Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
tawaran pekerjaan


__ADS_3

“Rush, kau mau kemana?” tanya Shelbi ketika mobil mulai melaju.


“Aku ingin menghampiri Daree karena aku ada urusan dengannya dan kebetulan aku melihatmu Di sini,” jawab Rush hingga Shelbi mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Shelbi!” panggil Rush, hingga Shelbi menoleh.


“Kau tidak bahagia bersama Dareen? bukan maksudku, aku melihat Dareen hanya perhatian pada putramu lalu pada Putri kalian, apa dia memperlakukan anak kalian berbeda?” tanya Rush, sebenarnya dia sudah tau, tapi dia hanya berpura-pura tidak tahu. Dia juga tau bahwa sebenarnya Dareen berbohong mengatakan cerai dengan Shelby.


Mendengar pertanyaan itu, Shelby tersenyum getir, “Rush, bolehkah aku tidak menjawab pertanyaan mu?” tanya Shelbi, bisa di pastikan dia akan menangis ketika membahas tentang sikap Daren pada Tristan dan pada Thresia.


“Tidak apa-apa, tidak masalah. Aku hanya penasaran saja," jawab Rush lagi hingga Shelby pun mengangguk. Setelah melewati perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya mobil Rush terparkir di kediaman mewah Tomi dan Maira.


“Tunggu sebentar, Shelbi. Aku mempunyai payung dua," ucap Rush ketika Shelbi terlihat akan turun, lelaki tampan itu langsung menolehkan kepalanya ke belakang kemudian lelaki tampan itu mengambil payung dan memberikannya pada Shelbi, lalu Shelbi pun turun disusul Rush yang juga ikut turun.


Tepat ketika mereka berjalan, Dareen keluar dari rumah sepertinya Dareen akan mengambil kunci mobilnya yang ada di luar, hingga lelaki itu menghentikan langkahnya ketika melihat Selby dan Rush berjalan bersebelahan.


Nafas Dareen mendadak memburu. Entah kenapa dia merasa kesal. “Untuk apa kau kemari, Rush?” tanya Dareen ketika Rush sudah berada di depannya.


“Oh, aku ingin membahas sesuatu denganmu," jawah Rush.


“Rush, terima kasih atas tumpanganmu,” kata Selvi yang sudah menutup payungnya kemudian memberikannya pada Rush, setelah itu Shelbi pun langsung masuk ke dalam, meninggalkan Dareen dan juga Rush


“Untuk apa kau kemari?” tanya Dareen lagi pada Rush saat Rush terus melihat Shelbi.


“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, ini soal bisnis."


“Ya sudah, ayo duduk."


“Kau mengajakku duduk di sini, kau tidak merasakan cuaca sedang dingin?" Protes Rush, membuat Dareen berdecak, sepertinya dia harus menebalkan kesabarannya jika berhadapan dengan Rush, hingga dia pun mengajak Rush untuk masuk ke dalam.


“Mommy!” Tristan berteriak saat melihat Shelbi masuk ke dalam rumah, bocah kecil itu langsung berjalan menghampiri ibunya, hingga Shelby langsung memeluk Tristan.


“Tristan mana Theresia?" tanya Shelbi.


“Theresia sedang bersama kakek, Mommy.”


“Mommy, ayo lihat ke sini, aku mempunyai mainan baru.” Tristan langsung menarik lengan Shelby, bocah tampan itu langsung membawa ibunya ke tempat bermain yang disediakan Tommy dan Maira jika cucu cucunya datang.


Tristan membuka pintu kemudian mengajak Shelbi untuk masuk. “Mommy lihat, iini robot keluaran terbaru, coba bagus bukan?" Kata Tristan.


Shelbi mendudukkan diri di lantai menyusul Tristan. “Hnm, ini bagus sekali," jawab Shelby dengan tersenyum. “Ini dari kakek dan nenek?” tanya Shelby, Tristan menggeleng.


