Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Dinginya sikap Mayra


__ADS_3

Adrian memutar otak. Bagaimana caranya dia menolak permintaan putrinya dengan halus. Walaupun dia barusan berkata menyetujui ucapan Alice untuk menikah dengan Mayra, tapi tentu saja tidak semudah itu. Bagaimana mungkin dia datang ke hadapan Mayra, meminta Mayra menjadi istrinya?


Sebenarnya, Adrian mungkin mau saja melakukan itu demi Alice, tapi yang jadi masalah di sini, bagaimana caranya dia berbicara pada Mayra? Tidak mungkin, 'kan, dia datang tiba-tiba lalu minta Mayra menjadi istrinya hanya demi Alice?


Adrian mengusap wajah kasar. Ini benar-benar membuatnya gila, hingga tak lama Adrian mengutak-atik ponselnya kemudian dia mencari nomor Mayra. Sial, dia juga sudah menghapus nomor wanita itu hingga pada akhirnya Adrian menelepon Sayra untuk meminta nomor Mayra.


Setelah ponsel beberapa kali berdering, hingga akhirnya Sayra mengangkat panggilannya.


"Halo Dokter Adrian?" panggil Sayra di seberang sana.


"Nona Sayra, apa aku boleh meminta nomor Mayra?" tanyanya.


"Mayra?" ulang Sayra. Dia terdiam di seberang sana, hingga Adrian berdeham lalu mengiyakan bahwa dia meminta nomor Mayra.


"Baiklah, aku akan mengirimkannya lewat pesan," kata Sayra lagi.


Setelah itu, Adrian langsung mematikan panggilannya. Lelaki itu mengusap wajah kasar kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Sepertinya, dia harus sedikit berpura-pura untuk mendekati Mayra. Mustahil jika dia mengatakan bahwa dia menikahi Mayra karena Alice.


Tak lama, ponsel Adrian berdering. Satu pesan masuk dari Sayra yang mengirimkan nomor Mayra, hingga Adrian pun langsung menelepon nomor wanita itu. Rasanya, Adrian begitu malas menelepon Mayra. Dia juga malas untuk berbasa-basi, tapi apa boleh buat?


Setelah berdering tiga kali, Mayra mengangkat panggilannya.


"Halo, dengan siapa ini?" tanya Mayra.


Tubuh Adrian diam mematung saat mendengar ucapan Mayra. Tunggu, apa Mayra sudah menghapus nomor ponselnya? Sebab, jika Mayra belum menghapus nomor ponselnya, Mayra tentu akan mengenali dia.


Adrian menggeleng, bukan saatnya memikirkan itu hingga pada akhirnya dia berdeham.


"Halo," ucap Adrian.


Mayra terdiam di seberang sana, hingga pada akhirnya Mayra teringat siapa pemilik suara yang sedang meneleponnya.


"Dokter Adrian," panggil Mayra di seberang sana, karena memang Mayra sudah menghapus nomor Adrian, sebab dia tidak ingin ada sangkut pautnya lagi dengan lelaki itu, tapi dia tidak menyangka bahwa Adrian akan meneleponnya lagi.


"Iya, ini aku," ucap Adrian.


"Ada apa, Dok?" tanya Mayra. Lagi-Lagi, Adrian terpaku saat mendengar suara Mayra yang tidak seperti biasanya. Saat kemarin-kemarin Mayra selalu berbicara dengan antusias, tapi sekarang berubah.


"Mayra, apa bisa kita bertemu?" tanya Adrian.


Mayra terdiam di seberang sana. "Maaf dokter, aku sedang berada di luar negeri. Mungkin aku akan pulang satu bulan lagi," ucap Mayra membuat Adrian menghela napas.


"Baiklah, memangnya kamu sedang di mana?" tanya Adrian.


"Aku sedang di Brazil," kata Mayra.


"Oh baiklah. Apa tidak masalah jika aku menemuimu di sana?" tanya Adrian.


Mayra terdiam. Dia tidak menjawab. "Dokter Adrian, maaf aku ada meeting sebentar lagi," ucapnya.


Mayra memutuskan untuk mematikan panggilannya, karena dia merasa pembahasan dengan Adrian semakin membuatnya nyeri. Mati-matian dia melupakan lelaki itu, tapi tanpa tahu malu Adrian datang kembali ke hadapannya, bahkan ingin bertemu dengannya.


