
Mendengar ucapan Dareen, Shelby kembali mendudukkan dirinya dan setelah itu Dareen langsung memeluk istrinya, sebenarnya ini hanya bagian dari modus. Dia sudah lama sekali ingin memeluk Shelby dan sekarang dia mempunyai kesempatan yang pas untuk memeluk istrinya.
“Ini pasti berat untukmu," kata Shelby sambil mengelus punggung Darren.
"Hmm, Ini berat untukku," jawabnya, dia semakin mengeratkan pelukannya membuat Shelby kesulitan untuk bernapas, tapi wanita itu sama sekali tidak melepaskan pelukan Darren. Dia terus mengelus punggung suaminya.
Lima belas menit berlalu.
Shelby merasa pelukan Darren semakin erat, hingga Shelby langsung mendorong paksa tubuh suaminya.
"Darren, aku tidak bisa bernapas," kata Shelby ketika pelukan Darren tidak kunjung terlepas, padahal dia sudah mendorong tubuh Darren dengan kencang.
Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tampak salah tingkah ketika Shelby mengatakan itu, hingga dia pun langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf Shelby, aku terlalu bersedih," jawab Darren, seperti biasa raut wajahnya terlihat sangat meyakinkan bahwa dia sedang bersedih, padahal dia hanya ingin menarik simpati dari istrinya.
"Kau sudah makan?" tanya Shelby.
"Belum, aku belum makan," kata Darren, "aku tidak selera."
"Mau aku buatkan makanan?" tanya Shelby lagi.
"Hm, jika kau tidak lelah," jawabnya.
Shelby pun bangkit dari duduknya kemudian wanita itu langsung kembali ke kamar untuk mengganti pakaian, hingga sepuluh menit kemudian, Shelby keluar dari kamar lalu berjalan ke arah dapur, sedangkan Darren mengikuti di belakangnya.
"Kenapa kau ikut ke sini?" tanya Shelby ketika Darren sudah berada di dapur.
"Aku ingin melihatmu memasak," jawabnya.
"Tidak usah. Duduk di sana," titah Shelby.
"Ya sudah kalau begitu." Darren pun langsung berbalik kemudian lelaki tampan itu memutuskan untuk menunggu di sofa, hingga setengah jam berlalu, Shelby datang sambil membawa nampan berisi pasta kesukaan Darren.
"Ini terlihat sangat lezat," kata Darren, dia mengambil piring dari nampan sedangkan Shelby, langsung mendudukkan diri di sebelah Darren.
"Kau sudah makan?" tanya Darren pada Shelby, hingga Shelby mengangguk.
“Hmm sudah, aku sudah makan malam dengan Mario," jawabnya.
Seketika, mood Darren kembali memburuk. Nafsu makan yang dia alami barusan, mendadak hilang sebab mendengar Mario dan Shelby makan malam. Shelby menoleh ke arah Darren ketika tidak ada pergerakan dari lelaki itu.
"Darren," panggil Shelby ketika Darren terdiam.
Darren mengunyah spaghetti di piringnya dengan tidak semangat, membuat Shelby mengerutkan keningnya. Tiba-Tiba, Shelby teringat dengan perkataan Mario yang mengatakan bahwa Dareen mempunyai perasaan padanya, hingga Shelby menegakkan tubuhnya. Dia berdeham.
__ADS_1
"Darren," panggil Shelby lagi.
"Apa?" tanya Darren, nada suaranya sudah mulai berubah menjadi kesal.
"Apa kau cemburu karena aku makan dengan Mario?" tanya Shelby.
"Cih, untuk apa juga aku cemburu," kata Daren yang mulai kesal. Dia sebenarnya ingin mengakui, tapi entah kenapa dia mendadak hilang selera hingga dia mencibir ucapan Shelby membuat Shelby mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Oh baguslah jika kau tidak cemburu,", katanya lagi mata Darren membulat saat mendengar ucapan Shelby. Dia pikir Shelby akan bertanya lagi, tapi ternyata tidak.
Lelaki itu pun langsung menoleh ke arah Shelby kemudian dia mengangkat satu kakinya, hingga kini dia dan Shelby dalam posisi berhadap-hadapan.
"Memangnya jika aku cemburu, kenapa?" tanya Darren.
Shelby mengangkat bahunya. "Itu, 'kan, hakmu. Tapi tunggu, kenapa kau cemburu?" Shelby memancing Daren untuk berbicara. Entah kenapa dia berharap Darren memang seperti apa yang dikatakan oleh Mario.
"Aku cemburu karena ... ah, sudahlah lupakan." Darren lebih memilih berbalik, dan kembali menatap ke depan, dia tidak ingin mengungkapkan perasaannya sekarang, karena perasaan sudah pasti ditolak hingga Darren pun langsung melanjutkan acara makannya.
Sementara Shelby, berdecak. Entah kenapa dia kesal ketika mendengar Darren berucap seperti itu. "Ya sudah kalau begitu, lanjutkan makanmu. Aku pergi ke kamar, aku ingin istirahat," kata Shelby, nadanya sedikit kesal.
"Kenapa kau terdengar kesal?" tanya Dareen.
Shelby tidak menjawab, dia lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya
"Cih, dasar wanita memang aneh," kata Dareen. "Tapi tunggu, apakah dia kesal karena aku tidak mengungkapkan perasaanku?" Darren berbicara seorang diri."Ah tidak, itu hanya khayalanku saja.”