“Tidak, ini dari Daddy, Daddy memesan ini sudah 3 bulan dan akhirnya diantarkan kemari,” jawab Tristan tiba-tiba, Shelby langsung di terdiam pikirannya langsung tertuju pada Theresia, sudah dipastikan jika Dareen memberikan mainan Tristan di sini, Theresia pasti melihatnya.


Tristan langsung menoleh ke arah sang Ibu ketika ibunya tidak berbicara lagi. “Mommy, Theresia memang tadi melihat mainan ini, tapi kakek sudah membelikan banyak mainan untuk Theresia,” ucap Tristan, sepertinya dia mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh sang ibu, tersadar kemudian tersenyum.


“Robotmu bagus sekali, ayo coba gerakan Mommy ingin lihat," jawabnya, dia tahu Tristan merasa tidak enak pada padanya dan juga pada Theresia, hingga Shelbi langsung mengalihkan pembicaraan karena dia tidak ingin sang putra merasa bersalah.


Sejatinya Tristan anak yang berhati lembut, dia selalu peka dengan kondisi orang di sekitarnya.Tadi saat Dareen memberikan mainan untuknya, Theresia melihat dan dia tahu sang adik sedikit iri padanya, hingga dia langsung mengajak Theresia untuk bermain bersama. Namun Theresia menolak, dan karena tahu Dareen memberikan hadiah itu hanya untuk Tristan Tommy dengan cepat menyuruh anak buahnya untuk membelikan semua mainan dan membawakan satu tokoh penuh mainan rumah nya hingga kini Theresia sedang bermain bersama Tommy di lantai atas.


\*\*\*


.Anderson masuk kedalam ruangannya, lelaki paru baya itu langsung berjalan ke arah kursi kerjanya, lalu mendudukkan dirinya di sana. Anderson menyandarkan tubuhnya ke belakang, tatapan matanya terarah pada langit-langit. Dia memegang jantung yang terasa nyeri dan dadanya yang terasa tersayat ketika mengingat Selby.


Selama ini, bukannya dia tidak mencari putrinya dia sudah mencari Shelby kesana kemari. Tapi, dia tidak menemukan Selby di manapun. Dulu, dia dan Amira memang menikah karena perjodohan. Sejujurnya ini bukan perjodohan yang baik. Dulu, ayahnya menyuruh dia untuk menikahi Amira karena balas dendam, sebab keluarga Amira telah mengkhianati mereka, hingga pada akhirnya Anderson mau menikahi ibu Shelby.


Ketika perusahaan keluarga Shelby sudah goyah, dia menyuruh Anderson untuk mengusir Shelby dan ibunya, karena semua tujuan mereka sudah tercapai. Sebelum Anderson mengusir anak dan istrinya, kedua mertuanya yang tak lain kakek dan nenek Shelby sudah meninggal terkena serangan jantung, karena perusahaan mereka kolaps, dan itu membuat Anderson tidak sungkan untuk mengusir anak dan airnya..


Setelah itu, dia langsung menikahi Marina yang tak lain kekasihnya sebelum dia menikah dengan Amira. Awalnya, Anderson ingin sedikit berbaik hati memberikan harta agar anak istrinya tidak kekurangan setelah dia usir, tapi sang ayah melarangnya.

__ADS_1


Beberapa tahun berlalu, setelah dia mengusir anak dan istrinya, Anderson baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya, ternyata keluarga kedua orang tua Amira yang tak lain mertuanya tidak bersalah. Sang ayah memutar balikkan fakta, bahwa sebenarnya keluarga Shelby tidak pernah mengusik keluarganya, justru ayah Andersonlah yang merasa iri dengan keluarga Amira, hingga dia menyuruh Anderson untuk menikahi Amira.


Anderson mengecoh perusahaan keluarga Shelby, hingga perusahaan keluarga Shelby berpindah tangan ke perusahaan keluarga Anderson. Setelah mengetahui fakta itu, rasa bersalah menghantam Anderson, hingga dia langsung mencari keberadaan mantan istri dan putrinya. Namun, dia tidak menemukan Amira dan Shelby di mana pun, dan ternyata saat itu Amira sudah menikah dengan Anwar. Mereka pun pindah ke luar kota, hingga Anderson tidak bisa melacak keberadaan mantan istri dan putrinya.