Mayra tidak akan pernah membiarkan hatinya terluka, hingga dia langsung memutuskan panggilan membuat Adrian mengusap wajah kasar. Sepertinya dia harus menyusul Mayra ke sana, demi bisa mendapatkan hati wanita itu. Tidak apa-apa Adrian berpura-pura mencintai Mayra, yang terpenting Alice bahagia.


Mayra menyimpan ponselnya di lantai. Dia yang sedang duduk di bawah kembali menatap ke depan. Sebenarnya, Mayra tidak berada di luar negeri, dia masih berada di Rusia. Dia hanya mengatakan itu karena tidak ingin ada sangkut-pautnya lagi dengan Adrian.

__ADS_1


Sudah dua bulan ini Mayra berusaha melupakan lelaki itu, dia berusaha melupakan semuanya dengan mengasingkan diri agar tidak terus mengingat lagi itu, tapi barusan Adrian yang menghancurkan pertahanannya, hingga sekarang rasanya ingin sekali menangis. Mungkin terkesan berlebihan cara Mayra menanggapi Adrian, tapi Mayra adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta, dan ketika dia mencintai seorang lelaki, dia begitu sulit untuk melupakannya. Begitu pun dengan Adrian saat ini.


***


"Oh Selo, ayolah. Aku harus bangun. Aku harus menyiapkan makanan untukmu. Kau harus pergi ke kantor," kata Bianca ketika Selo terus memeluknya.


Setelah salat subuh, mereka memutuskan untuk kembali tertidur dan dari tadi, Selo tidak henti-hentinya mengelus perut istrinya.


"No, no, kau tidak boleh pergi ke mana-mana. Anakku harus selalu dekat denganku," ucap Selo.


"Jadi anakmu saja? Aku tidak boleh dekat denganmu?" tanya Bianca membuat Selo terkekeh.


"Ya anak dan ibunya juga harus selalu dalam jangkauanku," jawab Selo. Tangannya terus mengelus perut Bianca.


"Tapi kau harus pergi ke kantor. Kau ini, bagaimana jika Daddy Gabriel memecatmu dan menggantikanmu dengan orang lain?" tanya Bianca.


Selo terkekeh lagi. "Biarkan saja aku jadi pengangguran, lebih mengasikkan bersama denganmu dan calon anak kita," ucapnya.


"Selo, bagaimana jika Daddy mengambil jabatanmu? Aku sudah tidak bekerja menjadi dokter. Biaya anak mahal, biaya rumah sakit, belum lagi lain-lain seperti pada umumnya." Bianca menggurui hal yang tidak pasti membuat Selo tertawa.


"Aku dipecat pun keluargamu masih kaya, bukan?" tanya Selo membuat Bianca yang sedang membelakangi Selo berbalik.


"Mulutmu! Aku tidak mau menyusahkan mereka. Aku ini tanggung jawabmu," ucapnya.


"Iya, aku mengerti. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku menelantarkan kalian, Sayangku. Pekerjaanku bisa dilanjutkan di mana saja, jadi kau tidak usah khawatir," jawab Selo.


"Oke, tapi kenapa kau tidak bekerja saja sana? Aku ingin menikmati waktuku sendiri menjadi ibu rumah tangga, menunggumu, membuatkanmu bekal, menunggumu pulang dan lain-lain," kata Bianca.


"Tidak mau, aku ingin bersamamu pokoknya," jawab Selo membuat Bianca menghela napas lelah menasihati suaminya, hingga pada akhirnya dia pun tidak lagi berbicara.


"Selo," panggil Bianca.


"Sayangku, kau boleh memakai apapun yang kau mau. Dompet, semua pun aku serahkan padamu, bahkan jika kau tidak ingin aku bermain ponsel, aku tidak akan memainkannya," ucap Selo.


"Kenapa kau ini pasrah sekali, sih?" tanya Bianca.


"Kenapa Mommymu sensitif sekali, sih, Nak?" tanya Selo, seolah berbicara dengan calon anaknya membuat Bianca berdecih.


***


Sembilan bulan kemudian.


Tidak terasa ini sudah sembilan bulan berlalu, dan akhirnya detik-detik menegangkan bagi Selo dan Bianca pun akan segera tiba, di mana hari ini Bianca akan melakukan persalinan secara normal.


