
“Tidak apa-apa, Bianca.” Roland terus mengatakan hal yang sama seraya mengelus punggung Bianca yang sedari tadi terus menangis dipelukannya. Elusan tangan Roland begitu membuat Bianca nyaman, Bianca seperti mempunyai pelindung, padahal ini pertama kalinya Roland memeluknya.
Tapi di sisi lain, dia merasa malu pada lelaki ini, lelaki yang selalu dia sia-siakan dan malah memilih lelaki seperti Sello. 10 menit kemudian, Bianca melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air matanya.
“Maafkan aku Roland. Kemejamu menjadi basah karena air mataku,” ucap Bianca.
Roland bangkit dari duduknya kemudian ia langsung membuka kemejanya, hingga kini Roland hanya memakai kaos hitam. Saat Roland membukaaa kemejanyaaa, Bianca menoleh.
Di tengah rasa sedihnya, Bianca terpana saat Roland hanya memakai kaos hitam, ketampanan Roland meningkat berkali-kali lipat Seketika ku Bianca tersadar, kemudian ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kau lapar?” tanya Roland saat mendengar suara perut Bianca berbunyi.
“Hanya sedikit,” jawab Bianca dengan malu-malu. Tiba-tiba, Bianca terpikirkan sesuatu.
“Roland, sejak kapan kau di sini?” tanya Bianca.
“Aku sudah 7 jam menunggumu, Bianca.”
“Hah!" Bianca membulatkan matanya saat mendengar ucapan Roland, berarti selama dia tertidur, selama itu pula Roland menunggunya.
“Kenapa kau harus menungguku selama itu?” tanya Bianca.
“Hanya ingin saja,” jawabnya.
“Roland kau ....” Tiba-tiba ucapan Bianca terputus saat perutnya berbunyi, hingga Bianca menggigit bibirnya membuat Roland tertawa.
“Tunggu sebentar, aku akan membelikan makanan untukmu!” Roland bangkit dari duduknya, kemudian ia berbalik. Saat Roland berbalik, wajah Bianca menjadi sendu apalagi saat ia melihat punggung Roland.
__ADS_1
Saat Bianca melamun, ponsel di samping Bianca berdering. Satu panggilan masuk ke dalam ponselnya, hingga Bianca langsung meraih ponsel yang ada di sebelahnya. Terlihat nama Sello terpampang di layar, membuat Bianca berdecih.
Saat Bianca akan menaruh ponselnya dan enggan mengangkat panggilan dari suaminya. Tiba-tiba Bianca mengurungkan niatnya, ia mendadak ingin mendengar yang akan diucapkan Sello, setelah semua terbongkar.
“Ada apa?” tanya Bianca setelah mengangkat panggilannya. Sello terdiam di seberang sana.
“Bianca kau di mana?” terdengar nada suara malu-malu dari seberang sana, membuat Bianca berdecak kesal.
“Kenapa?” tanya Bianca.
“Aku ingin berbicara denganmu. Bisa kita bertemu?” tanya Sello lagi membuat Bianca ingin sekali tertawa.
“Kita bertemu di pengadilan!” Setelah itu, Bianca memutus panggilannya, kemudian ia menaruh ponselnya. Bianca menyandarkan tubuhnya ke belakang, wajahnya kembali meredup saat rasa sakit kembali menghantamnya. Mungkin ia hanya melupakan kesedihannya selama beberapa menit saat barusan ada Roland di sampingnya. Tapi saat ia sendiri rasa sakit itu kembali datang dan membuatnya sesak.
•••
Sello mengusap wajah kasar kala Bianca menutup panggilannya. Bahkan, Bianca mengatakan soal perceraian. Sebenarnya Sello tidak perduli dengan apapun yang dilakukan
Entah mereka bercerai atau tidak, yang ia perdulikan adalah bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan kembali apa yang selama ini dia pakai, dan hanya satu caranya yaitu Bianca memaafkannya, dan mereka tetap melanjutkan pernikaha.Tapi barusan, Bianca mengatakan soal perceraian. Tentu saja itu membuat Sello sedikit frustasi.
Selo turun dari taksi,.kemudian ia membayar taksi yang ia tumpangi. Lalu setelah itu, ia masuk ke dalam sebuah rumah, rumah yang tidak terlalu besar. Namun juga tidak bisa disebut kecil, Ia membuka pintu, kemudian ia langsung masuk Lalu setelah itu mendudukkan dirinya.
