Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Merasa asing


__ADS_3

Bianca mematikan panggilannya. Dia merasa senang karena telah selesai mengatakan unek-uneknya pada Selo, berharap lelaki itu tidak lagi mengganggunya, tidak lagi terus percaya diri bahwa dia mau kembali padanya.


Bianca kembali memeriksa resume pasien. Tak lama, ponsel Bianca berdering kembali. Bianca pikir itu Selo, karena Selo tidak pernah konsisten dengan ucapannya. Jika Selo berkata akan menjauhinya, maka lelaki itu tidak pernah benar-benar dengan ucapannya, begitulah pikir Bianca.


Walaupun barusan Selo mengatakan tidak akan mengganggunya lagi, tapi Bianca tahu itu hanya bualan karena faktanya pasti besok Selo akan mendatanginya lagi.


Namun, ponsel di samping Bianca terus berdering hingga Bianca langsung melihatnya. Mata Bianca membulat saat melihat yang memanggilnya bukan Selo, melainkan Adrian. Secepat kilat Bianca pun langsung mengangkat panggilannya. "Halo, Dok," ucap Bianca.


"Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku? Apa kau sibuk?" tanya Adrian bertubi-tubi.


"Tidak, aku tidak sibuk," jawab Bianca dengan cepat.


"Cepat, kita harus berlatih," ucap Adrian.


"Baik Dok, tunggu sebentar," ucap Bianca. Dia langsung bangkit dari duduknya kemudian dia merapikan mejanya.


Lalu setelah itu, dia mengikat rambutnya dan keluar dari ruangannya. Saat keluar, dia langsung berjalan ke arah ruang operasi, di mana dia akan melihat Adrian mengoperasi.


***


Bianca keluar dari ruang operasi, dia merasa seluruh tubuhnya terasa lemas. Selalu seperti ini, dia ingin menjadi dokter spesialis bedah tapi ketika dia melihat darah dan ketika dia melihat Adrian sedang mengoperasi, rasanya dia menjadi ngeri sendiri.


"Dokter Bianca," panggil Adrian ketika Bianca keluar dari ruangannya dan wanita itu berniat untuk pulang, karena jadwal prakteknya sudah selesai.


"Apa Anda sudah selesai?" tanya Adrian, "Bagaimana jika kita minum secangkir kopi di cafe?" ajak Adrian hingga Bianca tampak berpikir lalu mengangguk. Tidak ada salahnya juga, apalagi hari masih sore.


***


Bianca dan Adrian pun keluar dari rumah sakit. Mereka pergi ke cafe memakai mobil masing-masing, hingga pada akhirnya mereka sampai di cafe yang mereka tuju. Adrian dan Bianca masuk ke dalam, hingga Bianca langsung memilih meja yang dekat dengan jendela, dan mereka pun langsung berjalan ke arah meja tersebut.


"Apakah berat saat melihat apa yang terjadi di ruang operasi?" tanya Adrian ketika mereka sudah memesan hidangan yang ada di cafe yang mereka datangi.


Bianca bergidik. "Berat sekali, rasanya aku ingin batalkan mengambil gelar spesialisku, tapi rasanya sudah telanjur," ucap Bianca lagi membuat Adrian terkekeh.


"Tidak apa-apa, nanti juga kau terbiasa. Aku pun begitu," ucap Adrian.


"Jika boleh tahu, siapa seniormu saat dokter belum jadi dokter ahli bedah?" tanya Bianca.


"Hong Ji Hong," jawab Adrian, "Hong Ji Hong, dia dokter spesialis bedah asal Korea. Sulit untuk menjadi muridnya, bagian aku harus menggunakan koneksi agar bisa berada di bawah naungannya."


Bianca mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dokter saja bisa sangat hebat, apalagi dokter Hong Ji Hong," ucap Bianca membuat Adrian terkekeh.


"Dia sudah pensiun, jadi kau tidak bisa menyusulnya," kata Adrian ketika dia melihat wajah Bianca yang sepertinya mengatakan bahwa Bianca lebih baik berguru pada Hong Ji Hong.