Gabriel sengaja mengosongkan satu lantai rumah sakit untuk menantunya dan untuk keluarganya, karena sekarang semua menunggu di rumah sakit menantikan kelahiran anak Selo dan Bianca.


"Sayang, apa kau ingin minum? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Selo ketika Bianca terus memegang tangannya dengan erat. Terlihat jelas bahwa Bianca begitu kesakitan.


Selo sudah menyarankan agar Bianca dioperasi sesar, tapi Bianca tidak mau. Dia memilih untuk melakukan persalinan secara normal.


"Tidak mau, kemarikan rambutmu," kata Bianca. Dia melepaskan genggaman tangannya hingga Selo langsung mendekat. Tiba-Tiba Selo berteriak ketika Bianca menjambak rambutnya.


"Harusnya kau yang merasakan sakit ini, bukan aku. Kau yang membuat aku seperti ini, jadi seharusnya kau yang menanggung sakit ini!” teriak Bianca, padahal beberapa detik lalu Bianca tampak tenang walaupun dalam kesakitan, tapi anehnya kali ini wanita itu malah berteriak memaki suaminya hingga suster yang ada di sana menahan tawa. Tak cukup sampai di sana, selain menjambak rambut Selo, Bianca juga tiba-tiba menarik pakaian Selo dan akibat tarikan yang kencang, pakaian Selo sobek tapi Selo sama sekali tidak protes. Dia membiarkan Bianca melakukan apapun pada tubuhnya, hingga pada akhirnya detik-detik yang menegangkan untuk Bianca pun tiba, di mana sekarang bukaan Bianca sudah bukaan sepuluh, dan artinya Bianca sudah siap mengeluarkan anak mereka.


Setelah berjuang dengan perjuangan yang luar biasa, akhirnya terdengar suara bayi dan bersamaan itu pula, Bianca yang sedang menggenggam tangan Selo luruh. Dia mencium kening Bianca dengan tangis yang mengencang, dan tak lama tiba-tiba Selo terjatuh ke lantai. Dia tidak sadarkan diri ketika melihat anaknya diangkat oleh dokter.

__ADS_1


Anak yang Bianca lahirkan adalah berjenis kelamin perempuan, dan jauh-jauh hari keduanya sudah menyiapkan nama untuk putri mereka yang akan mereka beri nama Fatimah.


Semua orang bersukacita dengan kelahiran Fatimah. Mereka rasanya tidak sabar untuk melihat cucu mereka. Semua keluarga Gabriel dan keluarga Maria hadir di rumah sakit untuk menyaksikan dan melihat cucu mereka, tapi sayangnya bayi Selo dan Bianca masih belum bisa ditemui.


Mayra keluar dari rumah sakit. Dia yang sedari tadi berada di sana, memutuskan untuk keluar mencari makanan, apalagi dia belum makan malam. Tak lama, Mayra berhenti untuk memilih restoran mana yang akan dia datangi, karena di depan rumah sakit ada beberapa restoran yang berjejer.


Tak lama, pilihan Mayra jatuh pada restoran Jepang. Dia pun langsung menyeberang kemudian masuk ke dalam restoran tersebut, lalu memesan. Berencana memakan di tempat dan setelah memesan, Mayra masuk ke dalam VIP room dan tinggal menunggu pesanan.


Tak lama, ponsel Mayra berdering. Satu panggilan masuk dari Adrian membuat Mayra menghela napas. Selama sembilan bulan ini pula, Adrian tidak pernah berhenti mendekatinya dan entah kenapa Mayra sama sekali tidak tersentuh.


Sepertinya, Mayra sudah terlalu dikecewakan hingga dia tidak ingin menaruh harapan pada siapapun, termasuk pada lelaki yang dia cintai. Jika dulu Mayra akan senang ada yang bersikap seperti ini, tapi sekarang berbeda. Dia malah merasa asing dengan perhatian Adrian, karena entah kenapa, Mayra merasakan bahwa dia akan merasa lebih sakit bersama lelaki yang dia cintai atau dia juga sudah menjalani hidupnya, begitulah pikir Mayra.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya makanan pesanan Mayra pun sampai. Dia langsung memilih makanan yang ada di depannya, hingga akhirnya acara makan pun selesai.