Lalu barusan ketika melihat Shelby, Anderson merasa tidak percaya. Putri yang dia cari ada di depannya. Mungkin jika tidak ada Angel, dia akan langsung menghampiri putrinya, memohon maaf atas apa yang terjadi, tapi karena ada Angel dia terpaksa harus berpura-pura tidak mengenal Shelby, sebab dia takut Angela akan penasaran.


Selama ini dia dikenal sebagai ayah yang baik di mata kedua putrinya, yaitu Angela dan Timmy. Dia tidak mungkin membeberkan masa lalu pada putrinya. Dia tidak ingin melihat kekecewaan pada mata Angela dan Timmy, itu sebabnya tadi dia berpura-pura tidak mengenal Shelby. Tanpa Anderson sadari, itu sangat melukai putri pertamanya hingga Shelby benar-benar mengutuk dirinya.


Tak lama, pintu dibuka. Muncul sosok Lauren yang tak lain sang istri. "Apa ada yang terjadi?" tanya Lauren ketika masuk ke dalam, dia langsung bertanya sebab sedari tadi pulang dari pameran, Anderson terlihat sangat aneh, lebih banyak diam dan melamun. Dia tahu ketika suaminya seperti ini, pasti sedang ada yang dipikirkan.


Anderson menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya.


***


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam.


Shelby keluar dari kamar, karena hari sudah larut dan hujan masih turun. Shelby dan Theresia memutuskan untuk menginap di rumah Tommy dan Mayra, begitupun dengan Darren dan Tristan.


Saat ini, Shelby baru saja keluar dari kamar. Dia berencana untuk mengambil minum ke dapur.


"Ayo kita bicara." Tiba-Tiba, terdengar suara Darren dari arah belakang hingga Shelby langsung menoleh. Tenaga shelby hari ini sudah benar-benar terkuras.


Dia menatap Darren dengan malas. "Aku lelah, tidak ada yang perlu harus dibahas. Jangan ganggu aku," ucap Shelby yang memberi jawaban untuk Darren.


Belum Darren menjawab, Shelby sudah terlebih dahulu berbalik. Dia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya pergi ke dapur. Namun, baru saja Shelby melangkah beberapa langkah, Darren langsung menarik tangan Shelby hingga Shelby terperanjat. Sepertinya, dia tidak bisa menghindari suaminya. Pada akhirnya, dia menurut mengikuti langkah Darren.


Kini, mereka sudah berada di kamar Darren dan setelah itu, Darren langsung melepaskan tangan Shelby.


"Duduk, kita bicara," kata Darren.


Shelby yang tidak ingin berbicara, langsung menuruti Darren kemudian dia duduk di sofa, disusul Darren yang juga ikut duduk hingga kini posisi mereka berseberangan.


Shelby menghela napas. "Apa harga dirimu terasa terluka?" tanya Shelby, sepertinya dia benar-benar harus menebalkan kesabarannya jika berhadapan dengan Dareen.


"Kau masih bertanya? Tentu saja. Bagaimana jika ada orang yang menganggapku buruk karena aku tidak menafkahi kalian?" tanya Darren dengan arogannya membuat Shelby berdecak.


"Tapi sayangnya, aku tidak tertarik untuk menerima tawaran darimu," jawab Shelbi, dia langsung bersidekap menatap Dareen dengan santai.


"Shelby!" bentak Darren.


Tangan Shelby mengepal. Walaupun dia hidup sederhana, tapi dia hidup dengan penuh kasih sayang dan ketika ada yang membentaknya, Shelby selalu merasa gemetar. Namun sekarang, Shelby menguatkan dirinya kemudian dia menatap Darren seolah dia tidak ketakutan.


