
“Saigiri, apakah kau sudah melakukan proses selanjutnya?” Tanyaku penasaran.
“Maksudmu tentang inti roh, Kak? Belum, sepulang dari akademi aku langsung mempersiapkan perlengkapan untuk tinggal di ibukota.” Jawabnya sambil fokus mengelap piring yang telah kucuci.
“Sial, aku lupa untuk menyiapkan barang-barangku!” Syukurlah Saigiri mengingatkannya.
“Aku sama sekali tidak terkejut, sepulang dari akademi kau pasti langsung tidur.” Balasnya sinis.
Memang apa yang diucapnya benar adanya, tidur adalah kegiatan yang paling aku sukai. Selagi kami mencuci piring sehabis kami pakai utnuk makan malam, dalam malam nan senyap itu aku mencoba merasakan energi roh yang mulai bercampur dengan ranah roh ku, namun belum menyatu sepenuhnya.
“Apa kau juga merasakannya, Kak? Selesaikan dulu tugas ini, setelah ini mari kita coba untuk melanjutkan ke proses selanjutnya bersama-sama.” Ajak Saigiri.
Terdiamlah aku dibuatnya, sudut matanya nan indah terhiasi oleh lentikan bulu mata. Dari semua ornamen yang menghiasi wajahnya, hanya satu bagian yang sangat membuatku kagum dan terpesona akan ciptaan tuhan, yaitu pada bibir mungilnya yang memiliki philtrum bulat.
“Kenapa kau memandangiku seperti itu?” Tanya Saigiri menatapku curiga, “Ada yang aneh dari wajahku? Mungkin ada bekas makanan atau bekas sabun?”
“Ah-ah itu, a-aku hanya penasaran dengan bentuk hewan yang ada di dalam inti rohmu.” Kenapa omonganku jadi terbata-bata begini.
“Yang pasti itu, nantinya Senjata Roh milikku pasti peringkatnya akan di atas punyanya Kakak.” Ucapnya penuh percaya diri dan kebanggaan.
“Haissh... tahu tidak pedang sehebat dan sekuat apapun kalau yang menggunakannya adalah kesatria amatiran pasti pedang itu tidak dapat mengeluarkan kekuatan sejatinya. Begitu pula sebaliknya.” Balasku sambil memalingkan wajah.
“Hmmm itu pasti bualan Kakak saja karena tidak dapat mendapatkan inti roh yang kau inginkan, bilang saja Kakak iri. Hahahaha....” Balasnya lebih kejam.
__ADS_1
Sudahlah tidak mungkin aku dapat menang jika berduel argumen dengannya. Selesaikan dulu cucian ini, baru aku dapat mengetahui tipe apakah hewan yang berhasil dia peroleh. Cukup penasaran juga, apakah dengan inti roh yang dia dapatkan, Saigiri dapat mengungguliku dalam segi kekuatan. Kalau masalah kemampuan, aku sangat yakin dia masih butuh seratus tahun lagi untuk dapat mengungguliku.
Malam pun semakin larut dan tidak terasa jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun ayah tak kunjung kembali, mungkin urusan di akademi lebih rumit dari yang kuperkirakan, dan dari yang kutanyakan sama Saigiri, dia menjawab kalau ayah lagi mempersiapkan pembangunan Kerajaan Laiquendi serta hubungan ke depannya dengan kerajaan-kerajaan elf lainnya ataupun bahkan sampai kembali bergabungnya Kerajaan Laiquendi ke kerajaan markas pusat, Kerajaan Dordrecth.
Setidaknya dalam pembahasan itu pasti ada Ayah, sebab dia sekarang diangkat oleh Raja Achille menjadi salah satu penasehat umum kerajaan. Mereka pasti akan membahas ini sampai larut malam, atau bahkan bisa berhari-hari lamanya. Itu bukanlah bahasan yang bisa diambil sepakat dalam rapat semalam saja.
“Sudahlah jangan menunggu Ayah seperti anak kecil saja, Kak.” Sapa Saigiri melihatku sedang duduk melamun memandangi bintang di halaman depan rumah.
“Bagaimana kalau kita melakukan proses selanjutnya di sini, terlebih lagi suasana luar semacam ini menurutku akan banyak mengandung energi alam dan juga ketenangan ini pasti akan membuat kita lebih fokus.” Ajakku untuk duduk di sampingku.
Kini kami duduk bersebalahan dan mulai fokus untuk memusatkan inti roh yang masih menyebar ke seluruh tubuh untuk terpusat ke dalam ranah roh, lalu melanjutkannya ke tahap peleburan antar inti roh dengan ranah roh.
Butuh waktu kira-kira setengah jam untuk memastikan kedua roh tersebut bener menyatu dalam satu wadah dan satu karakter ranah jiwa. Melakukan proses ini ternyata cukup melelahkan juga, setelah aku benar-benar yakin kalau semuanya sudah kulakukan dengan sempurna, barulah aku kembali membuka mata dan melihat keadaan Saigiri.
“Baru selesai?” Tanyanya, ternyata Saigiri lebih cepat dariku.
“Kau saja yang lambat, tapi aku juga baru selesai kok.” Jawabnya singkat.
“Jadi? Apa kau sudah yakin, kalau kedua roh tersebut benar-benar sudah menyatu menjadi satu karakteristik?” Tanyaku memastikannya apakah dia benar-benar telah menyelesaikan proses peleburan.
“Sudah, Kak. Tapi memang benar apa yang dirasakan oleh Alumni Carsten. Tadi saat waktu proses penyamaan karakter atau waktu peleburan antar kedua roh, aku benar-benar merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhku.” Jelas Saigiri.
Tunggu, apa yang diucapkan olehnya. Kenapa aku tidak merasakan apa-apa, saat proses peleburan juga aku hanya merasa penyatuan yang biasa, malah aku merasa sangat nyaman dan sejuk. Bagaikan mencampurkan air pegunungan dengan air sungai, yang karakter airnya tak jauh berbeda, bahkan hampir sama.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
__ADS_1
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id