
"Kau ini bicara apa? Kenapa kau seperti menyumpahiku?" tanya Adrian pada Kevin, sedangkan Kevin kembali menyeruput sodanya.
"Kau tahu? Kakakku juga bernasib sama sepertimu," ucap Kevin, yang tiba-tiba teringat kalanya.
"Maksudmu?" tanya Adrian, dia mulai tertarik dengan pembicaraan Kevin, bahkan lelaki itu menegakkan tubuhnya lalu menatap ke arah Kevin. Dia menatap Kevin dengan serius.
Kevin menenggak soda di tangannya, kemudian lelaki itu tampak menerawang, mengingat kisah kelam kakaknya. "Mungkin, ceritanya berbeda jauh denganmu, tapi ada kemiripan diantara kisahmu dan kakakku. Dulu, keluarga kami sedang di ambang batas. Perusahaan ayahku hampir saja bangkrut, dan sebagai penolong, ayahku meminta kakakku untuk menikah dengan anak rekan bisnisnya. Kakakku menolak karena dia sudah mempunyai tunangan, tapi pada akhirnya kakakku menerima. Kau tahu selanjutnya apa yang terjadi?" tanyanya.
"Mana kutahu. Aku, 'kan, bukan keluargamu," jawab Adrian membuat Kevin berdecak.
"Pada akhirnya, kakakku memutuskan pertunangannya dengan kekasihnya. Istrinya begitu baik, tidak peduli kakakku memperlakukan dia dengan buruk, tapi kakak iparku tidak pernah melawan karena ternyata kakak iparku sudah mencintai kakakku dari lama. Pada akhirnya, kakak iparku lelah. Dia memutuskan untuk menyerah dan menceraikan kakakku. Sayangnya, ketika kakak iparku menyerah, kakakku baru sadar bahwa dia mencintai kakak iparku. Tapi semuanya terlambat. Kakak iparku telanjur lelah, hingga dia memutuskan untuk pergi dan menikah dengan lelaki lain. Kau tahu apa yang terjadi dengan kakakku? Kakakku akhirnya menjadi gila, hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri," ucap Kevin. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan itu pada Adrian, karena walau bagaimanapun itu adalah kenangan pahitnya. Itu sebabnya dia selalu menyadarkan Adrian tentang pernikahan, agar Adrian tidak mengikuti jejak kakaknya.
Adrian menggeleng. Dia pun ikut merasakan sesal ketika mendengar cerita Kevin. "Aku mana mungkin seperti itu," kata Adrian dengan percaya diri, karena dia menyangka bahwa apa yang dia lakukan tidak akan terbongkar, dan pasti akan baik-baik saja.
"Terserah kau saja. Kau bisa mengambil pelajaran dari cerita kakakku," ucap Kevin.
Adrian kembali menyadarkan tubuhnya ke belakang. Ucapan Kevin sedikit berpengaruh untuknya. Bagaimana jika itu terjadi padanya?
Adrian menggeleng dengan pelan, berusaha meyakinkan dirinya bahwa nasibnya tidak akan seperti itu. Lagi pula, apa yang harus ditakutkan? Selama dia berpura-pura, semuanya aman. Tidak akan ada drama seperti itu, begitulah pikiran Adrian.
Kevin bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana kau?" tanya Adrian.
"Pulang," jawabnya.
"Kenapa?" tanya Adrian.
"Aku rasa kau lelah, jadi aku pulang saja.”
"Ya sudah sana pulang, aku mau istirahat," usir Adrian.
Kevin berdecak kemudian lelaki itu langsung keluar dari apartemen Adrian, sedangkan Adrian langsung bangkit dari duduknya kemudian lelaki tampan itu memutuskan untuk pergi ke kamar dan beristirahat.
***
"Adrian, tolong aku! Adrian, anak kita! Adrian!"
Tiba-Tiba, Adrian terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah. Dia langsung melihat ke sekelilingnya, lalu mengusap wajah kasar. Rupanya, lelaki tampan itu bermimpi. Dia pun langsung menyalakan lampu dan ternyata waktu menunjukkan pukul dua malam.
