
“Sampai kapan pertempuran ini akan berlangsung,” ucapku lirih.
Tidak ada gunanya jika aku terus seperti ini. Tugas sudah dibagi, tidak mungkin aku mengkhianati Aalisha yang sedang berjuang mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru.
Jika aku berhenti, maka situasi akan jadi semakin rumit. Meskipun tangan enggan untuk menggenggam, kaki tak mau lagi melangkah, mata yang kian melemah.
Inilah pertarungan. Tidak ada jalan untuk berbalik arah dan yang ada adalah lurus ke depan, menghancurkan semua musuhmu, lalu meraih sebuah kemenangan.
Aku menghirup napas dalam-dalam, menguatkan tubuh yang hampir roboh.
Zirah yang aku pakai sudah tampak banyak penyok di mana-mana, terlebih beberapa serangan tak bisa ditahan oleh zirah hingga membuatku terluka.
Tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya. Walaupun darahku sendiri mulai merembes keluar, membasahi baju, bercampur dengan darah monster. Tidak ada bedanya. Sama-sama merah.
“Tyaga, bersiaplah!” teriak seseorang dari belakangku. Aalisha kah?
Tapi aku tidak berani menengok ke belakang, sebab di depanku mata para monster semakin menyorotku tajam.
Sekali aku lengah, nyawaku pasti melayang. Walaupun aku menoleh sebentar saja, para monster itu jelas akan langsung menyerangku.
Wajar saja aku tidak menggubris sedikit pun teriakkan itu. Maaf saja, situasi lagi tidak mendukung.
“Bersiap akan apa?!” balasku
Aku tetap fokus menatap para monster dan mempersiapkan pedangku, kali saja dia melihat monster yang sangat kuat tengah bergerak menuju tempatku.
“Cepat lari dan cari tempat perlindungan!!” ucapnya, suaranya begitu melengking.
Itu pasti suara Aalisha. Tapi mengapa dia malah menyuruhku lari, apa dia sudah gila. Aku di sini untuk melindunginya.
“Mana mungkin!” timpalku tidak mengindahkan ucapannya.
“Dasar bodoh! Jangan salahkan aku jika kau ikut terhempas oleh sihir ini!” ujarnya membentakku.
Sungguh aku tidak tahu yang dimaksud olehnya, mungkinkah dia sudah berhasil mengaktifkan sihir pelindung empat penjuru, dan tidak ingin aku ikut terkena efek dari sihir itu.
Sebenarnya aku belum pernah mengetahui bagaimana proses pengaktifan sihir itu di kerajaan.
Begitu pula selama aku hidup, belum sekali pun merasakan efek dari sihir itu. Ada yang salah kah dari diriku ini.
Cahaya biru tampak melintas di atasku, perlahan namun pasti menuju arah Aalisha. Mungkinkah itu adalah cahaya yang dikeluarkan oleh kristal sihir.
Aku mengeceknya sekali lagi, tapi dari arah lain. Benar saja cahaya biru itu hanya ada empat dan semuanya menuju ke lubang cincin yang diciptakan oleh Aalisha.
Keempat-empatnya berasal dari masing-masing penjuru dan tidak salah lagi itu adalah cahaya yang keluar dari masing-masing kristal.
Meskipun lambat, tapi sebentar lagi sihir pelindung empat penjuru akan segera selesai. Tampak para monster meraung-raung tidak jelas, bahkan beberapa di antara mereka tengah berusaha melompati parit.
Sial. Karena aku terlalu bersemangat, aku jadi meninggalkan posisiku, dan membuat Aalisha tanpa penjagaan.
Aku dengan sigap melemparkan pedang sekuat tenaga dan berhasil mengenai satu monster.
Sayangnya tak hanya satu monster saja yang tengah berusaha menggapai posisi Aalisha. Begitu banyak monster yang ingin melawati parit dengan melompatinya.
Tanpa mempedulikan monster yang ada di belakangku, aku langsung bergegas menuju tempat Aalisha.
Sempat tidaknya, aku tidak peduli, yang penting aku harus mencegah monster-monster itu menggagalkan proses pengaktifan sihir pelindung empat penjuru.
“Celaka!” geramku.
Tepat sebelum aku mencapai tepi parit, enam monster srigala manghadangku. Bahkan satu di antaranya memiliki tubuh yang sangat besar.
__ADS_1
Entah dari mana dia berasal. Padahal dari tadi aku tidak menemukan satu pun monster yang sebesar itu, tapi tiba-tiba dia sekarang muncul dan menghadapiku secara langsung.
Sialnya lagi, aku juga tidak bersenjata saat ini.
‘Apakah tidak ada keajaiban lagi?’ gerutuku pada dewa.
Mataku melirik ke kiri kemudian ke kanan, mencari celah untuk melewati mereka. Sayangnya semakin aku lama berdiam diri, mereka kian mempersempit celah dengan kawanan yang silih berdatangan.
Lebih lagi monster yang tadi mengejarku juga sudah sampai di belakangku. Aku terkepung dan tidak bisa lari ke mana-mana. Posisiku semakin terdesak.
Nun jauh di sana juga beberapa monster sudah berhasil melewati parit dan bersiap menerkam Aalisha yang sedang fokus menyelesaikan sihir pelindung.
Padahal tinggal beberapa detik lagi keempat cahaya biru itu dapat menyatu satu sama lain. Apa tidak ada orang lainkah yang bisa membantuku untuk menghadang para monster itu. Sebentar saja.
‘Jika Tuhan benar-benar ada, aku mohon bantulah aku,” ucapku lirih dalam hati.
