Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
mengejar


__ADS_3

"To-Tommy." Mayra memanggil Tommy dengan terbata. sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu lelaki itu, sebab saat dia menikah dengan Adrian, Tommy pergi ke luar negeri.


Jantung Tommy berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat Mayra di depannya, wanita yang masih dia cintai sampai saat ini. Dulu, dia pergi karena dia ingin melupakan Mayra, apalagi Mayra sudah dimiliki oleh lelaki lain, dan dia tidak menyangka kep diulangannya hari ini malah bertemu dengan wanita itu, wanita yang sangat dia hindari.


"Mayra," panggil Tommy.


Mayra tersenyum. Dia tak berani menatap Tommy dengan waktu yang lama, sebab dia terlalu malu menatap lelaki itu, karena dulu dia terang-terangan menolak Tommy dan lebih memilih dengan Adrian. Namun sekarang, Adrian malah seperti ini padanya.


"Oh, kau sedang di Rusia," ucap Mayra yang memberanikan diri bertanya.


Tommy pun mengangguk. "Kau ingin menikmati secangkir susu?" tanya Tommy.


Mayra tersenyum getir, bahkan Tommy mengingat semua tentangnya, di mana Mayra hanya datang ke kafe untuk menikmati secangkir susu.


"Iya," jawab Mayra.


"Kau akan pergi?" tanya Mayra lagi.


"Tidak, jika kau ingin aku temani, aku akan menemanimu," jawab Tommy.


Lagi-lagi hati Mayra merasa aneh ketika mendengar tawaran Tommy. Adrian saja tidak pernah menemaninya.


"Mayra," panggil Tommy, menyadarkan Mayra dari lamunannya hingga Mayra mengangguk.


"Jika kau tidak keberatan," jawab Mayra.


Tommy kembali berbalik diikuti Mayra di belakangnya, dan mereka pun memilih meja yang ada di pojok. "Bagaimana kabarmu, Mayra? Kau baik-baik saja?" tanya Tommy.


Mayra menggeleng. "Tidak, aku sedang tidak baik-baik saja," jawab Mayra. Namun tak lama, dia tersadar, "maksudku, aku baik-baik saja."


Tommy menyipitkan matanya saat melihat Mayra yang salah bicara. "Kau pasti sedang tidak baik-baik saja, 'kan?"


Mendengar pernyataan itu, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Mayra. Pertanyaan yang sangat sederhana, tapi tidak pernah ada yang menanyakan padanya.


"Aku sedang tidak baik-baik saja," jawab Mayra, dia menunduk.


Tommy menyodorkan air minum yang ada di meja tersebut pada Mayra, tentu saja setelah dia membuka botol minum tersebut. Lagi-Lagi, perlakuan Tommy membuat hati Mayra hancur. Ternyata, lebih indah dicintai daripada mencintai.


Tak lama, pesanan mereka pun sampai. Tommy langsung menyimpan pesanan Mayra ke depannya, begitu pula dia yang menyimpan pesanan dirinya sendiri.


"Jika kau mau bercerita, kau bisa bercerita padaku, Mayra," ucap Tommy.


Bolehkah Tommy berharap bahwa Mayra menyerah dengan Adrian? Setelah itu, dia akan maju. Tidak peduli bahwa Mayra pernah menikah dengan laki-laki lain, begitulah pikir Tommy.


"Lain kali, aku akan menceritakannya," jawab Mayra. Dia tersenyum, tapi senyumnya dibalik luka hingga Tommy mengangguk, tidak lagi memaksa Mayra untuk berbicara.


Sepanjang berada di kafe, Mayra lebih banyak menunduk, sedangkan Tommy terus menatap Mayra dengan tatapan yang berbinar, seolah dia merindukan wanita ini hingga pada akhirnya ponsel Tommy berdering. Satu panggilan masuk dari sang ayah.


"Dad? Oh, baiklah, aku akan ke sana sekarang," ucap Tommy.


"Maira," panggil Tommy.


"Pergilah, Tommy. Aku tidak apa-apa sendiri," ucap Mayra.


"Tidak, aku tak jadi pergi sekarang. Aku akan menemanimu sampai kau keluar dari sini," jawab Tommy, memutuskan untuk menunda kepergiannya, sebab dia masih ingin dengan Mayra hingga Mayra terkekeh. Dia tidak ingin merepotkan Tommy, hingga pada akhirnya dia bangkit dari duduknya kemudian mengajak Tommy keluar.


"Kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi, Mayra. Aku di Rusia cukup lama," ucap Tommy. Tadinya, dia hanya pergi ke Rusia untuk sebentar, tapi entah kenapa ketika mendengar hubungan Mayra dan suaminya tidak baik-baik saja, Tommy memutuskan untuk menunggu lebih lama. Siapa tahu Mayra kembali menjadi miliknya begitulah pikir Tommy.


Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Tommy, Mayra dan Tommy pun masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Tommy akan pergi ke suatu tempat, begitu pun dengan Mayra yang akan pergi ke rumah kedua orang tuanya.


***


"Mayra, mana suamimu? Mommy melihat di Instagram Alice, suamimu sudah datang dari Korea," ucap Amelia ketika Mayra masuk ke dalam rumah.


"Ah, dia sedang menghabiskan waktunya dengan Alice. Tadi aku diajak, tapi aku ingin pergi kemari," ucap Mayra, tentu saja dia berbohong.


"Mayra, kau baik-baik saja?" tanya Amelia. Feeling-nya mengatakan bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja. Dia yang melahirkan Mayra, dia tahu raut wajah putrinya. Setelah menikah, Mayra jarang sekali pulang ke mansion. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah suaminya, dan Amelia bisa merasakan perubahan jelas di diri Mayra.


Mayra terkekeh. "Mommy, memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja. Jika tidak percaya, Mommy telepon saja suamiku," ucap Mayra, berharap sang ibu percaya ucapannya.


"Ya sudah ayo masuk," kata Amelia. Dia merangkul pundak Mayra, kemudian mereka pun berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


***


"Daddy, apa Daddy akan segera pergi ke Korea?" tanya Alice ketika mereka berada di mobil. Mereka baru saja berolahraga di taman, dan sekarang mereka menuju pulang ke rumah.


Adrian yang sedang menyetir, menoleh kemudian terkekeh. "Besok Daddy pergi," jawabnya.


"Kenapa secepat itu, Daddy? Daddy hanya di sini tiga hari. Apa Daddy tidak lelah pulang pergi Korea-Rusia?" tanya Alice dengan polosnya, tanpa tahu bahwa Adrian masih berada di Rusia.


"Daddy banyak sekali pekerjaan. Kau, 'kan, tahu Daddy sekarang sedang sibuk," jawabnya.


"Dad, apa kau tidak pernah mengirim pesan pada Mommy Mayra?" Alice tiba-tiba bertanya membuat Adrian tersedak.


"Memangnya kenapa?" tanya balik Adrian.


Gadis lima belas tahun itu menatap sang ayah dengan lekat. Dia bukan lagi anak-anak, dia mengerti situasi di mana Mayra sering bertanya padanya tentang Adrian yang meneleponnya atau tidak. Ketika dia menjawab sang ayah menelepon, raut wajah Mayra selalu berubah dan Alice menyadari itu.


"Memangnya kenapa?" tanya Adrian lagi.


"Tidak, aku hanya bertanya saja. Apa benar Daddy tidak pernah mengirim pesan pada Mommy Mayra?" tanya Alice memastikan.


"Sering, Daddy sering mengirim pesan padanya," jawab Adrian. Tentu saja dia berbohong, sebab jika dia jujur Alice akan mengajukan pertanyaan yang lebih berat.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Adrian sampai di rumahnya. Adrian dan Alice pun turun, mereka pun berjalan ke dalam.


"Mommy, Mommy," panggil Alice, seperti biasa dia langsung mencari Mayra.


"Bibi Pamela, apa Bibi melihat Mommy-ku?" tanya Alice.


"Oh, Nona Mayra tadi pergi keluar. Dia mengatakan akan pergi ke rumah orang tuanya," jawab Pamela.


"Mayra pergi?" Tiba-Tiba terdengar suara Adrian dari arah belakang, hingga Pamela mengangguk.


"Iya, Tuan," sahutnya.


"Oh ya sudah Daddy, ayo kita menyusul Mommy Mayra," ucap Alice. Adrian menghela napas.


"Daddy lelah, kita susul saja nanti sore. Oke?" usul Adrian.


Biasanya, ada Mayra di kamar itu, tapi Mayra sekarang tidak ada di sana dan entah kenapa, Adrian bisa menghela napas. Setidaknya, dia tidak harus melihat wanita itu. Tanpa Adrian sadari, mungkin nanti dia yang akan mencari-cari Mayra.


Adrian berganti pakaian kemudian lelaki itu membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu setelah itu mengutak-atik ponselnya dan tak lama, satu panggilan masuk ke dalam ponsel Adrian. Terpampang nama Mayra di sana, hingga pada akhirnya Adrian mengangkatnya dengan helaan napas yang berat, karena dia takut Mayra meminta menjemputnya.


