
“Apa kau sudah tenang, Saigiri?” Ucapku setelah melihatnya terdiam dan tidak terdengar isak tangis lagi.
“Maaf Kak, aku jadi menganggu latihan kita.” Balasnya seraya mengangkat kepalanya dan mengusap beberapa air mata yang masih tertinggal.
“Kau berbicara apa? Jangan terlalu bersedih ya, mari kita pulang dan tenangkan pikiran. Bukankah kita besok berangkat pagi-pagi buta?” Ajakku menggegam tangan mungilnya, membantunya bangun, dan mengemas semua barang-barang yang kami bawa tadi ke dalam keranjang piknik.
Walaupun masih tampak sedikit murung, tapi aku tak sudi jika dia larut dalam pikirannya. Mengganti suasana adalah pilihan tepat, pulang ke rumah adalah jalan satu-satunya. Terlebih lagi kami sudah berada di hutan sekiranya sudah lebih dari dua jam.
Ayah pasti sudah pulang dan cemas menunggu kepulangan kami. Meski kami sudah meninggalkan sebuah surat ijin, orang tua tetap saja akan merasa gelisah ketika anaknya sedang bermain ke dalam hutan yang dipenuhi oleh monster dan majuu.
Aku pun membereskan sisa makanan dan beberapa botol minuman, agar tidak meninggalkan satu pun sampah di dalam hutan. Kita harus saling menghargai, maksudku majuu tidak akan memaksa untuk menyerang pemukiman saat kita ikut menjaga kealamian hutan, dan tidak merusak atau mengotorinya.
Baik monster maupun majuu, mereka juga masih mempunyai pikiran, malahan ada beberapa majuu dengan tingkatan yang tinggi memiliki akal dan pikiran. Sebagian mereka memimpin suatu kelompok monster dan bisa jadi membentuk wilayah-wilayah kekuasan yang menyebar di luasnya Hutan Laiquendi.
Dulu Kakek Hisyam pernah bercerita kepadaku bahwa kenyataan Kerajaan Laiquendi berada di tengah-tengah Hutan Laiquendi, dan juga diapit oleh beberapa wilayah majuu-majuu kuat. Sebab itu orang luar susah berhubungan dengan Kerajaan Laiquendi, begitu pula para elf juga tidak dapat keluar dari hutan ini. Jadi kita bergantung pada hutan dan hidup di dalam hutan.
Ketika orang dari luar ingin ke Kerajaan Laiquendi harus melewati wilayah-wilayah para monster. Meski pun kesulitan di perbatasan luar hutan masih ditempati oleh monster-monster tingkat rendah dan terbilang mudah, namun semakin masuk ke dalam maka kalian akan menjumpai kengerian dan keganasan dari Hutan Laiquendi.
Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa kemarin waktu Zardock memporak-poranda Kerajaan Laiquendi para monster tidak membantu kami. Hal itu juga masih menjadi pertanyaan para tetua dan petinggi kerajaan. Bagaimana mungkin monster sekuat dan sebutral Zardock, bisa lolos dari para majuu kuat dan dengan bebasnya masuk ke wilayah kami.
Setidaknya dengan kebrutalan Zardock, wilayah mereka juga ikut ternganggu. Seperti para pemimpin itu melepaskan dan berpura-pura tidak mengetahui adanya Zardock. Aku berspekulasi bahwa para majuu dan monster enggan berurusan dengan Zardock dan membiarkannya bergerak sekehendak hati, sebab ada kabut hitam yang menyelimutinya.
__ADS_1
Terlebih di akhir pertarungan, munculnya seseorang yang misterius dengan kekuatan yang belum dapat kuprediksi batasnya. Orang itu sangat misterius dan kuat. Dengan sihir penghenti ruang dan waktu miliknya, bukanlah hal yang sulit untuk membunuh kami semua, dan bahkan aku yakin itu menjadi alasan bagi para majuu untuk tidak menganggu rencananya.
Untung saja dalam pertarungan itu aku masih selamat, dan menjadi saksi bisu akan munculnya kembali kelompok orang yang menyebut dirinya sebagai pasukan kegelapan, «Schaduw Van Duisternis». Sekilas beberapa pasukan bala bantuan menyebut nama itu penuh dengan ketakutan, bahkan sekelas Kakek Hork dan Adellia yang terkuat dari para pasukan juga terkejut bukan main bertemu dengan salah satu utusan kelompok itu. Kekuatan kami masih belum sebanding dengan kekuatan mereka.
“Masih sanggup berjalan?” Tanyaku ketika melihat Saigiri berdiri dengan bantuan dan menyenderkan tubuhnya di pohon.
“Entah mengapa tubuhku terasa sangat lemas Kak.” Ujar Saigiri.
“Mungkin pengendalian energi rohmu masih belum sepenuhnya kau kuasai atau itu adalah efek samping dari penggunaan energi roh terus-menerus.” Pikirku, dengan peningkatan seperti itu sudah menjadi hal yang wajar. Hal ini sama seperti kita mempelajari teknik baru, pasti tubuh kita masih belum sepenuhnya terbiasa, begitu pula dengan tenaga dan stamina kita juga akan sangat terkuras.
“Apakah kau yakin masih dapat berjalan sampai rumah?” Kataku, sekiranya tubuhnya benar-benar lemas dan memopang tubuhnya saja sangat kewalahan.
“Aku masih bisa jalan sendiri, Kak.” Ucap Saigiri.
“Sudahlah, biarlah hari ini kakak memanjakanmu. Kau cukup diam dan nikmati gendongan tuan putri dari kakak. Hehehe...” Balasku seraya semakin mendekatkan tubuhnya dalam dekapanku. Kami pun bergegas kembali ke rumah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya hehehe
__ADS_1
* Follow akun penulis, penulis tampan dan pemberani lho
* Berkomentar yang baik dan bijak, ingat jarimu belatimu
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes, biar dapat reward dari emak
* Favorit atau tanda lovenya (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
Terimakasih sebanyak-banyak author ucapkan gaes, semoga kalian senang dengan apa yang author tulis. Oh ya tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay safe dan di rumah saja
see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
__ADS_1