Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Menolak Tristan


__ADS_3

Beberapa saat saat berlalu, Dareen serta ketiga anak mereka sudah duduk di lantai dengan kueh yang berada di tengah-tengah, Alden terbangun dan dia pun mengikuti acara keluarganya. Sedari tadi, setelah melepaskan pelukannya dari Dareen dan setelah sadar bahwa Dareen nyata, Shelby tidak melepaskan genggaman tangannya dari suaminya. Bahkan dia menyingkirkan tangan Theresia yang ingin menggenggam tangan Dareen, sedangkan Deren juga menggenggam tangan Shelby dengan erat.


“Ayo, Sayang, tiup lilinnya.” ucap Dareen, hingga Shelby menggangguk, dia langsung membawa tangan Dareen, kemudian mengepalkannya


Tangannya lalu memejamkan matanya dan berdoa dan setelah itu Shelby langsung meniup lilin, hingga sedetik kemudian Shelby kembali berhambur memeluk suaminya.


Sepertinya tangis yang tadi dia keluarkan belum cukup, dan sekarang dia menumpahkan tangisannya lagi. Hingga Alden yang sedang berada di pangkuan Tristan langsung mengerutkan keningnya


“Kakak kenapa Mommy terus menangis. Apa Daddy orang jahat?” tanya Alden. Hingga Tristan langsung membekap mulut Alden, kemudian dia bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu dia mengajak Teresia keluar.


Ketika anak-anak sudah keluar, Dareen melepaskan pelukannya kemudian dia menghapus air mata istrinya, dan setelah itu Dereen bangkit kemudian dia menggendong tubuh Shelby lalu membaringkan tubuh Shelby di ranjang dan setelahnya dan juga ikut berbaring, hingga kini pasangan suami istri itu berbaring berhadap-hadapan.


Seketika tangis Shelby kembali pecah karena walau bagaimanapun, dia masih tidak percaya dengan ada di depannya.


"Darren, sebenarnya dari mana saja kau?" tanya Shelby.


Darren menghapus air mata. "Aku sangat merindukanmu," jawab Darren, alih-alih membalas pertanyaan Shelby, Darren malah mengatakan hal lain.


"Darren jawab aku, kamu dari mana?!" teriak Shelby sambil menangis dengan kencang membuat Darren tertawa, hingga pada akhirnya Darren langsung menceritakan semuanya yang terjadi tanpa terlewat sedikit pun, dari mulai dia pertama diculik sampai kemarin dia bebas.


Tiba-Tiba, tangis Shelby mengencang ketika mendengar semuanya. Dia menangis histeris kemudian memeluk Darren. Dia tidak menyangka Darren mengalami hal buruk ini. Ada kalanya Shelby berpikir bahwa Darren sudah mempunyai keluarga lain di luar sana, tapi ternyata pikirannya keliru, suaminya mengalami hal yang menyakitkan.


Satu jam kemudian.


"Sayang sudah, jangan terus menangis. Tanganku pegal," kata Darren.


Ini sudah satu jam berlalu Shelby menangis di pelukannya, dan selama satu jam itu pula Darren terus memeluk Shelby sambil mengelus punggung istrinya, dan lama-lama tangan Darren terasa kebas hingga Shelby langsung melepaskan pelukannya.


"Apa ada yang terluka di tubuhmu? Sudah pergi ke psikiater?" tanya Shelby bertubi-tubi.


"Sayang, sudah jangan menangis lagi. Aku merindukanmu. Kau mengerti, 'kan, maksudku?" tanya Darren, lelaki itu langsung menindih tubuh istrinya. Namun, dengan secepat kilat Shelby membalikkan tubuh Darren hingga sekarang dia yang berada di atas.


"Apa selama tidak ada aku, kau masih sering menonton film biru?" Tanya Dareen yang menggoda Shelby.


"Mana mungkin aku menonton film itu saat tidak ada kau," jawab Shelby.


Seketika Shelby pun menundukkan pandangannya kemudian wanita itu langsung mencium bibir suaminya dan akhirnya, mereka kembali memadu kasih. Kali ini pertempuran mereka benar-benar hebat keduanya melampiaskan kerinduan yang begitu menggebu-gebu hingga mereka baru selesai setelah beberapa jam berlalu dengan Shelby yang terkulai lemah di pelukan.


Malam berganti pagi.


Shelby terbangun dari tidurnya ketika merasakan sinar matahari masuk ke dalam, dan ternyata hari sudah sangat terang.


