Tatap Aku, Lelakiku!

Tatap Aku, Lelakiku!
Sebuah rencana


__ADS_3

Maria menatap sang suami lekat-lekat. Dia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Lyodra. Pria itu tampak santai, berbeda dengannya.


"Kenapa kau menatapku begitu, Sayang?" tanya Lyodra.


"Kenapa kau tampak tidak khawatir Selo mendekati kembali Bianca?"


Lyodra tidak menjawab. Dia memutar otak mencari kata-kata yang tepat untuk istrinya. "Kita tidak bisa mengontrol makhluk hidup, Sayang. Kita juga tidak bisa mengontrol Selo. Itu haknya. Tapi, apa kau tidak percaya pada putrimu sendiri?"


Maria tampak terdiam. Dia sudah membahas ini dengan Bianca, tapi dia tetap tidak suka Selo terus mendatangi putrinya.


"Sayang, bukankah sudah kubilang kita tidak bisa mengontrol semua orang karena mereka mempunyai hak masing-masing? Jadi, yang bisa kita lakukan adalah meminta Bianca untuk tidak terlena dengan apapun yang dilakukan oleh Selo. Kau mengerti maksudku, 'kan?" tanya Lyodra menenangkan Maria. Lelaki itu pun langsung membawanya ke sofa, dan memanggil pelayan untuk membersihkan serpihan kaca yang tadi dijatuhkan oleh istrinya.


Saat sedang berada di sofa, Maria masih melamun. Dia benar-benar ketakutan Bianca akan tergoda lagi dengan lelaki itu. Sementara Lyodra, dia masih terlihat santai seolah tidak terpengaruh dengan apapun.


Maria kini menoleh ke arah sang suami. "Kau tidak melakukan rencana bodoh di belakangku, 'kan?" tanyanya.


Lyodra tertawa. "Rencana bodoh apa? Sehari-hari aku di rumah bersamamu, lalu kapan waktunya aku menyusun rencana?"


Sekilas wajah Lyodra tampak santai, tapi jantung lelaki paruh baya itu berdegup kencang. Dia tahu betul insting Maria begitu kuat.


"Awas aja jika kau macam-macam di belakangku," kata Maria.


Lyodra merangkul pundak istrinya. "Sudah, jangan pikirkan apapun. Nanti wajahmu tambah keriput."


"Apa kau bilang wajahku keriput?" tanya Maria hampir berteriak. Dia lalu merebut ponsel suami dan menyalakan fitur kamera untuk memeriksa wajahnya. "Mana? Aku tidak ada keriput."


Tawa Lyodra meledak saat melihat Maria seperti ini. Istrinya paling tidak mau disebut tua, padahal umur mereka sudah tidak lagi muda.


***


Bianca masuk ke dalam kamar, wanita itu membanting tubuhnya di ranjang. Hari ini terasa begitu melelahkan.


Tak lama, ponselnya berdering karena panggilan masuk dari Roland membuat Bianca menghela napas. Dia menyimpan handphone ke bawah tanpa mengangkat panggilan lelaki itu karena malas untuk berbasa-basi.


Namun, ponsel Bianca terus berdering hingga dia pun terpaksa mengangkat panggilan itu.


"Ada apa, Roland?" tanya Bianca dengan malas, tak seperti biasanya di mana dia selalu antusias menerima telepon dari lelaki yang sudah bersamanya beberapa tahun ini. Namun sekarang, ada yang aneh di hatinya. Dia seolah asing dengan Roland. Dia pun merasa bahwa pria itu tidak sebaik yang dia kira.


"Sedang apa?" tanya Roland.


"Aku baru saja pulang dari rumah sakit."


Roland terdiam di seberang sana membuat suasana hening. Biasanya, Bianca akan balik bertanya hal serupa. Namun sekarang, dia hanya menjawab saja, seolah tidak ingin memperpanjang pembicaraan.


"Kau lelah?" tanya Roland setelah sekian lama terdiam.


"Aku lelah, aku ingin tidur. Aku baru saja pulang. Bolehkah aku matikan panggilannya?" tanya Bianca.


Roland mengangguk di seberang sana walaupun Bianca tidak akan melihatnya. "Baiklah, besok aku akan menjemputmu ke rumah, dan akan mengantarmu ke rumah sakit. Kebetulan aku juga akan ada kontrol di rumah sakitmu."


"Kalau begitu, sampai jumpa." Bianca langsung mematikan panggilannya.


Baru saja Bianca menyimpan ponsel ke bawah, benda itu kembali berdering karena panggilan dari Selo membuatnya ingin sekali mengamuk. Kenapa kedua lelaki itu terus mengganggunya?


Bianca menyimpan ponsel di bawah bantal agar suaranya tidak berdering. Dia sungguh malas meladeni lelaki itu, yang justru sama seperti Roland yakni tidak berhenti menelepom, membuat dia pun mengangkat telepon tersebut.


"Halo? Kenapa kau menelepon aku? Aku baru saja beristirahat. Jadi, jangan meneleponku dulu, aku mengantuk," kata Bianca, dia terlalu males berbasa basi hingga pada akhirnya dia berbicara tho the point


"Oh baiklah."


