Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Peran Aghnia


__ADS_3

Roland melihat ke sana kemari, dia memastikan kondisi sudah aman dan beruntung tidak ada anak buah Gabriel yang berjaga di pintu samping, hingga dia, Aghnia serta beberapa anak buahnya yang ikut ke dalam bisa keluar dari rumah itu dengan bebas.


Setelah berada di luar, Roland langsung menelepon anak buahnya, hingga tak lama, mobil datang dan Roland pun langsung masuk ke dalam mobil disusul Aghnia dan orang-orang yang tadi ikut ke dalam.


“Berikan aku minum,” ucap Aghnia. Ketika sudah masuk kedalam mobil, rasa haus dan lapar benar-benar menderanya. Roland mengambil Tumblr yang ada di samping, kemudian dia memberikannya pada Aghnia. Lalu, dengan cepat Aghnia meminum itu.


Setelah selesai minum, Aghnia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Roland tidak datang, sudah dipastikan dia akan menjadi bulan-bulanan Gabriel.


“Terima kasih, Roland. Kau sudah menyelamatkanku," ucap Aghnia, dia langsung melihat ke arah Roland, untuk memastikan raut wajah lelaki itu.


Roland mengganggukkan kepalanya. Saat ini dia tidak memperlihatkan amarahnya. Padahal sekarang dia ingin sekali mengamuk, pada wanita di sampingnya ini. Tapi dia harus tetap menahan amarahnya sebelum dia sampai ke tempat tujuan.


“Kita akan pergi kemana, Tuan?” tanya supir.


“Bawa ke tempat biasa" jawab Roland, hingga Aghnia menoleh.


Entah kenapa tiba-tiba, firasatnya begitu buruk saat Roland menyebutkan kata ‘Tempat biasa.’ Seolah ada tempat yang tidak boleh dikunjungi oleh orang lain.


“Ro-roland, kita akan pergi kemana? A-aku ingin pulang, aku ingin beristirahat,” ucap Aghnia, dia bergidik saat mendengar raut wajah Roland.


Roland terkekeh. “Sebentar, aku ingin mengambil sesuatu dulu di sana, nanti aku akan mengantarkanmu,” jawab Roland tentu saja dia berbohong, karena dia akan memberikan pelajaran pada Aghnia, pelajaran yang tidak pernah Aghnia duga sebelumnya.


Sedangkan Aghnia tidak menjawab lagi ada ketakutan dalam diri wanita itu pada Roland, namun dia masih berusaha berpikir positif. Roland sudah menyelamatkannya dan Aghnia berpikir, tidak mungkin Roland menghukumnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aghnia sampai di sebuah. pergudangan yang sangat sepi bahkan cenderung tidak ada orang di sana.


“Ro-roland, untuk apa kita ke sini?” tanya Aghnia, dia langsung bertanya ketika melihat suasana yang tampak aneh.


“Aku hanya ingin mengambil sesuatu.” Lelaki itu pun turun dari mobil, sedangkan Aghnia masih berdiam di mobil, dia tidak berani untuk turun bahkan untuk bergerak pun rasanya dia juga sungguh takut.


“Ti-tidak mungkin kan dia akan melakukan hal sama seperti Tuan Gabriel.” Aghnia bertanya-tanya karena dia dibawa ke kawasan yang sepi seperti ini.


Tidak ada orang di sana lain dan hanya ada anak buah Roland saja. Jika tidak ada niat buruk, kenapa juga Roland mengantarkannya terlebih dahulu ke apartemen.


“Aghnia ayo turun!” ajak Roland yang kembali melongokan kepalanya ke dalam mobil, membuat Aghnia tersadar, lalu menoleh.


“A-apa,” jawab Aghnia dengan terbata. Wanita itu menelan saliva karena ketakutan dia juga tidak mengerti kenapa Roland mengajaknya turun.


"Kenapa kau mengajakku turun, Roland?" tanya Aghnia.


"Aku sedikit membutuhkan bantuanmu, ada data-data yang harus kau isi," ucap Roland. Aghnia menghela napas. Dia pun langsung turun dan mengikuti langkah pria itu.


Gelap.


Ketika membuka pintu, suasana begitu gelap dan pengap. Namun tak lama, lampu menyala, dan tak ada apapun selain tungku api. Tiba-Tiba, tubuh Aghnia terhuyung ke depan karena seseorang menendangnya, siapa lagi jika bukan Roland.


Roland menutup pintu kemudian langsung menghampiri Aghnia dan menekuk kakinya.

__ADS_1


"Argh!" Aghnia berteriak saat Roland menjambak rambutnya dengan keras. Lalu setelah itu, Roland tertawa.