Shelby melihat ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Rupanya Darren sengaja tidak membangunkan Shelby, karena dia tahu Shelby kelelahan, sedangkan Darren tentu saja dia sama sekali tidak lelah.


Setelah mengumpulkan nyawanya, wanita cantik itu langsung turun dari ranjang kemudian dia memutuskan untuk mandi dan Shelby berjalan ke arah ruang tamu. DIA mencari keberadaan suami dan ketiga anaknya. Terdengar suara riuh dari arah kolam renang hingga Shelby berjalan ke arah kolam renang, dan ternyata benar saja Darren serta ketiga anak mereka sedang ada di sana. Darren sedang mengajari Alden berenang, sedangkan Theresia dan Tristan juga berada di kolam renang.


Darren yang melihat istrinya datang, langsung naik ke kolam renang. Dia membiarkan Alden berenang seorang diri, lalu setelah itu dia menghampiri istrinya.


"Mau ikut berenang?" tanya Darren.


"Jangan mendekat, aku baru saja mandi," ucap Shelby ketika Dareen akan memeluknya.


“Sayang, apa kau tidak lihat lehermu merah?” Goda Dareen membuat mata Shelby membulat.


Tak lama, Darren tertawa ketika melihat kepanikan istrinya karena ternyata Darren hanya mengerjai Shelby. Mana mungkin dia berani membuat tanda, apalagi anak-anaknya sudah dewas.


"Darren! Kau ini!" teriak Shelby ketika menyadari Dareen menggodanya.


Pada akhirnya, Darren menarik tangan Shelby lalu mengajak Shelby untuk turun, tentu saja wanita itu berteriak


Tommy yang sedang berada di atas balkon tersenyum ketika melihat keluarga putranya, akhirnya Darren bisa berkumpul kembali dengan mereka. Namun, kesenangan Tommy tidak berlangsung lama ketika dia mengingat Salsa. Keadaan keluarga Salsa sangat berbeda dengan Dareen sekarang, dan itu membuat Tommy hancur.


Putrinya sangat tertutup hingga Tommy tidak pernah mengetahui apa yang terjadi di kehidupan rumah tangga Salsa. Namun, itu meyakinkan Salsa sedang tidak baik-baik saja dengan bukti sekarang putrinya mulai menjauh. Ya, Salsa sekarang menjauh karena permasalahan dirinya sendiri dan apa yang dialami Salsa benar-benar lebih menyakitkan dari apapun. Bahkan untuk menceritakan apa yang dia rasakan pada keluarganya saja sungguh berat.


Lima bulan kemudian.


Tidak terasa ini sudah lima bulan semenjak Darren bertemu dengan keluarganya. Selama lima bulan ini Darren tidak pernah pergi kemana pun. Sepertinya, Darren masih merasa sedikit trauma hingga dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Tapi Hari ini Darren terpaksa pergi untuk menemui seseorang.


"Aku tidak bisa ikut?" tanya Shelby.


"Tidak, Sayang, kau tidak boleh ikut, apalagi kandunganmu baru trimester pertama dan dokter bilang kau harus bedrest," ucap Darren. Ya, akhirnya Shelby dikaruniai anak keempat.


"Memangnya kau ingin menemui siapa sampai kau tidak bisa mengajakku?" tanya Shelby.


“Dia adalah istri kepercayaanku yang sudah menjebakku dulu. Sayangku, akui hanya ingin meneruskan semuanya demi anak kita." Pada akhirnya, Darren tidak mau egois. Jiika dia membalas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang menyekapnya dulu dengan arogan atau membalas dengan hal yang sama, pasti akan ada dendam-dendam yang lain dan pasti itu akan berimbas pada anak-anaknya. Dia tidak ingin anak-anaknya mengalami apa yang dialami hanya karena dendam di masa lalu.

__ADS_1


"Tapi jangan lama-lama," kata Shelby, "ajak Tristan bersamamu.”


"Sayang. Aku ini bukan mau bermain. Tristan juga harus pergi kuliah," jawab Darren.


"Ya sudah," kata Shelby yang memberengut kesal.


Darren menggendong tubuh Shelby hingga Shelby langsung merangkul leher suaminya.


"Sudah jangan pergi kemana-mana, jika ingin apapun panggil pelayan," ucap Darren yang menyerahkan sebuah tombol kecil yang menghubungkannya ke dapur agar jika istrinya butuh sesuatu, pelayan bisa menghampiri ke kamar.


"Jangan lama-lama," ucap Shelby.