Tak lama, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk, dan dia pun langsung melihat ke arah ponselnya. Ternyata, Mayra memanggilnya hingga dengan cepat Adrian pun langsung mengangkatnya.
"Halo Adrian kau sudah sampai? Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku? Bukannya kau sudah seharusnya sudah sampai di Korea?" tanya Mayra.
Adrian mengusap wajah kasar. "Aku baru saja menaiki taksi, jadi aku baru bisa mengangkat panggilanmu," dusta Adrian.
Mayra mengerutkan keningnya. "Kau baru naik taksi? Kenapa terdengar sunyi?" tanya Mayra yang tidak mendengar suara apa pun di sekitar suaminya.
"Di sini turun salju jadi tidak ada orang yang berlalu-lalang. Aku akan menelpon lagi ketika aku sampai di apartemen. Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanya Adrian.
"Ya sudah. Panggil aku lagi jika kau sudah sampai," jawab Mayra.
"Tapi, kenapa kou belum tidur?" tanya Adrian lagi.
"Aku menunggu kabar darimu. Aku khawatir," kata Mayra.
"Ya sudah sekarang kau tidur saja. Aku sudah sampai di Korean," ucap Adrian lagi hingga Mayra pun mengiyakan ucapan Adrian dan menutup panggilan.
***
Mayra melemparkan ponsel ke samping, kemudian dia mengelus sisinya, di mana tempat Adrian berbaring. "Ah, padahal kau baru meninggalkanku, tapi rasanya aku sudah rindu lagi denganmu, Adrian, " lirih Mayra, hingga pada akhirnya dia mememjamkan matanya dan terlelap.
***
Satu minggu kemudian.
"Alice, apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Mayra pada sang putri. Saat ini, mereka akan pergi ke luar kota karena ada pameran di sekolah Alice yang diselenggarakan di sana. Pameran itu diselenggarakan di salah satu sekolah, hingga beberapa sekolah yang berada di luar kota, diundang untuk hadir, termasuk di sekolah Alice.
Alice menoleh sebentar. "Mommy, aku belum siap. Aku harus memasukkan beberapa bekal," jawab Alice membuat Mayra menggeleng. Sedari tadi, Mayra sudah sibuk di dapur karena Alice ingin membawa bekal masakannya, sebab Alice adalah tipe pemilih. Dia jarang sekali cocok dengan makanan orang lain.
Mayra pun langsung berbalik kemudian keluar dari kamar Alice. Dia langsung mendudukkan diri di sofa, lalu setelah itu mengutak-atik ponselnya menelepon Adrian. Lalu seperti biasa, Adrian dengan sigap mengangkatnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Adrian di seberang sana.
"Aku akan pergi bersama Alice hari ini. Apa tidak apa-apa aku pergi?" tanya Mayra.
"Bagaiamana dengan kandunganmu?" tanya Adrian di seberang sana yang khawatir. Tentu saja itu hanya berpura-pura.
"Tidak apa-apa, nanti aku akan bawa vitaminku," jawab Mayra.
"Kau sedang apa? Apa di sana masih hujan salju?" tanya Mayra.
Tiba-Tiba Adrian tersedak di seberang sana membuat Mayra mengerutkan keningnya. "Di sini masih hujan salju. Aku sedikit demam," jawabnya.
"Kau demam?" tanya Mayra dengan khawatir.
"Aku sudah minum obat," katanya, "ya sudah kalau begitu. Aku ada pasien, aku tutup teleponnya," pamit Adrian hingga Mayra pun mengangguk, walau anggukannya tidak terlihat.
Mayra mengotak-atik ponselnya, kemudian dia melihat Instagram lalu membuka Instagram Adrian. Dia tersenyum ketika Instagram Adrian penuh dengan fotonya, foto Alice dan juga foto mereka bertiga. Bahkan, profil foto Adrian pun menggunakan foto mereka berdua dan itu semakin membuat Mayra terbang ke atas, tanpa dia sadari mungkin dia akan jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Mommy, aku siap. Ayo kita pergi." Tiba-Tiba, terdengar suara Alice dari arah luar, hingga Mayra pun bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar Alice.
