
“Mari kita lanjutkan proses pembentukan Senjata Roh” Seru Tetua Agamemnon.
Seluruh pandangan kembali tertuju ke arah Tetua Agamemnon. Tampak Carsten juga kembali bersemangat, wajahnya berseri-seri selayaknya anjing yang akan diberi tulang oleh tuannya. Tak terkecuali dengan kami yang ada barisan depan. Son yang daritadi asyik berbincang dengan Hans dan Aalisha kini fokus ke depan memperhatikan, begitu pula dengan Hans dan Aalisha yang memutuskan menghentikan ocehannya. Otakku juga tak kalah siap untuk mencatat semua penjelasan dari Tetua Agamemnon.
“Baiklah aku akan mulai menjelaskannya.” Ucap Tetua Agamemnon.
Dia melambaikan tangan memanggil Carsten untuk mendekat.
“Apa kau sudah siap?” Tanya Tetua Agamemnon misterius.
“Sudah Tetua.” Jawab Carsten yakin, tetua pernah bilang kalau ada apa-apa dia hanya tinggal bilang. Semua masalah pasti akan teratasi.
“Baiklah kalau begitu... sekarang kaukan sudah dapat mengendalikan energi roh yang ada di dalam wadah tersebut. Coba kau alirkan energi roh tersebut ke seluruh tubuh.” Ucap Tetua Agamemnon. Carsten langsung memejamkan matanya dan mulai fokus.
“Tunggu Carsten, kenapa kau melakukan meditasi seperti itu.” Cegah Tetua Agamemnon.
“Iya Tetua? Bukannya tadi Tetua Agamemnon menyuruhku untuk mengalirkan energi roh ke seluruh tubuh?” Tanya Carsten kebingungan.
“Memang benar aku menyuruhmu untuk itu, tapi pengaliran energi roh yang sekarang tidak perlu sefokus itu. Kau hanya perlu mengalirkannya dengan biasa, seperti kau mengalirkan kekuatan fisik aatau tenaga dalam.” Jelas Tetua Agamemnon.
__ADS_1
Carstenpun melakukan apa yang diajarkan oleh Tetua Agamemnon. Sedikit rileks dengan mengatur napas ringan dan sesekali menghirup udara dalam-dalam, menyimpannya sebentar di paru-paru lalu menghembuskannya perlahan. Energi roh perlahan memasuki pembuluh darah Carsten yang membuat kekuatannya menjadi berlipat ganda.
“Wow! Kekuatan yang luar biasa Tetua.” Decak kagum keluar dari mulur Carsten.
“Apa yang kubilang, lebih mudahkan? Kalau kau sering menggunakannya, pasti lebih mudah lagi untuk mengalirkannya. Atau bahkan bisa jadi akan mengalir bebas seperti aliran pembuluh darah dan kau bisa mengaktifkannya secara langsung.” Ucap Tetua Agamemnon.
Semua murid melongo mendengar ucapan Tetua Agamemnon. Kenapa menjadi semudah itu, tadi di awal proses pengendalian kelihatannya Carsten sangat bersusah payah untuk mengendalikan energi roh yang baru saja dia dapatkan. Bagaimana bisa sekarang dia begitu mudahnya mengontrol energi roh untuk memperkuat tubuhnya, hanya membutuhkan beberapa kali hembusan napas dan kekuatan yang kurasakan dari Carsten meningkat hingga dua kali lipat. Mungkin saja lebih, sebab kekuatannya masih belum stabil.
“Benarkah bisa seperti itu Tetua?” Tanya Carsten sangat bersemangat.
“Apa kau tidak mempercayaiku lagi?” Ucap Tetua Agamamnon menggoda Carsten, hingga membuat Carsten agak tersipu malu dan membuat murid-murid yang menyaksikannya tertawa terpingkal-pingkal.
“Bagaimana kalau sekarang kita mengecek kekuatanmu?” Tawar Tetua Agamemnon.
“Ide yang bagus Tetua! saya juga lagi ingin mencoba peningkatan kekuatan ini.” Seru Carsten.