Pandangannya menatap seluruh arah. Rumah ini, adalah rumah pribadinya yang tidak diketahui oleh siapapun, Ia memiliki beberapa koleksi mobil walaupun tidak semewah mobil yang selama ini ia pakai, Ia juga memiliki beberapa aset namun tetap saja ia khawatir aset yang ia miliki tidak akan bertahan lama, apalagi jika sang ayah mengetahuinya.
Bisnis yang Sello jalani pun bukan bisnis bersih, Ia mempunyai binis dan menjual senjataaa ilegal di mana selama ini, Ayahnya selalu mati-matian menentangnya untuk terjun ke dunia hitam.
Sello melihat jam di pergelangan tangannya Ia yang baru saja mendudukkan diri di sofa kembali bangkit. Lalu setelah itu, ia langsung pergi ke kamar untuk mengambil kunci mobil miliknya dan ia pun berjalan ke bagasi dan menaiki mobil miiknya, ia berencana untuk pulang dan menemui Agnia di apartemennya yang ada di luar kota.
__ADS_1
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai Sello sampai di basement apartemen Agnia, ia melihat ke samping di mana ada beberapa paper bag di sampingnya, ia sengaja membelikan makanan kesukaan Agnia.
Sello turun dari mobil, sambil membawa paper bag yang ia bawa untuk Agnia. Lalu setelah itu berjalan ke arah lift untuk naik ke unit apartemen Agnia.
Sello membuka pintu apartemen Agnia. Sepi tidak ada siapapun di apartemen kekasihnya membuat Sello mengerutkan keningnya. Sello membuka sepatunya, kemudian ia masuk ke dalam. Sello mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, Agnia tidak ada di manapun.
Ia memang tidak menelepon Agnia bahwa dia akan pulang ke apartemen, hingga Agnia tidak menyiapkan apapun untuk menyambut kedatangan Sello. Sello merogoh sakunya, kemudian ia langsung mencari-cari nomor kekasihnya.
“Agnia kau di mana?” tanya Sello, terdengar suara riak dari seberang sana membuat Selo mengerutkan keningnya.
“ Aku sedang berbelanja bersama temanku, Sello. Ada apa?” tanya Agnia
“ Oh aku sedang berada di apartemen, cepatlah pulan.”
“Baiklah ... baiklah, aku akan pulang!” terdengar Agnia begitu panik. Namun Sello tidak memikirkan apapun, Ia hanya berpikir bahwa Agnia benar-benar berbelanja. Padahal Tentu saja tidak.
20 menit berselang, akhirnya pintu terbuka Sello yang sedang duduk di sofa langsung menegakkan tubuhnya, sosok Agnia masuk membuat Sello mengembangkan senyumnya.
“Sello, maafkan aku. Aku tidak tahu kau datang,x jawab Agnia yang mendudukan diri di sebelah Sello. Bukannya menjawab ucapan Agnia, Selo malah melihat tangan Agnia yang tidak membawa apapun.
Bukankah kekasihnya baru saja berbelanja. Tapi kenapa sekarang kekasihnya tidak membawa apapun ke apartemen.
“Aghnia, mana belanjaanmu. Bukankah kau baru saja berbelanja?” tanya Sello, Aghnia terkekeh, wajahnya tampak panik. Namun sepersekian detik, ia bisa menormalkan ekspresinya.
“Aku hanya menemani temanku berbelanja, aku tidak membeli apa pun.”
“ Kenapa?” tanya Sello
__ADS_1
“Aku takut keuanganmu memburuk. Aku takut kau terkena hukuman dari ayahmu. Jadi aku memutuskan untuk berhemat sementara waktu.” Sello mengembangkan senyumnya saat mendengar ucapan Agnia, tentu saja Aghnia berbohong. Mana peduli dia jika Sello miskin. Karena sekarang sudah ada yang menjamin kehidupannya selain Sello.
Dan sebagai imbalannya, Agnia hanya harus terus membuat Selo terkesan dan membuat Selo terus bersamanya. Ia tidak boleh membuat Sello pergi darinya, agar uang yang di dapat berkali-kali lipat