Sekelebat bayangan muncul dari atasku, lalu menghujam bentala dengan keras hingga membuat tanah di sekitar retak.
Debu bertebaran membuat sosoknya tampak samar-samar. Tapi yang jelas dia menggeggam sebuah tombak yang mengeluarkan cahaya biru mateng.
“Siapakah gerangan?” tanyaku.
“Maaf atas keterlambatanku,” balasnya singkat.
Debu pun memudar dan akhirnya aku bisa melihat wajahnya. Dia Adellia. Untuk kesekian kalinya kenapa harus dia yang datang menyelamatkanku.
Sebenarnya aku merasa hina karena kerap kali diselamatkan oleh seorang wanita. Apalagi dengan orang yang sama pula.
“Hey, kenapa kau malah datang ke mari?” timpalku menghampirinya secara paksa, menerjang debu.
“Memangnya kenapa? Bukannya kau sendiri dalam keadaan terdesak ya?” jawab Adellia seraya mencabut «Ganjur»-nya yang manancap di tanah.
“Justru yang benar-benar gawat itu yang ada di sana!” Aku menunjuk ke arah Aalisha.
"Aalisha?" tanyanya polos, tidak tahu apa-apa.
Setelah aku mengeceknya. Tunggu. Ke mana perginya para monster. Aku terkejut melihat di sekeliling Aalisha tidak ada monster satu pun.
Padahal tadi banyak monster yang mencoba untuk menggagalkan proses pengaktifan sihir pelindungnya. Tapi sekarang hilang entah ke mana.
“Apa itu mungkin ulahmu?” tanyaku.
“Aku? Jelas bukan aku, coba kau lihat sekali lagi di sekililingmu,” balas Adellia.
Aku menurutinya dan melihat sekitarku, kali ini banyak pasukan dari Adellia yang berdatangan.
Mereka berbondong-bondong muncul dari sela-sela tenda dengan pedang di tangan kanan dan beberapa ada yang membawa perisai di tangan kiri.
Tak hanya itu, tampak juga para rakshasa yang kini telah berubah menjadi sangat besar. Bahkan sekali ayunan tangan bisa menggegam dua monster sekaligus.
Tinggi mereka jadi berkali-kali lipat dari tubuh awal. Jika tidak berubah, tinggi mereka seperti manusia biasa.
Tapi lihat sekarang, setelah berubah menjadi Rakshasa asli, tubuh mereka membesar begitu pula dengan tingginya yang hampir lima meter lebih. Seukuran monster dengan level tinggi.
Kerja sama serangan antara para kesatria sungguh luar biasa. Ketika monster menyerang titik buta dari Rakshasa, di situ lah kesatria akan membantunya dengan menjadi mata keduanya.
Sementara ketika kesatria sedang terkepung oleh banyak monster. Satu kali Rakshasa mengayunkan tangan, hancurlah formasi para monster itu dan mudah bagi para kesatria untuk menyelesaikan sisanya.
“Lalu bagaimana dengan keadaan di perbatasan?” Pantas saja aku menanyakan hal itu.
Mana mungkin Adellia beserta pasukannya menyerah untuk bertarung di perbatasan dan memutuskan untuk bertarung bersama-sama di tengah-tengah kamp perkemahan.
__ADS_1
Tidak mungkin dia mengambil keputusan segila itu. Pikirku.
“Tenang saja! Berkat Kakek Hork dan para penyihir lainnya, kami jadi agak bisa melonggarkan pertahanan di perbatasan. Selain itu dengan barrier sihir pelindung empat penjuru ini, banyak monster yang tidak bisa melewatinya."
Adellia membalasnya seraya menahan salah satu monster yang berusaha melukai kami dengan «Ganjur»-nya dan aku mengakhirinya dengan sebuah tusukan.
Bukankah pedangku lagi berada nun jauh di sana. Memang iya. Aku menggunakan pedang yang tergeletak di sekitar. Anggap saja seperti pedang pengganti.
“Kakek Hork?” ujarku menyela perkataanku.
“Mungkinkah «Magen» dari Kakek Hork sudah kembali normal?”
Adellia menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Benar saja, mana mungkin Adellia bisa menggunakan senjata yang terlahir dari jiwanya tanpa bantuan dari kemampuan Kakek Hork.
Dengan bantuan dari cincinnya Kakek Hork, dia dapat memaksa seseorang membentuk sebuah senjata suci yang terbuat dari jiwa penggunanya.
Seperti halnya «Ganjur», merupakan sebuah tombak yang terlahir dari jiwa pengguna sekaligus pemiliknya, Adellia Monattlas.
“Terlebih dengan adanya Hans di sana, pasukanku jadi lebih terstruktur pergerakannya, dan pertahan kami jadi lebih kuat. Begitu pula dengan Son, tak aku sangka dia kuat juga. Meskipun ya gitu, terkadang terlalu ceroboh dan selalu merepotkan pasukan penyembuhku,” imbuhnya.
“Apa mereka baik-baik saja?” tanyaku.
“Tentu saja, kau pasti tahu sendirikan bagaimana kemampuan penyembuhan dari para penyembuhku,” jawabnya, tak lama dia langsung meninggalkanku.
“Cepat kau ambil pedangmu dan kembalilah bertarung,” tuntasnya setelah berhasil membunuh satu monster lagi dengan menggunakan tombaknya.
Yang masih menjadi pertanyaanku adalah 'siapakah yang menyelamatkan Aalisha tadi?'
Biarlah mungkin salah satu pasukannya Adellia. Cukup berpikir simple. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
" S T A Y - S A F E "
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1