"Kenapa? Kau pikir aku akan menyelamatkanmu, hah?!" teriak Roland membuat Agnia memejamkan mata. Sungguh, sekarang dia benar-benar menyesal telah terlibat dengan dua lelaki gila ini. Andai dia tidak gelap mata apalagi menerima tawaran itu, pasti masih bebas menghadapi hidupnya.


"Sudah kubilang, aku memberimu uang sangat banyak agar kau terus bersama dia, meracuni dia secara perlahan, tapi kau malah memberinya dosis tinggi dan mengembalikan dia pada orang tuanya!” teriak Roland. Dia menjambak rambut Aghnia semakin keras.


Aghnia sekuat tenaga berusaha melepaskan cakalan tangan Roland dari kepalanya. Namun, tentu saja tenaganya kalah jauh, hingga dia pun hanya bisa pasrah menerima apa yang terjadi. Sepertinya, dia juga dia benar-benar tidak bisa kemana pun.


"Seharusnya kau menjalankan tugasmu dengan benar. Seharusnya kau membiarkan lelaki itu mati perlahan di tanganmu, tapi kau malah mengembalikan dia pada keluarganya." Roland menjeda sejenak ucapannya dengan rahang mengeras. Dia menjambak rambut Aghnia dengan cara lebih keras dari sebelumnya, sedangkan wanita itu tampak pasrah, dia hanya bisa memejamkan mata menahan nyeri yang luar biasa.


Ternyata, Aghnia benar-benar keluar dari kandang singa, dan masuk ke dalam kandang buaya.


"Dudukkan dia di kursi," ucap Roland pada anak buahnya yang langsung menarik tubuh Aghnia kemudian mengikatnya di kursi. Penampilan wanita itu sungguh sangat memprihatinkan. Dia diberi pelajaran oleh kedua orang yang sangat kejam, tapi itu hanya permulaan. Masih ada hal lain yang akan Aghnia lalui, dan kini dia sungguh berharap malaikat maut segera datang untuk mencabut nyawanya, agar dia tidak merasakan sakit lagi.


"Seharusnya kau sadar konsekuensi apa yang akan kau terima ketika kau berani mengkhianatiku," ucap Roland. Aghnia tidak menjawab, dia lebih memilih untuk tak membuka mulut, sebab satu kata saja yang diucapkan, maka dia pasti akan kembali mendapat hal yang menyakitkan.


"Dan kau juga berani sekali, membawa beberapa data perusahaanku."


Karena faktanya, selain memerintahkan Aghnia untuk menjadi penghancur rumah tangga Selo dan Bianca, Roland juga memberikan tugas padanya sebagai pengawas di perusahaannya yang menjual senjata ilegal, organ-organ tubuh dan juga obat-obatan terlarang. Bukan tanpa alasan Roland menjadikan wanita itu sebagai bagian penting, karena dia melihat potensi dalam diri Aghnia.


Apalagi, selama beberapa tahun Aghnia menjalankan tugasnya dengan benar. Dia bahkan ikut mencarikan klien untuk perusahaan Roland. Dia juga menjadi salah satu eksekutor yang memerintahkan para algojo, untuk mengeksekusi orang yang akan dijual organ tubuhnya.


Lalu sekarang, ada beberapa data yang disimpan oleh Aghnia, termasuk tentang keuangan yang sangat besar. Itu sebabnya, Roland harus mengambil data-data serta keuntungan perusahaan yang jumlahnya tidak sedikit itu.


Saat berniat kabur kemarin, Aghnia sengaja tidak menyerahkan data terakhir pada Roland. Tentu saja untuk berjaga-jaga agar hidupnya tidak kekurangan, tapi ternyata dia malah tertangkap oleh lelaki itu.


"Bebaskan aku dulu dari sini, dan jangan pernah menemuiku lagi. Maka aku akan berikan semua," ucap Aghnia. Tidak apa-apa dia hidup kekurangan uang dan menyerahkan semuanya pada Roland, asalkan dia tidak menderita lagi. Setelah ini, dia akan melakukan apapun agar bisa keluar dari negerinya.


Roland tertawa. "Kau pikir kau bisa bernegosiasi denganku?" tanya Roland membuat Aghnia menggigit bibir. Tampaknya, Roland tidak akan bisa untuk dibujuk.


"Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan memberikan data-data itu," ucap Aghnia, "bisa saja jika aku bebas dari sini, aku akan melaporkannya semua pada polisi. Tentang perusahaan gelapmu, dan tentang berapa nyawa yang kau habiskan demi uang."


Roland naik pitam. Lelaki itu langsung bangkit dari duduknya kemudian menghajar Aghnia.


Sementara di tempat lain


Gabriel tertawa melihat adegan di depannya, di mana Roland dan Aghnia sedang berdebat tentang perusahaannya. Dia juga tertawa ketika melihat Roland menghajar Aghnia.