Darren membungkuk kemudian mencium kening istrinya, lalu setelah itu Darren keluar dari kamar dan sekarang di sinilah Darren berada, di sebuah restoran. Darren sengaja memesan restoran private untuk berbicara dengan istri dari lelaki yang telah mengkhianatinya.


.


"Tuan Darren," panggil Silvia. Wanita itu langsung menatap Darren dengan memohon, berharap Dareen akan membebaskan suaminya. Suaminya sudah ditahan sejak Darren ditemukan dan selama ditahan, Silvia tidak pernah tahu di mana kabar suaminya.


"Aku tidak bisa mengatakan apapun ataupun membantu apapun, hanya satu yang akan aku janjikan, kau dan anak-anakmu tidak akan pernah kekurangan materi," ucap Darren.


"Bisakah Anda beritahu di mana suamiku?" tanya Silvia, dia menatap Darren dengan tatapan memohon.


"Itu urusan ayahku dan harus kau dengar, ini karena ulah suamimu. Aku berpisah dengan keluargaku dan dengan istriku. Selama lima tahun aku terkurung. Jika aku berniat buruk, aku tidak akan menemuimu di sini. Mungkin aku juga akan membuatmu dan anak-anakmu sengsara, tapi aku tidak ingin ada dendam di kemudian hari. Maka, jangan pernah mencari tahu di mana suamimu. Nikmati saja hari-harimu karena semuanya sudah terjamin dan juga ingat satu hal aku bilang barusan, jangan terlalu mencarinya karena dia bebas pun dia belum tentu memikirkanmu.”


"Maksud Anda, Tuan?" tanya Silvia yang heran dengan ucapan Dareen.


"Dengan kata lain, suamimu mempunyai hubungan dengan sekretarisnya dan sekarang sekretarisnya sedang hamil. Jadi, gunakan alasan ini untuk kau tidak mencarinya lagi." Setelah mengatakan itu, Darren pun langsung bangkit kemudian lelaki tampan itu langsung keluar dari restoran. Hari ini dia berencana untuk menjemput Theresia.


***


Sekarang, di sinilah Darren berada, di depan kampus Theresia. Walaupun tidak pernah keluar dari rumah dan tidak pernah melakukan aktivitas di luar rumah, tapi Darren tidak pernah tidak untuk mengantar jemput putrinya. Sementara Tristan, seperti biasa, lelaki itu selalu pergi dengan motor besarnya. Tiba-Tiba, terdengar suara klakson dari arah belakang. Rupanya Tristan yang membunyikan klakson, sepertinya anak itu baru saja tiba.


"Kau baru datang?" tanyanya.


"Dad, bolehkah aku menginap nanti di rumah Nike?" tanya Tristan, jika meminta izin pada ibunya dia tidak akan diizinkan.


"Mommy sudah mengizinkan?" tanya Darren.


"Tidak," jawabnya.


"Ya sudah, kabari Daddy jika kau sudah berada di rumah Nike. Fotokan semua sudut rumah Nike agar dia yakin kau di sana," ucap Darren hingga Tristan mengangguk. Setelah itu, Tristan kembali menyalakan motornya. Walaupun Tristan seorang lelaki, tapi Darren tetap protektif pada putranya.


"Daddy sudah lama menunggu?" tanya Thresia dengan riang.


"Tidak, Daddy baru saja datang. Ayo pulang," ajak Darren lagi hingga Theresia mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam mobil.


***


Tristan berjalan ke arah koridor, lelaki itu memutuskan untuk menunggu di perpustakaan karena kelasnya satu jam lagi. Tiba-Tiba, Tristan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara isakan yang sangat dia kenal, siapa lagi jika bukan Bella, wanita yang dia sukai.


Perlahan, Tristan berjalan dan ternyata Bella sedang ada di tangga darurat dan ketika Bella bangkit, Tristan langsung bersembunyi di belakang pintu.


"Ekhem." Tiba-Tiba, Tristan berdeham menyadarkan Bella dari lamunannya.


Bella dengan cepat menghapus air matanya.


"Halo, Tristan," sapa Bella.


Tristan merogoh saku kemudian dia mengambil sapu tangan dan memberikannya pada Bella.


"Ini untuk menghapus air matamu.”


"Tidak, terima kasih," tolak Bella. Wanita itu pun langsung berbalik dan pergi.


Entah kenapa Tristan merasakan ada yang aneh. Wajah Bella terlihat sangat ketakutan dan akhirnya, kakinya membawanya untuk mengikuti Bella. Tristan mengerutkan keningnya ketika Bella masuk kedalam gudang, dan tak lama terdengar suara tamparan yang sangat kencang.