"Ah sial, kau bisa membaca pikiranku," kata Bianca hingga Adrian tertawa.


Sepuluh menit kemudian, pesanan mereka pun sampai. Adrian dan Bianca mulai menikmati hidangan yang mereka pesan sambil berbincang-bincang hangat, hingga tak lama tatapan Bianca tertuju pada pintu yang baru saja terbuka, muncul sosok yang dia ketahui, yaitu Selo.


Bianca menghela napas. Ternyata, benar dugaannya bahwa Selo hanya bercanda ingin menjauhinya, tapi lihatlah lelaki itu masih mengikutinya, begitulah pikir Bianca.


Namun sebenarnya tidak. Selo pergi ke kafe itu berniat bertemu dengan temannya. Dia ingin membicarakan sesuatu tentang kepindahannya ke Belgia.


Ya, setelah tadi pagi berbicara dengan Maria, tanpa pikir panjang Selo memutuskan untuk pergi ke Belgia, mengurus perusahaan di sana dan sang ayah juga sedang mengaksesnya.


Lalu sekarang, Selo bertemu temannya karena dia ingin membicarakan pekerjaan, dan mengajak temannya untuk bergabung di perusahaan di Belgia. Lalu tanpa sengaja saat Bianca menatap Selo, Selo juga melihat ke arah Bianca, tapi ekspresi Selo tetap datar. Dia berjalan untuk mencari meja yang jauh dari meja Bianca membuat Bianca berdecih.


"Cih, dasar jual mahal sekali," kata Bianca.


"Hah, siapa yang jual mahal?" tanya Adrian yang menyahut ucapan Bianca hingga tersadar.


"Tidak tidak, maksudku bukan begitu," jawabnya.


Sampai akhirnya, Bianca dan Ardian pun meninggalkan cafe dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


***


Selo turun dari mobil. Lelaki itu dengan lesu berjalan ke arah mansion. Melihat Bianca dan Ardian di kafe, rasanya itu menyakitkan bagi Selo. Apalagi mungkin ini terakhir kalinya dia melihat wanita itu, sebab dia tidak tahu kapan akan kembali ke Rusia.


"Selo." Tiba-Tiba terdengar suara Amelia memanggil sehingga Selo menoleh.


"Ya Mom," sahut Selo.


"Mommy ingin berbicara denganmu," ucap Amelia.


Sepertinya, Selo mengerti dengan apa yang akan diucapkan oleh ibunya. Pasti ibunya akan protes karena dia pergi ke Belgia secara mendadak.


"Apa benar yang dikatakan Daddy?" tanya Amelia dengan tegas. Dia tidak ingin putranya pergi lagi.

__ADS_1


"Perusahaan di sana membutuhkanku, sedangkan di sini perusahaan sudah berjalan. Sekarang waktunya ajarkan Maira untuk memimpin, sedangkan aku akan memimpin di sana," ucap Selo.


"Mommy tahu ini bukan soal kau ingin memimpin perusahaan. Apa ini soal Bianca?" tanyanya, "Apa kau menyerah mendapatkan Bianca?"


Amelia berusaha agar putranya tidak jadi pergi.


"Ini tentang Bianca. Aku pergi ke Belgia untuk melupakannya. Aku harap Momny mau menerima keputusanku. Aku sudah dewasa, Mom, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kita bisa melakukan video call setiap saat," ucap Selo.


Melihat dari raut wajah Selo, tiba-tiba Amelia mendadak luluh. Dia mengerti perasaan Selo hingga Amelia mendudukkan dirinya di sebelah sang putra, lalu membawa Selo ke dalam pelukannya.


Di dalam pelukan sang ibu, Selo mulai kembali merenung tentang apa yang terjadi di masa lalu. Tentang kesalahannya pada Bianca dan pada keluarganya.


"Aku aku manusia yang buruk?" tanya Selo, "Apa aku tidak pantas untuk dicintai?" tanyanya lagi. Dia mulai kehilangan percaya dirinya ketika mendengar ucapan Maria.