Mayra berdiam diri sejenak sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, karena dia belum mendapatkan jatah untuk bertemu keponakannya, Mayra memutuskan untuk menginap. Sepuluh menit berlalu, Mayra pun bangkit dari duduknya kemudian dia keluar dari VIP room yang ditempati, lalu setelah itu dia berjalan ke arah kasir.


Saat akan membayar, tiba-tiba Mayra memejamkan matanya. Sial, dia malah mengambil dompet yang hanya khusus diisi dengan ponsel, sedangkan dompet yang berisi uang dia tinggalkan di tas yang ada di rumah sakit.


"Bisa aku membayar lewat aplikasi mobile banking?" tanya Mayra.


Kasir menggeleng. "Maaf, kami hanya melayani cash dan juga pembayaran melalui debit," jawab kasir tersebut.


"Pakai ini saja." Tiba-Tiba terdengar suara dari arah belakang. Suara lelaki yang Mayra sangat hindari, yang Mayra tidak ingin dengar, siapa lagi jika bukan suara Adrian.


Rupanya tadi saat Mayra keluar dari rumah sakit, kebetulan Adrian juga keluar dari rumah sakit hingga lelaki itu mengikuti Mayra. Ini sudah sembilan bulan berlalu, sebenarnya dia muak melakukan ini, mendekati Mayra terus-menerus. Namun, ini semua demi Alice. Kondisi Alice sudah sangat pulih, tapi Alice kerap menanyakan tentang hubungannya dengan Mayra.


Jika dia menolak, wajah Alice akan langsung meredup, dan terlebih lagi semenjak dia menjanjikan bahwa dia akan menikah dengan Mayra, Alice terlihat berseri-seri. Gadis kecil itu jarang sekali mengalami sakit, sepertinya janji sang ayah yang akan menikah dengan Mayra membuat Alice benar-benar bahagia, hingga gadis itu tidak pernah drop lagi.


"Adrian," panggil Mayra ketika Adrian ada di belakangnya.


Adrian hanya tersenyum kemudian dia memberikan kartu debit pada kasir, lalu setelah membayar Adrian kembali mengambil kartunya dan menoleh ke arah Mayra.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucap Adrian. Jantung Mayra berdetak dua kali lebih cepat saat melihat lelaki ini. Sial, walau bagaimanapun dia mencoba menjauh, tapi ketika melihat Adrian di depannya, jantung Mayra seperti akan keluar dari rongga dadanya.


"Aku sedang menunggu Bianca melahirkan," kata Mayra.


Adrian menganggukkan kepalanya. "Aku tahu. Ya sudah ayo," jawabnya.


Adrian memberikan jalan untuk Mayra, hingga Mayra pun langsung berjalan meninggalkan restoran tersebut disusul Adrian di belakangnya.


"Adrian, terima kasih sudah mentraktiriu makan," kata Mayra saat mereka sudah sampai di depan rumah sakit.


Adrian terkekeh. "Sama-Sama," jawabnya.


"Ya sudah kalau begitu aku permisi," pamit Mayra.


"Mayra," panggil Adrian ketika Mayra akan berbalik.


"Besok, kau ada waktu?" tanya Adrian lagi.


Mayra berpikir, dia menatap Adrian dengan lekat. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Mayra.


"Besok aku ingin mengajakmu keluar dan berbicara. Aku harap kau tidak keberatan," jawabnya.


Rasanya, Mayra terbang ke atas awan. Walaupun dia mencoba menjauh dari Adrian, tapi ketika Adrian menawarkan ingin keluar dengannya tentu saja Mayra merasa dia melayang, karena untuk pertama kalinya selama mereka berteman, inilah pertama kalinya Adrian mengajaknya untuk pergi berdua bersama.

__ADS_1


"Bagaimana, apa kau mau?" tanya Adrian. Mayra tampak terdiam, tapi tak lama Mayra teringat sesuatu.


"Dokter Adrian, maaf. Bukan maksud aku menolak, tapi besok aku ada pekerjaan. Mungkin lain kali saja. Kalau begitu, permisi," ucap Mayra. Tadinya Mayra memang ingin menerima ajakan dari Adrian, tapi sepersekian detik, Mayra kembali fokus pada tujuannya yaitu melupakan Adrian, walaupun Adrian sudah berubah baik padanya, begitulah pikir Mayra.


__ADS_2