"Berani sekali kau tidak mengerjakan tugasku!" teriak Molly. Rupanya tadi saat menangis dia mendapatkan pesan dari Molly berupa ancaman karena Bella tidak mengerjakan tugasnya, dan setelah mengirim pesan, Molly menyuruh Bella untuk ke gudang dan sekarang setelah di gudang, Bella langsung menerima tamparan dari kakak tirinya.


Mata Tristan membulat saat mendengar tamparan dari Molly. Dia pun langsung menggebrak pintu gudang dan apa yang dilihat Tristan sangat menyesakkan di mana saat dia masuk, Molly memotong rambut Bella.


“Apa-apaan kau!” hardik Tristan. Molly langsung tergagap, dia langsung melemparkan gunting ke lantai.


“Ti-tidak, kami hanya sedang bertengkar saja,” Jawab Molly dengan gugup. Dia sedang mengincar Tristan untuk menjadi kekasihnya, apalagi Tristan adalah salah satu murid tertampan di kampus dan dia sudah sesumbar pada teman-temannya, bahwa dia akan mendapatkan Tristan, dan naasnya sekarang Tristan malah memergokinya sedang membuli Bella.


Merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Molly, Tristan langsung menarik lengan Bella untuk meninggalkan gudang. Saat sudah sedikit jauh, tiba-tiba Tristan langsung menarik tangannya, dari Tristan. Hingga Tristan menoleh.

__ADS_1


“Tolong jangan seperti ini,” ucap Bella membuat mata Tristan membulat, bagaimana mungkin kebaikannya ditolak. Padahal barusan dia menyelamatkan Bella.


“Harusnya kau berterima kasih, aku sudah menyelamatkanmu dari kakakmu,” jawab Tristan.


“Kau tidak tahu apa-apa,” balas Bella. “Aku mohon, untuk sekarang tolong jangan perduli padahal seperti ini, tolong abaikan Apa yang kau lihat.”


Mendengar itu, Tristan membulatkan matanya, dia tidak tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh wanita di depannya ini.


“Kenapa kau begitu bodoh? kenapa kau terus membiarkan dirimu ditindas. Apa kau tidak punya harga diri?” Tristan sedikit meninggikan suarany. Bella menggigit bibirnya ketika mendengar hinaan dari Tristan, walaupun sebenarnya Tristan tidak berniat menghina Bella, hanya saja Tristan gemas Karena Bella tidak mau melawan.


“Jawab aku! Kau akan terus seperti ini? Apa kau ingin orang lain menginjak harga dirimu?" Tristan berteriak di hadapan wanita itu, karena dia benar-benar gemas. Sedangkan Bella langsung mengangkat kepalanya dia menatap Tristan dengan mata yang membasah, membuat Tristan langsung terdiam.


“Maaf, aku tidak bermaksud ....”


”Tidak apa-apa, kau tidak tahu apa-apa tentangku. Jadi kumohon ini terakhir kalinya kau bersikap begini." Dan setelah mengatakan itu, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Bella, hingga wanita itu pun langsung berbalik dan menghapus air matanya. Membuat Tristan semakin merasa bersalah, dan dengan cepat Bella kembali berbalik. Lalu setelah itu kembali memasuki gudang. Jika dia tidak menuruti Molly, dia tidak akan tahu di mana keberadaan ayahnya.


mata Tristan membulat saat melihat bela kembali masuk ke dalam gudang. “Ah, terserah saja,” umapat Tristan, lelaki itu pun pergi dan masuk ke dalam kampus, walaupun khawatir pada Bella tapi karena perhatiannya sudah ditolak, hingga Tristan memutuskan untuk tidak perduli lagi.


***


Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam,.suasana ruang makan begitu hening. Daren dan Shelby saling tatap, hari ini mereka akan mengatakan bahwa Shelby sedang mengandung. Ya, karena memang Tristan dan Theresia belum mengetahui bahwa mereka akan memiliki adik.


Awalnya, Shelby tidak ingin memberitahukan pada Tristan antara Thresia. Sebab ketika Dareen kembali, Theresia dengan gamblang mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa dia tidak ingin memiliki adik lagi. Tapi sekarang, mereka malah kecolongan dan pada akhirnya setelah mengetahui Shelby hamil, mereka menundanya dan ini sudah sebulan berlalu, mau tak mau mereka harus memberitahukan yang sebenarnya.