Amelia mengelus punggung Selo. "Tidak Selo, semua orang berhak mendapat kesempatan. Jika Bianca memang tidak mau kembali padamu, mungkin kalian hanya sebagai saudara. Baiklah Mommy mengizinkanmu pergi. Jalani harimu dengan baik di sana."


Selo mengangguk, lalu setelah itu dia melepaskan pelukannya pada Amelia dan pamit untuk pergi ke kamar.


Selo masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang hampa. Lelaki itu melihat ke sekelilingnya. Dia pernah pergi dari kamar ini selama bertahun-tahun karena tinggal di apartemen bersama Aghnia, dan sekarang dia harus meninggalkan kamar ini untuk tinggal di Belgia, meninggalkan kehidupannya, cintanya dan juga harapannya.


Selo berjalan ke walk-in closet, kemudian lelaki itu membuka laci, lalu mengambil foto-foto yang ada di sana tak lain adalah fotonya dan foto Bianca saat mereka baru pertama dekat. Mereka sering berfoto di foto box.


Selo menatap foto itu dengan berkaca-kaca. Tiba-Tiba dia teringat ketika dia pertama dekat dengan Bianca.


"Apa kau gila? Kenapa kau mengajakku berpacaran? Kita ini, 'kan, saudara," ucap Bianca saat Selo menyatakan perasaannya.


"Kita, 'kan, saudara jauh," ucap Selo.


Sebenarnya saat itu Bianca sudah menyukai Selo, hanya saja ketika Selo mengajaknya menjadi kekasih, Bianca merasa ragu. Tentu saja karena mereka bersaudara. Kakek dari Selo adalah paman dari Kakek Bianca.


"Ayolah Bi, tidak ada salahnya, bukan? Kita juga tidak berhubungan darah. Tidak dilarang," ucap Selo.


"Memangnya kau mau jadi mualaf?" tanya Bianca.


"Aku mau," jawabnya.


"Ayo cepat. Kau mau menjadi kekasihku?" tanya Selo lagi hingga Bianca mengangguk dengan pelan, membuat Selo bersorak dan pada akhirnya kehidupan Selo dan Bianca pun dipenuhi dengan berseri-seri. Mereka menjadi sepasang kekasih. Tidak ada yang tahu hubungan mereka.


Mereka menutup hubungan mereka rapat-rapat dan mereka baru memberitahu pada keluarga mereka masing-masing, ketika mereka memutuskan berniat menikah. Namun sayang, beberapa bulan setelah menikah, Selo bertemu dengan iblis seperti Aghnia.


Mata Selo berkaca-kaca ketika mengingat masa lalunya bersama Bianca yang penuh dengan kenangan manis, dan bodohnya dia sendiri yang menghancurkan kenangan itu.


Selo mencium foto itu kemudian bangkit dari duduknya, lalu setelah itu mengambil koper dan menyimpan foto itu di koper yang akan dia bawa. Setidaknya, foto itu bisa menjadi pengobat rindunya pada Bianca.


***


Akhirnya, Selo selesai menyimpan pakaian ke dalam koper. Ada tiga koper yang akan dia bawa karena dia akan mengurus sisanya di sana.


Selo merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya. Dia menghapus nomor Bianca kemudian dia kembali menyimpan ponselnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


***


"Kenapa ada di kamar Kakak?" tanya Selo ketika keluar dari kamar mandi, dan dia melihat Maira sedang ada di kamarnya.


"Kak, kau yakin ingin pergi?" tanya Maira yang memastikan.


"Kakak yakin. Kakak harus mengurus perusahaan di Belgia," ucap Selo.


"Cih, jangan jadi pengecut. Kakak hanya ingin pergi dari Bianca, 'kan?" tanya Maira.


"Kau benar, saatnya Kakak melepaskan bayang-bayang Bianca karena dia berhak bahagia bersama lelaki lain," ucap Selo.


Maira berdecih, lebay sekali. Gadis itu pun langsung keluar dari kamar Selo, membuat Selo menggeleng.


