
"Sudahlah, memangnya apa peduliku?" tanya Darren lagi yang sudah tersadar kenapa juga dia harus penasaran dengan kepergian Shelby yang menggendong Theresia di tengah malam. Lelaki itu pun langsung mengambil remote kemudian memutarkan channel, tapi beberapa menit berlalu, entah kenapa Darren mendadak tidak tenang.
***
Shelby menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak peduli dengan hujan yang sangat lebat. Tubuh Shelby gemetar. Jujur saja, dia panik karena di kursi belakang Theresia terlihat terus kejang, sedangkan di luar juga hujan sangat deras. Shelby takut ada penutupan jalan karena banjir.
Jalanan begitu sepi, bahkan hampir tidak ada satu pun kendaraan. Tentu saja karena hujan sedang turun, apalagi ini sudah tengah malam tapi Shelby harus benar-benar menguatkan dirinya agar bisa sampai di rumah sakit.
Mobilnya terhenti karena di depannya ada genangan air, dan apa yang ditakutkan Shelby terjadi. Seluruh jalanan sudah dikepung oleh air hujan, hingga Shelby tidak bisa memajukan mobilnya. “Aaaaa!” Shelby kembali berteriak ketika ada air yang datang dari arah samping, dan sedetik kemudian mobil Shelby terbawa oleh air tersebut dan dengan cepat, Shelby langsung mengaktifkan rem otomatis hingga mobilnya tidak terbawa oleh arus.
Secepat kilat, Shelby langsung melepaskan seat belt, kemudian wanita cantik itu langsung bangkit dari duduknya kemudian dia meloncat ke arah belakang. Lalu setelah itu, dia langsung membopong tubuh Theresia lalu memeluk Theresia begitu erat.
Shelby menangis dengan kencang, meraung memanggil nama Theresia agar Theresia sadar. Jangan ditanyakan betapa panik dan sakitnya Shelby saat ini, yang pasti semua berkecamuk dalam dada. Tidak ada yang bisa dia mintai tolong, dan tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu. Dia langsung menyimpan kembali tubuh Shelby di kursi, kemudian dia kembali ke depan lalu membuka dashboard.
Setelah itu, dia mengambil obat dan beruntung obat itu masih ada dan dengan cepat, Theresia langsung membuka tutup botol obat tersebut lalu setelah itu dia meminumkan paksa pada Theresia yang sedang kejang. Lalu setelah itu, dia mendekap lagi tubuh putrinya, berusaha untuk menghentikan Theresia agar tidak kejang lagi.
Sepuluh menit kemudian.
Sepertinya, obat itu sudah mulai bereaksi. Perlahan, tubuh Theresia yang menegang kembali mengendur. Shelby langsung melepaskan pelukannya kemudian melihat wajah Theresia.
"Terima kasih, Tuhan," ucap Shelby.
Theresia sudah berhenti kejang, tapi Theresia masih belum sadarkan diri. Shelby melihat ke sekitarnya. Hujan masih sangat lebat dan baru saja ketakutan Shelby tentang Theresia berkurang, sekarang dia dilanda ketakutan lagi. Bagaimana jika mobilnya ikut hanyut? Karena genangan air begitu besar.
Tidak ada siapa pun di sekitarnya membuat ketakutan semakin menjadi-jadi, tapi dia tidak bisa melakukan apapun hingga pada akhirnya dia kembali memeluk Theresia sembari memanjatkan doa agar Tuhan menolongnya.
Dua jam berlalu.
Hujan sudah reda satu jam yang lalu, dan selama satu jam, genangan air mulai terkuras membuat Shelby menghela napas. Dia langsung melepaskan pelukannya dari Theresia, kemudian dia membaringkan lagi tubuh Theresia.
Shelby berpindah ke depan dan mulai menjalankan lagi mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, dia pun langsung bergegas turun kemudian menuju unit gawat darurat.
Shelby berjalan ke sana kemari. Rasanya, dia tidak sabar untuk menunggu dokter keluar dari ruang rawat putrinya, karena sekarang Theresia sudah diperiksa oleh dokter.
Sepuluh menit kemudian.
Dokter keluar dari ruang rawat Theresia, hingga Shelby langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan putriku, Dok?" tanya Shelby.
"Kami akan mengecek lab terlebih dahulu," kata dokter. "Apa Anda memberikan obat secara rutin?" tanya dokter hingga Shelby mengangguk..
