Tales Of Schaduw : The Half-Elf

Tales Of Schaduw : The Half-Elf
Chapter 31 : Pemusatan Roh


__ADS_3

“Perhatian semua murid-murid Akademi Bunga Hijau yang saya banggakan.” Ucap Tetua Agamemnon angkat bicara.


“Hormat kami Tetua Agamemnon. Semoga anda tetap dalam lindungan Tuhan dan sehat sehalu.” Jawab para murid serentak, mereka yang sudah berkumpul dan berbaris rapi di tengah aula akademi.


“Tadi salah satu alumni kalian, Carsten telah mempraktekkan cara pengambilan Senjata Roh dari Mutiara Roh. Apa kalian tadi memperhatikannya dengan baik?” Tanyanya.


“Iya Tetua Agamemnon.” Jawab murid-muridnya, termasuk aku dan teman-teman perwakilan berbaris di barisan paling depan.


“Sekarang kau coba maju sebagai contoh, aku akan menjelaskan cara mengaktifkan dan menggunakan Senjata Roh.” Tunjuk Tetua Agamemnon meminta Carsten untuk maju ke depan.


“Terimakasih telah diberi kesempatan menjadi contoh untuk adik-adikku sekalian, Tetua Agamemnon.” Ucap Carsten seraya memberi hormat.


Tampak aura yang dipancarkan Carsten berbeda dengan saat pertama kali memasuki Aula Akademi Bunga Hijau. Kini kemampuannya telah naik tingkat dan aura kekuatannya juga berubah, jadi terasa lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Mungkin proses pengambilan Senjata Rohnya berjalan lancar, walaupun di awal dia kelihatan begitu kesakitan ketika mendapatkan roh pertamanya.


“Apakah rohnya sudah bersatu penuh dengan ranah rohmu?” Tanya Tetua Agamemnon lirih.

__ADS_1


“Sekiranya sudah Tetua. Gejolak aliran kekuatan tadi saya rasakan sekarang sudah mulai stabil dan ranah rohku lebih tenang sekarang.” Jelas Carsten.


“Baguslah kalau penstabilannya berjalan lancar. Tak salah kalau Guru Senjati memilihmu.”


“Itu bukan apa-apa Tetua. Bagaimana kalau kita lanjutkan saja prosesnya.” Pinta Carsten.


“Oh ya sampai lupa.” Tetua Agamemnon dan Carsten berbincang ria tanpa memperhatikan murid-murid lainnya.


“Murid-murid sekalian yang aku banggakan, sekarang saya akan menjelaskannya secara detail. Jadi perhatikanlah baik-baik.” Ucap Tetua Agamemno seraya menggandeng Carsten untuk dijadikan sebagai contoh.


Semua mata murid-murid Akademi Bunga Hijau tertuju ke arah Carsten dan juga para warga yang meghadiri upacara tersebut. Dari gerak-gerik mereka, terlihat sangat penasaran dan ingin tahun bagaimana wujud Senjata Roh itu. Apakah benar adanya Senjata Roh yang dijelaskan dalam kitab-kitab kuno peninggalan para leluhur ataukah hanya mitos belaka yang dibuat-buat oleh para pendusta. Dengan seksama mereka memperhatikannya, tanpa berkedip sedikitpun.


“Kedua setelah melalui proses pengendalian dan proses penstabilan, masuklah pada proses pemusatan roh. Pada proses ini kalian harus dapat memusatkan kedua roh tersebut dalam satu wadah agar kedua roh tersebut menyatu penuh dan memiliki karakterisitik roh yang sama, proses tersebut juga bisa disebut dengan proses penyamaan.” Lanjutnya.


“Coba kau lakukan apa yang aku jelaskan tadi tentang proses pemusatan dan penyamaan.” Pintanya agar Carsten mempraktekannya.

__ADS_1


“Baik Tetua, saya akan mencobanya.” Carsten memejamkan matanya dan memulai prosesnya. Dalam dirinya seakan mengalir dua kekuatan roh yang belum menyatu penuh.


“Pusatkan kedua energi tersebut ke suatu titik yakni di bagian tiga jari di bawah uluh hati. Rasakanlah pemusatan tersebut dan bimbing kedua roh untuk mengalir ke sana.” Kata Tetua Agamemnon.


Carsten mengangguk. Tampak dia sangat fokus terhadap kedua roh yang mengalir di sekujur tubuhnya. Kedua tangannya membentuk suatu pola dengan jemarinya dan meletakkan ke bagian bawah uluh hati. Aura yang dia pancarkan seakaan mulai terpusat menuju titik tersebut.


“Bagus, tetaplah seperti itu. Pusatkan semua energi kedua roh tersebut dalam satu wadah. Setelahnya kuatkan wadah tersebut dengan hentakan satu hembusan nafas. Jangan sampai tersisa sedikitpun energi yang masih terbebas dan berleluasa di dalam tubuhmu.”


“Permisi Tetua Agamemnon.” Ucapku mengacungkan tangan, sementara itu Carsten tetap fokus mengendalikan dan memusatkan kedua rohnya.


“Iya, Tyaga ada yang ingin kau tanyakan?” Balas Tetua Agamemnon ramah. Beberapa orang memandangku, entah apa yang dipikiran mereka tapi kelihatan aku tidak sedang melakukan kesalahan apapun.


“Terimakasih Tetua.” Ucapku sambil membungkukkan badan.


“Jadi yang ingin kutanyakan adalah apa efeknya jikalau masih ada beberapa energi roh yang masih belum terpusat dalam wadah tersebut? Apakah energi roh tersebut akan membahayakan tubuh pemiliknya?” Tanyaku. Tampak orang-orang yang berada di sekelilingku mengangguk pelan mengiyakan argumenku.

__ADS_1


“Pertanyaan yang bagus sekali Tyaga. Ketika energi roh tersebut masih berkeliaran di dalam tubuh pemiliknya memang tidak akan berbahaya namun sangat disayangkan. Pada dasarnya energi roh yang belum terpusat atau masih bebas memang tetap akan ada di dalam tubuh pemiliknya dalam jangka waktu tertentu. Tetapi pemiliknya tidak akan dapat mengendalikannya sebab energi roh tersebut belum menjadi satu karakteristik dengan ranah roh miliknya.” Jelas Tetua Agamemnon.


“Lantas bagaimanakah jika wadah tersebut telah terbentuk sebelum semua energi roh masuk ke dalamnya? Apakah kita dapat melakukan pemusatan di lain waktu? Mohon maaf Tetua kalau saya menyela pertanyaan dari Tyaga.” Ucap Hans yang ikut penasaran. Berbeda dengan sahabatnya, Son bukanlah tipe seorang yang berani berbicara di depan umum.


__ADS_2