***


"Tolong aku!" Bianca berteriak meminta pertolongan. Dia merasa tubuhnya sudah tidak berdaya. Beberapa kali dia merasakan sakit karena ada orang yang mencambuk punggungnya, tapi Bianca tidak tahu siapa itu.


"Tolong aku, kumohon. Ini sakit," lirih Bianca. Kali ini dia tidak berteriak lagi karena rasanya tenaganya sudah habis, dan tak lama Bianca kembali berteriak ketika rambutnya dijambak ke belakang.


Bianca langsung terbangun dari tidurmya. Seluruh tubuhnya dibanjiri dengan keringat dingin. Rupanya barusan Bianca bermimpi, mimpi yang menurutnya sangat buruk.


Bianca berusaha mengatur napasnya. Entah kenapa dia merasa walaupun itu mimpi, dia merasakan seluruh tubuhnya terasa begitu nyeri. Wanita itu melihat ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Bianca melihat ke arah nakas, lalu wanita itu menghela napas kasar ketika tidak ada air minum. Dia langsung turun dari ranjang, kemudian wanita itu berniat untuk pergi keluar dan mengambil minum.


Saat dia akan keluar dari kamar, tiba-tiba Bianca menghentikan langkahnya ketika melihat pintu balkon yang terbuka, hingga Bianca pun langsung berjalan arah balkon untuk menutup pintu. Namun, saat dia sudah menutup tirai dan memegang gagang pintu untuk menutupnya, Bianca menghentikan gerakannya. Dia menyipitkan matanya saat melihat dari kejauhan, seorang pria berdiri di depan mobil, melihat ke arah balkon cukup lama.

__ADS_1


Bianca terdiam meneliti gesture lelaki tersebut, karena tentu saja dia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Sepersekian detik, Bianca sadar bahwa itu adalah Selo dan ketika Selo melihat Bianca keluar dari balkon, lelaki itu melambaikan tangannya dan setelah itu Selo langsung masuk ke dalam mobil membuat Bianca menggeleng.


Kenapa laki-laki itu masih tidak menyerah? Ucapan tadi pagi adalah sebuah bualan yang mengatakan tidak akan mengganggunya lagi, tapi lihatlah lelaki itu malah datang kemari, ke depan rumahnya.


Padahal tanpa Bianca tahu, mungkin ini terakhir kalinya dia melihat Selo karena Selo datang ke depan rumah Bianca, acara melihat Bianca untuk yang terakhir kalinya. Dia pikir dia tidak akan bisa melihat mantan istrinya karena dia sudah menunggu selama dua jam, tapi ternyata Tuhan masih begitu baik membiarkan Bianca berdiam diri di balkon hingga Selo bisa melihat wanita itu.


Setelah mobil Selo tidak terlihat, Bianca langsung menutup di pintu kemudian dia melanjutkan niatnya untuk mengambil air ke bawah.


***


Selo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasanya, dia begitu enggan pulang ke mansion karena saat dia masuk ke dalam kamar, dia akan melihat deretan koper yang sudah disiapkan.


Dia menghela napas. Dia menghentikan laju mobilnya sejenak kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang, meresapi rasa perih dalam dada. Ternyata semenyakitkan ini berpisah dengan orang yang dia cintai. Tak bisa dibayangkan betapa patah hatinya.


Setelah cukup lama merenung, akhirnya Selo pun kembali menyalakan dan menjalankan mobilnya untuk pulang ke mansion.


***


Waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Sello selesai bersiap, semua perlengkapan terbang seperti paspor dan lain-lain sudah ada di dalam tasnya.


Selo akan pergi terbang pada pukul tujuh pagi nanti. Itu sebabnya dia harus pergi. Sedari pulang melihat Bianca, Selo sama sekali tidak tertidur. Pikiran lelaki itu mengembara, membayangkan betapa beratnya hidup di Belgia.


Tak lama, pintu terbuka. Muncul sosok Gabriel dan ternyata lelaki paruh baya itu berniat untuk mengantarkan Selo ke bandara.


