
"Kau sudah makan?" tanya Mayra pada Adrian ketika dia menghampiri Adrian. Dia menegarkan hatinya walaupun tatapan Adrian berbeda ketika menatapnya dan menatap Alice.
"Aku sudah makan. Nanti saja," jawab Adrian.
"Daddy, Mommy sudah memasak untuk Daddy. Kenapa Daddy tidak mau memakannya?" Tiba-Tiba Alice berbicara membuat Adrian langsung menoleh.
"Oh, kau yang memasak?" tanya Adrian, "ya sudah, ayo kita makan."
Pada akhirnya, Adrian terpaksa memakan masakan Mayra. Walaupun itu terpaksa, tapi setidaknya Adrian mau memakan masakannya, apalagi dia sudah bersusah payah memasak dari pagi.
Adrian menarik kursi hingga Mayra terdiam. Tadinya, dia ingin duduk di samping Adrian, tapi Adrian malah lebih memilih duduk di samping Alice hingga terpaksa Mayra duduk di seberang kedua ayah dan anak itu.
"Enak, 'kan, Daddy?" tanya Alice ketika Adrian sudah menyuapkan makanan. Harus diakui, masakan Mayra begitu enak, tapi dia enggan mengakui itu, bahkan ekspresi wajahnya tetap datar. Dia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alice, dan lagi-lagi hati Mayra benar-benar terasa nyeri.
Akhirnya, acara makan pun selesai. Adrian izin untuk beristirahat sebentar, sedangkan Alice pergi ke kamarnya, dan Mayra memutuskan untuk berdiam diri di taman. Dia belum siap menyusul Adrian, karena rasa sakit hati yang tadi dia rasakan saja belum reda.
Satu jam kemudian, Mayra bangkit dari duduknya. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar, dan saat masuk ternyata Adrian sedang tertidur. Wanita itu langsung maju ke arah ranjang, lalu mendudukkan diri di sebelah Adrian. Dia menatap wajah Adrian lekat-lekat.
'Terkadang, aku bingung kurangku di mana. Aku merasa cantik, aku dari keluarga terhormat, aku tidak pernah menyusahkanmu, tapi kenapa kau sama sekali tidak pernah melihatku. Selama tiga tahun kau mengejarku sampai aku benar-benar luluh. Setelah kau mendapatkanku, kau berubah. Salahku di mana, Ad?' Mayra membatin ketika melihat wajah Adrian. Ada sebersit penyesalan kenapa dulu dia mudah luluh dengan lelaki ini.
Tak lama, Adrian mengerjap. Sepertinya, lelaki itu akan terbangun karena merasa diperhatikan dan sedetik kemudian, Adrian langsung membuka mata hingga Mayra tersenyum. Adrian bangkit dari berbaringnya, kemudian dia mendudukkan diri di ranjang, lalu setelah itu menetap Mayra.
__ADS_1
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Adrian.
Mayra menarik kakinya, kemudian wanita itu langsung mendudukkan diri di sebelah Adrian, lalu setelah itu dia menyadarkan tubuhnya ke bahu suaminya. Ketika Mayra melakukan itu, Adrian hampir saja menjauhi tubuh istrinya. Dia sungguh enggan Mayra seperti ini.
"Sebentar saja," ucap Mayra. Dia menyadari betul bahwa Adrian akan menjauh, hingga pada akhirnya Adrian diam di tempat. Lalu setelah itu, Mayra menggerakkan tangannya kemudian menggenggam tangan Adrian, dan lagi-lagi Adrian hampir saja menghempaskan tangan Mayra.
'Aku harus bagaimana agar kau mau melihatku?' Mayra membatin ketika menggenggam tangan Adrian.
Kenapa cinta sepihak ini begitu menyakitkan? Adrian berjuang tiga tahun untuk mendapatkannya. Kata cinta, rayuan manis, sifat hangat selalu diperlihatkan lelaki ini padanya. Namun, kenapa sekarang begitu berbeda?
Lima belas menit kemudian, Mayra menegakkan tubuhnya kemudian dia membaringkan tubuhnya di sebelah Adrian, lalu membelakangi lelaki itu.