"Jika itu masalahnya, sepertinya psikis Theresia sedang terganggu. Tapi kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan," kata dokter lagi.
Shelby memegang dinding karena dia tidak sanggup mendengar apa yang dokter katakan, dan pada akhirnya setelah dokter pergi, barulah Shelby masuk ke dalam ruang rawat putrinya.
Shelby menarik kursi kemudian wanita cantik itu mendudukkan dirinya di sebelah brankar kemudian dia menggenggam tangan Theresia. Sudah lama sekali Theresia tidak drop seperti ini. Sepertinya, mental Theresia benar-benar terguncang karena ulang tahun kemarin, di mana Tristan tidak pulang.
Tahun sebelumnya walaupun ulang tahun mereka dilaksanakan di tempat berbeda, tapi keesokan harinya Tristan selalu langsung pulang dan membawakan hadiah. Namun kemarin, Tristan pulang setelah dua hari berlalu.
Mungkin Theresia berpikir apa yang dilakukan oleh kakak dan ayahnya, ditambah lagi tadi pagi saat ibunya pergi ke air, Theresia membuka ponsel Shelby kemudian dia melihat akun media sosial sang ayah. Dia melihat foto-foto kebersamaan Tristan dan ayahnya yang sedang berlibur, dan itu menambah drop kondisi Theresia hingga sekarang Theresia seperti ini. Rasanya dia begitu iri pada sang kaka yang selalu dekat dengan ayahnya.
***
Malam berganti pagi.
Darren terbangun dari tidurnya. Sudah tidak ada Tristan di sampingnya hingga Darren pun langsung turun.
"Tristan," panggil Darren ketika dia keluar dari kamar. Tidak ada sahutan, tapi kamar Theresia dan Shelby terbuka hingga Darren langsung berjalan ke arah kamar tersebut. Saat akan masuk, Darren menghentikan langkahnya. Selama tujuh tahun pindah ke apartemen, dia tidak pernah masuk ke dalam kamar istri dan anak perempuannya. Sekarang ketika masuk, tentu saja Darren merasa aneh.
__ADS_1
"Tristan," panggil Darren.
Tristan yang dipanggil langsung berbalik kemudian dia langsung keluar dari kamar ibu dan adiknya.
"Daddy, mommy mana?" tanya Tristan. Tadi saat bangun, dia langsung teringat Theresia hingga dia langsung turun dari ranjang dan ke kamar adiknya, tapi ternyata saat sampai di kamar adiknya tak ada.
Darren menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Daddy tidak tahu, mungkin Mommy dan adikmu sudah pergi ke sekolah," kata Darren.
Tristan mengerutkan keningnya. Dia melihat jam. "Ini masih jam setengah enam, dan Mommy ke sekolah jam sepuluh. Mana mungkin Theresia dan Mommy sudah pergi?" tanya Tristan.
"Coba saja kau telepon Mommy," kata Darren lagi hingga Tristan pun mengangguk. Dia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu setelah itu menelepon Shelby. Namun tak lama, Tristan menurunkan ponselnya kala mendengar suara deringan ponsel dari kamar ibunya, dan ternyata Shelby tidak membawa ponselnya membuat Tristan begitu bingung.
Dia lalu kembali menghampiri sang ayah yang sedang mengumpulkan nyawa di sofa. "Ponsel Mommy tidak bisa dihubungi. Ponselnya ada di sini," kata Tristan lagi membuat Darren semakin bingung. Dia juga tidak tahu.
"Ya sudah, kau mandi saja dulu. Daddy akan Siapkan sarapan," kata Darren karena memang urusan sarapan, mereka selalu membuatnya masing-masing. Darren hanya akan membuat sarapan untuknya dan juga untuk Tristan.
***
Shelby turun dari mobil. Wanita cantik itu baru saja sampai di basement apartemen. Dia pulang untuk untuk berbicara pada Tristan dan agar Tristan tidak mencarinya dan juga mencari Theresia. Dia juga pulang untuk mengambil pakaiannya dan juga pakaian Theresia.
Barusan sebelum dia pulang, Theresia sudah membuka matanya. Namun, kondisi Theresia benar-benar lemah, bahkan Theresia mendadak tidak bisa bergerak. Dan karena ada suster yang mendampingi Theresia, Shelby memilih untuk mengambil pakaian dan perlengkapan mereka di rumah sakit. Dia juga harus berbicara pada Tristan.