Gabriel tahu siapa lelaki yang berada di balik Aghnia, hanya saja saat akan mengeksekusi Roland, dia mendapat kabar bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh lelaki itu, dan dia juga mendapat kabar bahwa Roland selalu lolos dari jerat hukum.


Itu sebabnya, Gabriel tidak menangkap Roland terlebih dahulu dan memilih menggunakan Aghnia. Lalu saat wanita itu disekap, dia tahu Roland pasti merasa terancam. Tebakannya pun benar, bahwa pria itu akan datang menjemput Aghnia.


Tanpa Aghnia sadari, sejak dirinya tak sadarkan diri, tertempel sebuah chip kecil di kalungnya yang merupakan kamera tersembunyi, hingga sekarang Gabriel bisa mendengar dia dan melihat semuanya.


Lalu setelah menyaksikan adegan Aghnia dan Roland, dia juga mendengar pria itu berbicara dengan anak buahnya tentang apa yang dia sembunyikan, termasuk siapa yang berada di belakang Roland selama ini, menjadi alasan kenapa dia selalu lulus dari jerat hukum.


Lalu sekarang, benang merah sudah terurai. Gabriel akan memberikan Roland pada polisi, dan saat itu juga dia tidak akan pernah bebas seperti sebelum-sebelumnya, karena Gabriel sudah mengetahui kuncinya.

__ADS_1


Itulah yang diselidiki oleh Nick dan Selo, di mana mereka harus mendapatkan bukti-bukti agar bisa menjebloskan Roland ke dalam penjara, tapi mereka terlalu lambat hingga didahului oleh Gabriel.


Gabriel mematikan layar monitor, kemudian menoleh pada anak buahnya. "Biarkan saja dia dua hari di sana, biarkan dia menerima siksaan dari Roland," kata Gabriel yang diangguki oleh anak buahnya.


Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian lelaki paruh baya yang berkharisma itu langsung keluar dari rumah tersebut dan bersiap untuk pulang ke mansionnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Gabriel sampai di mansion. Lalu ternyata, di sana sudah ada Selo dan Nick yang sedang berbincang.


"Kau dari mana, Dad?" tanya Nick.


"Nick, kau membuatku geli," ucap Gabriel ketika Nick memanggilnya dengan sebutan itu, karena memang mereka seumuran.


"Hentikan saja pencarian tentang Roland," ucap Gabriel membuat Nick dan Selo menoleh.


"Maksudmu?" tanya Selo.


"Biar semuanya Daddy yang urus."


"Gabriel kau mendahuluiku?" tanya Nick yang merasa kalah dari Gabriel membuat pria itu berdecak.


"Kau ini polisi, seharusnya kau lebih tahu dari aku."


"Kau ini menyebalkan sekali," jawab Nick.


"Jadi, kau sudah mengetahui sesuatu tentang Roland, Dad?" tanya Selo.


"Kalian tunggu saja," jawabnya lagi. Setelah mengatakan itu, Gabriel pun bangkit dari kemudian untuk masuk ke dalam.


"Menyebalkan," kata Nick. Bukan hanya kali ini saja Nick gagal, sebab ayah mertuanya yang selalu mendahuluinya.


Bedanya, Nick selalu menggunakan cara yang rasional, sedangkan Gabriel selalu menggunakan cara yang brutal untuk mengetahui sesuatu.


***


Roland menatap Aghnia yang sedang terkapar dengan puas, setelah itu dia berbalik melihat ke arah anak buahnya. "Jangan sampai dia kabur," ucap Roland.


Setelah mengatakan itu, dia pun kemudian pergi meninggalkan gudang untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Besok, dia akan berusaha lebih gencar lagi untuk mendekati Bianca.


Roland kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasa puas langsung menyelimuti diri lelaki itu ketika sudah berhasil membawa Aghnia dari tangan Gabriel, setidaknya dia bisa tenang dan tidak usah mengkhawatirkan apapun, karena wanita itu tidak akan membuka mulut pada Gabriel.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Roland sampai di rumah mewahnya, hingga dia pun langsung turun. Dia menghela napas saat melihat mobil sang kakak ada di sana.


Beberapa hari ini, Roland sengaja menghindari Freed karena sepertinya pria itu sudah mencium apa yang dia lakukan, sebab tanpa sengaja kemarin Freed melihat sebuah berkas di meja kerjanya.


"Oh, kau di sini, Kak," ucap Roland.


"Bisa aku berbicara denganmu?" tanya Freed yang ingin memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Aku sedang lelah, nanti saja oke?" Roland berusaha menghindar. Lelaki itu pun bergegas berjalan ke arah lift, dan saat pria itu berbalik, Freed pun menyipitkan matanya saat melihat noda darah roda di lengan Roland yang tak lain adalah milik Aghnia.


__ADS_2