"Halo, May?" sapa Adrian.


Mayra terdiam di seberang sana. "Kau sudah pulang?" jawab Mayra.


"Aku sudah pulang," jawabnya.


Mayra terdiam lagi, berharap Adrian menanyakan keberadaannya, tapi sepertinya sia-sia. Adrian seperti tidak tertarik untuk berbicara dengannya, hingga pada akhirnya Mayra berkata.


"Oh, tolong sampaikan pada Alice hari ini aku ingin menginap di rumah Mommy dan Daddy, aku akan pulang besok," ucap Mayra. Dia langsung to the point.


"Mayra," panggil Adrian.


"Iya, aku tahu kau harus berangkat ke Korea. Hati-Hati di jalan, sampai jumpa," ucap Mayra, langsung menutup panggilannya membuat Adrian merasa aneh. Biasanya, Mayra akan selalu menahannya jika dia pulang ke Korea. Mayra akan selalu memintanya menemani ke tempat lain sebelum Adrian pergi, walaupun Adrian tidak pernah menggubris keinginan Mayra. Namun sekarang?


Adrian menggelengkan kepalanya. Bukankah itu bagus?


Adrian pun langsung membaringkan tubuhnya di ranjang untuk tertidur.


***


Mayra menatap ke depan. Mata wanita itu berkaca-kaca. Ekspektasinya hari kemarin dia bisa meniup lilin ulang tahun pernikahannya dengan Adrian, dia berharap Adrian memberikan hadiah. Bukan yang mewah, melainkan dengan kecupan di pipi. Dia berharap ada ucapan atau doa dari suaminya, tapi ternyata sia-sia. Lalu ketika bangun, dia tidak melihat Adrian di sampingnya, itu begitu menyakitkan untuk Mayra.


Pada akhirnya, Mayra mengangkat kakinya. Wanita cantik itu membaringkan tubuhnya di ranjang, lalu terlelap. Awalnya, dia tidak tahu bahwa Adrian akan pergi ke Korea dan hanya asal menebak saja, tapi Adrian memanggil namanya tadi seperti akan berbicara sesuatu. Mayra yakin Adrian akan pergi lagi ke Korea, sebab Adrian tidak akan pernah lama jika pulang, hanya akan dua atau tiga hari saja.


Hati Mayra semakin mellow ketika dia bertemu dengan Tommy, mengingatkan dia pada masa lalu. Dalam bayangnya saat ini, dia membayangkan bagaimana jika dia saat itu lebih memilih Tommy daripada Adrian, sudah dipastikan dia lebih bahagia.


Mayra menghapus air matanya, tapi sekuat apapun Mayra menahan dirinya, tangis itu tetap keluar hingga pada akhirnya wanita malang itu tertidur.


***

__ADS_1


Tommy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lelaki tampan itu tampak sedikit melamun, tapi ketika dia sadar, senyum tidak henti-hentinya mengembang di wajah tampannya. Entah kenapa, pertemuan dengan Mayra hari ini terasa berbunga-bunga. Dia juga merasakan melayang ketika mengetahui bahwa Mayra tidak bahagia dengan pernikahannya. Bukankah seharusnya dia sekarang yang mengambil alih peran dengan menjadi pahlawan untuk Mayra agar bisa memiliki wanita itu?


"Mayra, seandainya saat itu kau memilihku, mungkin kau akan bahagia sekarang," monolog Tommy.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tommy sampai di perusahaan milik ayahnya. Lelaki itu pun turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam dan ketika masuk, seperti biasa dia sudah disambut oleh beberapa staff lalu mereka pun berjalan ke arah kantor sang ayah.


"Kau yakin akan pergi besok?" tanya sang ayah.


"Aku tidak jadi pergi dan aku akan menetap di sini lebih lama," ucap Tommy membuat ayahnya bingung, padahal selama ini jarang sekali Tommy menetap di Rusia dengan waktu yang lama.


"Daddy akan menjodohkanmu dengan anak teman Daddy," jawabnya.


Seketika, mata Tommy membulat.


"Tidak usah Dad, aku sudah mempunyai kekasih," ucap Tommy, yang disebut kekasih oleh Tommy adalah Mayra. Entah kenapa, feelingnya yakin, dia akan mendapatkan wanita itu.


***


Daddy," panggil Alice dari arah luar.


Adrian yang sedang bermain ponsel, langsung bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah pintu.


"Ada apa?" tanya Adrian.