"Kenapa kau membawa bekal sebanyak ini?" tanya Mayra ketika Alice membawa dua koper.
"Mommy, kita akan menginap dua hari di sana dan aku tidak mau repot-repot membeli apapun, jadi aku mengemas semuanya," kata Alice.
Mayra pun memanggil sopir, hingga Alice pun berbalik dan berjalan diikuti Mayra di belakangnya.
***
"Apa Daddy sudah menelepon Mommy?" tanya Alice ketika mereka sudah berada di mobil. Setiap hari, Alice selalu menanyakan pertanyaan yang sama, sebab dia tidak ingin Adrian membuat ulah lagi pada Mayra, hingga Mayra mengangguk kemudian mengelus rambut putrinya.
"Sudah," jawab Mayra.
"Syukurlah jika Daddy sudah menelepon Mommy," kata Alice.
"Kenapa kau selalu bertanya pertanyaan itu setiap harinya?" tanya Mayra yang penasaran, sebab semenjak Adrian pergi ke Korea, Alice selalu bertanya hal yang sama padanya.
"Tidak apa-apa," ucap Alice. Mana mungkin dia mengatakan tentang apa yang dia bicarakan dengan sang ayah, bahwa dia menyuruh sang ayah untuk menelepon Mayra setiap hari.
***
__ADS_1
Setelah melewati perjalanan yang benar-benar panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di kota tujuan. Mayra dan Alice pun langsung turun dari mobil untuk berjalan ke arah hotel, karena memang mereka memutuskan untuk menginap di hotel, tidak menginap di tempat yang panitia sediakan.
"Bersihkan dirimu dulu, setelah itu kita makan," ucap Mayra ketika mereka sampai.
"Baik, Mommy," jawab Alice. Dia pun langsung melepaskan tasnya, kemudian gadis remaja itu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dua puluh menit kemudian, Alice keluar. Wanita itu langsung meminta Mayra mengeringkan rambutnya.
"Alice, ayo kita makan di bawah. Sepertinya menu di hotel ini sangat enak," ajak Mayra
"Tapi, 'kan, aku membawa masakan Mommy," kata Alice.
"Masakan itu untuk nanti saja, kita bisa menaruhnya di kulkas. Ayo temani Mommy makan di restoran. Adikmu sepertinya ingin makan di sana," ucap Mayra hingga Alice pun mengangguk, karena dia tidak bisa menolak keinginan sang ibu, apalagi jika Mayra membawa nama adiknya yang masih berada di kandungan dengan alasan mengidam.
Akhirnya, Mayra dan Alice pun keluar dari kamar hotel yang mereka tempati, lalu mereka pun turun ke arah restoran yang ada di hotel tersebut.
"Ayo Mommy," ajak Alice.
Mayra menghela napas kala restoran tampak penuh.
"Mommy, itu meja kosong," ucap Alice hingga Mayra pun mengangguk.
Namun, baru saja dia akan melanjutkan langkahnya, tanpa sengaja Mayra melihat ke arah jendela. Jantung Mayra berdetak dua kali lebih cepat saat melihat seseorang yang sangat mirip dengan Adrian.
Sayangnya, lelaki itu membelakangi Mayra hingga Mayra tidak bisa melihat wajah dari lelaki yang sangat mirip dengan suaminya. Mayra mengenal betul postur tubuh Adrian, hingga walaupun dari belakang, Mayra bisa mengetahui suaminya.
"Tunggu sebentar, Alice." Mayra pun dengan cepat berjalan ke arah luar, memastikan apa itu Adrian atau bukan. Namun, ketika sampai di luar, lelaki yang dianggap Adrian sudah tidak ada, karena memang Adrian sudah menaiki mobil.
Ya, yang Mayra lihat memang suaminya dan ketika Mayra masuk, Adrian keluar dari restoran tersebut hingga akhirnya mereka tidak bertemu. Sepertinya, nasib baik masih berpihak pada Adrian hingga Mayra tidak memergokinya.
