Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Baik hati


__ADS_3

"Mommy! Mommy!" Salsa berteriak dari arah luar.


"Salsa, Mommy mungkin masih tidur," kata Tommy ketika Salsa berteriak.


"Aku ingin mengambil bajuku," kata Salsa lagi.


"Mommy pasti belum menyiapkan. Ya sudah, biar Daddy saja," kata Tommy lagi.


"Salsa!" panggil Alice.


"Kakak?!" pekik Salsa dan Darren secara bersamaan.


Mereka langsung menghampiri Alice lalu meloncat ke pelukan gadis itu. Selama ini, memang Darren dan Salsa begitu dekat dengan Alice, bahkan sangat dekat. Alice pun tidak membedakan Darren dan juga Salsa, walaupun Darren bukan adik kandungnya.


"Kau baru tiba? di mana daddy-mu?" tanya Tommy yang menghampiri Alice.


"Daddy sudah pulang," jawab Alice.


"Ya sudah, kau temani kedua adikmu. Paman akan pergi ke atas untuk mengambilkan pakaian," kata Tommy hingga Alice mengangguk.


Setelah itu, Tommy pun berbalik. Lelaki tampan itu berjalan ke arah tangga untuk naik ke dalam kamarnya. Saat dia masuk ke dalam kamar, ternyata Mayra juga baru keluar dari kamar mandi.


"Lho, aku pikir kau masih lama," kata Mayra.


Tommy tidak menjawab, lelaki itu malah maju lalu menatap Mayra dengan tatapan yang dimengerti oleh wanita itu. Ketika Tommy menarik pinggang Mayra. Lalu dia membawa Mayra ke kamar mandi. Tentu saja untuk melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan.


***


"Alice sudah ada," kata Tommy ketika dia mengeringkan rambut Mayra. Mereka baru saja keluar dari kamara mandi, tentu saja setelah menyelesaikan apa yang seharusnya mereka selesaikan. Tentu saja sebelum mengeringkan rambut Mayra, Tommy sudah pergi ke bawah untuk mengantarkan pakaian Salsa dan Dereen.


"Apa Adrian masih ada di bawah? Aku tidak mau bertemu dengannya," kata Mayra sambil memejamkan matanya, menikmati pijatan tangan suaminya.


Tommy terkekeh. "Ini sudah bertahun-tahun berlalu, kau masih belum bisa melepaskan rasa bencimu?" tanya Tommy.


"Entahlah, seharusnya aku sudah bisa melupakannya, tapi setiap melihat dia, aku selalu merasa kesal," jawab Mayra hingga Tommy mengangguk-nganggukkan kepalanya, tidak bertanya lagi.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam.


Acara makan sedang berlangsung. Suasana meja makan begitu riuh dengan celotehan Salsa, Alice dan juga Darren. Sementara Tommy, sesekali menimpali percakapan ketiga anak mereka.


Satu minggu kemudian.


Akhirnya, acara berlibur di villa pun selesai. Semua sudah kembali ke aktivitasnya. Alice sudah mulai berkuliah, Mayra sudah menjalani aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga dan Tommy tentu saja sudah kembali bekerja untuk memimpin perusahaan.

__ADS_1


Dan sekarang, Mayra memutuskan untuk pergi ke kantor suaminya. Dia ingin memberikan makan siang untuk Tommy, dan sekarang di sinilah Mayra berada, di depan perusahaan Tommy. Dia sengaja tidak memberitahukan Tommy bahwa dia akan datang.


Saat Mayra akan berbelok ke arah lift, Mayra menghentikan langkahnya ketika dia melihat terlebih dahulu Tommy keluar dari lift, hingga setelah Tommy keluar, Mayra langsung berbalik agar Tommy tidak melihatnya. Entah kenapa, Mayra mendadak penasaran akan pergi ke mana suaminya, padahal tadi Tommy mengatakan tidak akan pergi ke mana-mana, hingga itu sebabnya Mayra ingin memberikan kejutan.