Bianca langsung mematikan telepon. Dia sungguh heran dengan lelaki di sekitarnya.

__ADS_1


***


Selo menurunkan ponsel ke bawah kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia sadar kehadirannya kurang disukai oleh Bianca, dan terlihat jelas dari wajah wanita itu.


Sekarang, Selo harus memutar otak mencari caranya untuk mendapatkan Bianca kembali. Setelah cukup lama terdiam, dia pun menyalakan dan menjalankan kembali mobilnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Selo sampai di pekarangan mansion orang tuanya. Dia turun kemudian masuk ke dalam sana, dan melihat sang ayah sedang berada di kursi depan.


"Dad," panggil Selo.


"Kau dari mana?" tanya Gabriel.


"Aku baru saja menjemput Bianca."


Gabriel mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kau tidak mampir dulu ke rumah Paman Lyodra dan Bibi Maria?" tanya Gabriel.


"Bibi Maria akan langsung melahapku saat aku masuk ke dalam rumahnya."


Gabriel tertawa saat mendengar ucapan putranya yang tampak sangat tertekan ketika membahas Maria.


"Dad," panggil Selo, "apakah Daddy pernah mengalami hal serupa denganku? Maksudku apakah Daddy melukai Mommy?"


Gabriel tidak menjawab. Jika anak-anaknya tahu tentang apa yang dia lakukan pada Amelia di masa lalu, sudah dipastikan bahwa mereka akan membencinya, karena apa yang di lakukannya lebih parah daripada apa yang diperbuat Selo pada Bianca.


"Dad, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Tunggu, jangan bilang kau pernah melukai mommy dan bahkan kelakuanmu lebih dariku?" tanya Selo.


Gabriel berdeham. "Tidak, jika Daddy melakukan itu, kalian tidak akan hadir dan Mommy tidak akan bucin pada Daddy," kata Gabriel. Namun, raut wajah pria itu mengatakan sebaliknya.


"Daddy, apa kau berbohong?"


"Tapi seandainya kau membuat kesalahan pun aku tidak peduli, karena itu masa lalu. Hal yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya kai merayu hati nenek," ucap Selo.


Gabriel terdiam. Ibu mertuanya yang tak lain ibu Amelia, berbeda dengan Maria. Dia sangat baik, bahkan ketika dia sudah melukai Amelia sedemikian rupa pun, ibu mertuanya masih merangkulnya.


"Nenek sangat baik, tidak ada yang mengalahkan kebaikannya, dan itu sangat berbeda 180 derajat dengan mantan mertuamu."


Selo mengusap wajah kasar. "Tidak ada lagi yang bisa dimintai pendapat, lalu aku harus bagaimana? Bianca juga sepertinya risih dengan kehadiranku. Belum lagi aku pun harus memikirkan cara menggapai hati Ibu Maria. Memberikan barang mewah atau mahal pun percuma, mereka pasti tidak akan menerimanya. Lalu aku harus mulai dari mana?"


"Daddy tidak tahu, Daddy, 'kan, bukan cenayang," ucapnya, "Daddy sudah mengurus masalahmu dengan Agnia, jadi sekarang kau pikirkan sendiri."


Mendengar nama Agnia, Selo menegakkan tubuhnya. "Dad, beritahu aku dia dikurung di mana? Aku ingin memberikan pelajaran."


"Selo, apa kau ingin mengotori tanganmu, dan ingin membuat agamamu sia-sia?"


Selo terdiam. "Aku, 'kan, hanya ingin ke sana."


Selo pun bangkit dari duduknya kemudian masuk ke dalam meninggalkan Gabriel seorang diri.


Tepat ketika itu, ponsel Gabriel berdering. Sebuah panggilan masuk dari anak buahnya.


"Hm, ada apa?" tanya Gabriel.


"Oh baiklah, biarkan saja dia masuk," kata Gabriel lagi menurunkan ponselnya, "kau salah jika ingin bermain-main denganku."


***


Keesokan harinya.


Gabriel turun dari mobil. Lelaki itu melihat ke sekelilingnya yang tampak sepi untuk memastikan sesuatu. Dia kini menyeringai lalu masuk ke dalam.

__ADS_1


Setibanya di sana, dia sudah disambut oleh pemandangan yang menurutnya sangat indah, di mana wajah Agnia tampak kacau dengan beberapa bagian menghitam dalam keadaan duduk di lantai.


Tidak ada yang aneh karena Gabriel belum memerintahkan anak buahnya untuk bergerak, hingga Agnia bisa sedikit menghela napas. Namun, ketakutan itu tetap ada.


Agnia kini memeluk diri sendiri sembari didera rasa takut yang luar biasa ketika melihat Gabriel dari jendela. Dia kembali menundukkan kepala. Sungguh, dia merasa ingin menjerit karena menyesal telah berurusan dengan keluarga ini karena melukai Selo.


Dulu, Agnia terlalu percaya diri bahwa dia akan lolos. Namun ternyata sekarang, dia malah terperangkap di ruangan yang gila ini. Dia tidak tahu kapan siksaan ini akan berakhir.