"Mommy, ada apa?" tanya Alice ketika menyusul Mayra.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo masuk," ajak Mayra.
Alice mengangguk, mereka pun masuk kembali ke dalam restoran.
"Tidak, mana mungkin dia ada di sini," ucap Mayra. Entah kenapa, perasaan Mayra mendadak tidak tenang.
"Mommy, kau baik-baik saja?" tanya Alice ketika melihat Mayra melamun.
Mayra yang baru saja mendudukkan dirinya, langsung menoleh kemudian mengangguk. "Mommy baik-baik saja," ucapnya.
Setelah itu, Mayra pun langsung mengangkat tangannya kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah memesan makanan, Mayra terdiam. Dia masih terbayang lelaki tadi, lelaki yang dia lihat dari belakang sangat mirip dengan Adrian. Namun tak lama, MaSelama menunggu makanan, Mayra benar-benar tidak bisa melepaskan pikirannya. Sayangnya, dia tidak membawa ponselnya. Mungkin jika dia membawa ponselnya, dia akan langsung menelepon Adrian.
"Mommy yakin Mommy baik-baik saja?" tanya Alice yang masih melihat Mayra melamun, seperti memikirkan beban yang berat.
Mayra kembali tersadar kemudian mengangguk. "Mommy baik-baik saja," katanya.
"Alice," panggil Mayra.
"Apa sebelum Daddy dan Mommy menikah, Daddy sudah bekerja di rumah sakit Korea?" tanya Mayra.
Alice mengangguk. "Kami, 'kan, sebelum pindah ke Rusia tinggal di Korea," jawab.
"Benarkah kalian tinggal di Korea?" tanya Mayra yang masih penasaram.
"Kami tinggal di Korea selama beberapa tahun. Daddy pun juga bekerja di sana, di rumah sakit Korea," katanya.
Seketika, semua pikiran buruk tentang Adrian pun sirna begitu saja saat mendengar ucapan Alice. "Berarti, ada kemungkinan sekarang Daddy bekerja di rumah sakit yang lama?" tanya Mayra.
Helaan napas terlihat dari wajah cantik Mayra. Dia benar-benar merasa lega ketika mendengar ucapan dari putri tirinya. Setidaknya, dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena yang dia lihat bukan Adrian, mungkin hanya mirip saja.
Akhirnya, pesanan pun datang. Mayra dan Alice menikmati hidangan yang ternyata sangat lezat, hingga pada akhirnya acara makan pun selesai.
Alice dan Mayra pun langsung bangkit dari duduknya kemudian mereka pun meninggalkan restoran dan mulai naik ke kamar yang mereka pesan.
Saat membaringkan tubuhnya di ranjang, Mayra masih memikirkan tentang lelaki yang di restoran tadi. Walaupun dia sempat lega karena mendengar ucapan Alice tentang Adrian yang dari dulu tinggal di Korea dan bekerja di sana, tapi tetap saja dia masih merasa bahwa apa yang dia lihat adalah Adrian.
Mayra menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian dia memejamkan matanya, lalu berusaha terlelap. Wanita itu memutuskan untuk tidak memikirkan apapun.
***
Malam berganti pagi.
Alice dan Mayra sudah siap untuk pergi ke pameran di salah satu sekolah yang ada di kota tersebut. Seperti biasa, mereka pun langsung keluar dari kamar.
"Mommy, nanti tunggu saja. Jangan lelah-lelah, aku akan berkeliling bersama teman-temanku," kata Alice ketika mereka sudah berada di mobil hingga Mayra terkekeh kemudian mengangguk.
"Mommy akan menunggumu," jawab Mayra.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Alice dan Mayra sampai di sekolah tempat diselenggarakan pameran. Semua mobil berjajar. Pameran itu tampak penuh dengan siswa-siswa dan sebagian orang tua mereka, hingga Mayra dan Alice berjalan masuk.