Setelah masuk ke kamar, Shelby memegang jantungnya yang terasa berdetak dua kali lebih cepat. Entah kenapa pembicaraan Darren barusan membuatnya kesal, tapi juga membuat jantungnya berdebar.
"Mommy, Mommy kenapa?" tanya Theresia kepada Shelby. Dia mengerutkan keningnya ketika sang ibu tampan aneh.
"Tidak, mommy tidak kenapa-napa," jawabnya.
"Apa jantung Mommy berdebar karena Daddy?" tanya Thersia, dia sudah hampir remaja, tentu saja dia bisa menebak perasaan ibunya.
"Hus, kau ini," dusta Shelby. Dia pun memutuskan untuk pergi ke meja kerjanya, membuat Theresia yang sedang belajar menggeleng.
Setengah jam kemudian.
Theresia keluar dari kamar, dia mencari sang ayah dan ternyata ayahnya sedang berada di sofa.
"Daddy," panggil Theresia.
Darren menoleh kemudian dia langsung merentangkan tangannya, dan Theresia pun langsung mendudukkan diri di sebelah Darren kemudian menyandarkan tubuhnya ke bahu ayahnya.
Darren menggenggam tangan Theresia, kemudian mengecupnya. Ketika dekat dengan putrinya, Darren masih merasa ini ajaib. Dia tidak pernah menyangka setelah tiga tahun berjuang, Theresia luluh dan datang padanya.
__ADS_1
"Daddy," panggil Theresia lagi.
"Kenapa, hm? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Darren.
"Daddy, tabku sudah jelek," jawabnya.
Darren tersenyum. Saat itu, saat dia berjuang untuk mendapatkan maaf Theresia, dia selalu menawari Theresia barang-barang ataupun apa yang dibutuhkan Theresia, tapi Theresia menolak. Namun sekarang, Theresia meminta padanya. Tentu saja dia merasa senang.
Darren melihat jam di pergelangan tangannya. "Sekarang sudah malam, bagaimana jika besok?" usulnya.
"Tapi besok aku tidak mau sekolah, aku malu," kata Theresia.
Darren mengangguk. "Tidak usah. Daddy juga tidak akan pergi ke kantor. Setelah kita membeli laptop, kita bermain basket. Bagaimana?" tanya Darren.
Theresia mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu. Kau istirahat bersama Mommy. Daddy juga ingin istirahat," titah Darren.
Theresia mengangguk.
Sementara di sisi lain, Mia tertawa ketika melihat surat kabar yang beredar. Dia juga sedari tadi terus melihat artikel-artikel. Semua komentar menghujat Darren dan juga mencela keluarga Tommy.
Selama ini keluarga Tommy dikenal keluarga yang sempurna. Sekarang, karena ada kasusnya Darren, nama keluarga Tommy menjadi buruk. Belum lagi, Tommy juga terjun di dalam dunia politik dan itu berimbas pada partai yang diusung oleh keluarga Tommy dan itu membuat Mia puas.
Ketika Mia tertawa, seseorang masuk ke dalam kamarnya membuat Mia menoleh. Lelaki itu adalah Rush. Sepertinya, Rush baru saja pulang dari temannya.
"Kau tampak senang, Baby?" tanya Rush, lelaki itu membuka mantelnya kemudian dia berjalan ke arah ranjang, lalu setelah itu dia naik ke ranjang dan langsung mengecup bibirnya
"Oh, aku senang, akhirnya aku bisa melihat keluarga mereka hancur," kata Mia.
Rush langsung membuka selimutnya. Dia berdecak kagum saat ternyata Mia hanya memakai gaun tidur dan setelah itu, Rush pun langsung menyerang tubuh wanita itu hingga mereka pun larut dalam apa yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Mia mungkin sekarang masih berada di atas awan, dia mendapatkan dukungan dari Rush. Finansialnya juga terbantu dari Rush, dan Rush menjanjikan akan memberikan Mia keluarga yang utuh karena memang Rush berjanji akan menikahiny
Namun sayangnya, ada yang Mia tidak tahu, Rush sama sekali tidak berniat untuk menikahi wanita itu, dia hanya ingin bermain-main dengan tubuh Mia dan setelah rencananya selesai, dia akan meninggalkan Mia dan kembali ke Amerika.
Napas Rush dan napas Mia masih terengah-engah. Kedua insan itu baru saja menyelesaikan apa yang barusan mereka mulai. Mia membaringkan tubuhnya di dada Rush, sedangkan Rush langsung mengelus rambut Mia.
"Kapan kita akan memulai rencana kita?" tanya Mia.
Rush tampak berpikir. "Sepertinya beberapa hari lagi, aku ingin semuanya matang dan setelah Darren menandatangani semuanya, maka kita akan pergi. Tak lupa, kita juga akan menghancurkan perusahaannya," ucap Rush dengan percaya dirinya, karena dia yakin kali ini tidak akan gagal.
Mia menganggukan kepalanya.
"Apa kita nanti akan tinggal di sana dan tidak akan kembali lagi ke sini?" tanya Mia.
__ADS_1
Rush mengangguk. "Of course, kita akan hidup di sana berbahagia dengan anak kita," jawab Rush hingga Mia semakin mengeratkan pelukannya.
'Dasar bodoh, mau saja aku manfaatkan,' kata Rush lagi yang membatin dalam hatinya, mengutuk kebodohan Mia.