Setelah Tommy keluar dari lift, Mayra pun langsung berbalik lalu dia mengikuti suaminya, dan sekarang di sinilah mobil Mayra terparkir, di depan sebuah restoran di mana Tommy sudah masuk ke dalam.


Sungguh, Mayra benar-benar tidak mengerti. Padahal tadi mengatakan akan meminta sekertaris untuk membelikannya makan siang , lalu sekarang kenapa Tommy masuk kedalam restoran.


Tiba-Tiba perasaan Mayra mendadak tidak enak. Untuk pertama kalinya selama mereka menikah, Tommy berbohong.


Lalu dengan cepat Mayra pun langsung turun, kemudian berjalan ke arah restoran untuk menyusul suaminya. Ketika masuk, Mayra langsung mengedarkan pandangannya mencari-cari suaminya, hingga tak sengaja tatapan matanya langsung teralih pada satu meja di mana diduduki oleh Tommy dan serang wanita muda, yang mungkin seumuran dengan Alice atau mungkin beberapa tahun lebih tua dari Alice.


Tangan Mayra terkepal, jantungnya bergemuruh, napasnya mendadak tidak beraturan. Emosi langsung mendera wanita itu ketika melihat apa yang ada di depannya. Lalu dengan langkah yang pelan serta mata basah, Mayra berjalan ke arah meja yang ditempati oleh Tommy.


Dunia Mayra seperti menggelap, ternyata dia salah menilai Tommy. Tommy sama saja dengan Adrian, begitulah pikir Mayra tanpa Mayra tahu itu adalah adik sepupu Tommy yang baru saja tiba. Adik sepupu Tommy sengaja kabur karena tidak ingin dijodohkan, dan Tommy untuk datang untuk membayarkan makanan yang sudah Jemmy pesan, karena ternyata kartu kreditnya diblokir oleh kedua orang tuanya. Itu sebabnya Tommy terpaksa datang, padahal memang tadi dia berniat untuk menyuruh sekretarisnya membeli makan.


"Oh, jadi kau berbohong padaku?" tanya Mayra ketika dia sudah berada di meja yang ditempati oleh Tommy.


Tommy yang sedang berbincang dengan Jemmy, langsung menoleh. "Sayang," panggil Tommy.


Jantung Tommy seperti akan keluar dari rongga dadanya. Dia yakin Mayra sudah salah paham dan sekarang dia panik, apalagi Mayra paling tidak suka dibohongi. Dan sekarang dia malah terpergok membohongi istrinya walaupun itu tidak sengaja.


"Sayang, aku bisa menjelaskan," kata Tommy dengan panik.


"Aku akan menghubungimu nanti," kata Tommy pada Jemmy, hingga Jemny mengangguk dan Tommy pun langsung mengejar istrinya.


"Sayang, aku bisa menjelaskan," ucap Tommy ketika dia sudah berada di luar restoran dan berhasil menggapai tangan Mayra, hingga Mayra langsung menghempaskan tangan Tommy kemudian menatap Tommy dengan amarah yang membara.


Sejatinya, Mayra masih mempunyai trauma di mana dia dibohongi oleh Adrian, dan sekarang dia tidak akan mentolerir kebohongan yang Tommy lakukan, walaupun itu hanya kebohongan kecil.


"Sayang, aku bisa menjelaskan," kata Tommy lagi.


"Tutup mulutmu! Kubilang tutup mulutmu!" teriak Mayra lagi. Kali ini, teriakannya menggema hingga Tommy merasa serba salah.


Seketika, Mayra melemparkan paper bag yang berisi kotak makan yang sudah dia buat ke tubuh Tommy, hingga paper bag itu berceceran. "Jika kau mengikuti aku, kau akan tahu akibatnya!" teriak Mayra lagi.


Setelah itu, Mayra pun langsung berbalik kemudian dia berjalan ke arah mobil, lalu menjalankan mobilnya dengan cepat membuat Tommy panik. Tommy langsung berlari ke arah mobilnya kemudian dia langsung mengikuti Mayra.