"Alice, Mommy tunggu di sini. Kau pergilah," kata Mayra ketika Alice sudah didatangi oleh teman-temannya, hingga Alice pun mengangguk. Dia melambaikan tangannya pada Mayra, kemudian berbalik lalu setelah itu mereka pun pergi untuk melihat pameran. Sementara Mayra, tetap duduk di samping.
Setengah jam berlalu.
Karena bosan, Mayra pun bangkit dari duduknya. Dia berniat untuk melihat pameran. Saat berjalan, Mayra tersenyum ketika melihat barang-barang lucu dan unik. Dia membeli beberapa pernak-pernik untuknya.
Tidak terasa, Mayra sudah berkeliling selama satu jam, dan wanita itu memutuskan untuk kembali duduk di kursi, karena dia merasa perutnya keram. Ketika duduk, ternyata Alice sudah berada di tempat dia duduk. Sedari tadi, dia menunggu sang ibu.
"Alice," panggil Mayra.
"Mommy, aku mencari Mommy dari tadi. Tapi Mommy tidak ada," kata Alice.
Mayra mendudukkan diri di kursi. "Mommy membeli beberapa barang," kata Mayra.
Akhirnya, acara pertama di pameran itu pun selesai. Alice dan Mayra memutuskan untuk kembali ke hotel. Setelah berada di hotel, Mayra memutuskan untuk beristirahat, begitu pun dengan Alice.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Mayra terbangun dari tidurnya karena perutnya terasa nyeri. Dia mengelus perutnya karena terasa nyeri. Wanita cantik itu melihat ke arah samping, di mana Alice sedang tertidur.
Mayra bangkit dari berbaringnya kemudian langsung turun dari ranjang, lalu mengambil vitamin kemudian meminumnya. Namun, setelah meminum vitamin itu, perut Mayra masih terasa keram. Wanita cantik itu berusaha untuk tetap tenang agar keramnya tidak semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya, Mayra memutuskan untuk membangunkan Alice, mengajak Alice untuk pergi ke rumah sakit.
"Alice," panggil Mayra hingga Alice tersadar kemudian terbangun dari tidurnya.
"Iya, Mommy?" sahut Alice.
"Ayo temani Mommy ke rumah sakit. Perut Mommy sakit," kata Mayra hingga Alice pun mengangguk. Dia dengan cepat bangkit dari berbaringnya lalu setelah itu turun dari ranjang. Gadis itu sedikit panik ketika melihat Mayra meringis.
Setelah memakai pakaian, Alice langsung mengambil mantel untuk sang ibu lalu setelah itu membantu Mayra untuk memakai mantel. Setelah itu, mereka pun langsung keluar dari kamar hotel, meminta sopir yang mengantar mereka untuk mengantarkan ke rumah sakit terdekat.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di rumah sakit yang paling dekat dengan hotel yang mereka tempati.
__ADS_1
Mayra turun dari mobil dibantu Alice dan mereka pun masuk ke dalam, hingga pada akhirnya setelah cukup lama mengantre, Mayra mendapatkan ruang rawat dan pemeriksaan dari dokter. Ternyata, Mayra hanya kelelahan saja. Mungkin, Mayra meminta untuk dirawat dan akan pulang besok.
"Alice, maafkan Mommy karena Mommy seperti ini, kau jadi tidak bisa menikmati waktu pameranmu. Bagaimana jika kau besok pergi saja? Biar Mommy menunggu di sini," kata Mayra.
Alice menggeleng. "Tidak mau, aku ingin menemani Mommy saja," jawab Alice, dia memang ingin pergi ke pameran itu, tapi tentu saja dia tak bisa menemani Alice.
"Alice," panggilnya. Dia tidak mau Alice menunggunya, karena dia tahu Alice sangat menantikan pameran ini.
"Memangnya, Mommy tidak apa-apa aku tinggalkan?" tanya Alice.
"Tidak apa-apa. Besok setelah kau selesai, kau bisa pulang ke sini," kata Mayra hingga pada akhirnya Alice pasrah dan mengikuti keinginan sang ibu.
"Ya sudah kalau begitu, Mommy," jawab Alice karena Mayra sudah ditangani oleh dokter.