Shelby masuk ke dalam apartemen, terdengar suara riuh dari arah meja makan. Sepertinya, Darren dan Tristan sedang sarapan.
"Tristan," panggil Shelby hingga Tristan yang sedang mengobrol bersama Darren langsung menoleh.
"Mommy!" Tristan terpekik ketika mendengar suara Shelby. Lelaki itu langsung turun dari kursi kemudian menghampiri sang ibu .
"Mommy dari mana?" tanya Tristan, sedangkan Darren langsung mengubah ekspresinya menjadi dingin seolah tidak perlu dengan kehadiran Shelby.
"Theresia sedang demam, dia dirawat di rumah sakit," katanya.
"Apa? Theresia demam? Apa demamnya separah itu?" tanya Tristan.
"Theresia demam, Theresia akan dirawat beberapa hari. Kau di sini saja dengan Daddy, oke?" tanya Shelby.
"Aku mau lihat Theresia. Aku ingin menemani Theresia," kata Tristan, raut wajahnya terlihat sangat khawatir.
Namun, Shelby menggeleng. "Kau akan tertular nanti, jadi tetap saja di sini Theresia tidak akan lama," kata Shelby.
Seperti biasa, Tristan begitu patuh.
"Apa benar Theresia akan segera pulang dan sembuh?" tanya Tristan lagi.
Shelby mengangguk. "Ya sudah, kau lanjutkan sarapanmu. Mommy akan membereskan pakaian Theresia," ucap Shelby lagi hingga Tristan mengangguk.
Tristan pun berbalik kemudian dia mendudukkan diri kembali di kursi, sedangkan Shelby langsung berjalan ke arah kamar.
"Tristan," panggil Darren ketika Tristan melamun. Bahkan Tristan tidak mau lagi meneruskan acara sarapannya.
"Aku kenyang," jawab Tristan.
"Habiskan sarapanmu," Titah Darren.
"Dad, Theresia sedang demam. Kau tidak ingin menjenguk Theresia?" tanya Tristan lagi. Sebenarnya dia sudah tahu jawaban apa yang akan ayahnya katakan, tapi dia hanya ingin mendengar lagi jawaban ayahnya.
"Daddy sibuk, nanti saja," jawab Darren hingga Tristan menghela napas.
***
__ADS_1
Shelby masuk ke dalam kamar. Wanita itu langsung mengambil koper kemudian membereskan semua membereskan pakaiannya dan juga pakaian Theresia, karena entah kapan Theresia bisa keluar dari rumah sakit, sebab jika drop seperti ini, Theresia selalu menetap lama di rumah sakit untuk proses penyembuhan. Dia terpaksa berbohong pada Tristan karena dia tidak ingin Tristan melihat kondisi Theresia.
Setelah selesai membereskan koper, Shelby langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Dua puluh menit kemudian, Shelby sudah siap memakai pakaiannya. Dia berencana untuk kembali ke rumah sakit, dan ketika dia keluar dari kamar, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Darren. Sepertinya, Darren baru saja akan kembali ke kamarnya.
Darren dan Shelby sama-sama menghentikan langkah mereka, tapi tak lama Shelby langsung melanjutkan langkahnya, begitu pun dengan Darren.
'Seandainya aku bisa memintamu datang ke rumah sakit agar kondisi Theresia membaik, aku pasti akan melakukan itu. Tapi sayangnya aku tidak bisa.' Shelby membatin seraya melanjutkan langkahnya.
***
Darren turun dari mobil, lelaki tampan itu baru saja sampai ke kantornya. Tentu saja setelah dia mengantar Tristan.
"Mia," panggil Darren ketika dia melewati ruangan Mia, hingga Mia menoleh. Dia tersenyum ketika melihat Darren. Wanita itu pun bangkit dari duduknya, kemudian langsung berjalan ke arah kekasihnya.
Namun, belum sempat Mia menghampiri Darren, terdengar suara derap langkah hingga Darren menoleh. Ternyata yang datang adalah kakaknya, hingga Mia langsung berbalik kemudian duduk kembali di kursinya, begitu pun Darren yang melanjutkan langkahnya.