Acara makan malam pun selesai, Dareen langsung menoleh ke arah kedua anaknya.


“Theresia .... Tristan!” panggil Dareen ketika anak-anaknya akan bangkit.


“Apa?” tanya Tristan. “Apa ada yang akan Mommy dan Daddy sampaikan?” tanyanya lagi.


“Hmm, mungkin n ini akan sedikit mengejutkan,” jawab Dareen. Theresia menatap sang ayah dengan lekat.


“Tunggu, apa kalian ingin mengumumkan bahwa Mommy sedang hamil?” tanya Theresia. Seketika Tristan yang sedang minum tersedak, hingga mengenai wajah Theresia yang sedang berada di depannya.


“Iuh, Tristan kau ini jorok sekali!" teriak Theresia dia langsung mengambil tisu lalu mengelap wajahnya.


“Maaf-maaf,” jawab Tristan.


“Seperti yang kalian duga, bahwa Mommy kalian memang sedang hamil.” Tristan dan Thresia terdiaam, dan tak lama Theresia langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalnya meja makan.


Khawatiran therasia tetap sama, dia takut ayahnya tidak memperhatikannya lagi. Ini sama seperti dulu, ketika Shelby mengandung Alden. Mungkin, Theresia bersikap seperti itu karena dulu dia pernah merasakan bagaimana dinginnya sikap Dareen hingga sekarang ketakutan itu tetap ada. Mungkin inilah yang disebut trauma yang belum sembuh, di mana Theresia belum berdamai dengan dirinya sendiri


Helaan nafas gusar terlihat dari wajah cantik Shelby, ketika melihat Theresia seperti itu, kemudian Dareen menggenggam tangan Selby.


“Tidak apa-apa biar aku yang menjelaskan pada Theresia.”


Sedangkan Tristan, dia masih berpikir bijak apalagi di anak lelaki yang tidak memperdulikan hal semacam ini.


“Selamat mom," jawab Tristan.


“Kau tidak marah seperti Theresia?" Tanya Daren.


”Tidak, untuk apa juga aku marah." etelah itu, Tristan pun bangkit dari duduknya, kemudian dia lebih memilih untuk pergi.


***


Dareen berdiri di depan kamar Theresia, beberapa kali Dia mengetuk pintu tapi Thersia tidak membuka pintu, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk memakai kunci cadangan, dan ketika masuk ternyata Theresia sedang melamun. hingga lelaki itu pun langsung mendudukkan diri di sebelah putrinya.


“Kau masih ketakutan?” tanya Dareen sambil mengelus rambut Theresia, hingga Thresia menunduk kemudian mengangguk.


“Apa aku egois?” tanya Thresia. Seketika Dareen membawa Theresia ke dalam pelukannya.


“Daddy mengerti kenapa kau seperti ini, tidak kau tidak egois. Itu manusiawi. Tapi, Daddy tidak akan pernah berubah, Daddy akan tetap menjadi lelaki yang paling menyayangimu, dan Daddy akan selalu menjadi lelaki yang menjagamu. Satu persen pun kasih sayang Daddy tidak akan pernah berkurang.” Dan ketika mendengar itu, Theresia membalas pelukan ayahnya.


“Sekarang kau tidak boleh marah pada Mommy oke," ucap Dareen sambil melepaskan pelukannya.


Hingga Theresia mengangguk.


“Tapi, jangan melahirkan anak perempuan.”


Dareen tertawa saat mendengar itu. “Thresia, mana bisa mengatur itu, mau wanita ataupun lelaki itu sama saja.”


“Tidak boleh, Mommy harus melahirkan anak laki-laki, jika lahir anak perempuan, bisa-bisa dia menyaingi kecantikanku.”Dareen tertawa saat mendengar ucapan Thresia. Rasa sedih yang barusan dia rasakan berubah menjadi suasana yang lucu.


***

__ADS_1


Tristan keluar dari rumah. Dia memutuskan untuk mencari angin malam dengan motornya dan ketika akan mengisi bensin, tiba-tiba Tristan menghentikan laju motornya, ketika dia melihat Bella ada seberang, yang membuat Tristan bingung Bella seperti sedang mencari sesuatu belum lagi ini sudah sangat larut.


Namun tak lama, Tristan teringat tentang penolakan Bella tadi siang, hingga Tristan mengurungkan niatnya untuk menghampiri bela namun saat dia akan melajukan kembali motornya, tiba-tiba Tristan kembali lagi melihat ke arah seberang di mana Bella sedang ....


__ADS_2