Mayra memutuskan untuk memejamkan matanya. Dia juga sudah memberitahukan kondisinya dan meminta Adrian untuk pulang, tapi sayang Adrian tidak bisa hingga pada akhirnya dia hanya bisa pasrah.
Dua hari kemudian.
Kondisi Mayra sudah pulih. Dia sudah diperbolehkan untuk pulang, begitu pun dengan Alice, di mana pameran memang sudah selesai hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dari kota yang mereka singgahi.
"Alice, kau duluan ke mobil, oke? Mommy harus mengurus sesuatu. Ada yang harus Mommy tanyakan pada Dokter," ucap Mayra ketika mereka keluar dari ruang rawat yang ditempati oleh Mayra, hingga Alice pun mengangguk. Dia berbalik kemudian berjalan terlebih dahulu, sedangkan Mayra langsung berjalan ke arah ruang dokter. Dia meminta dokter untuk meresepkan vitamin yang berbeda.
Saat Mayra akan berbalik, tiba-tiba Mayra menghentikan langkahnya. Dia memegang pinggiran tembok ketika melihat siapa yang ada di depannya, Adrian. Napas Mayra memburu. Jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya ketika melihat suaminya ada di depannya.
Tunggu, bukankah Adrian ada di Korea, lalu kenapa dia di sini?
Belum lagi Adrian memakai jubah dokter dan dengan tangan yang gemetar Mayra langsung merogoh tasnya kemudian dia mengambil ponsel, lalu setelah itu dia menelepon Adrian guna memastikan.
"Halo, Sayang?" sapa Adrian yang masih belum menyadari bahwa Mayra ada di belakangnya.
"Kau sedang apa?" tanya Mayra dengan suara yang sedikit gemetar.
"Aku sedang berada di rumah sakit, baru saja memeriksa pasienku," ucap Adrian.
"Kenapa?" tanya Adrian lagi.
"Tidak. Kau masih berada di Korea?" tanya Mayra.
Adrian mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Mayra. Kenapa Mayra bertanya hal seperti itu?
"Tentu, memangnya aku di mana lag ...." Tiba-Tiba Adrian menghentikan suaranya kala dia berbalik, dan melihat Mayra ada di depannya. Mata Adrian terbelalak saat melihat istrinya sedang melihat ke arahnya.
Seketika, Adrian ingin menenggelamkan dirinya ke dasar jurang yang paling dalam. Habislah dia karena semuanya terbongkar.
"Mayra," panggil Adrian. Dia langsung mematikan panggilannya, lalu setelah itu dia menghampiri Mayra yang sudah berlinang air mata. Jangan ditanyakan betapa sakitnya Mayra saat ini, yang pasti dia benar-benar hancur ketika menyadari bahwa selama ini Adrian berbohong.
"Mayra, aku bisa menjelaskan," ucap Adrian.
"Ayo kita bicara di mobil," ajak Mayra. Dia terlalu syok mengetahui kenyataan ini, hingga pada akhirnya Mayra pun langsung berbalik diikuti Adrian di belakangnya.
"Daddy? Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Alice ketika Adrian masuk ke dalam mobil. Alice semakin was-was ketika melihat Mayra menangis.
"Tolong antarkan kita pulang saja, jangan kembali ke hotel," ucap Mayra hingga sopir pun mengangguk.
"Kiita bicara dulu di hotel," kata Adrian.
"Tidak perlu, kita pulang saja," ucap Mayra hingga sopir pun mengangguk.
Selama perjalanan, tidak ada yang berbicara. Mayra dan Adrian sama-sama terdiam, begitu pun dengan Alice yang bingung dengan kondisi orang tuanya.
Setelah melewati perjalanan yang sangat jauh, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di kediaman Adrian. Mayra turun mendahului Adrian dan Alice. Rasanya, dia terlalu tertekan untuk melihat Adrian hingga pada akhirnya dia masuk mendahului keduanya.
Adrian dengan cepat berjalan menyusul Mayra. Namun ternyata, Mayra sudah pergi ke kamar hingga dia pun langsung menyusul istrinya.
