaiknya menjadi anak muda itu yang sopan dan menghormati orang yang lebih tua,” ucap Kakek Hork menyindirku.


“Kalau kau terus seperti itu, mana mungkin kau bisa dapat cewek cantik,” imbuhnya seraya dituntun pergi oleh satu kesatria.


GLEK.

__ADS_1


Bak petir di tengah malam. Ucapan Kakek Hork justru menyinggung Hans, dia tampak membatu setelah mendengar sebaris kalimat dari Kakek Hork.


Tatapannya kosong menatap rembulan, meresapi setiap hembusan angin, perlahan menjadi debu, dan hilang tertepa angin malam.


Naas sekali hidupmu wahai kawan seperjuangan, Hans Balaputradi.


Ingin aku menghiburnya, tapi aku takut malah memperburuk situasi. Setidaknya dia mungkin masih menyimpan dendam denganku.


Bagaimana tidak. Satu-satunya orang yang disukainya di akademi malah justru menembakku tepat sebelum Hans berniat mengutarakan perasaan.


Tentu saja aku menolaknya, tidak enak hati aku menyinggung perasaan seniorku.


Meskipun dulu aku belum berteman baik dengan Hans, Son, dan Aalisha, tapi aku sangat menghormati mereka sebagai seniorku.


Lebih lagi mereka bertiga adalah langganan murid yang menempati peringkat atas Akademi Bunga Hijau.


Entah itu dalam bidang akademik maupun non-akademik, mereka cukup terkenal di kalangan kelas elit Akademi Bunga Hijau.


Hal itu lah yang membuatku ingin berteman dengan mereka dan berusaha agar bisa diakui oleh mereka bertiga.


Sayangnya ketika aku ingin mengikuti acara penentuan peringkat di akademi selalu saja dihalangi oleh berbagai alasan.


Sedari awal aku memang ditunjuk sebagai perwakilan keluarga Nasution untuk menjadi prajurit kerajaan.


Berbeda dengan orang lain yang seumuranku, lebih bebas untuk bersekolah. Miris memang. Demi mengikuti peraturan, aku harus mengorbankan diri.


“Oh ya di mana Son?” tanyaku memecah lamunan Hans.


“Dia lagi beristirahat di tenda kita.”


“Ha? Dia balik ke tenda duluan? Aku harus memberi dia pelajaran nanti,” ucapku seraya membawa sekarung bangkai monster yang niatnya dikumpulkan dan akan dijadikan makanan.


Tujuannya agar besok kami tidak mencari bahan lagi. Itu juga berguna untuk menyimpang persedian kami.


“Mau aku bantu?” tawar Hans.


“Kau bantu saja Adellia menyusun strategi ataupun jadwal jaga,” balasku. Setelahnya aku pergi meninggalkannya.


Di sisi lain Adellia tengah beristirahat juga. Selepas menghilangkan efek dari pemanggilan senjata jiwa, dia terlihat kelelahan.


Memang efeknya akan jadi seperti itu. Selain menyerap energi sihir.


Senjata suci yang tercipta dari seseorang juga akan sedikit demi sedikit memakan jiwa dari penggunanya.


Sebab itu menurut penuturan dari Kakek Hork, Adellia tidak boleh sering-sering melakukan pemanggilan senjata jiwa.


Jika terlalu sering maka akan berakibat pada jiwa dan membuatnya menjadi sosok yang berbeda. Efek paling ringan mungkin bisa membuat penggunanya menjadi gila.


Ingin aku menyamperinya. Hati gundah dan malas, tentu saja aku harus melakukannya. Berterima kasih padanya adalah kewajibanku sekarang.


Dari awal aku belum mengucapkan kata itu dengan sepenuh hati. Tapi jika aku mengatakannya sekarang, apakah tidak apa. Aku takut malah menganggu waktu istritahatnya.


Bodoh amat lah. Masih ada hari esok.


***


“Sekiranya cukup, Tuan Tyaga, anda boleh beristirahat sekarang,” ucap seorang kesatria yang sudah nampak menua, mungkin umurnya sekitar empat puluhan tahun.


“Syukurlah, kalau begitu aku pergi dulu ya,” balasku tersenyum padanya.

__ADS_1


Sesekali aku mengusap keringat di dahi, sedikit perih sebab ada luka gores.


Meskipun sudah agak mengering, tapi tetap saja luka itu masih membuka dan darah bermunculan lambat.


“Anda mungkin bisa ke tenda penyembuh dulu untuk menyembuhkan luka-luka itu,” ujarnya.


Tampaknya dari tadi dia memperhatikanku. Memang kondisiku sangat buruk.


Lebih lagi dalam pertarungan melawan para monster sebelumnya aku sama sekali tidak menggunakan zirah ataupun pelindung.


Entah aku bisa dibilang nekat. Lebih tepatnya bodoh.


Aku sendiri lebih suka bertarung tanpa menggunakan pelindung, sebab menurutku itu bisa menurunkan kemampuan dan kecepatanku.


“Terimakasih atas sarannya,” ucapku ramah.


”Tapi anda sendiri juga harus ke sana, luka yang ada di punggungmu itu juga harus segera disembuhkan,” imbuhku.


Aku menyadari jika dj balik zirah tebalnya terdapat luka cakaran di punggung kesatria itu.


Terlihat tiga buah dan yang di tengah adalah luka cakaran yang paling dalam.


Dia lantas tersenyum kepadaku dan aku juga membalasnya. Setelahnya aku berpamitan dengannya, sedangkan dia masih harus menyelesaikan tugasnya.


Ternyata berhubungan dengan ras lain tidak buruk juga.


Aku akan mencari teman yang banyak setelah sampai di kerajaan markas pusat, dengan begitu petualanganku akan jadi lebih berwarna.


Terimakasih Tuhan telah mengijinkanku hidup sampai detik ini.


Aku harus tumbuh menjadi seorang yang kuat dan dapat melindungi teman-temanku dengan segenap kemampuan dan kekuatanku, terutama melindungi adik tersayangku, Saigiri.


Itu adalah hal yang pasti. Sudah terukir jauh di lubuk hatiku yang paling dalam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:


* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe


* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho


* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu


* Always like and share in your social media


* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak


* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D


Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja


see you on the next chapter.... ^_^


" S T A Y - S A F E "


WA : 08973952193

__ADS_1


IG : bayusastra20


email : bayu_sastra20@yahoo.co.id


__ADS_2