"Aku lelah. Bisakah kau tidak ikut campur urusanku? Selama ini aku juga tak pernah ikut campur urusanmu, aku tidak pernah menuntut apapun darimu. Kau tidak mengakui Theresia sebagai anakmu, aku tidak masalah. Jadi tolong, jangan buat aku lelah. Untuk apapun yang orang katakan padamu, itu bukan urusanku, itu urusanmu."


Setelah mengatakan itu, Shelby pun bangkit dari duduknya kemudian wanita cantik itu langsung keluar dari kamar Darren, membuat Darren langsung menekan tombol yang ada di sakunya hingga pintu terkunci otomatis. Darren benar-benar harus membuat Shelby menurut padanya.


"Darren, buka pintunya," kata Shelby ketika pintu tidak bisa dibuka. Dia tahu Darren mengaktifkan kunci otomatis.


"Setujui dulu apa yang aku inginkan, maka kau boleh keluar dari sini." Darren kekeh dengan keputusannya.


Tanpa membalas ucapan Daren, wanita itu malah berbalik lalu setelah itu dia berbaring di ranjang Darren membuat mata Darren membulat. Darren tidak akan bisa dihadapi dengan cara keras, itu sebabnya Shelby lebih memilih untuk diam, membiarkan Darren lelah seorang diri.


"Heh kau, siapa yang menyuruhmu tidur di ranjangku?" tanya Darren.


"Ya sudah, kalau begitu buka pintunya," kata Shelby lagi.


"Tidak, ayo bicara," ucap Darren, dan setelah itu Darren langsung menarik lengan Shelby. Namun, bukannya Shelby yang terangkat, malah Darren yang terjatuh di ranjang. Lalu setelah itu dengan cepat langsung menindih tubuh Darren lalu dengan cepat dia mengunci kaki suaminya.


"Shelby, apa kau gila?!" teriak Darren.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Shelby malah merogoh saku Darren, kemudian dia menekan tombol hingga pintu terbuka. Rupanya, Shelby adalah atlet bela diri, bahkan tenaganya jauh lebih besar daripada Darren.


Setelah menekan tombol, Shelby yang kesal pada Darren, melemparkan tombol itu pada wajah Darren hingga Darren meringis dan hampir berteriak.


"Jangan membuat kesabaranku habis. Jalani kehidupan kita seperti biasa, tidak saling peduli satu sama lain," jawab Shelbi dengan nada yang super tegas.


"Kau pikir aku peduli padamu?" tanya Darren. Dia langsung bangkit dari duduknya, bersiap untuk menarik tangan Shelby dan ingin membalas istrinya.


"Apa kau mau menarik tanganku?" tanya Shelby yang malah sengaja memberikan tangannya pada Dareen.


Tiba-Tiba, Darren menurunkan tangannya kembali karena dia tahu Shelby adalah atlet bela diri.


"Dasar idiot!" umpat Shelby.


"Apa kau mengatakanku idiot?!" Darren berteriak, dia bahkan mengikuti langkah Shelby. Namun tak lama, dia terpekik ketika Shelby menutup pintu kamar dengan keras, bahkan pintu hampir saja mengenai wajahnya.


"Dasar ular!" maki Darren.


***


"Shelby, kau tidak menginap lagi di sini? Menginap saja di sini beberapa hari lagi. Mommy masih rindu dengan Theresia dan Tristan," kata Mayra ketika mereka akan pulang.


Ini sudah tiga hari berlalu, dan selama tiga hari ini pula, Shelby menginap di rumah kedua mertuanya dengan Theresia dan Tristan. Sementara Darren, sudah pulang dua hari lalu, dan membiarkan Tristan menginap di rumah kedua orang tuanya.


Sekarang, Shelby harus pulang karena besok anak-anak akan bersekolah. Dia pun akan kembali mengajar.


"Maafkan aku, Mommy. Anak-Anak besok sekolah. Nanti jika libur aku akan bawa mereka kemari," kata Shelby.