"Daddy, ayo jemput Mommy Mayra," ajaknya.


"Alice, Mommy Mayra menelepon Daddy dan mengatakan bahwa malam ini dia akan menginap di rumah kedua orang tuanya," kata Adrian.


Alice tampak berpikir. "Ya sudah, antarkan saja aku ke sana. Aku ingin menginap bersama Mommy," ucap Alice.


"Daddy hari ini hari terakhir di sini, kenapa kau tidak mau menghabiskan waktu dengan Daddy?" tanya Adrian. Alice berpikir.


"Tidak mau. Ayo cepat, jika tidak aku pergi dengan sopir," ajak Alice.


Lagi-Lagi, Adrian hanya bisa menghela napas kasar ketika mendengar ucapan Alice, sehingga mau tak mau dia pun mengangguk, menyetujui ucapan putranya.


"Kau semangat sekali ingin bertemu Mayra. Besok, 'kan, juga bertemu," ucap Adrian ketika dia sedang menyetir mobilnya.


"Sebelum tidur, Mommy akan mengelus rambutku. Jika tidak ada Mommy Mayra, aku tidak bisa tidur," kata Alice membuat Adrian kembali fokus menyetir.


'Mayra, kau begitu baik pada anakku, tapi maaf aku belum bisa memberikan hatiku padamu,' batin Adrian.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Adrian sampai di kediaman mertuanya. Adrian dan Alice pun keluar dari mobil, kemudian mereka masuk ke dalam dan ketika mereka masuk, mereka disambut oleh Gabriel dan juga Amelia hingga Adrian pun langsung menanyakan keberadaan Mayra, sebagai rasa hormat pada kedua mertuanya. Padahal, dia sama sekali tidak ingin tahu sedang apa istrinya dan di mana.


Adrian kini berdiri di depan kamar istrinya, sedangkan Alice berada di bawah. Adrian mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam hingga lelaki itu memutuskan untuk membuka pintu dan masuk ke dalam, ternyata Mayra sedang tertidur. Dia berjalan dengan pelan, kemudian mendudukkan diri di samping Mayra. Dia melihat wajah Mayra lekat-lekat, mata Mayra terlihat sangat sembab dan Adrian tahu Mayra menangis.


Sebagai lelaki dewasa, Adrian mengerti betul bagaimana perasaan Mayra, dan dia yakin Mayra menangis karena sikapnya juga. Perlahan, Adrian menggerakkan tangannya dan tanpa sadar dia mengelus rambut istrinya.


Baru saja Adrian tersadar dan akan menjauhkan tangannya dari kepala istrinya, Mayra terbangun. Mayra tersenyum ketika dia masih belum sadar sepenuhnya, karena dia pikir Adrian hanya bayangan, sebab Adrian tidak pernah menyusulnya ke mana pun dia pergi.


Namun tak lama, Mayra tersadar bahwa yang di depannya adalah nyata, sebab Adrian kembali mengusap rambutnya.


"Adrian," panggil Mayra. Dia langsung bergegas bangkit dari duduknya, kemudian menatap Adrian.


Adrian tersenyum. "Maaf membangunkanmu," ucap Adrian. Sepertinya, kali ini Adrian sedikit menurunkan egonya dengan cara tersenyum pada Mayra, membuat Mayra terpaku.


"Oh, kau sedang apa di sini?" tanya Mayra, dia menetralkan raut wajahnya hingga Adrian berdeham.


"Aku mengantarkan Alice. Alice ingin bertemu denganmu. Maaf jika merepotkanmu, Mayra," ucap Adrian.


"Tidak apa-apa, ayo kita pulang saja," kata Mayra membuat Adrian menghela napas lega karena dia tidak nyaman menginap di rumah kedua mertuanya, di mana kedua mertuanya terkadang selalu menanyakan anak kepada mereka.


***


Adrian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menoleh ke arah Alice yang sedang sibuk dengan ponselnya, dan dia juga melihat ke arah Mayra yang menatap ke arah jendela. Ini situasi yang Alice inginkan, tapi entah kenapa dia merasa aneh dengan situasi ini, dimana tidak ada orang yang bercakap-cakap di dalam mobil.


"Daddy, ayo kita makan malam di luar," ucap Alice, "iya, 'kan, Mommy?"


Alice bertanya pada Mayra yang tersenyum. "Terserah kau saja, Sayang," ucap Mayra.


Pada akhirnya, Adrian tidak punya pilihan. Lelaki itu membawa Mayra ke restoran sebelum mereka pulang. Mereka keluar dari mobil.

__ADS_1


__ADS_2