
"Kenapa kau datang kemari?" tanya Tommy akhirnya, memulai pembicaraan hingga Adrian mengangkat kepalanya, menatap ke arah Tommy.
"Aku tidak ingin mendengar apa yang terjadi padamu," jawab Tommy lagi saat Adrian sepertinya akan membeberkan apa yang terjadi setelah Mayra pergi, dan tebakannya memang benar. Adrian memang ingin mengatakan itu.
"Aku ingin bertemu dengan anakku," kata Adrian, dia tampak ragu mengatakannnya.
Tommy menatap Adrian dengan tatapan mengejek. "Anakmu?" ulang Tommy.
"Yang mana anakmu? Yang barusan digendong oleh Mayra itu anakku," kata Tommy lagi.
"Kumohon berikan aku waktu sebentar saja untuk melihatnya. Tidak akan lama, hanya lima menit, setelah itu aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Adrian dengan meyakinkan.
Tommy menggeleng. "Tidak, aku tidak akan membiarkan anakku dilihat olehmu. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi da—"
Prang!
Tiba-Tiba terdengar suara gaduh dari arah dalam, hingga Tommy membulatkan matanya. Lelaki itu pun dengan cepat bangkit dari duduknya, kemudian berlari ke dalam. Dia takut terjadi sesuatu dengan Mayra, saat masuk mata Tommy membulat saat Mayra tampak kacau, bahkan kening Mayra berdarah.
Rupanya, saat masuk ke dalam Mayra langsung menaruh bayinya di ranjang. Tiba-Tiba, kenangan buruk itu menyergap otak Mayra. Rasa sakit yang dialami karena ulah Adrian, kembali lagi menubruk Mayra hingga rasanya Mayra tidak sanggup lagi untuk menahan semua yang dia rasa, dan pada akhirnya Mayra memukul-mukulkan kepalanya ke dinding lalu setelah itu dia langsung menggulingkan sebuah vas.
Mungkin, kemarin-kemarin Mayra bisa menahannya, terlebih lagi dia sudah bahagia bersama Tommy dan terlebih lagi dia sudah mencintai Tommy. Namun, ketika barusan melihat Adrian, semua kenangan buruk hadir kembali, ditambah lagi Mayra baru saja melahirkan, tentu saja rentan terkena baby blues dan sepertinya sekarang Mayra memang sedang terkena baby blues karena melihat Adrian, yaitu sumber lukanya.
__ADS_1
Tommy langsung berlari ke arah Mayra kemudian lelaki itu langsung memeluk istrinya. "Sayang, Sayang, tenang. Kumohon tenang," ucap Tommy. Dia mengelus punggung Mayra begitu erat.
"Usir dia! Usir!" teriak Mayra dengan keras, "jangan biarkan dia menyentuh anakku! Jangan biarkan dia melihat anakku!"
Selain karena rasa sakit yang kembali membayangi, Mayra juga merasa tidak rela anaknya dilihat oleh Adrian, itu sebabnya sekarang Mayra berteriak dengan kencang.
"Iya, tidak akan ada yang melihat anak kita. Dia tidak akan melihat anak kita." Tommy langsung melepaskan pelukannya kemudian dia membopong tubuh Mayra, lalu setelah itu langsung membawa Mayra ke dalam kamar.
Adrian hanya bisa terdiam saat melihat adegan di depannya, di mana Mayra mengamuk dan berteriak. Dia juga melihat bagaimana cara Tommy menenangkan mantan istrinya dan pada akhirnya, Adrian memutuskan untuk berbalik. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah Mayra. Entah apa langkah yang dilakukan ke depan, entah dia ingin tetap melihat anaknya atau kembali pulang ke Rusia, yang pasti saat ini dia benar-benar harus pergi daripada membuat kegaduhan lagi.
"Usir dia, usir!" titah Mayra ketika Tommy sudah membaringkan tubuh Mayra di ranjang.
Mayra pun bangkit dari berbaringnya kemudian dia meloncat ke arah Salsa, lalu mengambil Salsa dengan gerakan yang cukup keras membuat mata Tommy membulat.
Tommy dengan cepat menghampiri istrinya karena Salsa menangis keras. Tentu saja karena Mayra memeluknya begitu erat.
"Sayang, Sayang, tenang. Berikan padaku," kata Tommy. Dia berusaha membujuk Mayra, hingga akhirnya Mayra memberikan Salsa pada gendongan Tommy.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Tommy di Landa kepanikan karena Mayra tidak mau keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, ayo buka!" Tommy terus berteriak. Dia panik, karena sudah satu jam Mayra tidak mau keluar.
Setelah tadi mengamuk, rupanya Mayra kembali tersadar. Dia tidak menyesal telah mengamuk dan berteriak di hadapan Adrian, tapi yang dia sesalkan adalah dia membuat Salsa menangis dengan memeluk Salsa begitu erat.
Seketika, Mayra merasa dia tidak pantas menjadi ibu. Sepertinya, goncangan yang diberikan Adrian benar-benar membekas, hingga Mayra yang tadinya baik-baik saja langsung mengalami baby blues ketika melihat lelaki itu.
Karena Mayra tidak menjawab, Tommy pun langsung mendobrak pintu hingga pada akhirnya pintu terbuka.
"Sayang!" teriak Tommy ketika Mayra duduk di lantai dengan air dari keran yang menyala. Tommy pun dengan cepat langsung membopong tubuh Mayra, lalu membawa Mayra keluar.
Setelah membawa Mayra keluar, Tommy dengan cepat memakaikan pakaian pada istrinya, dan kemudian membopong istrinya untuk duduk di sofa. Tommy berlutut di hadapan Mayra. "Sayang, kenapa kamu melakukan itu? Tolong jangan menyiksa dirimu," kata Tommy.
"Aku bukan ibu yang baik," jawab Mayra sambil menangis sesegukan.
"Sayang, kenapa kau berkata seperti itu. Kau ibu yang baik.”
"Aku membuat Salsa menangis," lirih Mayra.
"Tidak, kau Ibu yang baik. Kau hanya terlalu menyayangi Salsa.”
Tommy pun berusaha meyakinkan Mayra agar Mayra tidak terus seperti ini, hingga pada akhirnya Mayra tertidur dan Tommy pun langsung memindahkan Mayra ke ranjang. Setelah memindahkan Mayra ke ranjang, Tommy langsung mengutak-atik ponselnya kemudian menelepon Adrian.
__ADS_1