"Jika kau butuh apa-apa, bangunkan saja aku. Aku ingin tidur," ucap Mayra. Ekspektasi Mayra, Adrian akan sedikit bersemangat ataupun sedikit bersikap hangat padanya, padahal nanti malam adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun ternyata, Adrian tetap sama, hingga Mayra sedikit lelah. Dia ingin memejamkan matanya, dan ingin melupakan segala rasa sedihnya karena sebentar lagi dia harus berpura baik-baik saja di hadapan Alice.
Anehnya, Mayra bukan merasa senang. Padahal ini yang dia mau, tapi dia merasa sesak.
"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai kau lelap," ucap Adrian hingga Mayra mengangguk. Dia menarik selimut kemudian menggigitnya agar tangisannya tidak terdengar.
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Mayra menyimpan kue yang dia buat, dan menyimpan bunga yang dia beli di dapur. Tadinya, dia ingin meniup kue tersebut, kue ulang tahun pernikahannya dengan Adrian. Dia juga ingin memberikan bunga pada suaminya, tapi setelah dipikir, Mayra memutuskan untuk tidak melakukan itu karena dia sudah menebak respon Adrian.
__ADS_1
Mayra melihat kue yang sudah dia simpan di kulkas, kemudian wanita cantik itu menarik lilin lalu setelah itu menutup kulkas hingga tatapannya langsung teralih pada bunga. Dia mengambil bunga itu, lalu setelah itu dia berjalan ke arah belakang. Wanita cantik itu melemparkan bunga yang dia beli ke tungku api, kemudian dia berbalik lalu setelah itu memutuskan untuk pergi ke kamar.
Ketika Mayra pergi kamar, Adrian sudah tertidur. Mayra langsung berjalan ke arah ranjang, lalu setelah itu dia membaringkan tubuhnya di samping Adrian dengan posisi saling membelakangi.
Keesokan harinya.
Mayra terbangun dari tidurnya, ternyata sudah tidak ada Adrian. Mayra turun dari ranjang, kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi. Saat dia bercermin, Mayra memegang pinggiran meja. Kepalanya mendadak berkunang-kunang, dia merasa hatinya juga terasa nyeri. Bukan karena sesak akibat sikap Adrian, melainkan karena Mayra mempunyai penyakit liver.
Mayra mendudukkan dirinya sejenak di sofa yang ada di kamar mandi. Tiba-Tiba tubuhnya terasa lunglai. "Tidak, aku tidak apa-apa," ucap Mayra yang menguatkan dirinya sendiri.
Mayra tahu betul apa yang sedang dialami, yaitu dia menderita penyakit liver dan jika tidak kunjung membaik, Mayra harus melakukan transplantasi hati. Mayra terlalu takut untuk dibedah, hingga Mayra hanya menjalani pengobatan biasa.
Beberapa kali ini Mayra sudah tidak merasakan sakit, mungkin karena dia rutin minum obat yang diresepkan oleh dokter. Namun, entah kenapa sakit itu menderanya lagi.
Setengah jam kemudian, Mayra bangkit dari duduknya kemudian wanita cantik itu langsung membersihkan dirinya. Setengah jam kemudian, Mayra keluar dari walk-in closet. Dia sudah rapi, wanita itu berencana untuk pergi ke rumah orang tuanya.
"Di mana Adrian dan Alice?" tanya Mayra pada pelayan di rumah suaminya.
"Oh, Alice dan juga Tuan Adrian pergi, Nyonya. Sepertinya, berolahraga di luar," jawab pelayan.
Mayra menganggukkan kepalanya, setelah itu Mayra pun langsung keluar dari rumah. Dia berjalan ke arah mobilnya. Sebelum dia pulang ke rumah orang tuanya, dia memutuskan untuk mampir ke sebuah cafe untuk menikmati secangkir susu hangat karena dia belum sarapan.
__ADS_1
Tepat ketika dia masuk, tiba-tiba dia menabrak tubuh seseorang hingga tubuhnya hampir terpental. Namun, dengan cepat orang yang menabrak Mayra langsung menarik pinggang wanita itu. Jantung Mayra berdetak dua kali lebih cepat saat melihat siapa yang di depannya, Tommy.
Ternyata, Tommy-lah yang menabrak Mayra.