"Keluarkan dia," ucap Gabriel pada anak buahnya, hingga mereka mengangguk lalu berjalan ke arah ruangan.


"Keluar," titah anak buah Gabriel pada Agnia yang merasakan lemas karena belum makan dan minum dari kemarin.


Agnia berusaha menegarkan hati dan menguatkan dirinya. Dia berpegang pada tembok, lalu bangkit dan berjalan perlahan ke luar. Saat ini, dia tidak memikirkan apapun lagi. Dia hanya ingin berlutut dan meminta Gabriel mengampuninya.


"Tu-Tuan Gabriel," panggil Agnia dengan suara lirih. Setelah itu, dia pun menekuk kakinya, berlutut di hadapan Gabriel yang kini tertawa.


"Kau masih berani berlutut dan memanggil namaku?" tanya Gabriel. Suara tawa itu bergema berganti dengan suara yang super dingin dan menyeramkan di telinga Agnia, hingga dia tidak berani lagi untuk berbicara.


"Katakan, kenapa kamu lakukan itu pada Selo?" tanya Gabriel.


Bibir Agnia terasa gemetar membuatnya sama sekali tidak bisa bersuara. Sekali saja dia salah bicara, mungkin nyawanya tidak akan selamat.


"Jawab!" Gabriel berteriak saat Agnia tidak menjawab pertanyaannya.


"Aku ...." Agnia benar-benar tidak bisa berbicara. Lidahnya seolah keluh untuk digerakkan, dengan seluruh sendi-sendinya terasa melemas. Dia seperti sedang disidang oleh malaikat maut.


"Kau tidak mau menjawab?" tanya Gabriel.


"Masukkan dia kembali," ucap Gabriel pada anak buahnya membuat Agnia mengangkat kepalanya.


"Tidak, Tuan. Aku ...." Agnia menghentikan ucapannya karena dibawa oleh anak buah Gabriel, dan dimasukkan lagi ke dalam ruangan tadi.


Lalu untuk kedua kalinya, dia merasakan sakitnya berada di ruangan ini. Lampu dinyalakan dengan sangat terang membuat dia terpejam karena cahayanya membuat perih.


Lalu tak lama, Agnia kembali berteriak kala ruangan itu dialiri oleh setrum. Sama seperti kemarin, Gabriel tertawa melihat tersiksanya wanita itu.


Setengah jam berlalu, Agnia pun tidak sadarkan diri membuat Gabriel langsung menyuruh anak buahnya untuk mematikan semua aliran listrik yang ada di ruangan tersebut, kemudian anak buah Gabriel membawa wanita itu ke ruang pemulihan agar bisa kembali diinterogasi.


Satu jam kemudian.


Agnia membuka mata. Sejurus kemudian, kepalanya terasa nyeri dengan pandangan berkunang-kunang membuatnya tidak bisa melihat secara jelas, ditambah lagi efek cahaya lampu tadi.


Rasa sakit di seluruh tubuhnya langsung mendera. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Agnia saat ini, yang pasti jika diberikan pilihan, maka dia akan memilih mati daripada mendapatkan siksaan seperti ini.


Tak lama, terdengar derap langkah dari luar membuat Agnia langsung memejamkan matanya, berpura-pura tertidur agar tidak dimasukkan lagi ke sel tadi, karena dia yakin Gabriel akan kembali menghukumnya. Apalagi tadi dia belum sempat menjawab pertanyaannya.


Saat ada orang masuk, Agnia mencengkram erat pinggiran brankar. Wanita itu begitu ketakutan, tapi tak lama dia mengerutkan kening saat mencium aroma parfum yang tak asing.


Seketika, Agnia kembali ingat bahwa aroma parfum itu adalah milik Roland membuatnya langsung membuka mata. Benar saja, lelaki yang memakai topi serta masker itu berada di hadapannya.


Walaupun wajahnya tidak terlihat, tapi dari penampilan pun Agnia tahu itu adalah Roland. Dia bisa sedikit menghela napas. Setidaknya, dia masih bisa berlindung di bawah Roland.


Saat Agnia membuka mata, Roland menyimpan jari di bibir sebagai isyarat untuknya agar diam, hingga Agnia pun mengangguk. Dia merasa bersyukur pria itu menyelamatkannya.


Roland melihat ke sana ke mari, memastikan keadaan aman. Tadi sebelum masuk, dia melihat Gabriel keluar dari rumah ini. Dia juga menyamar sebagai anak buahnya dengan mengenakan pakaian yang sama, karena itulah tidak ada yang mencurigai Roland.


Roland membuka borgol yang ada di tangan Agnia, kemudian membantunya untuk turun. "Jangan berisik, ikuti langkahku," katanya.


Mendengar suara Roland yang masih tetap hangat, Agnia benar-benar yakin dia akan menyelamatkannya. Padahal tanpa dia sadari, dia keluar dari kandang singa lalu masuk ke kandang buaya.


Bukan hanya itu saja, Roland pun sama bodohnya. Dia pikir Gabriel tidak tahu bahwa dia masuk, padahal faktanya dia sengaja membiarkan Roland membawa Agnia karena dia mempunyai rencana.

__ADS_1


__ADS_2