"Mayra," panggil Adrian. Wajah Adrian sudah memucat ketika Mayra sudah duduk di sofa. Dia pun langsung berjalan ke arah istrinya.
"Mayra, dengarkan penjelasanku," pinta Adrian.
"Cukup, jangan bicara lagi," kata Mayra dengan suara yang pelan, "beri aku waktu selama satu minggu, setelah itu kita bicara. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku dulu. Jika kau mengikutiku, maka aku akan benar-benar membencimu."
Pada akhirnya, Mayra pun bangkit dari duduknya, kemudian dia memutuskan untuk langsung keluar dari kamar.
"Mommy," panggil Alice.
Mayra memeluk Alice. "Alice, Mommy mohon, berikan waktu satu minggu untuk Mommy menenangkan diri," kata Mayra yang meminta pengertian Alice.
"Mommy ingin meninggalkanku?" tanya Alice.
"Tidak ada yang meninggalkanmu. Mommy hanya ingin menyendiri. Semoga kau mengerti," jawab Mayra, dia menatap Alice dengan tatapan memohon.
Mendengar nada Mayra yang begitu pedih, Alice mengangguk hingga dia langsung menghapus air matanya. "Cepat kembali Mommy." kata Alice hingga Mayra pun langsung melanjutkan langkahnya dan Adrian langsung berlari untuk mencegah Mayra.
Adrian yang akan menyusul Mayra, langkahnya dihadang oleh alis. "Jangan menyusul Mommy!" teriak Alice pada Adrian. Sepertinya, Alice mengerti kenapa ibunya bisa sampai seperti ini.
"Aku benci Daddy. Awas saja jika Daddy menyusul Mommy!" teriaknya lagi. Setelah itu, Alice pun langsung berbalik kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ketakutan demi ketakutan membayangi Alice. Dia takut Mayra tidak kembali lagi. Dia takut sang ibu akan meninggalkannya.
***
Satu minggu kemudian.
Adrian turun dari mobil, kemudian dia berlari untuk masuk ke dalam mansion kedua mertuanya. Ini sudah satu minggu berlalu sejak Mayra pergi dari rumah dan selama satu minggu ini pula, Mayra tidak bisa dihubungi dan setelah satu minggu berlalu, Adrian memutuskan untuk menyusul.
"Untuk apa kau datang kemari? Apa kau belum puas menyakiti putriku?" Tiba-Tiba, terdengar suara Gabriel yang berjalan di belakang Adrian hingga Adrian menoleh.
"Daddy," sebutnya.
"Perlu kau ketahui, kau dan putriku tidak ada hubungan apapun lagi," tegas Gabriel.
Tiba-Tiba, tubuh Adrian diam mematung. Rupanya setelah pulang ke rumah, Mayra langsung menceritakan semuanya hingga Gabriel mengambil langkah tegas. Dia menggunakan segala cara agar status pernikahan Mayra dan Adrian berubah, dengan kata lain Mayra dan Adrian sudah bercerai.
"A-apa maksud Daddy?" tanya Adrian dengan wajah yang memucat.
"Maksud dari semuanya, jelas pergi dari sini. Jangan pernah datang lagi ke sini," ucap Gabriel.
Lalu setelah bercerai dari Adrian, Mayra langsung memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk menenangkan diri. Mungkin dia akan memberi kabar pada Alice jika sudah tenang.
***
Enam tahun kemudian.
Mayra terbangun dari tidurnya. Dia merasakan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Dia melihat ke arah samping, ternyata ada sebuah catatan di sana hingga Mayra pun langsung mengambil catatan tersebut.
__ADS_1
"Sayangku, aku mengajak Daren jalan-jalan mengelilingi pantai. Aku sudah menyiapkan makanan di bawah. Jangan lupa sarapan. Aku akan kembali setelah Daren puas bermain air," tulis Tommy di kertas itu.
Mayra tersenyum ketika membaca pesan suaminya, kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya. Mayra melamun, dia tersenyum ketika mengingat masa lalu