"Shelby, apa kau baik-baik saja?" Kali ini, Tommy yang bertanya. Dia merasa ada yang aneh dengan menantunya. Sampai sekarang, Tommy dan Mayra belum juga mengetahui bahwa dia sudah keluar dari apartemen Darren. Dia juga melarang Theresia untuk berbicara karena dia tidak ingin membuat kedua mertuanya khawatir.


"Aku baik-baik saja, Dad," jawab Shelby. "Ya sudah kalau begitu, kami pamit. Ayo Tristan, Theresia, peluk kakek nenek," ucap Shelby hingga kedua anak kembar itu pun maju, memeluk Mayra dan Tommy secara bergantian. Setelah itu, mereka pun berbalik kemudian berjalan ke arah mobil, karena mereka pulang akan diantarkan oleh sopir.


"Mommy, bolehkah aku ikut ke apartemen?" tanya Tristan ketika mobil sudah melaju.


Shelby menyimpan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Tristan untuk tidak berbicara, sebab tentu saja ada sopir Tommy. Dia takut sopir yang mengendarai mobil dan mengantar mereka, memberitahukan pembicaraan Tristan pada Tommy hingga dia mengangguk, karena selain melarang Theresia berbicara tentang kepindahannya, Shelby juga melarang Tristan untuk memberitahukan kepindahannya pada kedua mertuanya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di apartemen. Shelby dan Tristan, serta Theresia pun turun dari mobil kemudian mereka berjalan ke dalam.


"Shelby." Tiba-Tiba, terdengar suara Rush dari arah belakang, hingga Shelby menoleh dan ternyata dia adalah Rush yang sedang berjalan dengan Darren. Rupanya, mereka baru saja meninjau lokasi, dan Rush memutuskan untuk ikut ke apartemen Darren. Lalu ketika melihat Shelby berjalan, dia langsung memanggil Shelby. Entah kenapa setiap Rush seperti ini, Darren merasa kesal.


"Mommy, paman ini siapa?" tanya Theresia ketika Rush menghampiri mereka.


"Halo, Anak Cantik," kata Rush. Dia menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Theresia, hingga Theresia sedikit mundur karena terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rush. Sementara mata Darren membulat ketika Rush mendekati Theresia. Entah kenapa, hati Darren mendadak panas ketika Rush mendekati putrinya.


"Oh ini teman ayahmu. Perkenalkan, ini Paman Rush," jawab Shelby.


"Kau Theresia?" tanya Rush lagi, hingga Theresia mengangguk kemudian Rush mengulurkan tangannya ke hadapan gadis kecil itu, hingga Theresia menerima uluran tangan Rush.


Rasa panas langsung menghinggapi Darren ketika putrinya berjabat tangan dengan Rush, dan pada akhirnya dia melanjutkan langkahnya.


"Tristan, ayo naik ke atas," kata Darren, dia melewati tubuh Shelbi dan Thresia begitu saja.


"Mommy," panggil Tristan yang menatap ke arah Shelby, meminta izin pada ibunya.


"Ikuti daddy-mu, nanti malam Mommy akan menjemputmu," kata Shelby lagi, hingga Tristan pun mengangguk, kemudian mengikuti langkah sang ayah. Setelah Darren pergi, Rush tersenyum. Senyuman yang sangat sulit untuk diartikan, bisa jadi senyuman buruk, atau senyuman yang sebaliknya.


"Rush, kau dari mana?" tanya Shelby, menyadarkan Rush dari lamunannya hingga Rush langsung bangkit dari berlututnya, kemudian menegakkan tubuhnya.


“Aku baru saja meninjau lokasi dengan Dareen," jawab Rush. “Oh ya, Shelby. Apa kau punya teman yang berkecimpung di dunia perpajakan?" Tanya Rush.

__ADS_1


Mata Shelby membulat saat mendengar itu, “Rush, bolehkah aku saja yang bekerja bersamamu?’ tanya Shelby. Rush ....


__ADS_2