"Kau sudah siap?" tanya Gabriel.


Selo mengangguk.


"Ya sudah, ayo kita pergi," ajao Gabriel.


Selo bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu menggeret koper.


***


Gabriel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia sengaja tidak memakai sopir karena dia tidak ingin membangunkan sopirnya. Sedari tadi, sesekali dia melihat ke arah Selo yang tampak melamun.


"Kau berat untuk pergi?" tanya Gabriel. Selo menghela napas kemudian mengangguk.


"Tapi mungkin ini hanya sebentar saja, nanti juga aku akan terbiasa," jawab Selo walaupun dia tidak yakin dengan ucapannya sendiri, hingga Gabriel menganggukan kepalanya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Gabriel sampai di bandara. "Pulanglah, aku akan menunggu di sini," ucap Selo.


"Kau yakin?" tanya Gabriel.


Selo kemudian memeluk sang ayah, setelah itu dia pun keluar dari mobil, dan masuk sambil membawa tas juga kopernya.


Ketika melihat Selo yang terus menjauh, walaupun semua anaknya sudah dewasa, tapi di mata Gabriel dan di mata Amelia, anak-anaknya masih seperti anak kecil. Rasanya, sekarang Gabriel seperti sedang melepas putranya yang akan pergi ke sekolah.


Setelah Selo tidak terlihat, Gabriel pun kembali menyalakan dan menjalankan mobilnya lalu memutuskan untuk pulang.


***


Akhirnya, detik-detik yang menyakitkan bagi Selo pun tiba, di mana sekarang dia sudah berada di pesawat, dan sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Lelaki itu melihat ke arah jendela, berharap dia melihat Bianca mengantar kepergiannya. Namun, tentu saja itu tidak mungkin.


Selo kembali melihat ke arah depan. Dia memakai penutup mata, lalu juga memakai penutup telinga, dan setelah itu dia memilih untuk memejamkan matanya karena dia tidak ingin merasakan semakin hampa.


Sampai akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, pesawat yang ditumpangi Selo mendarat di bandara Belgia. Saat turun, lelaki itu sudah ada yang menjemput yang tak lain anak buah ayahnya.


"Selamat pagi Tuan," ucap James.


Selo mengangguk. Lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan James menyimpan koper Selo di bandara saat berada di Belgia.


Saat berada di mobil, lagi-lagi Selo merasa asing. Pertama kalinya menginjakkan kaki di negara ini, tentu saja ada berbeda. Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Selo sampai di basement.


James turun, membukakan pintu. Mereka pun berjalan ke arah apartemen yang akan Selo tempati selama di Belgia.


***


Tiga bulan kemudian.


Selo menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia menghela napas sebanyak-banyaknya kala rasa lelah mendera. Pekerjaan begitu menyita waktunya, hingga dia tidak sempat makan siang.


Selo menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tatapannya langsung tertuju pada bingkai foto yang dia simpan. Bingkai foto yang berisi fotonya dan juga foto Bianca. Selama tiga bulan di Belgia, Selo merasakan perasaan yang luar biasa berbeda. Dia sudah mencoba untuk beradaptasi dan mencoba nyaman tinggal di Belgia, tapi nyatanya tidak. Selo tetap masih merasa asing.


Tidak ada aktivitas yang Selo lakukan selain hanya bekerja, pulang dan tidur. Selo merasa jenuh dengan itu. Memang tidak ada bedanya dengan aktivitas di Rusia, tapi tetap saja dia merasa aneh ketika harus melakukan semua sendiri. Tidak melihat keluarganya dan tidak melihat Bianca.


Tak lama, pintu diketuk hingga muncul sosok sekretaris Selo yang mengirimkan dokumen itu.

__ADS_1


"Anda tidak apa-apa?" tanya James yang melihat wajah Selo sedang pucat.


"Tidak apa-apa," jawab Selo hingga James mengangguk kemudian menyimpan berkas di tangannya.


__ADS_2