"Pergilah, ini masih pagi. Jangan membuat moodku buruk," kata Darren ketika Salsa mengikutinya masuk ke dalam ruangan. Dia duduk di sofa kemudian dia mengutak-atik ponselnya, tidak mempedulikan celotehan Darren, sedangkan Darren memilih untuk duduk di kursi kerjanya lalu membuka laptopnya.
"Apa benar Theresia sedang dirawat?" tanya Salsa, tadi temannya mengatakan melihat Shelby berada di rumah sakit, dan Salsa menyuruh temannya untuk mengikuti Shelby.
Ketika masuk ke dalam ruang rawat, teman Salsa yang juga merupakan sebagai dokter pun mengetahui bahwa Theresia sedang dirawat hingga dia langsung memberitahukannya pada Salsa.
"Tidak ada urusannya juga denganku," kata Darren.
Salsa menatap Darren. "Apa kau yakin kau tidak akan menyesali kemudian hari jika sesuatu terjadi pada putrimu?" tanya Salsa.
Darren menghentikan gerakannya yang sedang mengutak-atik laptopnya. "Salsa, sudah kubilang jangan membuat moodku buruk. Apapun yang terjadi dengannya bukan urusanku," kata Darren lagi membuat Salsa mengelus dada.
"Apa kau tahu cinta pertamaku siapa?" tanya Salsa.
"Mana kutahu. Itu, 'kan, urusanmu. Memangnya, apa juga peduliku?" tanya Darren.
"Cinta pertamaku adalah daddy, dan aku yakin cinta pertama Theresia juga adalah kau," ucap Salsa yang berucap penuh penekanan.
"Salsa pergilah. Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku tidak peduli apapun yang terjadi pada anak itu," kata Darren.
Salsa pun bangkit dari duduknya. Tadinya, dia kemari ingin menemui Keenan yang sedang bertugas mengawasi di sini.
"Aku sarankan tatap Theresia dengan lekat, bayangkan jika Theresia pergi selamanya." Setelah mengatakan itu, Salsa pun berbalik kemudian keluar dari ruangan sang adik, sedangkan Darren langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki itu menggeleng kemudian mengusap wajah kasar.
"Untuk apa? Aku juga tak peduli." Darren pun langsung menegakkan kembali tubuhnya.
***
Beberapa hari kemudian.
Suasana di ruang rawat Theresia dipenuhi kepanikan. Shelby tidak henti-hentinya berteriak memanggil nama Theresia. Beberapa dokter sedang berusaha untuk mengembalikan detak jantung gadis kecil itu. Ya, beberapa menit lalu jantung Theresia melemah, dan dokter sekarang sedang berusaha untuk mengembalikan detak jantung gadis kecil itu.
Selama beberapa hari ini, kondisi Theresia tidak ada perubahan. Gadis kecil itu tetap dengan kondisi semula, lemah tak berdaya dan hanya bisa membuka mata tanpa berbicara.
Darren berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Lelaki itu baru saja keluar dari ruang rawat Mia, karena Mia itu dirawat akibat alergi.
Saat berada di depan ruang rawat yang dekat dengan koridor, Darren menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Shelby yang memanggil Theresia.
"Theresia, tolong bangun. Buka matamu dan jangan tinggalkan Mommy. Aku mohon bangun!" teriak Shelby.
Tiba-tiba, jantung Darren berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar teriakan Shelby yang mengatakan hal seperti itu. Dan tanpa sadar menggerakkan kakinya lalu dia pun masuk ke dalam ruangan ruang rawat Theresia, dan benar saja ternyata yang di dalam adalah istrinya.
Otak Darren terasa kosong. Tatapan matanya menatap ke arah brankar, di mana dokter sedang menempelkan alat pemacu jantung di tubuh putrinya, bahkan dengan jelas dia bisa melihat tubuh Theresia yang sangat kurus.
__ADS_1
Ketika Darren masuk, tanpa sengaja Shelby melihat ke arah pintu dan ketika melihat Darren, Shelby yang sedang panik langsung berlari menghampiri suaminya. Dia langsung menarik lengan Darren.
"Dareen Aku mohon sekali saja tolong aku. Kumohon sekali saja bicara pada Theresia untuk bangun. Dia pasti akan mendengarkanmu. Kumohon, Daren.!" teriak Shelby dengan berlinang air mata. Dia menatap Daren dengan tatapan memohon. Sedangkan Dareen ...