Begitu pula dengan para murid juga setuju untuk mengecek kekuatan yang baru didapatkan Carsten, namun hanya sedikit murid yang tahu akan kemampuan Carsten sebelum mendapat tambahan dari energi roh. Tanpa energi roh dari Mutiara Roh sekalipun kelihaian Alumni Carsten tak dapat dipandang sebelah mata, oleh sebab itu dia pernah menduduki peringkat pertama di Akademi Bunga Hijau dan menjadi orang kepercayaan Raja Laiqeundi waktu itu sehingga diangkat menjadi prajurit kerajaan.
“Guru Allys bolehkah aku meminta bantuanmu untuk menyiapkan beberapa batu bata besar, sekiranya ukurannya segini.” Pinta Tetua Agamemnon menghadap barisan para guru dan memperlihatkan gestur dengan kedua tangan sejajar membentuk balok berukuran tinggi kira-kira delapan puluh centi.
__ADS_1
“Baik Tetua Agamemnon akan saya siapkan segera.” Balas Guru Allys seraya pergi ke luar aula dan dibantu oleh para pekerja akademi untuk mengambil batu bata yang diminta Tetua Agamemnon. Mereka pasti mengambilnya di ruang latihan fisik.
“Selagi kita menunggu pesanan datang bagaimana kalau coba melatih pengendalian energi roh tersebut dengan memusatkannya kembali ke wadah lalu menyalurkannya lagi ke seluruh tubuh.” Ucap Tetua Agamemnon.
“Saya akan mencobanya Tetua.” Balas Carsten dan dalam beberapa kali hembusan napas, dia mulai memusatkan energi rohnya kembali ke wadah roh. Setelah merasa cukup, dia lalu mengalirkan lagi ke tiap-tiap sel darahnya. Berulang kali dia lakukan secara perlahan dan hati-hati hingga tak sadar lagi-lagi keringat membasahi bajunya.
“Latihan beberapa kali sampai kau bisa mengalirkan energi roh tersebut dalam satu aliran pernapasan, kendalikan pola pernapasan. Jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat, tetap stabil seirama dengan laju energi roh tersebut.” Ucap Tetua Agamemnon.
“Tidak hanya Carsten saja yang mencobanya, kalian juga harus sering-sering melatihnya agar dapat lebih mudah mengendalikan energi roh milik kalian. Pengendalian energi roh ini juga berhubungan erat dengan pembentukan Senjata Roh.” Imbuhnya.
“Bagaimana bisa seperti itu Tetua?” Tanyaku.
“Sebab semakin kalian handal dalam pengendalian roh maka pembentukan Senjata Roh akan semakin cepat. Begitu pula dengan kekuatan dari Senjata Roh tersebut akan semakin kuat dan kokoh, sebab banyak mengalir energi roh di dalamnya.” Jelas Tetua Agamemnon bersemangat layaknya seorang kaum muda.
Sementara itu Guru Allys dan para pekerja akademi sedang mengambil beberapa balok batu bata guna mengecek kekuatan dari Carsten di ruang pelatihan fisik. Melihat aura kekuatan yang meningkat dari Carsten, membuat para murid semakin penasaran bagaimanakah dengan kekuatan mereka sendiri ketika sudah menerima energi roh dari Mutiara Roh, apakah meningkat sama halnya seperti yang terjadi pada Alumni Carsten.
Di lain sisi ada yang masih penasaran dengan bentuk Senjata Roh. Apakah sama dengan bentuk senjata pada umumnya ataukah ada hal yang berbeda darinya, mungkin yang paling menonjol perbedaannya adalah kekuatan dari senjata biasa dengan Senjata Roh. Para warga yang ikut dalam upacara itu pun ikut penasaran dan sangat ingin tahu perbedaan perkembangan Kerajaan Laiquendi dangan dunia luar.
Tapi diluar itu semua, pikiranku jauh malambung. Ketika semua berpikir tentang bentuk Senjata Roh, aku malah memikirkan roh apa yang cocok dengan ranah roh milikku. Apakah roh yang nantinya kudapat dari Mutiara Roh adalah roh makhluk yang kuat, hingga membuat kekuatan meningkat berlipat-lipat ganda, atau malah sebaliknya. Galau dan gundah pun menghantui benakku.
__ADS_1