Tommy semakin panik ketika Mayra menjalankan mobilnya dengan kencang. Rasanya, dia ingin menabrakkan mobilnya sendiri ke mobil Mayra, agar Mayra tidak lagi mengendarai mobilnya dengan cepat.


"Ah!" Tommy berteriak ketika lampu lalu lintas sudah berubah menjadi merah, dan dia tidak bisa menerobos sedangkan mobil Mayra sudah terlebih dahulu berjalan.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Tommy masuk ke dalam rumah. Wajah Tommy sudah sangat lelah. Pakaian Tommy juga berantakan. Sedari tadi siang, Tommy tidak berhenti mencari Mayra, bahkan Mayra juga tidak ada di mansion kedua orang tuanya. Sekarang, Tommy benar-benar merasa khawatir. Tommy akan mencari lagi Mayra setelah dia mengganti pakaiannya.


***


"Cepat hubungi dia, Sayra," kata Mayra. Dia terus mendesak Sayra untuk menelepon Tommy agar menjemputnya. Rupanya, tadi sore kedua mertuanya menelepon dan menjelaskan bahwa Jemmy adalah adik sepupu dari Tommy, dan Mayra yang tadinya akan pergi ke villa untuk menenangkan dirinya, mendadak menghentikan rencananya.


Saat mendengar itu, dia langsung pergi ke apartemen Sayra, bersembunyi di sana. Dia enggan untuk menelepon Tommy, karena dia malu dia akan menyuruh Sayra untuk menelepon Tommy agar meminta Tommy untuk menjemputnya.


"Mayra, kau ini tinggal datang meminta maaf, apa susahnya? Kenapa kau harus menyuruh Tommy datang di sini dan menyuruh Tommy yang minta maaf?" tanya Sayra lagi.


"Tapi, 'kan, aku malu. Aku sudah salah," ucap Mayra.


"Ya justru itu. Karena kau salah, kau harus minta maaf," katanya.


"Ih, kau ini tidak mendukung saudaramu," kata Mayra lagi.


"Apa kau tidak merasakan kebaikan suamimu sampai kau bisa bahagia begini? Bisa saja sekarang suamimu sedang mencarimu," kata Sayra.


"Makannya itu, aku minta kau telepon dia. Katakan padanya aku ada di sini," ucap Mayra.


Sayra menghela napas kemudian mengembuskannya. Kelakuan kakaknya ini benar-benar ajaib.


Sayra pun langsung mengutak-atik ponselnya dan ternyata, yang mengangkat panggilan Sayra bukan Tommy, melainkan Salsa.


"Halo Salsa? Di mana daddymu?" tanya


"Daddy sudah pulang untuk ganti baju, kemudian dia pergi lagi. Dia hanya mengatakan ingin mencari Mommy," jawabnya.


Sayra langsung mematikan panggilannya.


"Lihat, Tommy secinta itu padamu tapi kau seperti ini," kata Sayra.


Tiba-Tiba Mayra tertunduk.


"Sudah, cepat sana pulang. Kau bisa menelpon ponsel Tommy yang satunya lagi, untuk memberitahu kau sudah pulang," jawabnya.


Mayra tidak menjawab. Wanita itu langsung turun dari ranjang kemudian dia langsung menyambar kunci mobil untuk keluar dari apartemen Sayra.


Saat keluar dari apartemen, tubuh Mayra diam mematung saat melihat siapa yang berlari ke arahnya, yaitu Tommy.


Rupanya, Tommy sudah sangat buntu dan bingung mencari Mayra ke mana, hingga dia terpikirkan apartemen Sayra. Lalu saat dia akan berbelok, dia melihat Mayra keluar dari apartemen adik iparnya hingga dia langsung berlari.


"Sayang!" panggil Tommy.

__ADS_1


Sedetik kemudian, Tommy menubruk tubuh Mayra dan memeluk istrinya.


__ADS_2